Apakah Dasar Kebenaran Kita dalam Hidup dan Melayani Tuhan dari Allah atau Dunia ?

0
2176

 

 

Oleh:  Ebenezer E Iskandar . MRE

 

 

Memang kami masih hidup di dunia, tetapi kami tidak berjuang secara duniawi, ( 2 Korintus 10:3 ).

 

Dunia ini telah berkembang begitu pesat dalam pertumbuhan jumlah populasi manusia . Bersamaan dengan berkembangnya jumlah populasi manusia , berkembang juga berbagai hal mengikuti perkembangan populasi manusia tersebut , yaitu bidang sosial , seni, budaya , ilmu pengetahuan , agama , ekonomi dll . sehingga lama kelamaan manusia dalam kehidupannya mencari pencapain kesuksesan dengan berbagai macam cara , ada menempuh dlm bidang ilmu pengetahuan , seni, agama, sosial , ekonomi dsb. secara tidak langsung akhirnya mempengaruhi cara berpikir ataupun bertindak dalam hidupnya.

Bagi masyarakat Eropa ketika Abad Pertengahan adalah abad berkembangnya seni, budaya dan  ilmu pengetahuan / science. Yang pada akhirnya menjadi acuan dalam kehidupan mereka, sehingga pada akhirnya banyak di antara mereka menaruh keyakinan terhadap apa yang sedang ditekuni dalam hidupnya , mengakibatkan banyak masyarakat Eropa tidak berTuhan atau atheis , dan lebih percaya kepada ilmu pengetahuan atau kepintaran mereka sendiri.

 

 

Namun keberadaan masyarakat abad milenium berbeda , dimana jaman now orang berlomba-lomba berkarir mengejar kesuksesan berjuang secara duniawi untuk mendapatkan MATERI, karena tolak ukur kesuksesan jaman now adalah materi, mereka berpikir dengan banyaknya memiliki materi maka hidup mereka akan disebut sukses dan berpikir hidup akan menjadi lebih mudah. Tanpa di sadari mereka berlomba- lomba mengejar materi dan akhirnya terperangkap dalam pekerjaan iblis yang namanya roh materialisme / spirit of materialism .

 

Dengan mengejar materi banyak orang berjuang secara duniawi dan melupakan Tuhan , keluarga bahkan kesehatan dirinya sendiri.

 

Padahal sumber dari materi itu sendiri adalah Tuhan ,sang pemberi itu sendiri yang seharusnya tidak boleh dilupakan. Namun firman Tuhan mengingatkan kepada kita anak-anakNya meski masih hidup di dunia ini agar tidak berjuang secara duniawi namun hidup berdasarkan kebenaran Allah, sehingga dasar kehidupan dan pelayanan kita dibangun di atas emas , perak, batu permata , dan bukan dibangun di atas kayu , rumput atau jerami (1 Kor 3 : 12 ).

Di alkitab ada sebuah cerita mengenai orang kaya yang berjumpa dengan Yesus.

Cerita mengenai perjumpaan Yesus dengan orang kaya dapat memberikan kita pembelajaran mengenai bagaimana seharusnya kita memiliki sikap yang benar terhadap uang / mamon juga terhadap orang kaya.

Cerita ini terdapat di kitab injil Lukas18 : 18-27 ,

Ketika itu ada seorang kaya berjumpa dengan Yesus dan menanyakan kepada Yesus agar mendapatkan hidup yang kekal. meskipun Yesus tahu bahwa orang kaya ini termasuk orang soleh yang taat dalam menjalankan Taurat dengan baik dan nyaris sempurna , orang muda ini membanggakan dirinya dan berpikir telah menjalankan Taurat  dengan sempurna.

 

Namun Yesus mengatakan “ yet lackest thou one thing / ada satu lagi yang masih kurang “ ( Luk 18:22 ), yaitu Yesus menginstruksikan aturan Taurat lainnya kepada dia yang akhirnya orang kaya tersebut tidak sanggup melakukannya. Yesus tahu bahwa tidak ada seorangpun yang dapat melakukan Taurat dengan sempurna selain diriNya.

 

Lalu dikatakan Yesus jika ingin sempurna dan memperoleh hidup yang kekal , “  juallah semua HARTAmu dan bagikan ke orang miskin lalu ikutlah Aku “

 

Inipun adalah bagian dari Taurat yaitu “ jangan ada padamu illah lain selain Aku “ . Jelas orang kaya itu akhirnya menyadari bahwa ia tidak dapat melakukan Taurat dengan sempurna , karena didapati harta yang dimilikinya sudah menjadi illah dalam dirinya. selanjutnya orang kaya itu meninggalkan Yesus karena dia tidak bersedia menjual hartanya untuk ikut Yesus.

