TAMARA GERALDINE LUNCURKAN BUKU ANTINARKOBA

0
367
Tamara Geraldine

Jakarta, Suarakristen.com

Generasi adalah cikal bakal dari sebuah masa di mana kesuksesan atau kehancuran dipersiapkan. Memiliki generasi muda dengan pemikiran dan laju pertumbuhan yang luar biasa, Indonesia akan dihadapkan dengan situasi yang menguntungkan. Namun, di sisi lain, satu persatu masalah yang keluar-masuk di negara berkembang seperti Indonesia akan sangat rentan bila pertahanang enerasinya tidak diperkuat sedari dini.

Tamara Geraldine

”Menjadi negara besar tentu memiliki tantangan yang besar pula. Dan Indonesia pasti mengalaminya,” ucap Tamara di sela-seia peluncuran buku antinarkobap erdananya, Drums (Not Drugs) Generation, di Hard Rock Cafe, 28 Oktober 2018 lalu.

Keprihatinan terhadap masalah narkoba yang tak kunjung selesai, membuat Tamara Geraldine, yang dikenal terlebih dahulu sebagai seorang seniman di industri hiburan Indonesia, berpikir keras bagaimana membuat tidakan yang mungkin kecil tapi real.

“Saya juga seorang ibu dari satu anak. Menjadi seorang ibu pasti diberi intuisi Iebih …oleh Tuhan untuk menjaga anak. Dan di era yang serba digital seperti sekarang, intuisi tersebut harus benar-benar diasah.”

Bekerja sama dengan Badan Narkotika Nasional Republik Indonesia, Tamara akhirnya memutuskan untuk membuat sebuah terobosan yang nyata. Dengan membuat sebuah buku khusus anak-anak bahaya narkoba, Tamara ingin sekali memperkuat generasi muda Indonesia, khususnya anak-anak. Sebanyak tiga puluh ribu buku dan CD akan dibagikan secara bertahap kepada seluruh anak-anak di Indonesia.

‘Jika saya tidak bisa membuat Indonesia bersih narkoba, saya perkuat generasinya.”Ucap Tamara.

”Sebenarnya ini kali pertama Tamara membuat buku tentang motivasi dan sosial. Jika buku-buku sebelumnya Tamara selalu membahas tentang fiksi, profil korporasi. hingga biografi, hati Tamara terketuk untuk menulis sebuah buku tentang antinarkoba.” Ujar Juliana Sinuhaji, Managing Director dari Alkemis Diksi Tee.

”Ini adalah buku pertama dari Diksi Tee yang tercetak hingga tiga puluh ribu dan best seller persembahan dari Yayasan Kota Kembang Api untuk memberkati anak anak Indonesia.” Sambungnya

Sebagai salah satu penulis yang di bawah naungan Diksi Tee, adalah sebuah kebanggaan tersendiri bagi Tamara bisa bekerja sama dengan instansi pemerintah sekelas Badan Narkotika Nasional.

”Kami sangat menyambut ik bahkan memberikan penghargaan yang tinggi terhadap dedikasi kepada Tamara dan juga Yayasan Kota Kembang Api untuk menjadi partner dalam memberikan penyuluhan dan sosialisasi dengan mendistribusikan buku untuk generasi muda,” demikian disampaikan oleh Bapak Dikdik Kusnadi bagian Media Non Elektronik Direktorat Diseminasi Informasi DepUti Bidang Pencegahan BNN.

Baca juga  "PEOPLE POWER” AKHIRNYA AKAN MENCARI LEGITIMASI KONSTITUSIONAL

Untuk buku yang kedua adalah Indonesian With Attitude. Ada yang menarik dalam pendistribusian buku ini. Jika buku-buku Tamara sebelumnya didistribusikan di toko buku pada cetakan pertama, kali ini, Tamara ingin cetakan pertama dengan edisi khusus tampil terlebih dahulu di gerai makanan cepat saji.

