Studi Menunjukkan Cakupan Kesehatan Universal di Indonesia Berhasil Menciptakan Sistem Terbesar di Dunia dengan Merangkul Keberagaman, dan Memberikan Rekomendasi Pendekatan Preventif dan Promotif

0
245

.

Menciptakan implementasi Cakupan Kesehatan Universal/Universal Health Coverage (UHC) yang adaptif dan dapat menyesuaikan diri dengan situasi kesehatan beragam, dibuat berdasarkan perencanaan dinamis berbasis data dari sistem informasi kesehatan lini terdepan, serta mengikutsertakan kegiatan kesehatan promotif dan preventif;

merupakan kunci suskes yang akan membawa dampak kesehatan signifikan bagi Indonesia

.

Jakarta, Suarakristen.com

Sebuah studi yang dipublikasikan hari ini di The Lancet menjelaskan bahwa Indonesia telah menciptakan skema Universal Health Coverage (UHC) yang adaptif dan fleksibel untuk mengakomodir kondisi dan kebutuhan yang beragam untuk menjamin perlindungan risiko keuangan, serta akses pelayanan kesehatan yang aman, efektif dan terjangkau bagi seluruh lapisan masyarakat; seperti yang dimandatkan dalam Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Studi berjudul “Universal Health Coverage di Indonesia: Konsep, Perkembangan, dan Tantangannya” merupakan studi pertama yang sepenuhnya ditulis dan dipimpin oleh tim peneliti Indonesia yang berhasil diterbitkan di The Lancet – salah satu jurnal kesehatan yang sangat prestisius dan berdampak tinggi di dunia. Studi ini ditulis oleh tim Indonesia dari berbagai latar belakang ilmu yang dipimpin oleh dr. Rina Agustina dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Studi ini memaparkan pencapaian, kesenjangan, dan kesempatan dari Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan (BPJS) dalam memperluas cakupan, akses pelayanan dan keadilan untuk pelayanan kesehatan. Sejak dilaksanakan pada tahun 2014, sistem JKN dan BPJS telah menjadi sistem asuransi dengan skema pembayar premi tunggal terbesar di dunia yang menanggung lebih dari 203 juta orang hingga saat ini. Studi ini menekankan bahwa JKN mampu memperbaiki askes dan pemerataan pelayanan kesehatan, khususnya pada kelompok kelas ekonomi bawah di wilayah pedesaan, terutama di wilayah timur Indonesia.

Lebih lanjut, JKN turut meningkatkan perawatan penyakit tidak menular. Namun, studi ini menemukan berbagai kesenjangan yang membutuhkan perhatian segera, terutama terkait kelompok rentan dan keberlanjutan finansial. Jika tidak segera diatasi, kesenjangan ini dapat membahayakan keberlanjutan di masa mendatang.

Permasalahan pertama adalah adanya kelompok yang disebut sebagai “kelompok menengah yang hilang (missing middle)”, dimana hanya ~52% orang yang terdaftar pada usia 20 hingga 35 tahun dari lapisan ekonomi menengah. Lebih lanjut hanya ~25% pendaftar anak-anak sejak dilahirkan hingga usia 4 tahun.

Permasalahan kedua adalah kesenjangan finansial yang dirasakan oleh JKN dan BPJS dimana pendapatan tidak dapat menutup pengeluraran. Hal ini utamanya disebabkan oleh rendahnya iuran dan tingginya klaim untuk penyakit kronis. Studi ini mengungkapkan sebanyak 23% peserta mendaftar ketika mereka sakit. Selain itu, mereka yang telah memiliki sejarah penyakit kronis juga terbukti sangat antusias mendaftar sebagai peserta JKN. Pertumbuhan beban penyakit tidak menular di Indonesia sudah sangat serius, yang salah satunya disebabkan oleh faktor kebiasaan merokok yang terdapat pada 65% laki-laki dewasa, atau termasuk angka tertinggi di dunia. Faktor lainnya adalah masalah gizi, termasuk obesitas, stunting pada anak yang diasosiasikan dengan meningkatnya risiko terhadap hipertensi, diabetes, dan penyakit jantung, sehingga pada akhirnya meningkatkan klaim kesehatan untuk jangka panjang.

