Jalan Terjal Target Pertumbuhan: Respon Perkembangan Ekonomi Triwulan I 2019

0
139

Jakarta, Suarakristen.com

 

Ekonomi Indonesia triwulan I 2019 tumbuh sebesar 5,07 persen yoy. Capaian pertumbuhan ekonomi ini lebih rendah dari triwulan sebelumnya (triwulan IV 2018) yang tumbuh sebesar 5,18 persen yoy, meskipun sedikit lebih tinggi dari triwulan I 2018 (5,06 persen yoy). Dengan capaian pertumbuhan ekonomi triwulan I yang berada di bawah ekspektasi, akan semakin tidak mudah bagi Pemerintah untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi sesuai asumsi makro APBN 2019 sebesar 5,3 persen. Diperlukan berbagai upaya terobosan kebijakan agar akselerasi perekonomian di sisa tiga triwulan ke depan dapat terealisasi sesuai target. Berikut catatan INDEF atas capaian pertumbuhan ekonomi triwulan I 2019:

Pertumbuhan ekonomi tertahan. Beberapa sektor ekonomi sepanjang triwulan I 2019 mengalami penurunan kinerja pertumbuhan, yaitu sektor pertanian; industri pengolahan; transportasi dan pergudangan; serta konstruksi.

Sektor pertanian turun drastis, bahkan lebih buruk dari sebelumnya, khususnya tanaman pangan (harga gabah).
Sektor industri pengolahan terdapat kecenderungan beberapa subsektor mengalami tekanan, seperti (batubara dan pengilangan migas, industri kulit, industri kayu, industri karet, barang galian bukan logam, elektronik, dan alat angkutan). Penyebabnya karena penurunan harga komoditas, penurunan daya saing, hingga penurunan daya beli untuk beberapa produk industri.

Sektor transportasi melemah, terutama akibat turunnya kinerja transportasi udara. Penyebabnya karena harga tiket pesawat yang meningkat drastis sejak Januari 2019.

Sektor konstruksi turun terutama karena belanja Pemerintah untuk infrastruktur belum banyak dimulai, di samping itu permintaan terhadap sektor properti juga masih stagnan.

Investasi melambat, ekspor tumbuh negatif. Dari sisi PDB pengeluaran, dua sektor yang diharapkan dapat menjadi akselerator pertumbuhan ekonomi, justru sama-sama mengalami perlambatan. Pertumbuhan sektor investasi PMTB (Pembentukan Modal Tetap Bruto) pada triwulan I 2019 turun -5,74 persen qtq dibanding triwulan sebelumnya, meskipun secara tahunan masih tumbuh 5,03 persen yoy dibanding triwulan I 2018. Sedangkan laju pertumbuhan ekspor juga turun -7,04 persen qtq dibanding triwulan sebelumnya, dan -2,08 persen yoy dibanding triwulan I 2018.

Baca juga  Komisi Kepemudaan KWI Gelar Webinar "Siapkah OMK Dengan New Normal?"

Investasi (PMTB) mengalami penurunan terutama pada investasi kendaraan dan peralatan lainnya.

Sementara ekspor tumbuh negatif seiring perlambatan perekonomian global yang berimbas pada lesunya permintaan dari mitra dagang utama Indonesia.

Kontribusi Pulau Jawa kian meningkat. Porsi PDB yang dikontribusikan oleh Pulau Jawa pada triwulan I 2019 sebesar 59,03 persen, meningkat jika dibandingkan dengan triwulan I 2018 sebesar 58,67 persen. Dominasi Pulau Jawa yang masih susah untuk digeser oleh pulau lain menggambarkan bahwa perekonomian masih Jawasentris.

Nilai Tukar Petani mengalami penurunan. Penurunan laju sektor pertanian pada triwulan I 2019 berimbas pada Nilai Tukar Petani yang cenderung turun.

Trend Nilai Tukar Petani (NTP) menurun dari Januari sampai April 2019, hal ini disebabkan harga jual hasil produksi pertanian yang diterima petani turun karena panen raya. Hal ini juga menunjukkan daya beli petani menurun karena harga produk pertanian di tingkat petani lebih rendah daripada harga barang dan jasa yang dikonsumsi petani.
Menurunnya Nilai Tukar Petani mencerminkan rente ekonomi tidak dinikmati oleh petani tetapi aktor lain di rantai nilai (value chain) komoditas pertanian.

Urgensi menjaga daya beli. Seiring perlambatan ekspor dan investasi, pertumbuhan ekonomi semakin bertumpu pada sektor konsumsi rumah tangga, yang pada triwulan I porsinya mencapai 56,82 persen dengan laju pertumbuhan 5,01 persen yoy. Agar laju konsumsi rumah tangga tetap stabil diperlukan upaya pengendalian inflasi secara maksimal oleh Pemerintah. Tanda-tanda lonjakan harga sudah dimulai sejak bulan April ini seiring momentum puasa dan lebaran. Oleh karena itu, perlu segera dilakukan upaya-upaya pengendalian inflasi agar daya beli masyarakat dapat stabil, sehingga konsumsi rumah tangga tidak mengalami stagnansi.

Beberapa komoditas yang mengalami kenaikan harga pada April 2019, antara lain bawang merah, bawang putih, cabai merah, tarif kontrak rumah, tarif angkutan udara, telur ayam ras, tomat sayur, melon, tomat buah, cabai rawit, rokok kretek filter, tarif sewa rumah, dan mobil. Sementara komoditas yang mengalami penurunan harga, antara lain: beras, tarif listrik, daging ayam ras, dan ikan segar.

Baca juga  ICJR: Pembahasan RUU PKS Harus Tetap Jadi Prioritas!

Catatan Penutup:
Perlunya melakukan revisi terhadap kebijakan penetapan HPP dan HET, baik untuk gabah dan beras (HET) serta mendorong upaya peningkatan skala ekonomi tanaman pangan.
Pentingnya menurunkan tarif batas atas tiket pesawat agar sesuai dengan kemampuan konsumen “bawah”.
Industri perlu peningkatan daya saing dan strategi bisnis agar mengikuti rantai nilai global (Global Value Chain) yang sedang berkembang.
Penting mendorong daya beli kelas menengah “70 persen penduduk” untuk menggerakkan konsumsi maupun investasi. Investasi asing yang turun juga perlu diarahkan pada sektor non-telekomunikasi, pergudangan dan transportasi.

Perlu perubahan strategi ekspor di tengah perlambatan permintaan dunia, maupun ketidakpastian perekonomian global.

Pengembangan ekonomi regional tetap menjadi perhatian, khususnya luar Pulau Jawa.

(Hotben)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here