Dinamika Pastoral dan Manajerial

0
110

Oleh: Sigit Triyono (Sekum LAI)

www.alkitab.or.id IG:lembagaalkitabindonesia

 

Saya mulai terlibat dalam pelayanan Gereja sekitar tahun 1981, sesudah mengaku Sidhi di Gereja Kristen Jawa (GKJ) Klaseman, Klaten – Jawa Tengah. Kala itu saya berusia 17 tahun dan kelas dua SMA. Jabatan yang saya emban adalah anggota seksi acara Natal Komisi Pemuda.

Seingat saya, tidak ada SK yang saya terima, tidak ada uraian jabatan tertulis yang disodorkan, tidak ada SOP yang rinci dan tertulis, bahkan target terukurpun tidak ada. Tetapi semua itu tidak menyurutkan saya untuk ikut melayani di Gereja. Yang saya lakukan adalah selalu datang rapat panitia, dan memberikan ide-ide demi suksesnya acara Natal Pemuda kala itu.

Sebagai “pendatang baru” dalam pelayanan, saya merasakan betapa baiknya senior-senior di Gereja membimbing saya, memberitahu saya, dan menuntun saya saat saya gagap dalam melakukan pekerjaan pelayanan di Gereja. Maklumlah saya belum paham apa itu manajemen, apa itu pastoral, apa itu strategi dan berbagai istilah lain di seputar pengelolaan pekerjaan dalam organisasi.

Belakangan setelah saya kuliah S1 di Yogyakarta (periode 1982-1989, tujuh tahun baru lulus karena terlalu aktif mengurus organisasi di luar urusan kuliah) saya didewasakan dengan berbagai pengetahuan dan keterampilan mengelola organisasi secara efisien dan efektif. Aktivitas saya di lingkungan gereja semakin menjadi. Saya aktif menjadi pengurus Pemuda Gereja, Kelompok Pemahaman Alkitab, Persekutuan Mahasiswa Kristen, Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia, Majalah Mahasiswa Kristen, dan Kelompok Diskusi Mahasiswa juga terlibat pelayanan di YMCA.

Saya sering berseloroh, kuliah itu bagi saya nomor 9. Nomor 1-7 mengurus organisasi, nomor 8 pacaran, dan barulah nomor 9 kuliah. Maka tidak heran kuliah S1 saya lulus dengan predikat nyaris-nyaris.

Baca juga  IFRA 2019: Gelaran Pameran Waralaba IFRA 2019 Hadirkan Peluang Bisnis Terkini

Setelah lulus kuliah S1 dan bekerja di lingkungan organisasi profesional, aktivitas pelayanan Gereja berlanjut baik sebagai Pengurus Komisi, Penatua sampai Pengurus Yayasan Gereja. Saya berkenalan dengan LAI di akhir tahun 1989, dimana saya menemani Alm. Bapak Soen Siregar yang saat itu menjadi anggota Komisi SDM dan Umum LAI membawakan satu sessi di forum Rapat Kerja LAI di Cisarua Bogor. Saya tidak pernah membayangkan pertemuan itu merupakan pertemuan yang terus berlanjut dan bahkan mengikat saya dengan LAI sampai saat ini.

Aktivitas di lingkungan Gereja dan lembaga-lembaga perpanjangan tangan Gereja dimana saya pernah aktif di dalamnya, dominan mengimplementasi prinsip-prinsip: toleransi, tenggang rasa, memaklumi, mendoakan dan aspek-aspek “pastoral” lain. Sedangkan implementasi prinsip-prinsip manajerialnya serasa masih kurang.

Mayoritas pelayan-pelayan Gereja lebih suka bekerja dengan semangat “kekeluargaan”, saling mengerti, saling memahami, saling menopang (meski kadang ngedumel di belakang), ketimbang taat kepada uraian pekerjaan, SOP, Tata Gereja dan Tata Laksana.

LAI yang merupakan organisasi yang didirikan oleh para aktivis Gereja membawa kultur kerja yang mirip-mirip Gereja. Namun dalam usia yang ke 65 tahun ini, LAI banyak mengalami transformasi sehingga terbentuk kultur kerja yang berimbang antara Pastoral dan Manajerial.

Sejak 1995 bersama Mitra yang lain dan Tim Internal LAI, saya turut terlibat dalam pekerjaan-pekerjaan pembenahan manajerial LAI hingga LAI mampu menerapkan metode manajemen: “Strategic Planning”, “Balanced Scorecard”, mendapatkan sertifikat ISO 9001:2015, dan pelaksanaan “continuous improvement”.

Pastoral yang lebih menekankan semangat “memberdayakan”, “memberi kesempatan”, “tenggang rasa”, “mendukung”, dan “penuh kasih sayang”, sangat dibutuhkan dalam pengelolaan organisasi apapun, baik nirlaba maupun profit oriented. Hal ini akan memperkuat “aspek manusiawi” dalam organisasi. Namun bila mengabaikan aspek manajerial yang menekankan aspek PIME – “Planning”, “Implementation”, “Monitoring” dan “Evaluation”, niscaya target-target yang sudah ditetapkan organisasi akan sulit dicapai.

Baca juga  TULUS BERPELUKAN DEMI NKRI

Keberhasilan LAI dalam pelayanannya sampai di usia ke 65 tahun adalah cermin implementasi keseimbangan antara Pastoral dan Manajerial secara dialektis.

*#SalamAlkitabUntukSemua*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here