Permasalahan ketiga ditemukan pada kesiapan layanan kesehatan. Seiring dengan meningkatkan kebutuhan peserta JKN dan BPJS, jumlah tenaga dan fasilitas media belum memadai, terutama di rumah sakit umum maupun puskesmas. Salah satu tujuan utama dari JKN dan BPJS adalah untuk memperkuat peran pusat kesehatan masyarakat di tingkat primer; maka kurangnya tenaga, fasilitas, obat, dan peralatan kesehatan di lini terdepan dapat memangkas rujukan yang tidak diperlukan, yang pada akhirnya akan memperbesar biaya secara keseluruhan.

Para peneliti memberikan beberapa rekomendasi untuk menciptakan sistem kesehatan yang tangguh dan berdampak tinggi. Rekomendasi yang diberikan bersifat praktis dan dapat diimplementasikan sehingga mampu memberikan hasil cepat.

Pertama, peneliti mengusulkan percepatan kepesertaan dan pengumpulan iuran, terutama dalam kelompok pekerja di sektor informal atau yang disebut ‘kelompok menengah yang hilang (missing middle)’ dan kelompok ibu hamil dan anak-anak. Saat ini, terdapat sekitar 56,4 juta orang yang belum masuk JKN. Lebih lanjut, studi juga melaporkan bahwa pembayaran premi asuransi bukanlah penyebab utama kelompok tersebut tidak bergabung dalam JKN, namun lebih pada permasalahan ketersediaan layanan dan kurangnya pemahaman tentang asuransi.

Rekomendasi kedua, dan yang paling penting, adalah inovasi untuk pendekatan preventif dan promotif untuk mendukung pendekatan kuratif dari UHC. Inovasi pertama adalah pendekatan preventif Universal Risk Coverage (URC), dimana pemerintah harus menciptakan investasi multisektoral agar mengurangi faktor risiko utama untuk mencegah atau menunda penyakit, sehingga mampu menekan biaya tinggi penyakit di masa mendatang. Para peneliti mengindikasikan bahwa investasi pada kesehatan ibu dan anak, perawatan terhadap tumbuh kembang anak, sanitasi yang layak – terutama di daerah pedesaan dan terpencil, pola hidup sehat, kualitas diet yang lebih baik dan kegiatan gerak tubuh/olahraga dapat mengurangi tingginya biaya kesehatan yang diakibatkan oleh penyakit menular dan tidak menular. Inovasi selanjutnya adalah Universal Cause Coverage (UCC) yang fokus pada reformasi kebijakan dan investasi yang mendukung promosi gaya hidup sehat. Dengan demikian, sebuah sistem terpadu yang bertransformasi dari UHC yang bersifat kuratif, URC yang bersifat pencegahan dan UCC yang bersifat promotif; akan dapat menjadi jaring pengaman kesehatan yang terbaik bagi masyarakat.

Baca juga  Full Gospel Businessman Fellowship International Berbagi Kasih di Tengah Wabah Virus Corona (Covid-19)

Terakhir, rekomendasi ketiga dalam studi ini menekankan pada penguatan lini terdepan kegiatan berbasis masyarakat dan sistem informasi kesehatan digital yang berbasis data untuk meningkatkan efisiensi dan memandu terciptanya solusi bagi permasalahan kesehatan Indonesia dengan kondisi yang beragam. Lebih lanjut, akses yang lebih baik dan penggunaan data penting oleh para peneliti Indonesia akan membantu proses pengambilan keputusan berdasarkan bukti secara strategis. Dengan demikian, dapat dipastikan terjadinya reformasi kebijakan di luar sektor kesehatan untuk memberdayakan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat, didukung oleh partisipasi kader kesehatan yang profesional.

Secara umum, sistem UHC yang terintegrasi, dinamis, dan adaptif terhadap perkembangan masyarakat akan menciptakan jalur yang lebih terjangkau dan berkelanjutan untuk mendorong akses kesehatan bagi semua lapisan masyarakat, serta turut mendorong pemenuhan target SDGs.

