SETELAH AGAMA KEHILANGAN SPIRITUALITAS

0
365

Oleh: A. E. Priyono

Pada 1960an, ketika teori-teori modernisasi mendominasi pemikiran sosial, pernah ada ramalan yang diyakini banyak orang bahwa agama pada akhirnya akan mati. Norma moral akan digantikan oleh rasionalitas. Moralitas agama akan lenyap, dan digantikan oleh moralitas sekuler. Tapi kita tahu, ramalan itu ternyata tak terbukti. Agama ternyata tak pernah mati. Bahkan sejak dekade 1990an para pemikir sosial merevisi pandangan teori-teori modernisasi, dan mengakui fenomena yang disebut “kebangkitan agama-agama.”

Sekularisme ternyata tidak mampu menjadi aternatif bagi agama. Jürgen Habermas lah yang memperkenalkan pemikiran bahwa sekularisme tradisional justru mengalami krisis, dan bertransformasi menjadi post-secularism. Di zaman pasca-sekularisme, agama masih menjadi sumber pembentuk norma moral. Dalam banyak kasus, ketika agama menjadi penantang sekuarisme politik – yaitu pemisahan agama dan negara – norma moral agama malah digunakan sebagai sumber legitimasi politik, juga justifikasi legal kebijakan-kebijakan sosial.

Tapi sejalan dengan itu ada kecenderungan negatif melanda agama-agama terorganisasi. Karena eratnya hubungan antara agama dan politik, eksternalitas agama sering lebih menonjol ketimbang internalitasnya. Sejalan dengan itu aspek intrinsik agama, yaitu spiritualitas, menjadi tenggelam. Kecenderungan ini membuat agama seperti terpisah dari spiritualisme. Sementara agama-agama formal makin mengalami pengetatan organisasi, spiritualisme berkembang begitu cair dan makin melepaskan diri dari agama-agama terorganisasi itu.

Gejala ini pernah menarik perhatian Jorge N. Ferrer dalam salah satu ulasannya yang dimuat di sebuah jurnal online, Kosmos. Menurutnya, praktek spiritual dewasa ini mengalami inovasi, proliferasi, dan peragaman yang luar biasa subur. Spiritualitas jenis ini disebutnya sebagai spiritualitas post-secular, spiritualitas pasca-sekularisme.

Spiritualitas pasca-sekularisme merupakan semacam reaksi natural terhadap globalisasi agama dan akibat-akibat yang ditimbulkannya. Mengutip penelitian lain, Ferrer menunjukkan bahwa dalam abad globalisasi agama, dunia kini sedang melihat munculnya berbagai macam jenis agama baru. Jumlah agama-agama sekarang telah mencapai 9.900, dengan setidaknya dua agama baru lahir setiap hari. Ferrer juga mencatat bahwa pembludakan jumlah agama-agama di zaman globalisasi agama, kini telah menimbulkan ketidakpastian dan kebingungan. Karena agama-agama mengalami transnasionalisasi, kini juga sedang terjadi fenomena proselitisme global, munculnya identitas keagamaan ganda, sinkretisme yang makin intensif, dll.

Baca juga  Di Masa Karantina, Pemda Hendaknya Tidak Melupakan Wartawan

Dalam kerangka pemahaman demikain, Ferrer mengajukan serangkaian pertanyaan hipotetis. (1) Apakah pada akhirnya umat manusia akan menyatu ke dalam sebuah kredo keagamaan tunggal? (2) Apakah perkembangan ini justru akan menuju ke arah pluralisasi berbagai bentuk ekspresi spiritual yang berbeda dan saling bertentangan satu sama lain? (3) Atau adakah jalan tengah yang mampu merekonsiliasikan kerinduan manusia akan kesatuan spiritual di satu pihak, dan pada saat yang sama menyediakan dorongan ke arah individuasi dan diferensiasi spiritual di pihak lain?

SAMPAI di sini, Ferrer tidak melihat keterpisahan mutlak antara agama dan spiritualisme. Bahwa keduanya mengalami ketegangan, benar. Jika agama mengusir spirtualitas, ke manakah perginya spiritualisme? Tesis yang diajukan Ferrer adalah bahwa spritualisme dari berbagai agama akan mengalami berbagai kombinasi yang bervariasi. Ada empat skenario menyangkut kemungkinan kombinasi-kombinasi itu.

