LOGIKA VS IMAN

0
47

1 Korintus 2:12-16

Tetapi manusia duniawi
tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah,
karena hal itu baginya adalah suatu kebodohan ….
(1Kor. 2:14)

Kata-kata atau kalimat berikut barangkali pernah kita dengar, “jangan pakai otak, tetapi pakai hati,” “orang Kristen tidak boleh pakai rasio, tetapi pakai iman,” “hidup dengan Tuhan tidak bisa dilogikakan.” Orang Kristen diminta untuk lebih mengutamakan iman ketimbang akal budi. Setujukah Saudara dengan pandangan itu? Bukankah Paulus juga berkata demikian dalam 1 Korintus 2:12-16 bahwa hikmat manusia (akal budi) membawa pada kesia-siaan?

Sesungguhnya, Paulus tidak memaksudkan bahwa tidak perlu lagi memakai hikmat manusia di dalam kehidupan sehari-hari. Konteks perkataan Paulus adalah kritik kepada orang-orang Yunani dan Yahudi yang sangat mengagungkan filsafat. Segala sesuatu yang berhubungan dengan iman dianggap sebagai kesia-siaan dan kebodohan; bahkan, harkat, martabat dan derajat manusia diukur dari seberapa hebat dan mampu manusia mendalami ilmu filsafat. Iman disingkirkan. Karena itu, Paulus menegur jemaat Korintus, manusia tidak hanya butuh hikmat, tetapi juga kuasa Roh Kudus. Roh Kuduslah yang memampukan manusia berkata-kata tentang Allah. Paulus tidak mempertentangkan hikmat manusia dan iman. Keduanya bersatu menjadi hikmat yang benar di mata Tuhan.

Youth, jangan hanya mengandalkan logika; andalkan juga iman. Kekristenan menganut prinsip Ora et Labora, artinya berdoa dan bekerja. Dua hal ini tidak bertentangan. Keduanya perlu dan sejalan demi kemuliaan nama Tuhan. Jangan mau menjadi orang pintar di hadapan sesama, tetapi bodoh di mata Tuhan. Jadilah pintar di mata Tuhan dan sesama dengan iman dan logika.

Mengapa Paulus berkata hikmat manusia itu kebodohan?
Apa yang membuat kita sulit menyeimbangkan logika dan iman?
Gbu

Baca juga  Mengawal Jalannya Pemerintahan, ARJ Akan Menggelar Halal Bihalal, Santunan 10.000 Anak Yatim Dan Doa Bersama Untuk Jokowi-Ma'ruf

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here