TEATER GANDRIK HADIRKAN LAKON HOROR NAN JENAKA DALAM PEMENTASAN ”PARA PENSIUNAN 2049”

0
174

Jakarta, Suarakristen.com

 

Setelah sukses mementaskan ‘Hakim Sarmln” pada 2017. Teater Gandrik yang didukung oleh Bakti Budaya Djarum Foundatlon kembali menyapa penonton seni pertunjukan Indonesia dalam pagelaran yang bertajuk “Para Pensiunan 2049”.Pementasan ini sudah digelar pada 8-9 April 2019 dl Taman Budaya Yogyakarta dan dapat segera dinikmati publlk Jakarta pada 25-26 April 2019 dl Clputra Artpreneur Theater. Mengangkat tema yang sedang hangat diperbincangkan saat ini, pementasan Para Pensiunan 2049 hadir dengan guyonan khas Teater Gandrlk.

”Naskah Para Pensiunan 2049 Ini merupakan hasil saduran dari karya alm. Heru Kesawa Murti yang berjudul “Pensiunan’ yang dibuat pada tahun 1986. Setelah melalui serangkaian proses, akhirnya naskah lnl ditulis kembali oleh Agus Noor dan Susilo Nugroho dan berganti nama menjadi ‘Para Penslunan 2049’ agar dapat diterima dinkmatl oleh generasi muda,” ujar G. Djaduk Ferianto, Sutradara pementasan Para Penslunan 2049.

Lakon ini bercerita tentang para pensiunan yang lngln menikmati masa tuanya dan menunggu akhir hidupnya dengan tenang. Mereka adalah pensiunan jenderal, pensiunan politisi, pensiunan hakim dan para pensiunan lainnya. Lalu ada Undang-Undang Pemberantasan Pelaku Korupsi yang secara konstitusional mengharuskan siapa pun yang mati, dan wajib memiliki Surat Keterangan Kematian yang Baik (SKKB). Undang-undang tersebut memang dibuat agar para koruptor jera, karena hanya orang yang tidak pernah melakukan korupsi yang berhak mendapatkan SKKB. Bila tak punya SKKB, maka mayatnya tidak boleh dikubur, karena dianggap tidak bersih dari korupsi.

”Para Pensiunan 2049 merupakan kisah masa depan jika upaya pemberantasan korupsi menemui jalan buntu, kehidupan akan semakin haru dan lucu. Karni menampilkannya dengan gaya yang sedikit horor namun tentu saja akan tetap membuat penonton terpingkaI-pingkal. Selamat menikmati pertunjukan kami” ujar Butet Kartaredjasa, Pimpinan Produksi Pementasan Para Pensiunan 2049.

Satu dari pensiunan itu terlanjur mati tanpa memiliki SKKB. Padahal ia pensiunan orang besar. Akibatnya, jenazahnya terlunta-Iunta nasibnya. Para pensiunan yang lain menjadi gelisah dan masing masing ingin membuktikan bahwa mereka tak pernah korupsi agar mendapatkan SKKB, sehingga bila nanti mati bisa dikubur baik-baik. Tapi benarkah mereka tak pernah korupsi selama jadi jenderal, politisi, pegawai negeri dan Iain-Iain? Untuk mendapatkan SKKB bermacam cara dilakukan, mulai dari membujuk, menjebak, hingga menyuap penjaga kubur. Sementara jenazah pensiunan yang sudah mati terus mendatangi kolega instansi yang berwenang agar nama baiknya dipulihkan dengan SKKB. Undang-Undang Pemberantasan Pelaku Korupsi ternyata juga membuat repot mereka yang belum mati karena cemas saat mati tidak bisa dikuburkan. Bahkan ketika menjadi isu politik dan banyak kepentingan yang mempolitisir, undang-undang tersebut mengancam mereka yang berkuasa.

Baca juga  Pelantikan Pengurus HImpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) 2019-2022 dan Harapan Presiden RI.

“Teater Gandrik merupakan salah satu kelompok seni yang senantiasa memadukan semangat teater tradisional dan modern dalam setiap panggung pertunjukannya. Kepiawaian dalam mengolah ide dan gagasan kreatif yang didukung dengan kemampuan akting para pemainnya, Teater Gandrik selalu dapat menarik perhatian para penggemarnya. Mengangkat tema yang sedang hangat diperbincangkan saat ini, pementasan Para Pensiunan 2049 hadir dengan guyonan khas Teater Gandrik dan diharapkan mampu memberikan pemahaman bagi generasi muda mengenai proses dan perkembangan kebudayaan sehingga mampu membangun jiwa yang penuh dengan semangat kebangsaan,” ujar Renitasari Adrian, Program Director Bakti Budaya Djarum Foundation.