Artikel ilmiah ini ditulis oleh: dr. Rina Agustina, MSc,PhD (Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia-RS Dr. Cipto Mangunkusumo/FKUI-RSCM dan Human Nutrition Research Center, Indonesian Medical Education and Research Institute HNRC-IMERI FKUI); Teguh Dartanto, PhD (Departemen Ekonomi dan Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis UI/FE UI); Prof. Dr. dr. Ratna Sitompul, SpM (K) (Departemen Ilmu Kesehatan Mata FKUI-RSCM); Kun Aristiati Susiloretni, PhD (Politeknik Kesehatan Semarang, Kementerian Kesehatan); Suparmi, MKM (Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Kementerian Kesehatan); Prof. dr. Endang L Achadi, MPH, DrPH (Departmen Ilmu Gizi, Fakultas Kesehatan Masyarakat/FKM UI); Prof. dr. Akmal Taher, SpU (K) (Kementerian Kesehatan dan Departmen Urologi FKUI-RSCM); dr. Fadila Wirawan, MSc (HNRC-IMERI FKUI); Prof. dr. Saleha Sungkar, DAP&E, MS, SpPark (Departemen of Parasitologi FKUI); Prof. dr. Pratiwi Sudarmono, PhD, SpMK (Departemen Mikrobiologi, FKUI-RSCM); Anuraj H. Shankar, DrPH (Harvard T.H. Chan School of Public Health, Harvard University) dan Prof. dr. Hasbullah Thabrany, MPH, DrPH (Dewan Jaminan Sosial Nasional dan Departemen Administrasi dan Kebijakan Kesehatan, FKM UI).

Kontributor:

Prastuti Soewondo (FKM UI), Sitti Airiza Ahmad (FKUI-RSCM), Muhammad Kurniawan (FKUI-RSCM), Budi Hidayat (FKMUI), Donald Pardede (Ministry of Health RI), Mundiharno (BPJS, Jakarta, Indonesia), Erni J Nelwan (FKUI-RSCM), Okky Lupita (FKUI-RSCM), Ery Setyawan (FKM UI), Atik Nurwahyuni (FKM UI), Dwi Martiningsih (BPJS), and Helda Khusun (SEAMEO RECFON).

*****

KUTIPAN

“Studi ini menunjukkan bahwa penelitian Indonesia telah mencapai kualitas penelitian kelas dunia. Hal ini merupakan tonggak sejarah baru untuk mendorong lebih banyak para peneliti Indonesia dalam meningkatkan kualitas dan kuantitas penelitian mereka serta berkontribusi terhadap sistem dan status kesehatan yang lebih baik untuk seluruh masyarakat Indonesia dan dunia.”

Prof. dr. Ali Ghufron Mukti, M.Sc. Direktur Jenderal Sumber Daya Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi RI

“Para penulis memberikan indikasi secara jelas bagaimana UHC di Indonesia telah menunjukkan langkah yang baik dalam merangkul keberagaman penyediaan layanan di seluruh negara. Pernyataan terkait keberagaman etnis dan genetik juga penting dan akan memberikan peran besar dalam menciptakan proses diagnosis dan pengobatan yang lebih efektif.”

Dr. Amin Soebandrio, Kepala Eijkman Institute of Molecular Biology

“Studi menunjukkan bahwa UHC berada pada jalur yang benar, namun analisa kami juga menunjukkan adanya kesenjangan cakupan pada perawatan bayi baru lahir dan anak-anak di bawah usia 2 tahun. Padahal ini sangat penting untuk meningkatkan kesehatan dan mengurangi risiko penyakit kronis di masa mendatang. Dengan demikian, menjembatani kesenjangan cakupan merupakan hal utama yang harus diperhatikan dalam UHC.”

Prof.dr. Endang L. Achadi, MPH, DrPH, Profesor Ilmu Gizi Ibu dan Anak, Head of Center for Maternal and Child Health, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia

“Rancangan JKN sudah yang terbaik, mengakomodir karakter layanan kesehatan yang unik. Yang menjadi tantangan adalah mengubah pandangan dari masyarakat dan pemerintah untuk menjamin berkelanjutan secara finansial dan kualitas layanan medis yang baik. Pemerintah perlu berkomitmen menaikan dana JKN dan bayaran ke faskes yang layak. Selain itu keterbukaan BPJS dan koordinasi yang baik Pemerintah dan pemda untuk memperkuat upaya preventif dan promotif akan memastikan JKN akan tumbuh sehat.”