“Iya. Sesuatu yang unik dari kami dan Tamara. Belum pernah sebelumnya ada buku yang “nampang” di gerai makanan cepat cepat saji, namun Tamara dengan yakin mendistribusikan cetakan pertama dengan edisi terbatasnya di tempat kami. Ini adalah suatu terobosan yang baru bagi kami,” Ujar Rimo Sulaksono, perwakilan dari Texas Chicken Indonesia. ”Apalagi buku ini adalah sebuah buku kontemplasi dari Iwa K saat menjalani masa titik paling rendah dalam hidupnya. Jika ada sesuatu yang dibagi secara ekslusif, pasti ada pesan tersendiri yang akan disampaikan. Sehingga dari kami pun tidak ragu-ragu dengan keluar dari kebiasaan selama in,”Sambungnya.

Selain mengeluarkan buku, pada kesempatan kali ini, Tamara juga menciptakan sebuah lagu yang akan didistribusikan oleh PT. Rumah Musik Indonesia Records.

“Dengan tema semangat dan percaya diri, lagu yang dinyanyikan oleh Kay ini sangat gampang untuk dicerna dan memiliki pesan khusus kepada anak Indonesia yang merasa di-bully oleh hidup.” Ujar Puji Adi Andraya dari RMV Records. ”Selain bisa dijadikan nada sambung pribadi, lagu ini nantinya juga dapat diunduh bebas di seluruh digital platform musik di Indonesia dan luar negeri. Menarik, bukan?”sambungnya.

“Lagu ini sebenarnya adalah lagu bully untuk anak saya yang tidak suka menyanyi. Anak saya yang sempat merasa hidupnya ”tidak lengkap” karena konsep standar keluarga yang dimasukkan di kepalanya dan akhirnya membuatnya berhenti berkreasi beberapa saat. Banyak yang tidak mengerti tentang konsep lagu ini, namun setelah anak saya mendengar lagu ini, akhirnya dia memeluk saya. Yang perlu diingat di sini bahwa lagu ini bukan soal mengorbitkan anak untuk menjadi penyanyi.” Tegas Tamara

“Kerinduan semua pekerja di yayasan ini memang lebih banyak diarahkan kepada anak-anak.” Leopod Tambunan, pembina Yayasan Kota Kembang Api.

Baca juga  Apakah Lebih Tepat Penyelesaian secara People Power atau Peraturan Perundangan?

“Kota Kembang Api Sendiri saat ini sudah menentukan komitmennya terhadap anak-anak yang lahir di luar nikah namun tidak bisa diadopsi oleh orang lain kecuali keluarganya sendiri. Selain itu, Kota Kembang Api menjadi rekan untuk anak-anak Indonesia yang ingin menemukan daya dan kompetensi yang ada di dalam dirinya, bukan hanya di Jakarta, melainkan dari mana saja yang belum pernah terfasilitasi. Kami masuk melalui seni dan kami percaya bahwa kesenian akan membuat jiwa-jiwa menjadi happy.” Tegas Ui Manuella Tambunan selaku ketua Yayasan Kota Kembang Api.

”Pada kesempatan kali ini, Tamara juga secara resmi mengumumkan dirinya sebagai kader PDI Perjuangan sebagai calon legislatif DPR RI di daerah pilihan Jawa Tengah II yakni Kota Kudus, Demak., dan Jepara. Perjuangan Tamara dengan memberikan penyuluhan tentang narkoba di pulau-pulau di seluruh Indonesia selama tiga tahun terakhir, akhirnya membuat partai akhirnya menempatkan Tamara di Kudus yang menjadi kota nomor tiga dengan pengguna narkoba terbesar di Indonesia,

Sedangkan Jepara berstatus gawat narkoba dan Demak yang masih belum memiliki nomor, dan berharap tidak akan pernah kebagian nomor.” Ujar Juliana Sinujahi, selaku manager kampanye dari Tamara Geraldine yang bernomor urut 5.

