BAGI PENGIKUT KRISTUS, SALIB TIDAK PERLU DIBELA TAPI DIPIKUL

0
344

Oleh: Pdt. Yerry Tawalujan, M.Th.

 

Jakarta, 17 Agustus 2019.

Dua hari terakhir ini publik dikejutkan dengan viralnya video Ustad Abdul Somad (UAS) yang bernuansa penghinaan terhadap salib. Reaksi keras langsung bermunculan, mulai dari pendeta, pimpinan gereja, sampai ke Organisasi-organisasi kemasyarakatan.

Brigade Meo di NTT bahkan sudah melaporkan kasus penghinaan ini ke polisi. Beberapa hari kedepan puluhan Ormas se Indonesia akan ikut laporkan kasus ini ke kepolisian juga.

Bagaimana seharusnya umat Kristen menyikapi kasus penghinaan salib oleh Ustad Abdul Somad?

Tentu terlalu simplistik kalau dikatakan hadapilah kasus penghinaan ini dengan hati tenang dan kepala dingin serta jangan terprovokasi untuk bereaksi berlebihan apalagi dengan mengumbar kemarahan.

Karena memang kasus ini tidak sesederhana penghinaan salib. Ada nuansa ketidakadilan. Bahkan pembiaran negara menghadapi kasus-kasus yang menimpa warga yang kebetulan bukan pemeluk agama yang dianggap mayoritas itu.

Reaksi keras beberapa elemen Kristen yang melaporkan kasus penghinaan salib oleh UAS ke polisi dapat dimengerti. Didalamnya ada ungkapan kemarahan. Juga frustasi. Marah karena semudah itu tokoh agama terkenal menghina agama lain. Dan frustasi karena tahu sebagai pihak yang dianggap lemah, hukum kurang adil berpihak.

Jadi, bagaimana seharusnya sikap umat Kristen soal penghinaan salib ini?
Kita perlu melihat kasus ini dari dua perspektif: Orang Kristen sebagai warga negara dan orang Kristen sebagai pengikut Kristus.

*Perspektif orang Kristen sebagai warga negara*

Orang Kristen sebagai warga negara memiliki hak dan kedudukan yang sama dengan warga negara lain yang bukan beragama Kristen.

Dalam konstitusi, tidak ada satu klausul pun yang membedakan atau memberikan hak istimewa kepada warga negara tertentu berdasarkan agamanya. Semua sama dan setara. Karena Indonesia adalah negara yang mengapresiasi eksistensi agama-agama, tetapi  bukan negara agama.

Baca juga  FH UPH BERI PENYULUHAN DAN KONSELING HUKUM DI STT GKS LEWA, SUMBA TIMUR

Keresahan umat Kristen atas kasus penghinaan salib oleh UAS adalah ungkapan kemarahan sebagai warga negara. Orang Kristen seakan sedang berkata, “NKRI ini adalah negara hukum. Bagaimana mungkin ada warga negara yang secara brutal menghina (agama) warga negara lainnya dan bebas dari hukum?”

Ungkapan kemarahan orang Kristen bukan hanya hal yang wajar tapi merupakan keharusan. Keharusan, karena yang diperjuangkan bukan (hanya) keadilan atas penghinaan agama itu. Tetapi bukti bahwa NKRI adalah negara hukum berdasarkan Pancasila yang mengakui agama-agama resmi negara.

Yang diperjuangkan orang Kristen adalah pembuktian (oleh Pemerintah) bahwa Indonesia adalah negara dengan supremasi hukum dan negara hadir dalam melindungi seluruh warga negaranya yang berbeda-beda agama.

Sikap keras orang Kristen ini jangan dianggap sektarian. Ini wujud kepedulian orang Kristen untuk bela negara. Membela negara yang juga mengakui agama Kristen, Katolik, Hindu, Budha dan Konghucu.

*Perspektif orang Kristen sebagai pengikut Kristus*

Dalam iman Kristen, kasih itu adalah hukum utama. Mengasihi tanpa pamrih, bahkan musuh pun harus dikasihi.

Tuhan Yesus, ketika terpaku di atas kayu salib berdoa untuk orang-orang yang merancang penyaliban-Nya: “Bapa, ampunilah mereka karena tidak tahu apa yang mereka perbuat”.

Tuhan Yesus mengajarkan orang Kristen untuk tidak boleh membalas, sebab pembalasan itu adalah haknya Tuhan bukan manusia. Bahkan kalau ada yang menampar pipi kananmu, janganlah melawan, tetapi berikan juga pipi kirimu (Matius 5: 39)

Jadi jelas, dari perspektif orang Kristen sebagai pengikut Kristus, kita mengedepankan kasih dan pengampunan. Bukan menuntut balas.

Iman Kristen tidak pernah mengajarkan umat-Nya untuk membela salib. Siapakah manusia yang mampu membela Tuhan Yesus sang empunya Salib? Tuhan tidak perlu dibela. Bukan Tuhan namanya kalau perlu pembelaan manusia.

Baca juga  FORUM LINTAS HUKUM INDONESIA: QUO VADIS KPK PASCA AGUS RAHARDJO, DKK. ATAS NAMA PIMPINAN KPK MENGEMBALIKAN MANDAT PIMPINAN KPK KEPADA PRESIDEN.

Iman Kristen justru mengajarkan memikul salib. Menderita untuk Kristus sebagai perwujudan pikul salib-Nya.

Bagi orang Kristen, salib tidak perlu dibela, tetapi dipikul.

Dirgahayu Republik Indonesia ke-74,

*Pdt. Yerry Tawalujan, M.Th*
(Ketua Umum GERKINDO – Gerakan Kasih Indonesia)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here