Skenario pertama menggambarkan kemunculan sebuah agama global atau keyakinan tunggal untuk seluruh umat manusia. Agama global akan muncul dari kemenangan salah satu tradisi spiritual atas tradisi spiritual lainnya, atau berasal dari semacam sintesis berbagai tradisi keagamaan. Ada dua model dari kemungkinan munculnya agama global ini. Yang pertama dicontohkan seperti agama Budhisme Tibet ala Dalai Lama, yang merupakan puncak ajaran Budhisme yang diterima semua aliran. Yang kedua menyerupai gerakan New Age yang merupakan perpaduan seluruh ajaran spiritual berbagai agama. Impian akan datangnya sebuah spiritualitas global seperti dua contoh itu dimungkinkan karena inspirasinya sedang terus dikembangkan melalui berbagai upaya dialog antar-iman.

Skenario kedua bisa terjadi karena agama-agama saling mengalami transformasi. Transformasi itu memungkinkan tradisi spiritual masing-masing mempertahankan identitas asalnya, tetapi terus berkembang melalui serangkaian interaksi dan pertukaran tradisi dari berbagai agama yang berbeda.

Baca juga  Di Masa Karantina, Pemda Hendaknya Tidak Melupakan Wartawan

Tielhard de Chardin, spiritualis Katolik terkemuka, meyakini bahwa penyerbukan spiritual lintas-agama memungkinkan lahirnya serikat-serikat spiritual yang kreatif di kalangan berbagai penganut agama. Keragaman visi rohaniah itu bukan menghapus tetapi justru memperkaya setiap tradisi. Skenario kedua ini meyakini pandangan Chardin itu, dan berdasarkan visi tersebut memproyeksikan munculnya bentuk sinkretisme inovatif yang baru, misalnya Yahudi-Budhisme, Islam-Hindu, Katolik-Tao, Tao-Islam, dsb. Ini juga yang diyakini berbagai spirtualis lain seperti Arvind Sarma dari kalangan Neo-Hinduism yang meyakini bahwa “iluminasi timbal-balik” adalah sisi konstruktif sinkretisme agama.

Skenario ketiga berasal dari afirmasi bahwa kebajikan dari berbagai prinsip dan ajaran spiritual yang dikembangkan kelompok-kelompok spiritualis antar-agama bisa menyumbangkan lahirnya, apa yang disebut Hans Kung sebagai, etika global dan mistisisme universal. Jalan baru spiritualitas antar berbagai penganut tradisi spiritual memang bisa berakar pada praktek “trans-spiritualitas tradisional” seperti itu, tetapi ini akan lebih mendekatkan kita pada kesepakatan mengenai kebutuhan akan adanya spiritualitas global yang bersifat “inter-contemplative.”

Kebajikan antar-spiritualitas dikembangkan misalnya oleh teolog Kristen, Wayne Teasdale, atas dasar sembilan elemen ajaran spiritual: (i) kapasitas moral; (ii) solidaritas terhadap sesama mahluk hidup; (iii) doktrin anti kekerasan; (iv) laku-spiritual; (v) kerendah-hatian; (vi) pengetahuan tentang diri; (vii) hidup sederhana; (viii) pengabdian pada sesama berdasarkan kasih; dan (ix) kesetiaan pada misi profetik.

Sementara itu, skenario keempat adalah spiritualitas-tanpa-agama. Ini adalah kecenderungan kontemporer, seperti yang terlihat pada gerakan spirtualitas New Age. Berakar pada gagasan spiritualitas sekular menuju spiritualitas post-modern/post-secular, gerakan ini memajukan kehidupan spiritual yang bebas dari dogma agama maupun keyakinan transendental-supranatural. Mereka menganjurkan demokratisasi kehidupan rohaniah, sebuah jalan langsung menuju kepada yang-ilahi, tetapi menolak doktrin-doktrin sempit-partikularistik agama, dan menolak pula institusi-insitusinya yang otoritarian.

Baca juga  Di Masa Karantina, Pemda Hendaknya Tidak Melupakan Wartawan

Spiritualitas jenis baru ini berupaya merebut kembali otoritas spiritual yang dimiliki setiap individu. Doktrin mereka adalah kecerahan-spiritual-tanpa-agama, meyakini-(yang-ilahi)-tanpa-memiliki-(agama).

*[Dengan judul berbeda, tulisan ini pernah dimuat di:

http://www.satuharapan.com/read-detail/read/spritualitas-global-pasca-sekularisme]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here