 

Dari cerita di atas ada beberapa point yang kita dapat pelajari :

Yesus tidak mata duitan , mungkin jika dibandingkan dengan pelayanan jaman now tindakan Yesus tidak relevan , karena mungkin ada pendeta dan pengerja jaman now yang akan berkata “ loh uangnya kan dapat dipakai buat pekerjaan Tuhan “ , padahal sudah jelas- jelas apa yang Yesus perintahkan hartanya dibagikan ke orang miskin juga termasuk pelayanan / pekerjaan Tuhan , namun seringkali kita berpikir bahwa uang yang dimaksud adalah agar di taroh di dalam kas gereja atau rekening gereja atau rekening pendetanya itulah baru untuk pekerjaan Tuhan,padahal faktanya ketika uang sudah masuk ke rek tersebut diatas tidak disalurkan untuk orang miskin atau jika disalurkan hanya remah-remah saja.  Suatu bukti bahwa perspektif pelayanan jaman now sering kali berbeda dengan apa yang Tuhan Yesus perintahkan.

 

Yesus sadar betul bahwa uang tidak dapat mendidik orang kepada jalan yang benar , orang bisa saja seolah-olah berubah baik ketika ada uang diberikan namun bersifat sementara karena ketika uang sudah tidak ada maka orang akan berubah kembali ke sifat asalnya,hanya oleh Firman Tuhan saja orang dapat diubahkan dengan benar dan bersifat kekal (Mat:24-27 ) .                  Oleh karenanya Yesus tidak mengijinkan orang kaya mengatur pelayanan dengan uangnya melebihi dari kebenaran Allah. Dengan di perintahkanya orang kaya tersebut untuk menjual hartanya dan ikut Tuhan tanpa harta , itu jelas maksud Yesus adalah agar orang kaya itu sepenuhnya mengandalkan Tuhan dan bukan pada hartanya. karena seringkali tanpa disadari orang kaya dalam hal melayani tidak sedikit yang mengandalkan uangnya dari pada kebenaran Allah.  dengan uang nya orang kaya mempengaruhi jemaat dan pelayan ,juga berkuasa mengatur gereja, dan tanpa sadar jemaat bahkan pelayan lebih nurut dan taat kepada orang kaya di gereja dari pada pendeta yang hanya bermodalkan suara kebenaran dan kuasa Allah.

 

Yesus lebih memilih orang dari pada uangnya. Tidak sedikit pendeta , pengerja , jemaat Tuhan akan memilih materi dan orang kaya dari pada harus berdiri dibatas kebenaran firman Tuhan, atau memilih orang yang tidak punya materi.

Yesus tidak cari muka atau menjilat orang kaya . Harus di akui dan di sadari bahwa  pengaruh orang kaya sangat besar , tanpa melakukan apapun orang kaya sudah mendapatkan orang- orang yang berusaha untuk mendekati atau mencari muka atau bahasa zaman now nya menjilat , ini sesuai dengan Firman Tuhan (  amsal 14:20b),  karena hal demikian di atas lah maka sangat sulit sekali ada pendeta , pengerja atau jemaat yang berani berdiri di atas kebenaran yang dapat tegas mengatakan benar jika benar atau salah jika salah kepada orang kaya tersebut , orang lebih memilih untuk tidak mau beragumentasi atau berkontra dengan orang kaya , karena di kuatirkan orang kaya tersebut akan marah dan meninggalkan pelayanan tersebut, sekali lagi jika demikian akhirnya dasar kebenaran dalam pelayanan tersebut adalah materi atau pengaruh orang kaya dan bukan dasar dari kebenaran Allah.

 

Yesus meminta Orang kaya itu ikut Yesus tanpa harta. Dengan konsekuensi orang kaya itu menolak dan meninggalkan Yesus. Kita mungkin akan menilai Yesus sepertinya kok sengaja dengan mudahnya  melepaskan orang tersebut dengan membuat pilihan sulit sehingga orang kaya itu memilih untuk menolaknya dan membiarkan orang kaya itu pergi dan tidak berusaha mencegah apalagi merangkul agar orang kaya itu tidak pergi dan tetap ikut Yesus dalam pelayanan, disinilah Yesus menyatakan ketegasannya bahwa ikut Tuhan ada harga yang harus di bayar dan harus ikut aturan Tuhan bukan sembarangan membuat aturan diri sendiri , juga bukan membuat Yesus fantasi sendiri. Namun harus sesuai dengan cara Yesus di Alkitab.

 

Yesus ingin memuridkan orang kaya itu untuk mengikut Tuhan benar- benar mengosongkan semua kecintaan akan keduniawian dalam hal materi / harta dari hatinya dan bergantung serta mengandalkan Tuhan sepenuh nya dalam hidup dan pelayanan. Demikian juga Yesus ingin hidup dan pelayanan kita sepenuhnya hanya bergantung kepada Dia.

 

Dari cerita diatas dapat kita simpulkan bahwa Yesus tidak tergiur oleh banyaknya materi dan lebih mengasihi jiwa-jiwa ketimbang hal materi.

 

Kita dapat belajar bagaimana Yesus semasa hidup di dunia ini tidak menjadi hamba uang tidak mengutamakan hal materi dan tidak menjadi hamba nya orang kaya dengan menjual iman dan kebenaran.

