Kecerdasan adalah Kunci Keberhasilan dalam Revolusi Industri 4.0

0
111

 

Oleh: Jeannie Latumahina

Sebenarnya keberadaan gelombang “Revolusi Keempat” bukanlah sesuatu hal yang perlu ditakuti, malah seharusnya menjadi tantangan kedepan untuk dikendalikan dengan tetap berada dalam jalur yang positif menuju masa depan yang lebih baik, baik dari sisi sosial, ekonomi maupun segala aspek terkait termasuk kepada pertahanan.

Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa terjadinya :

Revolusi industri pertama adalah pemanfaatan air menjadi tenaga uap, ditambah dengan kemajuan tehnik mekanik untuk dapat meningkatkan output dari pekerja dan bahan mentah.

Revolusi kedua, berkembang sejalan dengan penemuan listrik yang kemudian mengkonfigurasikan kembali stasiun-stasiun individual dari revolusi pertama menjadi jalur-jalur perakitan bertenaga listrik yang akhirnya mendorong terciptanya produksi massal.

Revolusi ketiga, kemudian memperkenalkan robotik, kontrol komputer, serta otomatisasi industri untuk meningkatkan kualitas serta memberikan dorongan lebih lanjut mengurangi biaya produksi menjadi lebih efesien.

Pada Revolusi keempat, yang diberinama sebagai Revolusi Industri 4.0 oleh Jerman ini melapisi efek jaringan internet dan kecerdasan buatan untuk menghubungkan industri dengan elemen manusia pengguna, untuk mendapatkan umpan balik secara real-time dengan cara yang sebelumnya tidak mungkin.

Dari uraian diatas perlu dipahami bahwa Industri 4.0 atau Revolusi Keempat adalah sesuatu yang tidak mungkin bisa dihindarkan karena tuntutan jaman, maka siapapun pelakunya, baik pelaku bisnis maupun pembuat kebijakan harus mampu membuat langkah-langkah positif untuk mengendalikan revolusi tersebut menjadi baik bagi kemajuan nusa dan bangsa.

Karena bagaimana juga jika revolusi bergulir namun tidak dapat dikendalikan arahnya, akan bisa memakan “anak-anak revolusi” itu sendiri. Ini perlu menjadi catatan tegas dan seyogyanya dipahami, mengingat bahwa revolusi ke-empat akan dapat menyentuh setiap individu menjadi pelaku dari revolusi tersebut.

Baca juga  Komunike Bersama Forum Masyarakat Sipil Untuk Pemerintahan Terbuka: “Negara Harus Melanjutkan Agenda Kemitraan Pemerintah Terbuka”

Maka perlu dipikirkan lebih lanjut adalah bagaimana UMKM bisa segera menangkap peluang yang ada sehingga UMKM di Indonesia dapat mampu berkembang seperti di negeri China, dimana negara tidak sekedar memberikan pelatihan kerja, namun hingga kepada penyediaan bahan baku, pemeriksaan kualitas, hingga kepada pemasarannya, yang kemudian mampu merubah industri rumahan menjadi mendunia berkat kemajuan ALIBABA dalam memasarkan hasil produksi sampai ke ujung dunia (kalau dunia ada ujungnya… hehehe)

Maka perlu segera diantisipasi dengan langkah-langkah kebijakan yang benar benar yaitu duduk bersama dengan generasi milenial, atau generasi XYZ untuk kinerja kedepan akan semakin baik… sebagai contoh saja, disaat banyak terjadi pekerja terkena PHK atau tertindas akibat kebijakan Outsourcing, tiba-tiba muncul GoJek jasa transportasi online menjadi solusi pemberi kerja, serta bisnis online lainnya seperti Kaskus, Tokopedia, Bukalapak dsb sebagai alternatif baru yang menguntungkan.

Kalau kemudian jika pemerintah tidak dapat cepat membuat regulasi kebijakan dan mengantisipasi dengan cepat… maka silahkan meneteskan air liur saja, duduk menonton, tanpa bisa mengambil keuntungan dari situasi yang ada, bahkan pelaku Industri 4.0 kalau tanpa perlindungan bisa dalam waktu singkat diambil alih pihak kompetitor.

Mampu berfikir kreatif adalah kunci kemenangan bagi pemerintah mendatang

Demikian juga namanya revolusi akan selalu membawa perubahan, juga pada tatanan budaya… Nah lihatlah pula budaya nasional sebagai peluang, untuk bagaimana bisa menjual budaya bukan malah pembeli budaya asing yang tidak punya tatanan nilai hidup bermasyarakat, akibat kapitalisasi budaya itu sendiri.

Apakah Indonesia hanya mau jadi penonton? atau malah ketakutan dengan hantu yang dibangun sendiri??…. tentu tidak Indonesia punya masyarakat cerdas, yang mampu bergerak dalam berbagai industri kreatif seperti GoJek, Traveloka, Tokopedia, Bukalapak dan banyak lagi lainnya yang sudah menjadi incaran para investor dunia…. lalu bagaimana langkah kebijakan Pemerintah dalam memproteksi kekayaan intelektual bangsa??

Baca juga  PESAN PASTORAL PERSEKUTUAN GEREJA-GEREJA DI INDONESIA (PGI) TERKAIT PERISTIWA PEMBUNUHAN DI NDUGA, PAPUA

Hal Inilah yang harus dikerjakan, bukan malah gulung koming bahkan menangis guling-guling ketakutan melihat bayangan ilusi hantu.. Banyak hal yang harus dikerjakan bisa dimulai, seperti halnya pembangunan infrastruktur baik transportasi seperti jalan, jembatan, pelabuhan, namun juga hal terkait dalam manajemen pengadaan dan distribusi barang logistik, hingga kepada pemasaran, serta yang paling penting adalah infrastruktur Tehnologi Informasi harus dimiliki oleh Indonesia, dari pusat terhubung hingga pedesaan melalui jaringan berkecepatan tinggi, yang tentu tidak bisa bertumpu kepada satelit, tetapi juga jaringan serat kaca (fiber optik) antar wilayah.

“industri 4.0 harus dikendalikan melalui regulasi yang tepat supaya tidak merugikan kita sendiri

Sebab,
Revolusi industri 4.0 tidak bisa ditolak.
Perkembangan pengetahuan manusia akhirnya menuju ke sana.

Menolaknya hanyalah membuai emosi rakyat yang justru menjauhkan mereka dari kesuapan menghadapi tantangan digital. Malah sangat berisiko.

Antisipasi dengan bijak serta dibarengi kecerdasan adalah kuncinya.

Kediri 21 Nopember 2018

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here