Tim kreatif Para Pensiunan 2049 ini adalah Butet Kartaredjasa, Agus Noor, Susilo Nugroho, dan G. Djaduk Ferianto. Pementasan juga melibatkan seniman Indonesia, antara lain Purwanto, indra Gunawan, Sukoco, Sony Suprapto Beny Fuad Hermawan, Arie Senyanto (Pemusik), Ong Hari Wahyu (Penata Artistik), Feri Ludiyanto (Tim Properti), G. Djaduk Ferianto, Rulyani lsfihana, Jamiatut Tarwiyah (Penata Kostum), Dwi Novianto (Penata Cahaya), dan Antonius Gendel (Penata Suara). Naskah oleh Agus Noor dan Susilo Nugroho serta Pimpinan Produksi Butet Kartaredjasa di bawah arahan Sutradara, G. Djaduk Ferianto.

Dimeriahkan oleh penampilan Butet Kartaredjasa, Susilo Nugroho, Jujuk Prabowo, Rulyani lsfihana, Sepnu Heryanto, Gunawan Maryanto, Citra Pratiwi, Feri Ludiyanto, Jamiatut Tarwiyah, Nunung Deni Puspitasari, Kusen Ali, M. Yusuf ‘Peci Miring’, M. Arif ‘Broto’ Wijayanto, Muhamad Ramdan, dan Akhmad Yusuf Pratama dan tim pendukung pementasan lainnya.

Para Pensiunan 2049 akan pentas di Jakarta selama 2 kali pada 25 dan 26 April 2019 pukul 20:00 WIB di Ciputra Artpreneur Theater. Untuk informasi dan pemesanan tiket dapat menghubungi Kayan Production & Communication 0895 3720 14902 / 0813 1163 0001. Pemesanan tiket online dapat dilakukan melalui www.kayan.co.id dan www.blibii.com.

HTM Para Pensiunan 2049:

Titanium: Rp. 2.000.000

Platinum: Rp. 1.500.000

Diamond: Rp. 750.000

Gold: Rp. 500.000

Silver: Rp. 300.000

Bronze: Rp. 200.000

—–

Sekilas tentang Teater Gandrik

Sebagai bagian dari Padepokan Seni Bagong Kussudiardja yang berlokasi di Yogyakarta, Teater Gandrik merupakan kelompok teater Indonesia yang mengolah konsep dan bentuk teater tradisional dengan semangat panggung teater kontemporer. Teater Gandrik dibentuk 36 tahun lalu di Yogyakarta, tanggal 12 September 1983. Dalam perjalanannya, periode 1980-1990 merupakan tahun-tahun produktif Teater Gandrik. Ditandai dengan beberapa pementasan, seperti: Pasar Seret (1985), Pensiunan, Sinden (1986) Dhemit, lsyu (1987) Orde Tabung, Juru Kunci, (1988), Upeti, Juragan Abiyoso (1989) yang menjadi bagian penting dari dinamika sosial politik di Indonesia pada masa itu.

Baca juga  Temu OMK KAJ Bersama Kardinal

Teater Gandrik menyuguhkan tema terna sosial yang berkembang dalam kehidupan sehari-hari, dengan menggunakan ‘guyon parlkena’, yaitu sindiran secara halus, seperti mengejek diri sendiri. Seni peran dengan gagasan Teater Gandrik ini, oleh beberapa kritikus, disebut sebagai estetika sampakan, dimana panggung menjadi medan permainan para aktor secara luwes, cair dan cenderung ‘memain-mainkan karakter’, sehingga tidak ada batasan yang jelas antara ‘aktor sebagai pemain’ dengan ‘watak yang dimainkannya’.

Para personil Teater Gandrik memang tumbuh dalam lingkungan tradisi Jawa yang kental. Lingkungan tradisi inilah yang kemudian banyak memberi warna pada pementasan-pementasan Teater Gandrik. Tradisi itu juga menjadi jalan bagi Teater Gandrik untuk mencari dan pada akhirnya menemukan identitas estetik. Tetapi, seperti dikatakan pula oleh Dr. Faruk, para personil Teater Gandrik juga mengalami modernisasi, yang mengakibatkan mereka memiliki keinginan untuk berbeda dengan generasi sebelumnya, dimana mereka kemudian memasuki sebuah dunia baru yang bernama indonesia. Beberapa eksplorasi pencarian dengan berbasis naskah-naskah luar negripun pernah ditelorkan, seperti: Mas Tom, yang merupakan adaptasi dari Tom Jones, karya penulis inggris Hendry Fielding (1707-1754). Begitu juga lakon terjemahan Keluarga Tot (2009) karya penulis Hungaria, lstvan Orkeny yang berpijak pada mazab realism.

