WISATAWAN MUSLIM GENERASI MILENIAL DAN GENERASI Z MEMBAWA US$180 MILIAR BAGI PASAR WISATA DARING (ONLINE TRAVEL)

0
244

 

Jakarta, Suarakristen.com

 

Meningkatnya ketergantungan wisatawan Muslim Milenial dan Generasi Z terhadap internet, media sosial, dan smartphone untuk menemukan tempat-tempat wisata dan melakukan reservasi perjalanan telah mendorong pasar daring (online) sebesar US$180 miliar.

Mastercard-CrescentRating Digital Muslim Travel Report 2018 (DMTR2018) telah mengungkapkan pandangan (insights) mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan pembelian online oleh wisatawan Muslim di generasi mendatang. Yang dimana penelitian ini memproyeksikan pengeluaran perjalanan wisatawan Muslim secara online akan melampaui US$180 miliar pada tahun 2026.

DMTR2018 merupakan laporan komprehensif pertama yang menyuguhkan informasi mengenai pola perjalanan online dan sikap wisatawan Muslim dari berbagai kelompok demografis yang berbeda.

Laporan ini memperluas penelitian pada populasi wisatawan Muslim digital, sebagai bagian yang lebih besar dari Muslim Milennial Travelers (MMT) pada Muslim Millenial Travel Report 2017.

Laporan ini disampaikan pada acara Halal-In-Travel Asia Summit yang diselenggarakan oleh CrescentRating di ITB Asia 2018.

Fazal Bahardeen selaku CEO Crescent Rating dan HalalTrip mengatakan, “DMTR2018 mengungkapkan hal-hal penting mengenai perilaku dan preferensi online wisatawan Muslim. Laporan ini akan memberikan pandangan mengenai layanan platform online dan jejaring sosial untuk mengevaluasi potensi pasar

Muslim bagi para pengelola tujuan wisata, operator tur, maskapai penerbangan, dan pemangku kepentingan lain di sektor pariwisata dan perhotelan.”

“Dengan cepatnya perkembangan teknologi online dan metode pembayaran, serta meningkatnya penduduk Muslim yang lahir di era digital, sebagai segmen utama dalam pasar perjalanan Muslim, maka prospek di ranah digital sangat positif. Destinasi-destinasi wisata harus memastikan bahwa pesan yang mereka sampaikan dapat menjangkau wisatawan Muslim melalui saluran online.

Laporan ini akan memberikan kriteria segmentasi yang praktis dan siap pakai bagi para pelaku di industri ini untuk menjangkau kelompok sasaran yang berbeda. Digital itu nyata dan melampaui generasi,” tambahnya.

Baca juga  Lima Fakta Unik tentang Tren Wisata Millennial Indonesia, Apakah Juga Kamu Lakukan?

Davesh Kuwedekar selaku Vice Presidemt, Market Development, Mastercard, mengatakan, “Pasar perjalanan Halal senantiasa menjadi salah satu segmen perjalanan yang bertumbuh paling cepat secara global, dengan kedatangan wisatawan Muslim yang mewakili sekitar 10 persen dari keseluruhan industri perjalanan global pada tahun 2017. Wisatawan Muslim menghabiskan lebih banyak waktu untuk meneliti dan membandingkan informasi online sebelum akhirnya memilih dan membayar pengalaman perjalanan ideal mereka. Mastercard bekerja sama dengan mitra-mitra yang memiliki pemikiran yang sama untuk menciptakan penawaran khusus di berbagai bidang yang menjadi minat para konsumen. Seiring dengan meningkatnya jumlah konsumen yang menjelajahi lebih banyak negara dan wilayah, Mastercard juga melihat adanya peningkatan dalam penggunaan pembayaran non-tunai dan digital melalui opsi prabayar dan debit sebagai metode pembayaran elektronik yang lebih aman, nyaman, dan dapat diandalkan untuk memberikan ketenangan selama bepergian. ”

Mastercard-CrescentRating Global Muslim Travel Index (GMTI) 2018, yang dirilis pada bulan April tahun ini, menegaskan bahwa pasar perjalanan Muslim akan terus mengalami pertumbuhan yang cepat hingga mencapai US$300 miliar pada tahun 2026.

Pada tahun 2017, diperkirakan terdapat 131 juta wisatawan Muslim secara global. Penelitian CrescentRating juga menunjukkan bahwa lebih dari 60 persen wisatawan Muslim adalah Generasi Milenial ataupun Generasi Z.

Pasar Outbound Muslim Terbesar Secara Digital

Berdasarkan GMTI 2018, 30 Outbound Market Muslim teratas mewakili 90% kedatangan wisatawan Muslim secara keseluruhan. Studi ini mempelajari lanskap pemberdayaan digital (Digitally Enabled) dari negara-negara tersebut untuk memahami potensi transaksi-transaksi digital. Destinasi-destinasi wisata ini terbagi menjadi beberapa kelompok berbeda berdasarkan ukuran pasar dan akses digital.

Kelompok A

Pasar outbond besar dengan tingkat pemberdayaan digital tingkat tinggi

Baca juga  LPEM-FEB UI DAN METI GELAR DISKUSI: KAJIAN TELAAH HARGA DAN BIAYA RIIL PEMBANGKITAN LISTRIK BERBASIS ENERGI BARU DAN TERBARUKAN

 Arab Saudi
 Malaysia
 Uni Emirat Arab

Ketiga wilayah ini merupakan kawasan dengan populasi Muslim yang besar dan PDB per kapita yang tinggi, sehingga memungkinkan persentase yang tinggi dari wisatawan untuk melakukan perjalanan internasional. Mayoritas penduduk di negara-negara ini merupakan penduduk yang digital savvy dan memiliki infrastruktur digital terbaru.

Kelompok B

Tingkat pemberdayaan digital yang tinggi tetapi pasar outbond yang lebih kecil Negara-negara OKI

 Kuwait
 Qatar
 Libanon
 Tunisia
 Azerbaijan
 Kazakhstan
Negara-negara Non-OKI
 Britania Raya
 Jerman
 Perancis
 Singapura
 Rusia

Ketiga negara ini merupakan negara-negara yang penduduknya digital savvy dan memiliki lanskap digital terbaru, tetapi populasinya lebih kecil dibandingkan negara-negara di Kelompok A

Kelompok C
Tingkat pemberdayaan digital yang baik tetapi pasar outbond yang lebih kecil

 Oman
 Albania
 Maroko
 Cina

Negara-negara ini memiliki infrastruktur digital yang baik, tetapi jumlah populasi wisatawan Muslim yang berwisata internasional relatif kecil.

Kelompok D

Negara-negara berkembang yang tengah bertumbuh dengan tingkat pemberdayaan digital yang tumbuh cepat

 Turki
 Indonesia
 Mesir
 Iran

Kelompok ini terdiri dari negara-negara mayoritas Muslim dengan pasar perjalanan outbound yang terus berkembang. Meskipun mereka mungkin belum memiliki infrastruktur digital yang luas, para pelaku bisnis dapat mulai membidik pasar ini untuk prospek jangka menengah dan jangka panjang.(Arianto)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here