 

Kita juga diajarkan agar jangan seperti Yudas yang menjual Yesus demi 30 perak , ( Mat 27:3 ). Yudas lebih taat dan nurut kepada imam-imam kepala dan tua-tua,  yang memiliki uang dari pada memilih untuk hidup benar sesuai kebenaran Allah , demi 30 perak yudas berkhianat dengan melakukan perintah imam-imam kepala dan tua -tua untuk memberitahukan dimana yesus berada.

 

Yudas tidak hormat kepada gurunya karena dia melihat Yesus tidak memiliki materi/ harta apalagi di dalam pelayananNya Yesus lebih mengutamakan menyuarakan kebenaran, ketegasan dan kuasa Allah , dari pada mengumbar hal materi buat pelayanan, sehingga motivasi yudas yang melayani demi uang dan bergantung hidup, tidak di dapati akhirnya dia kecewa dan berkhianat menjual gurunya. sangat ironis, kebenaran yang selama ini dia dengar dari gurunya ternyata tidak berakar dalam dirinya bahkan imannya dikalahkan oleh keinginan nya sendiri yaitu memiliki uang.

 

Yudas menggadaikan iman dan kebenaran dalam hidupnya dan lebih nurut untuk melakukan perintah imam-imam dan tua -tua yang memiliki uang dari pada Yesus, dimana dalam pelayanannya Yesus tidak  mengandalkan uang , keinginan daging & kesenangan duniawi , namun hanya menyuarakan  kebenaran, ketegasan dan kuasa Allah . Kehidupan dan pelayanan Yudas tidak lagi didasari kebenaran Allah namun didasari oleh materi. Yudas membangun dasar kehidupan dan pelayananya bukan di atas dasar emas , perak , batu permata namun di atas dasar kayu , rumput dan jerami          ( 1 Kor 3 : 12 ).

Pembelajaran bagi kita anak- anak Tuhan jaman now dalam bersikap terhadap uang dan orang kaya di dalam pelayanan :

Uang memang memainkan peranan penting dalam kehidupan jaman now, bahkan alkitab secara realistis mengatakan untuk menghidangkan makanan , dan meriangkan hidup yang memungkinkan semua itu adalah uang ( pengkhobah 10 :19 ),

 

Artinya uang meskipun   memainkan peranan yang  penting namun uang tidak  boleh melebihi dari posisi Allah dan kebenaran   FirmanNya.

 

Sikap kita terhadap orang kaya yang support dalam pelayanan harus benar .  kita bersyukur atas kemurahan hatinya akan tetapi dalam praktek tetap harus tunduk sesuai koridor prinsip kebenaran Firman Tuhan.

 

Penghormatan terhadap mereka tidak boleh berlebihan sehingga menggantikan posisi Allah dan FirmanNya.

 

Sikap yang salah dengan membiarkan mereka berbuat tidak sesuai firman Tuhan ketika melayani misalkan : seperti tidak mengikuti struktur / destroyer in structrure, mengontrol semua harus ijin nya , arogan, semua harus ikut cara nya karena dia yang keluar uang , pemimpin hrs ikut sesuai mau nya , jika kita tahu semua itu salah namun di biarkan maka alkitab berkata kita ikut berdosa        ( Yak 4:17 ). Jika kita mengasihi mereka maka kita harus dapat bersikap tegas , menasehati dan tidak membiarkan mereka menggunakan uang dalam pelayanan dengan cara-cara salah yang tidak sesuai dengan Firman Tuhan.

Allah sudah menempatkan bahwa uang bukan segalanya dan Allah sudah memperingati bahkan seolah-olah mensejajarkan posisi Nya dengan Mamon, dengan menanyakan kepada umat nya apakah memilih Allah atau mamon, mengapa demikian ? karena Allah tahu bahwa banyak dari kita yang hatinya sudah menyembah Mamon ( luk 16:13 ) ,  juga hatinya sudah melekat kepada Mamon          ( Mat 6 :21  ) dari pada lebih melekat kepada Allah dan FirmanNya.

 

Yesus hanya mengijinkan kita mengikat persahabatan saja dengan Mamon ( Luk 16 : 9 ) dan jadikan harta yang kita miliki hanya sebagai alat dalam hidup kita dan juga sebagai alat buat pelebaran kerajaan sorga dan bukan menjadi tuan, namun akhirnya harta menjadi kutuk. Karena tidak mempunyai sikap hati yang benar dan tidak mengerti maksud Allah atas berkat materi tersebut disebabkan ketidaktahuan kita akan kebenaran Firman Tuhan .

 

Namun sebaliknya biarlah kebenaran Allah dan kuasaNya yang menjadi dasar dari kebenaran dalam hidup dan  pelayanan kita dan bukan hal duniawi yaitu harta/ materi kita.

 

Tuhan Yesus memberkati setiap kita yang membaca nya. Amen.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here