Pada tahun 1999, Teater Gandrik mendapatkan kesempatan mementaskan Brigade Maling di Monash University, Australia. Sebelumnya, pada tahun 1990 dan 1992, Teater Gandrik juga mementaskanl lakon Dhemit dan Orde Tabung di Singapura. Sebagai salah satu kelompok teater yang paling konsisten mementaskan karya-karya, Teater Gandrik rutin menyapa penontonnya. Berikut adalah pertunjukan 8 tahun terakhir: Pan-Dol (2011), Gundala Gawat (2013), Tangis (2015), Orde Tabung – Dramatic Reading (2016), Hakim Sarmin (2017). Dan kini di tahun 2019, Teater Gandrik tampil kembali dengan lakon PARA PENSIUNAN 2049, karya Agus Noor dan Susilo Nugroho sebagai penulis naskah dan Djaduk Ferianto bertindak sebagai sutradara pentas.

Sekilas tentang BAKTI BUDAYA DJARUM FOUNDATION

Sebagai salah satu produsen rokok terbesar di Indonesia yang berasal dari Kudus, Jawa Tengah, Indonesia, PT. Djarum memiliki komitmen untuk menjadi perusahaan yang turut berperan serta dalam memajukan bangsa dengan cara meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan mempertahankan kelestarian sumber daya alam Indonesia.

Berangkat dari komitmen tersebut, PT Djarum telah melakukan berbagai program dan pemberdayaan sebagai bentuk tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) di masyarakat dan lingkungan selama kurun waktu 60 tahun. Pelaksanaan CSR ini dilaksanakan oleh Djarum Foundation yang didirikan sejak 30 April 1986, dengan misi untuk memajukan Indonesia menjadi negara digdaya yang seutuhnya melalui 5 bakti, antara lain Bakti Sosial, Bakti Olahraga, Bakti Lingkungan, Bakti Pendidikan, dan Bakti Budaya. Semua program dari Djarum Foundation adalah bentuk konsistensi Bakti Pada Negeri, demi terwujudnya kualitas hidup Indonesia di masa depan yang lebih baik dan bermartabat.

Baca juga  SEMINAR IDX CHANNEL, ECONOMIC OUTLOOK: SINERGI MEMBANGUN DESTINASI PARIWISATA PRIORITAS

Dalam hal Bakti Budaya Djarum Foundation, sejak tahun 1992 konsisten menjaga kelestarian dan kekayaan budaya dengan melakukan pemberdayaan, dan mendukung insan budaya di lebih dari 3.500 kegiatan budaya. Beberapa tahun terakhir ini, Bakti Budaya Djarum Foundation melakukan inovasi melalui media digital, memberikan informasi mengenai kekayaan dan keragaman budaya Indonesia melalui sebuah situs interaktif yang dapat diakses oleh masyarakat luas melalui www.indonesiakaya.com. Kemudian membangun dan meluncurkan “Galeri Indonesia Kaya” di Grand indonesia, Jakarta pada 10 Oktober 2013. Ini adalah  ruang publik pertama dan Satu-satunya di Indonesia yang memadukan konsep edukasi dan multimedia digital untuk memperkenalkan Kebudayaan Indonesia agar seluruh masyarakat bisa mendapatkan informasi dan referensi mengenai kebudayaan lndonesia dengan cara yang menyenangkan dan tanpa dipungut biaya.

Bakti Budaya Djarum Foundation bekerja sama dengan Pemerintah Kota Semarang mempersembahkan “Taman Indonesia Kaya” di Semarang sebagai ruang publik yang didedikasikan untuk masyarakat dan dunia seni pertunjukan yang diresmikan pada 10 Oktober 2018, bertepatan dengan ulang tahun Ga|eri lndonesna Kaya ke 5. Taman Indonesia Kaya merupakan taman dengan panggung seni pertunjukan terbuka pertama dl Jawa Tengah yang memberikan warna baru bagi Kota Semarang dan dapat menjadi rumah bagi para seniman Jawa Tengah yang bisa digunakan untuk berbagai macam kegiatan dan pertunjukan seni budaya secara gratis.

Bakti Budaya Djarum Foundation juga melakukan pemberdayaan masyarakat dan rutin memberikan pelatihan. membatik kepada para ibu dan remaja sejak 2011. Hal ini dilatarbelakangi kelangkaan dan penurunan produksi Batik Kudus akibat banyaknya para pembatik yang beralih profesi. Untuk itu, Bakti Budaya Djarum Foundation melakukan pembinaan dalam rangka peningkatan keterampilan dan keahlian membatik kepada masyarakat Kudus agar tetap hadir sebagai warisan bangsa Indonesia dan mampu mengikuti perkembangan jaman tanpa menghilangkan ciri khasnya. Lebih lanjut informasi mengenai Bakti Budaya Djarum Foundation dapat mengakses

www.djarumfoundation.org

www.indonesiakaya.com.

***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here