Prof. dr. Hasbullah Thabrany, MPH, Dr.PH, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia

“UHC di Indonesia terbukti meningkatkan akses dan kesetaraan layanan kesehatan, terutama di kelompok pendapatan bawah. Meski cakupan populasi dan pengeluaran JKN meningkat secara signifikan, namun alokasi anggaran pemerintah untuk sektor kesehatan masih relatif rendah jika dibandingkan dengan negara lain. Para pemangku kepentingan perlu fokus untuk menurunkan defisit dan mempercepat partisipasi masyarakat ke dalam sistem – terutama kelompok menengah atas di sektor informal yang dikenal sebagai ‘missing middle’ dan perlu memperhatikan keberlanjutan keuangan dari program JKN”.

Baca juga  Supaya orang-orang tetap #Dirumahaja, Likee tawarkan konsultasi kesehatan online gratis lewat Likee Live Health Clinic

Teguh Dartanto, PhD, Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia

“Studi ini menyoroti UHC di Indonesia yang berada pada jalur yang tepat. Namun, beberapa hal harus dilakukan untuk memastikan keberlanjutan sistem. Investasi yang tepat pada perawatan kesehatan ibu, sanitasi, gaya hidup sehat dan asupan gizi yang berkualtas, serta olahraga sangat penting untuk menurunkan beban klaim yang tinggi di masa mendatang dan membantu menciptakan sistem yang berkelanjutan.”

dr. Rina Agustina, MSc, PhD, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia

““Apresiasi tertinggi kami berikan kepada tim peneliti atas pencapaian artikel ini yang sekaligus menciptakan standar baru di dunia akademis. Mereka semua dapat bekerja bersama beberapa ahli di bidang ekonomi dan kesehatan masyarakat. Hal ini sekaligus menjadi bukti bahwa universitas sebagai ‘think tank’ dapat berkontribusi pada proses pembuatan kebijakan berbasis ilmu pengetahuan – yang mampu memberikan usulan konkrit terhadap solusi pelayanan kesehatan jangka panjang.”

Prof. Dr. dr. Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, MMB, Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia

“Sebagai badan penyelenggara JKN, kami menilai bahwa studi ini berhasil memberikan analisa tajam terhadap tantangan JKN serta memberikan beberapa rekomendasi untuk mengatasi tantangan tersebut. Kedepannya, kami berharap seluruh pemangku kepentingan dalam sistem JKN dapat memiliki perspektif yang sama; sehingga dapat secara nyata memberikan kontribusi untuk menciptakan sistem kesehatan yang lebih baik dan berkelanjutan bagi masyarakat Indonesia.”

Prof. Dr. dr. Fachmi Idris, M,Kes, Presiden Direktur BPJS

“UHC untuk menuju SDGs tidak akan terjadi apabila sistem pelayanan kesehatan primer tidak dikuatkan. Sistem yang dimaksud mencakup adanya kebijakan kesehatan yang mendukung kolaborasi lintas sektor (di luar sektor kesehatan), peningkatan pelayanan kesehatan primer (termasuk peningkatan kualitas sumber daya, perbaikan sistem rujukan dan penguatan layanan kesehatan di lini terdepan), dan pemberdayaan masyarakat (memastikan para kader di posyandu/posbindu sebagai ujung tombak layanan kesehatan benar-benar dapat mendampingi masyarakat menuju hidup sehat). Studi ini menjadi semakin penting karena bisa mengaitkan pentingnya perbaikan sistem pelayanan kesehatan primer untuk menurunkan prevalensi penyakit tidak menular yang jumlahnya semakin meningkat (mengacu pada Riskesdas 2018). Di sinilah kunci untuk menurunkan beban tinggi penyakit untuk jangka panjang.”

Prof. Dr. dr. Akmal Taher, SpU (K), Staf Khusus Menteri Kesehatan RI

“Saya menikmati bekerja dengan para peneliti muda dari berbagai disiplin ilmu dan sangat bangga ketika akhirnya studi ini berhasil diselesaikan dan dipublikasikan di The Lancet. Artinya, dunia ikut mengakui kualitas para peneliti Indonesia. Studi ini dilakukan dengan serius dengan mempertimbangkan banyak aspek terhadap UHC di Indonesia. Saya harap temuan dan rekomendasi yang disampaikan dalam studi ini dapat memberkan langkah-langkah konkrit agar semua pihak dapat bergerak maju meningkatkan kualitas JKN dan BPJS sebagai jaring pengaman di sektor kesehatan bagi seluruh masyarakat Indonesia.”

