Dialektika Demokrasi dan Politik dengan Iman Kristen

0
494
Pdt. Lipiyus Biniluk
Pdt. Lipiyus Biniluk

 

Oleh: Pdt. Lipiyus Biniluk, M. Th.

 

 

 

Pengantar

 

Politik merupakan sarana dan upaya untuk menata dinamika kehidupan masyarakat demi kesejahteraan bersama.Politik merupakan sarana kesaksian dan alat untuk menghadirkan syalom dan Kerajaan Allah di tengah masyarakat.

 

Dalam aspek politik, umat Kristen dan Gereja harus hadir sebagai garam dan terang dan agen perubahan, baik dalam proses advokasi,  pencerahan masyarakat, mengkritisi kebijaksanaan dan memberikan pertimbangan dalam pengambilan keputusan keputusan politik. Gereja dipanggil untuk mempersiapkan warganya untuk memahami dan melek akan dinamika politik, -agar anggota jemaat bisa mencermati situasi perpolitikan kontemporer dengan bijak dan cerdas agar berani mengkritisi kebijakan yang tidak benar dan salah, dan pro-aktif terjun dalam dunia politik sebagai warga negara yang baik, yang peduli pada problema sosial kemasyarakatan dan kebangsaan.

 

Kita harus menolak setiap upaya partai politik, sekelompok orang atau perorangan yang ingin menjadikan Gereja sebagai kendaraan politik.

 

Artikel ini mengulas secara singkat tentang diakektika praksis dan teoritis tentang hubungan antara iman Kristen dengan Demokrasi dan Politik.

 

Iman Kristen dan Demokrasi

 

Demokrasi merupakan sistim politik dimana rakyat memilih wakil-wakil mereka untuk menduduki jabatan-jabatan pemerintahan; dimana kekuasaan tertinggi berada di tangan rakyat. Di dalam negara demokratis, kekuasaan pemerintah atas rakyatnya terbatas.

 

Gagasan tentang demokrasi berasal dari Yunani Kuno sebelum perkembangan nilai-nilai Judeo-Kristen. Tetapi dikembangkan dan dilahirkan di dunia Kristen. Ayat-ayat Alkitab mempengaruhi kebangkitan demokrasi. Selama beribu-ribu tahun Alkitab telah menjadi buku kontroversial. Alkitab mengajari kita bahwa kita harus mengasihi semua orang dan hidup bermoral. Alkitab yang menyatakan Allah mengasihi semua orang secara sama dan tak seorangpun yang lebih baik dari orang lain. Kontribusi  ide yang Gereja berikan pada demokrasi adalah ide tentang kasih kepada sesama manusia seperti mengasihi diri sendiri. Frasa ini yang secara luas ditegakkan di dunia Barat sebagai jalan kehidupan yang meresap ke demokrasi. Orang Kristen yang membantu menghapus perbudakan, memperjuangkan hak pilih perempuan, memimpin gerakan-gerakan Hak-hak sipil dan menyusun Piagam HAM.

 

Alkitab bercerita banyak tentang pemerintahan, baik raja maupun parlementer. Dari awal penciptaan, dominion itu sudah diatur, baik untuk alam maupun semua yang merayap di dalamnya sampai kepada bagaimana menata manusia dalam jaman keluaran (ketika Musa bertemu dengan Yitro), sampai dengan perjanjian baru berbicara tentang pemerintahan, pajak bahkan  kerajaan seribu tahun.

 

Demokrasi yang pertama, yang bersifat terbatas, berkembang di Athena, Yunani. Bangsa Romawi mengembangkan prinsip-prinsip hukum dasar dan aturan-aturan hukum tertulis. Kekristenan kemudian membuat beberapa kontribusi pada ide-ide demokratis, membantu memajukan metamorfosis demokratis.

 

Salah satu kepercayaan dasar Kristen yang membantu perkembangan demokrasi adalah bahwa Tuhan Sang Pencipta alam semesta, surga dan bumi, menciptakan manusia sederajat dan sama. Konsep tentang hak-hak manusia yang universal dan persamaan derajat secara khusus berasal dari ide alkitabiah bahwa semua manusia diciptakan dalam citra Allah. Ide-ide sosial seperti persamaan dan kebebasan, dan gagasan tentang pemerintahan yang terbatas yang biasanya digunakan dalam institusi-institusi demokratis berakar dalam agama Kristen.

Baca juga  MEMULAI KARIR MUSIK MELALUI JEJARING SOSIAL MEDIA, RAHMANIA ASTRINI MEMBUKTIKAN DIRINYA MEMILIKI TALENTA DAN KUALITAS MUSIK YANG MUMPUNI

 

Nilai-nilai Kristen yang membentuk peradaban Barat. Kekristenan meletakkan dasar untuk politik Barat. Dengan menekankan penghormatan terhadap hati nurani setiap orang melalui ajaran pemisahan antara gereja dan negara, -menekankan derajat dan hak-hak asasi manusia, akuntabilitas sosial untuk pemimpin yang dipanggil menjadi pelayan/abdi, dan penghormatan untuk kaum miskin dan pinggiran,-Kekristenan menjadi katalis dan promotor bagi gerakan-gerakan demokratisasi di seluruh dunia. Jadi, demokrasi berakar kuat di dalam tradisi Judeo-Kristen. Judeo-Kristen memiliki konsep kebebasan kehendak yang tidak dimiliki kebanyakan agama, yang mempengaruhi sudut pandang pada isu-isu lain.

