Siaran Pers Komnas Perempuan Menyambut Pengumuman Hasil Pilpres 2019

0
137

Siaran Pers Komnas Perempuan Menyambut Pengumuman Hasil Pilpres 2019

Seruan Damai dan Perlindungan HAM Perempuan dan Seluruh Warga Bangsa di Indonesia

Jakarta, Suarakristen.com

 

Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) mengkhawatirkan adanya eskalasi konflik politik yang berpotensi
menimbulkan kekerasan, khususnya kekerasan terhadap perempuan apabila
tidak diantisipasi, baik selama dan paska pengumuman hasil pemilihan
presiden dan wapres RI 2019-2024.

Kekhawatiran tersebut didasarkan pada
hasil temuan dengan sejumlah mitra daerah dalam Revisit (Tinjau Ulang)
20 tahun konflik di Indonesia, hasil konsultasi dengan para mitra di
daerah serta wakil dari komunitas korban. Selain itu juga kasus-kasus
yang dilaporkan para perempuan korban kekerasan dan marginalisasi
konteks Pemilu.

Komnas Perempuan melihat bahwa seluruh proses Pemilu ini banyak
keterlibatan dan pelibatan massa perempuan diantaranya para ibu rumah
tangga, perempuan pekerja, remaja, dan tidak terkecuali anak-anak.

Bentuk-bentuk kekerasan yang kami catat, politisasi identitas baik
agama, ras dan gender yang merusak toleransi dan sendi berbangsa,
serangan integritas pada politisi perempuan, ancaman perkosaan, termasuk keterlibatan dan pelibatan perempuan yang meresikokan keamanan mereka, serta politisasi isu perempuan untuk kepentingan politik partisan dan lainnya

Komnas Perempuan, sebagai salah satu mekanisme HAM nasional yang
didorong oleh masyarakat dan diresmikan oleh negara melalui keputusan Presiden B.J. Habibie tahun 1998 dan peraturan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tahun 2005, memiliki catatan penting berdasarkan pengalaman dan keterlibatan langsung mendokumentasi berbagai konteks konflik di Indonesia, bahwa kekerasan demi kekerasan yang terjadi dalam situasi tersebut, telah mengakibatkan banyak masyarakat perempuan dan anak-anak perempuan menjadi korban, terlepas dari sejarah peran-peran strategis mereka dalam merajut perdamaian.

Komnas Perempuan memandang bahwa dalam berpolitik, berdemokrasi dan
berkehidupan berbangsa dan negara, serta membawa bangsa ini menuju
kemakmuran dan kebahagiaan, penting membawa bangsa ini lepas dari
kelelahan, putus asa serta amarah yang memicu konflik berkekerasan.

Baca juga  Brigjen Pol. (Purna) Bontor Hutapea : Danau Toba Jadi Kawasan Wisata Narkoba?!

Selain itu paradigma keamanan harus dirubah dengan meninggalkan
kekerasan. Peningkatan keamanan politik bangsa ini adalah, para elite
politik baik dalam negara, tokoh maupun berbagai lapisan masyarakat, agar menanggalkan ego politiknya, tulus menyetujui untuk menjaga perdamaian. Bila kita semua benar-benar menyepakati dan tulus atas
perdamaian yang sama-sama kita inginkan, maka tindakan semua pihak yang perlu dilakukan adalah memperbaiki kondisi psikologi dan emosi massa.

Warga negara Indonesia perlu dijamin untuk menghindari bentrok,
percekcokan terus-menerus di dunia maya maupun dunia nyata, dan
menghentikan dendam politik yang tidak berkesudahan. Keadilan yang
dibangun dalam menjaga demokrasi dan politik yang diperlukan adalah
dialog sejati berbagai pihak-pihak yang berkepentingan tanpa meninggalkan perempuan.

Merespon situasi diatas, Komnas Perempuan menyerukan dan bersikap :

1.Menyerukan perdamaian kepada semua pihak baik penyelenggara negara
maupun para tokoh masyarakat dan terutama elite politik, untuk
mengedepankan “ethic of care” dan membangun kebijakan politik yang
menjamin bangsa dan melindungi keberadaan seluruh rakyat Indonesia, agar terhindar dari perseteruan politik yang tidak berkesudahan, serta
memberikan contoh perilaku yang beradab dan manusiawi;

2.Para calon presiden dan wakil-wakilnya, para pendukung calon, parpol,
media massa, setiap warga negara, untuk menjaga dan saling menghormati,
baik hubungan antar warga negara maupun antar elite politik untuk tujuan
bersama dalam merawat bangsa dengan bersetia pada konstitusi dan hak
asasi. Semua pihak harus mengedepankan tujuan berbangsa, termasuk tujuan reformasi sebagai prinsip yang paling esensial dari berdiri dan bertumbuhnya Republik Indonesia;

3.Pendekatan dan prinsip perlindungan keamanan yang perlu diterapkan
untuk mencegah konflik destruktif, dengan menghindari tindak kekerasan,
membangun dialog antar kelompok yang bertentangan, dengan melibatkan
berbagai pihak dan terus merawat komitmen bersama;

Baca juga  Sejumlah Politisi, Pengusaha, dan Tokoh Agama akan Hadir di Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) VII Pangkal Pinang 26-29 Februari 2020.

4.Menyerukan kepada semua pihak untuk tidak meresikokan keamanan jiwa
perempuan, memikirkan keterlibatan politik perempuan dalam ruang-ruang
strategis yang mengedepankan kohesi berbangsa.

Bagi Komnas Perempuan, damai adalah cara terbaik untuk lulus dari ujian
bangsa ini dari kedewasaan. Mari kita bersama-sama menyelesaikan ujian
demokrasi dan kedewasaan politik demi bangsa Indonesia yang damai dan
beradab.

Kontak Narasumber:
Yuniyanti Chuzaifah, Komisioner, (081311130330)
Mariana Amiruddin, Komisioner (081210331189)
Imam Nahei, Komisioner (082335346591)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here