THE CAVAQUINHO IS THE GRANDFATHER OF KERONCONG

0
217

 

Jakarta, Suarakristen.com

 

Siapa tak kenal Orkes Musik Keroncong Tugu? Maka jawabannya ada dua. Kelompok yang sudah mengetahuinya dan bahkan sebagai penggemarnya. Sementara yang kelompok lainnya adalah kelompok yang tidak mengetahuinya. Jika ada yang belum mengenalnya maka mari saya perkenalkan apa itu Keroncong Tugu.

Bagi masyarakat Jakarta Utara tentu mengetahui apa itu Keroncong Tugu. Keroncong Tugu identik dengan Komunitas Tugu yang sudah ada sejak tahun 1661 di tanah Betawi. Nama besar dan ekistensi Keroncong Tugu tidak terlepas dari sejarah yang telah membentuknya.

Keroncong Tugu merupakan musik modern yang tertua dimainkan oleh Orang-orang Tugu (The Tugu) sejak mereka menghuni kawasan di tenggara Tanjung Priok sebagai akibat dari politik pemukiman Hindia Belanda.

Atas permintaan Gereja Katolik Orang-orang Tugu minta dibebaskan yang dijuluki The Mardijkers (artinya : Orang-orang yang dimerdekakan) karena mereka telah berjasa terhadap VOC / Hindia Belanda dalam mengamankan aset-aset Belanda. Mereka juga merupakan Mestizo yaitu generasi/keturunan yang berasal dari hasil perwakinan orang Eropa dengan penduduk lokal di suatu daerah/negara. Ketika Orang-orang Tugu dari Pulau Banda menuju tanah Batavia maka dikabulkan dan terpilih 23 Kepala Keluarga atau 150 jiwa yang sebagian besar kaum pria dimardijkerskan atau dimerdekakan. Namun kemerdekaan yang diberikan bagi Orang-orang Tugu harus dibayar dengan sangat mahal karena pertama mereka harus pindah dari agama Katolik menjadi agama Protestan. Dan kedua semua nama-nama berbau Portugis harus dialihkan menjadi nama Belanda.

Di Kampung Tugu terdapat nama-nama keluarga (familia) seperti : Abrahams, Andries, Cornelis, Seymons dan Salomos (dua nama terakhir ini sudah mati obor) serta Michiels yang kesemuanya Dutch Name (Nama Belanda). Kecuali dua nama keluarga lainnya seperti Braune (Deutch Name/Nama Jerman) dan Quiko (Portuguese Name/Nama Portugis).
Tiga keluarga di Kampung Tugu yang konsisten mempertahankan tradisi seni budaya Keroncong Tugu yakni : Quiko, Michiels dan Cornelis. Mereka masing-masing membentuk grup Keroncong Tugu dengan sistem manajemennya masing-masing dan sudah memiliki pangsa pasar tersendiri yakni :Keroncong Tugu Cafrinho pimpinan Guido Quiko, Krontjong Toegoe pimpinan Andre Juan Michiels dan Keroncong Muda-Mudi Cornelis yang dipimpin oleh Sharly Abrahams yang ibunya berfam Cornelis.

Baca juga  Kementerian Kominfo Menggelar Temu Netizen Guna Mensosialisasikan Hari Nusantara 2019: Nusantaraku Berdaulat, Indonesiaku Maju

Kesepian dan keterasingan Komunitas Tugu pada zaman dahulu memaksa mereka untuk menciptakan musik untuk mengusir kesepian itu. Maka dibuatlah gitar gecil berdawai lima dari ukuran besar, sedang dan kecil dengan istilah Jitera, Prunga dan Macina. Yang ketika dimainkan menghasilkan suara krong krong krong dan crong crong crong. Dari suara itulah masyarakat di luar Kampung Tugu yang mendengar suara instrumen gitar kecil itu menyebutnya dengan istilah Keroncong sementara Orang-orang Tugu sendiri menyebutnya Musica de Tugu yang artinya musik dari kampung Tugu.

Pemahaman Keroncong pertama adalah dari suara yang dihasilkan instrumen Jitera, Prunga dan Macina yaitu krong dan crong. Maka disebutlah keroncong. Pemahaman yang kedua akan Keroncong adalah komposisi musik lengkap dengan menambahkan instrumen musik Bass, Cello, Biola, Gitar melody, gitar rythem dan rebana. Yang kalau kita pahami semua itu merupakan instrumen alat musik yang dipinjam dari Belanda kecuali rebana yang berasal dari Arab.

Jika ditarik benang merah apa hubungan Keroncong Tugu dengan bangsa Portugis? Keroncong Tugu bukan sekedar penamaan dari kata Tugu yang berasal dari penggalan kata PorTuguesa yang artinya Portugis, tetapi lebih dari pada itu. Catatan sejarah telah membuktikan ada hubungan yang sangat kuat. Sesuai dengan naskah Pereginacao tentang Fernao Mendes Pinto pelaut Portugis pada tahun 1555 bersama de Meirelez yang adalah seorang vokalis dan pemusik piawai membawa gitar kecil Portugal Cavaquinho dalam pelayaran ke negeri Cina.