Prof.dr. Pratiwi Pudjilestari Sudarmono, Ph.D., SpMK, co-author dan mantan Wakil Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia

“Riset berkesinambungan tentang UHC yang dijembatani oleh akademisi akan memperkuat sistem kesehatan. Hal ini menjadi rekomendasi penting untuk Indonesia dan dunia. Ada beberapa isu penting terkait peningkatan akses kesehatan rutin yang berkualitas dan pelayanan spesialis, salah satunya layanan kesehatan mata.”

Prof. Dr. dr. Ratna Sitompul, SpM(K), Dokter Spesialis Mata di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia – RS Cipto Mangunkusumo

“Universitas Indonesia bangga terhadap akademisi kami yang berhasil membuktikan pendekatan inter-disiplin dibutuhkan untuk menjawab tantangan negara. Studi ini berkontribusi tidak hanya secara akademis, namun juga untuk mendorong perkembangan Indonesia dalam menciptakan kesetaraan di sektor kesehatan.”

Prod. Dr. rer. Nat. Rosari Saleh, Wakil Rektor Bidang Riset dan Inovasi Universitas Indonesia

“Saya sangat mengapresiasi penelitian yang dilakukan tim FKUI bersama dengan FEUI dan FKM UI, serta Kementerian Kesehatan RI, karena berhasil bekerja sama dengan baik dalam menyajikan data-data empiris secara strategis untuk melengkapi berbagai perspektif (klinis dan non-klinis) dalam mengkritisi dan mencari solusi terhadap salah satu permasalahan kesehatan penting bagi Indonesia dan dunia, yaitu terobosan intervensi terhadap JKN. Saya terus mendorong para peneliti lainnya agar bisa menghasilkan publikasi berkualitas dunia dan membantu kebijakan berbasis bukti ini di masa mendatang, agar Indonesia dapat semakin dikenal sebagai produsen peneliti berkualitas sekelas dunia.”

Prof. Dr. dr. Siti Setiati, SpPD-KGER, M.Epid – Ketua Unit Clinical Epidemiology & Evidence-Based Medicine, RS Cipto Mangun Kusumo

“Dokter berada dalam pusat sistem UHC dan kami mendukung penemuan studi yang mengungkapkan dibutuhkan lebih banyak dokter dan fasilitas serta alat kesehatan dan ketersediaan point-of-care diagnostic test untuk meningkatkan layanan. Mengurangi birokrasi dari proses administrasi UHC akan turut membantu. Dalam konteks ini, pengadaan sistem informasi kesehatan yang lebih baik merupakan prioritas utama.”

Baca juga  ASOSIASI SERIKAT PEKERJA INDONESIA : DIDUGA MEMANFAATKAN DARURAT COVID 19, RAMAYANA LAKUKAN PHK MASSAL DAN SEPIHAK. TIDAK MANUSIAWI DAN TIDAK SAH!

Dr Daeng M Faqih, SH, MH, Ketua Umum PB Ikatan Dokter Indonesia (IDI)

“Studi ini melaporkan bahwa Indonesia menghadapi masalah nutrisi, terutama stunting, dimana penyakit ini seringkali diasosiasikan dengan peningkatan risiko penyakit tidak menular. Studi lebih lanjut memaparkan beberapa faktor yang turut berkontribusi pada kondisi ini, diantaranya status sosial ekonomi yang rendah, edukasi dan kesehatan Ibu yang masih rendah, sistem sanitasi yang masih buruk, infeksi pada anak-anak, asupan makanan yang tidak cukup dan kurang berkualitas, kurangnya pola asuh yang baik serta tingkat stress pada orang tua. Kami memuji rekomendasi studi ini yang mendorong lebih dari sekedar pendekatan kuratif UHC, namun juga fokus pada promosi gaya hidup sehat dalam upaya meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat Indonesia di masa depan.”

Frans J. Kok Emeritus Professor Epidemiology of Non Communicable Disease, Wageningen University, The Netherlands

“Untuk memperkuat program promotif dan preventif yang mendukung keberlanjutan sistem JKN di Indonesia, pemanfaatan potensi bidan sebagai garda terdepan perlu dimaksimalkan. Selain itu, penting untuk didukung dengan sistem informasi digital kesehatan yang terintegrasi.”

