PGI dan Aktivis se Asia Menggumuli isu Pekerja Migran, Pengungsi dan Orang-orang Terusir

0
351

Jakarta, Suarakristen.com

“Kasus pekerja migran, pengungsi, dan orang-orang yang terusir merupakan persoalan kemanusiaan dan ketidakadilan yang terjadi di bumi ini. Tercatat 260 juta orang mengalami persoalan tersebut, termasuk di Indonesia. Sebab itu, persoalan ini memang harus menjadi perhatian gereja-gereja bahkan semua orang apa pun agama dan keyakinannya,” demikian diungkapkan Ketua Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) Pdt. Dr. Albertus Patty, saat membuka kegiatan Interfaith Mission for Solidarity and Service with Migrants, Refugees and Uprooted People di Lt. 3 Grha Oikoumene, Jakarta, (12/10).

Sebanyak 50 peserta yang merupakan perwakilan gereja dan LSM pekerja migran dari berbagai negara seperti Indonesia, Pilipina, Banglades, Thailand, Sri lanka, Singapura, dan Hongkong mengikuti kegiatan yang akan berlangsung pada 12-14 September 2018 ini.

“PGI sendiri ikut terlibat dalam persoalan ini, seperti kasus Mary Jane Veloso, pekerja migran yang kami yakini ditipu oleh pelaku perdagangan orang sehingga dia terancam hukuman mati. Kami berusaha membebaskannya dari hukuman tersebut, bahkan jika bisa membebaskannya dari penjara. Kami juga menggumuli korban-korban perdagangan orang dan pekerja migran yang dieksploitasi majikannya hingga cacat bahkan meninggal, terutama di Nusa Tenggara Timur. Sayangnya juga, di negara tempat mereka bekerja, mereka juga sering dikriminalkan,” papar Pdt. Albertus.

Selain itu, lanjut Pdt. Albertus, juga kasus jemaat Ahmadiyah di Lombok dan komunitas Syiah di Sampang, Madura, yang diusir dari tanah kelahirannya karena keyakinan imannya . “Ironis, karena mereka harus mengungsi di tanah airnya sendiri oleh kelompok-kelompok tertentu yangintoleran terhadap perbedaan, dan lebih ironis lagi pemerintah lokal justru mendukung tindakan diskriminasi tersebut,” tandasnya.

Ketua PGI berharap, konsultasi ini akan melahirkan kesepakatan-kesepakatan terutama untuk memperkuat komitmen, kerjasama, jejaring dan upaya-upaya kemanusiaan lainnya serta mencari solusi-solusi strategis dan berkelanjutan untuk dunia yang lebih baik terutama bagi pekerja migran, pengungsi maupun orang-orang yang terpinggirkan.

Baca juga  Respon Tingginya Kebutuhan Fasilitas Pembelajaran Jarak Jauh Akibat COVID-19, Ruangguru Kembali Buka Sekolah Online Ruangguru Gratis

Sementara itu, mewakili peserta, Pdt. Mariesol Villalon dari Asia Pasific Mission for Migrants (APMM) dalam sambutannya menegaskan, kasus pekerja migran, perdagangan manusia dan penyelundupan orang, dibantu dan didukung oleh pemerintah pengirim migran, yang menganggap hal itu sebagai program ekspor ketenagakerjaan, dan dianggap sebagai solusi untuk mengatasi kemiskinan. Akibatnya, rakyat miskin rentan terhadap eksploitasi dan pelecehan.

Menurut Mariesol, migrasi saat ini terglobalisasi dan bersifat nasionalistis, rasialis dan etnis, meningkatkan diskriminasi rasial dan kebencian di antara orang-orang. Para migran dikriminalisasi, direduksi sekadar pekerja migran berdokumen dan tidak berdokumen. Migrasi saat ini tidak dapat dipisahkan dari kekhawatiran akan pekerjaan yang layak dan perjuangan untuk mendapatkan upah layak. Pekerjaan yang layak membutuhkan upah layak, sebagai kebutuhan publik global, dengan lingkungan kerja yang aman dan aman.