Di samping itu. naskah Pereginacao menyampaikan juga laporan Philipe de Caverel tentang 10.000 Cavaquinho yang dibawa pelaut Portugis ke Maroko. Itu berarti Cavaquinho telah populer sejak abad XVI sehingga diyakini ketika pelayaran bangsa Portugis ke timur melalui Goa (India) hingga ke Maluku atau pelayaran melalui Karibia hingga ke Hawaii. Tidak mustahil Cavaquinho small guitar portugis itu diadaptasi oleh Orang-orang Tugu menciptakan gitar kecil yang diberi nama Jitera, Prunga dan Macina serta di Hawaii jadilah Ukulele. Dalam perjalanan sejarah hingga kini ternyata ukulele lebih populer bahkan Orang-orang Tugu pun mengganti Jitera, Prunga, Macina dengan Ukulele yang kini berkembang menjadi tali empat dan tali tiga yang disebut Cuk dan Cak.

Baca juga  Aksi Nyata ONE UPH Galang Dana Untuk Korban Bencana Ambon

Lebih-lebih ketika kedatangan musisi Cavaquinho ternama dari Portugal : Julio Pereira ke Kampung Tugu pada tahun 2015 menemui Group Krontjong Toegoe pimpinan Andre Juan Michiels didampingi Arthur James Michiels bersilaturahmi dengan Komunitas Tugu yang tergabung dalam IKBT (Ikatan Keluarga Besar Tugu) dibawah pimpinan Erni Lisje Michielske Kampung Tugu dan melihat Gedung Gereja Tugu.

Dalam kesempatan itu Julio Pereira bersama dengan produsernya Ivan dan kameramen mengabadikan pertemuan yang sangat historik tersebut. Julio Pereira menunjukkan keahliannya memainkan Cavaquinho. Di Portugal musik Cavaquinho kembali menjadi marak karena teknik dan gaya permainan yang diperkenalkan oleh musisi Julio Pereira.

Dalam kesempatan mereka anjangsana ke Kampung Tugu bahkan melihat keindahan Gereja Tugu yang penuh historik itu dan pada 29 Juli 2019 akan memasuki usia 271 tahun. yang Ivan sang prodesur dalam perbincangan menyampaikan pernyataan : “The Cavaquinho is Grandfather of Keroncong. Dan pada kesempatan itu juga Krontjong Toegoe meski dengan hanya gitar dan ukulele berkolabaorasi dengan Cavaquinho dimainkan menyanyikan lagu reportoar kampung Tugu yang cukup populer berjudul : Cafrinho (Bate-bate Porta) sungguh harmoni terdengar dimainkan oleh mereka bertiga : Julio Pereira (Cavaquinho), Andre Juan Michiels (Ukulele) dan Arthur James Michiels (Gitar).

Berikut petikan reportoarnya :

Cafrinho

Cafrinho kiteng santadu artiya Cafrinho sedang duduk bermain
Lanta pie bate-bate Angka kaki sambil berdansa
Cafrinho kire anda kaju Cafrimho mau permisi pulang
Tira terban naji sake Angkat topi beri selamat

Pasa-pasa na berdumar Jalan-jaan di pantai laut
Ola nabiu kere nabiga Lihat kapal sedang berlayar
Vilu-vilu Nangkorsang mal Anak-anak jangan berpikir jahat
Nungku aca dijustisa Akan tersangkut perkara polisi

Dong Ali didendang Hanya berbicara tidak ada artinya
Belu kordong berla bong-bong Menari berdansa sambil bergaya
Ung mekas munte ne mau Uang sesenpun tidak di tangan
Kere bala unjung jifrau Tapi berani untuk meminang

Baca juga  Princess Cheryl Halpern dan Raja A.A Ugrasena Raih Penghargaan Toleransi Internasional

Kartapa saiy vula Ketapang sedang berbunga
Mursegu supesta Kalong punya pesta
Krunci teng na kabesa Anak muda di dalam perut
Su vilu teng nabriga Slayer baru ada di kepala

Sungguh asyik di dengarkan dan ini akan memancing pendengar untuk bergoyang, berjoget bersama tentunya ditingkahi permainan alunan Keroncong Tugu yang melegenda. Cafrinyo artinya para peserta dalam musik. Cafrinho (dibaca kafrinyu) dalam bahasa Portugis huruf O dibaca U. Dari keempat pantun di atas merupakan lagu kecintaan pemuda-pemudi zaman dahulu di Kampung Tugu. Dan lagu ini merupakan lagu legenda bagi orang Tugu. Bahkan lagu ini dinyanyikan oleh para orang tua yang telah memutih kepalanya kepada anak-anaknya. Kerinduan akan terobatai bila mereka mendendangkan lagu itu.
( Johan Sopaheluwakan )

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here