Dr. Emi Nurjasmi, M.Kes, Ketua Umum Ikatan Bidan Indonesia

Tentang Universitas Indonesia

Universitas Indonesia (UI) merupakan sebuah perguruan tinggi tertua di Indonesia dan secara umum dianggap sebagai salah satu perguruan tinggi papan atas di Indonesia. Berdasarkan QS World University Ranking tahun 2018, UI menempati peringkat ke-1 di Indonesia, peringkat ke-58 di Asia, dan peringkat ke-277 di dunia. Saat ini UI terdiri dari 14 fakultas dengan total lebih dari 400.000 alumni. Pada tahun 2020, UI bercita-cita untuk menjadi universitas terkemuka di Asia Tenggara yang mampu memberikan solusi terhadap berbagai tantangan di tingkat nasional maupun global.

Tentang Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia

Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) merupakan sekolah kedokteran pertama di Indonesia, dan menjadi salah satu pendidikan kedokteran dan pusat penelitian terbaik di Indonesia. Selain itu, FKUI juga berhasil menjadi satu-satunya lembaga medis di Indonesia yang berhasil masuk di QS World University Ranking Top 300. Seiring dengan misinya sebagai penyelenggara pendidikan kedokteran berbasis riset untuk menghasilkan lulusan terbaik, FKUI telah mencetak sekitar 20% dokter nasional yang mempromosikan nilai-nilai budaya FKUI yang berintegritas, visioner, unggul, kolaboratif, profesional, dan peduli terhadap orang lain.

About Human Nutrition Research Center (HNRC), Indonesian Medical Education and Research Institute, Faculty of Medicine Universitas Indonesia

Human Nutrition Research Center (HNRC) merupakan salah satu pusat riset baru yang merupakan bagian dari Indonesian Medical Education and Research Institute (IMERI), Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. HNRC fokus untuk melakukan inovasi untuk menciptakan intervensi terpadu yang terbukti dapat meningkatkan kesehatan dan pembangunan untuk semua. HNRC akan menjadi pusat riset terkemuka yang berfokus pada keberagaman diet, serta permasalahan kesehatan dan latar belakang genetik penduduk Indonesia. HNRC akan menghasilkan penelitian yang sangat berpengaruh dan penelitian terapan yang sesuai di bidang gizi dan kebijakan terkait kesehatan.

Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI

Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, biasa disingkat sebagai Badan Litbangkes merupakan lembaga penelitian kesehatan pemerintah yang berada di bawah Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Badan ini berfokus pada penelitian dan pengembangan biomedis dan epidemiologi klinis, layanan kesehatan, kesehatan masyarakat, serta kebijakan kesehatan dan kemanusiaan.

Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia

Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) merupakan salah satu fakultas ekonomi terbaik di Indonesia. FEB UI menempati peringkat ke-39 dalam kategori Akuntasi dan Keuangan serta peringkat ke-73 untuk kategori Ekonomi dan Ekometriks di Asia, menurut QS World University Ranking, yang sekaligus menjadikannya satu-satunya fakultas ekonomi dan bisnis di Indonesia yang termasuk di dalam daftar. Sesuai dengan visinya sebagai pusat pendidikan bidang ekonomi dan bisnis di Asia, FEB UI telah menghasilkan beberapa alumni terkemuka, di antaranya Sri Mulyani (Menteri Keuangan RI dan mantan Direktur World Bank), Fahmi Idris (Direktur Utama BPJS, mantan Menteri Perindustrian RI), dan Emil Salim (penerima WWF’s The Leader for the Living Planet Award)

Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia

Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) telah terlibat dalam banyak kegiatan penelitian dan melakukan ratusan penelitian dalam lima tahun terakhir yang didanai oleh berbagai lembaga nasional dan internasional. Terdapat 13 pusat penelitian yang menawarkan metode dan pendekatan berbeda untuk memahami permasalahan kesehatan masyarakat saat ini. FKM UI telah bekerja sama dengan berbagai lembaga pemerintahan di pusat dan daerah seperti BKKBN, Bappenas, Biro Pusat Statistik, BNP, serta melakukan beberapa kegiatan dengan lembaga internasional, seperti UNDP, UNFPA, UNICEF, UNESCO, USAID, Asian Development Bank, dan Family Health International.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here