“Tamara akan membagikan tiga puluh ribu buku dan CD gratis kepada anak-anak sekolah dasar di Indonesia. Saya sebagai manager kampanye pun tugasnya tidak berat Kenapa? Karena saya tahu, dia adalah calon legislatif yang tidak akan kalah. Kalah itu adalah ketika tidak meninggalkan apa-apa. Terpilih atau tidaknya Tamara sebagai calon legislatif, itu adalah bonus. Tapi, apa pun hasilnya, Tamara sudah menabur hal baik. Tidak hanya di dapilnya, tetapi juga di seluruh pulau-pulau di Indonesia secara bertahap. Mungkin pelan, namun dia jalan. Kekalahan itu ketika kita masuk ke gedung sana, yang kita tinggalkan hanya spanduk dan stiker-stiker lalu kita mulai membangun.” Lanjut Juliana.

“Ada atau tidaknya pencalegan, Tamara sudah melakukan ini sudah beberapa tahun belakangan secara aktif. Dan sekarang dia akan melakukan hal yang sama di daerah mana pun dia ditempatkan. Jadi proyek sosialnya tidak akan terganggu dan akan terus berjalan secara paralel dengan kampanye politiknya. Tamara berpesan jangan sampai pencalegan ini menghambatnya untuk melakukan sosial yang saat ini menjadi pilihan hidupnya. Banyak hal yang dikorban, atau mungkin banyak pihak yang tidak mengerti seperti teman-teman yang tidak bisa ngopi-ngopi seperti dulu dan juga keluarganya, Tamara jarang sekali aktif di grup whatsapp. Kadang orang terdekat seperti ayah atau ibunya menghubungi saya agar lebih cepat sehingga hal-hal yang bersifat urgent dalam keluarga bisa tersampaikan. She is no longer a text person,. Kalau orang mungkin bilang ”Can’t Talk, Whatsapp Only” , Tamara sebaliknya. Dan mengapa dia berhari-hari tidak bisa membalas whatsapp karena di waktu lebihnya, saya juga membiarkannya bersenang-senang dengan kegiatan yang dia inginkan seperti menulis, melukis, membuat patung, memasak roti cinnamon. Dalam kesempatan ini, sebagai orang yang sangat tahu Tamara setiap hari, saya juga berterima kasih dan memberikan penghargaan setinggi-tingginya kepada keluarga terdekat, khususnya Kay dan Panda serta orangtuanya yang sudah begitu berbesar hati untuk membagi Tamara. Tamara itu adalah berkat bagi mereka, dan kita tahu, berkat itu tidak disimpan tapi dibagi. Satu-satunya yang menjadi prioritas untuk harus menyisihkan waktu setiap hari itu untuk Kay dan selebihnya, sejak beberapa tahun belakangan Tamara sudah memberikan diri dan waktunya bukan untuk keluarganya, namun untuk siapa saja karena dia tidak memilih siapa saja untuk dijadikan teman. Tamara adalah teman semua.” Imbuhnya.

Baca juga  MAKKAR VS MAKAR

“Salah satu alasan mengapa akhirnya saya bergerak di dalam bidang narkoba adalah karena kedekatan saya dengan almarhum kakek saya, Elizar Sibarani. Kakek saya adalah salah satu orang yang sangat aware terhadap narkoba. Dulu, beliau sempat duduk di UNODC, United Nation Office on Drugs and Crime, di PBB.” Ujar Tamara Geraldine.

“Kakek saya pelopor yang memiliki ide untuk memberantas narkoba jauh sebelum orang-orang berpikir tentang pemberantasan narkoba. Beliau juga yang akhirnya memberikan idenya untuk membuat panti rehabilitasi di Pamardi Siwi,” sambungnya.

“Buat saya, saya bukan teman siapa-siapa. Saya teman semua orang. Jadi, saya selalu bilang, tempatkan saya di mana saja, saya berdiri untuk negeri.” Tutupnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here