 

Kebebasan demokratis Barat berhutang pada Kekristenan secara umum dan Protestan secara khusus. Negara-negara dengan warisan/pengaruh Protestan yang kuat, demokrasinya tumbuh subur/dinamis. Pemimpin Protestan menggambarkan setiap orang sebagai nabi, imam dan raja. Institusi-institusi seperti keluarga, gereja dan negara dianggap ilahi.Di Afrika para misionaris Protestan sangat berperan dalam pengembangan demokrasi di abad 20. Para misionaris membantu merestorasi demokrasi  dan memperluas demokrasi sampai ke luar negeri. Baik Judaisme dan Kekristenan menekankan nilai tanggung-jawab pribadi dan sosial. Reformasi Protestan dan Renesans mempromosikan nilai-nilai individualisme. Kaum Puritan Protestan berkontribusi banyak pada gagasan tentang demokrasi.

 

Jadi, Kekristenan merupakan unsur utama dalam penciptaan demokrasi modern. Banyak pemimpin yang memperjuangkan kebebasan melakukannya karena perintah Kristus. Pengarang Magna Charta adalah seorang Kristen, yaitu Pdt. John Ball, yang mengkotbahkan persamaan derajat, yang menyebabkan gerakan massa pertama orang berkampanye untuk hak-hak. Cromwell mengakhiri  kekuasaan absolut raja-raja dan membuat panggung untuk penciptaan demokrasi modern dan  anggota parlemen Kristen yang berjuang untuk membawa hak memilih bagi semua orang.

 

Kita harus terlibat dalam politik karena Allah juga sudah terlibat secara politik. Allah sebagai pencipta alam semesta mengadakan dan mengawasi dunia politik. Kita harus terlibat secara politik karena kita harus menyaksikan dan memberi kesaksian tentang kehidupan Allah yang hidup, yang adil dan yang menuntut keadilan di antara manusia.

 

“Dia…yang menegakkan keadilan untuk orang-orang yang diperas, yang memberi roti kepada orang-orang yang lapar. Tuhan membebaskan orang-orang yang terkurung. Tuhan membuka mata orang-orang buta. Tuhan menegakkan orang yang tertunduk. Tuhan mengasihi orang-orang benar. Tuhan menjaga orang-orang asing, anak yatim dan janda, ditegakkan-Nya kembali, tetapi jalan orang fasik dibengkokkan-Nya” (Maz. 146:6-9).

Baca juga  Jelang Natal 2018, PP GMKI Temui Ketua Dewan Pertimbangan Presiden: Natal Harus Bebas Dari Ancaman Teror

 

Jadi, kepeduliaan kita pada politik berakar dalam sifat Tuhan Allah kita, karena Dia peduli pada kebenaran, kejujuran, keadilan dan persamaan.”

 

Kita harus menerima tanggung jawab politik karena Kristus memerintahkan kita untuk berbuat demikian. Dari jawaban Kristus tentang membayar pajak kepada Kaisar (Markus 12: 13-17), tersurat 3 kewajiban politis kita: Pertama, memahami dengan jelas apa kewajiban kita kepada Tuhan dan apa kewajiban kita kepada Pemerintah dalam setiap keadaan praktis yang kita hadapi. Kedua, Berikan kepada Tuhan apa yang harus menjadi milik Tuhan dan kepada pemerintah  apa yang wajib kita berikan kepada pemerintah. Ketiga, mengingatkan pemerintah bahwa kekuasaan mereka terbatas dan tidak boleh melewati batas-batas kekuasaannya. Kita menolak kekuasaan pemerintah yang totaliter.

 

Kita harus pahami bahwa orang Kristen memiliki tiga tugas sekaligus yaitu kepada Tuhan dan kepada pemerintah dan kepada masyarakat/bangsa. Ketiga kewajiban ini tidak terpisah tetapi melekat satu sama lain.

 

Dimana-mana kita melihat bangkitnya kuasa kegelapan, permusuhan terhadap Kekristenan dan intoleransi terhadap standar-sandar alkitab. Ada usaha untuk memarjinalisasi Kekristenan.  Problem kejahatan, terorisme,  atheisme, kemerosotan akhlak, pornografi dan prostitusi, penggundulan hutan, judi dan mabuk, penyalahgunaan narkoba dan kerusakan kota, legalisasi aborsi dan penyiksaan terhadap anak-anak, korupsi dalam pemerintahan dan kuota rasial dalam dunia pekerjaan, sampah dan polusi merupakan tantangan bagi praksis iman kita.

 

Apakah kita hanya mau berdiam diri melihat kemerosotan ini? Apakah kita tidak bersedih hati atas bencana nasional kehancuran keluarga, kehidupan yang rusak dan hati yang hancur? Apakah kita tidak mau bangkit dan melawan kehancuran moral dan dasar etis ini?