“Pekerja migran adalah manusia. Mereka bukan dokumen atau pemasok devisa dari gaji mereka. Seorang buruh migran, Leni Lestari dari Aliansi Migran Internasional IMS, mengatakan, “Jangan bicarakan kami tanpa kami. Kami punya jawaban dan kami telah menyuarakannya. Para pekerja migran di seluruh dunia secara kolektif berjuang dan berorganisasi untuk mewujudkan impian kami,” jelasnya.

Lanjut Mariesol, untuk merespon migrasi paksa dewasa, perlu mendefinisikan kembali misi Kristen dan oikoumenis kita. Dalam terang Injil, karakteristik dan tantangan untuk migrasi saat ini menuntut agar komunitas iman kita dan badan-badan oikoumenis meninjau kembali, bahkan perlu memeriksa ulang misi gereja dan cara kita mengelola gereja untuk menggerakkan pelayanannya agar misi terlihat.

“Ini membutuhkan eklesiologi yang mengakui kenekatan umat Allah, baik dalam lingkungan orang-orang yang berkumpul maupun yang tersebar, yang membawa misi gereja, setidaknya melalui migrasi. Ini juga membutuhkan Kristologi yang tidak hanya mengakui karakter multi-agama dari populasi Asia dan diasporanya tetapi juga apa yang membuat tugas penginjilan bermartabat dan berintegritas dalam situasi seperti itu. Missiologi saat ini juga harus memahami bagaimana melakukan misi dalam diaspora majemuk dan beragam, dan dengan cara yang seturut kehendak Tuhan untuk seluruh oikoumene,” katanya.

Baca juga  Haram Hukumnya Calon Dirjen Bimas Katolik Menyeret Gereja Untuk Tujuan Mendapatkan Jabatan

Kegiatan Interfaith Mission for Solidarity and Service with Migrants, Refugees and Uprooted People yang akan berlangsung selama tiga hari berturut-turut, merupakan prakarsa bersama kelompok agama, lembaga yang melayani migran, advokasi, dan organisasi migran, seperti PGI, National Council Churches of Philipines (NCCP), Kabar Bumi, Migrante International, dan Asia Pasific Mission for Migrants (APMM), untuk mengatasi masalah migrasi paksa dan perdagangan manusia. Kegiatan ini bertujuan memberi kontribusi bagi kampanye global penyelamatan Mary Jane Veloso dan memperkuat dukungan, jejaring, kerjasama di antara para buruh migran, gereja-gereja dan lembaga oikoumenis dan lainnya, melibatkan organisasi-organisasi di Asia Pasifik dan Timur Tengah untuk mengembangkan solidaritas dan memberikan layanan kepada buruh migran, pengungsi dan orang-orang yang terusir di Asia.

Kegiatan ini merupakan tindak-lanjut setelah Konsultasi Asia tentang Perdagangan Manusia dan Migrasi Paksa: Panggilan untuk Pekerjaan Layak dan Upah Layak di Yangon, Myanmar.

Selama workshop, peserta akan sharing mengenai kasus pekerja migran, pengungsi, dan perdagangan manusia, termasuk dari perspektif teologia, yang akan disampaikan oleh para narasumber, yakni Arman Hernando (Migrante Philippines), Erwina Sulistyaningsih (Kabar Bumi), Mandeep Sigh Bela (UNEMIG), Glorene Amala Das (TENAGANITA, Malaysia), Ronald Rone Samdder (National Council of Churches in Bangladesh), James Thomson (Act for Peace Australia), Pdt. Dr. Lintje Pellu (PGI), Mervin Sol H. Toquero (Churches Witnessing with Migrant-CWWM), Atty. Josalee Deinta (National Union of People’s Lawyer), Atty, dan Agus Salim (Pengacara Mary Jane). Para peserta juga berdiskusi bersama Dirjen Binapenta Kemenaker RI Maruli A. Hasoloan.

Di akhir kegiatan direncanakan akan mengunjungi Mary Jane Veloso di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Wirogunan, Jogjakarta, untuk mendengar secara langsung cerita dan pergumulannya.

Baca juga  Pemerintah Indonesia Sampaikan Duka Cita dan Simpati setelah Ledakan di Beirut

Humas PGI
Irma Riana Simanjuntak

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here