 

Aku mencari di tengah-tengah seorang yang hendak mendirikan tembok atau yang mempertahankan negeri itu di hadapanKu, supaya jangan Kumusnahkan, tetapi Aku tidak menemuinya (Yeh 22:30)

 

Kamu lihat kemalangan yang kita alami, yakni Yerusalem telah menjadi reruntuhan  dan pintu-pintu gerbangnya telah terbakar. Mari, kita bangun kembali tembok Yerusalem, supaya kita tidak lagi dicela” (Neh 2: 17)

 

Kita perlu membersihkan masyarakat kita dan mentransformasi bangsa kita. Kita perlu mengambil tanggung-jawab untuk pendidikan untuk anak-anak kita dan kita perlu meletakkan dasar Alkitab yang kuat untuk masa depan bangsa. Kita perlu Tuhan mengasihani kita dan memberikan pencurahan Roh Kudus yang baru. Kita perlu kebangunan rohani untuk pertobatan dan takut akan Tuhan agar kita bisa menyembah Tuhan dalam keindahan kekudusan.

 

Kita diperintahkan untuk berada di dunia ini tetapi bukan menjadi bagian atau melebur dalam dunia ini. Kita jangan terlalu banyak di dunia ini atau terlalu banyak di luar dunia ini. Kita selalu peduli dengan dunia dan banyaknya masalah dunia ini.

Baca juga  DOA DALAM MASYARAKAT MAJEMUK

 

Apa yang bisa dan harus orang Kristen usahakan untuk berkontribusi pada bentuk politik demokratis di dekade mendatang? Apa yang pandangan hidup Kristen bisa kontribusikan pada dunia, dimana komunisme sudah tidak dipercayai lagi dan dimana kaum radikal sedang naik daun dan dimana sekularisme sekarang mendominasi masyarakat (Barat) yang dahulu dibentuk oleh pengaruh Kristen?

 

 

Gereja harus ikut memperkuat dasar-dasar demokrasi dengan mempertahankan nilai-nilai dan moralitas Kristen. Tanpa moralitas dan nilai Alkitabiah, tanpa standar moral Kristen, masyarakat pasti kehilangan derajat kemanusiaannya. Banyak instabilitas dunia saat ini terjadi karena pemerintah dan Gereja tidak mampu menjawab tantangan pembangunan. Kita harus mengembangkan prinsip kasih, pluralisme, toleransi, dan etika kosmopolitan.

 

Kita harus sadar bahwa masyarakat sebenarnya lebih peduli pada kualitas kehidupan daripada watak/peran pemerintah. Kita harus memperdalam kepedulian kita untuk habitat dunia agar kita bisa memperbaiki kualitas kehidupan manusia.

 

Masyarakat Sipil merupakan kekuatan paling besar untuk melakukan transformasi sosial saat ini dan untuk mengubah dunia. Suara masyarakat sipil merupakan suara perubahan dan pengharapan yang dapat mengubah krisis menjadi peluang-peluang emas. Masyarakat sipil yang aktif membebaskan tenaga-tenaga dan bakat-bakat individu sehingga menghasilkan masyarakat yang maju. Walau dimarjinalisasi, Gereja tidak boleh mengabaikan kesempatan dan kewajiban kita untuk mempengaruhi norma-norma masyarakat. Norma-norma kita yang universal harus menjadi acuan moralitas publik. Gereja harus kuat secara ekonomis, politis dan teknologis agar bisa memperbaiki dan meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat, agar Gereja bisa menjadi katalis dan energi bagi perkembangan masyarakat sipil. Iman dan Moralitas Kristen yang Alkitabiah Merupakan Penopang Demokrasi.

 

 

Penutup

 

 

Umat Kristen harus pro aktif terlibat dalam partisipasi politik. Kita harus pro aktif  menyuarakan suara kenabian yaitu suara kebenaran dan keadilan.

 

Gereja tidak boleh terjebak pada salah satu sisi, dikotomi atau titik ekstrim, yang acuh tak acuh ataupun menjadi serupa dengan partai politik. Gereja harus memberdayakan anggotanya untuk berpartisipasi secara kritis dan konstruktif dalam politik untuk memperjuangkan keadilan, kebenaran dan kesejahteraan bersama  karena “Politik” Gereja adalah politik “Pelayanan” , “Politik Penatalayanan” dan “Politik” Kerajaan Allah bukan politik duniawi.

 

 

Tantangan yang riil saat ini bagi Gereja adalah bagaimana agar Gereja bisa menjadi lembaga yang bisa mempersiapkan calon-calon pemimpin-pemimpin yang berkualitas dan berintegritas. Tugas gereja membina warga jemaat agar menjadi garam dan terang dunia.

 

Gereja harus pro aktif ikut bersama berbagai kelompok masyarakat lintas agama untuk  memperkuat semangat Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika. Gereja harus mendukung  kehadiran berbagai aturan perundang-undangan yang memperkuat ideologi Pancasila sebagai landasan hidup bersosial kemasyarakatan dan kenegaraan yang ideal dan sudah final.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here