KESIMPULAN DISKUSI DI GEDUNG PGI 25 MEI 2018 TENTANG RADIKALISME DAN TERORISME

0
1397

 

Kika: Presiden Jokowi dan Pdt. Gomar Gultom

 

KESIMPULAN DISKUSI DI GEDUNG PGI 25 MEI 2018 TENTANG RADIKALISME DAN TERORISME

 

1. Ancaman terorisme ternyata telah lama mengelilingi kehidupan masyarakat, bangsa dan Negara Indonesia dan oleh karenanya, merupakan tanggung-jawab bersama seluruh elemen bangsa, termasuk Gereja, untuk memerangi dan tidak memberi ruang baginya di tengah bangsa dan Negara Indonesia. Itulah, antara lain, kesadaran yang tumbuh dari diskusi kita hari ini, setelah mendengarkan paparan Dr Jaleswari Pramodhawardani, Deputi V (Bidang Politik, Hukum dan HAM) KSP dan Brigjen Pol. Martinus Hukom, Direktur Penegakan Hukum BNPT, yang didahului dengan refleksi ulang tahun PGI oleh Pdt Dr AA Yewangoe.

 

2. Kita bersyukur kepada Tuhan bahwa hari ini Undang-undang Antiterorisme telah disahkan oleh DPR RI. Untuk selanjutnya, kita sebagai Gereja terpanggil untuk membaca dan mendalami Undang-undang tersebut agar sungguh memahami dan dapat berkontribusi positip dan kritis dalam rangka pemberantasan radikalisme dan Terorisme di Indonesia, tetapi pada saat yang sama juga tetap dalam kerangka penegakan dan penghargaan akan HAM.

 

3. Kita menyadari bahwa persekutuan kita selama ini masih cenderung dan terbatas di kalangan elit pimpinan Gereja melalui Sidang Raya, Sidang MPL dan Sidang Wilayah. Tetapi di lapangan, Gereja-gereja kita masih berjalan sendiri-sendiri. Oleh karena itu, kini kita dipanggil untuk bangkit dan mewujudkan persekutuan serta kerjasama lintas organisasi Gereja, lintas denominasi, bahkan lintas iman. Bergandengan tangan membangun kehidupan bersama yang lebih baik dan melawan budaya kematian.

 

4. Kita juga menyadari betapa penting dan mendesaknya melakukan otokritik serta reformulasi atas ajaran dan misi Gereja kita. Sering kali kita hanya merasa terganggu ketika “yang lain” menganggap kita sebagai “kafir”, padahal pemahaman dan ajaran gereja kita kadang melihat agama di luar kita adalah juga kafir (contoh di Nias: orang lain di luar Gereja disebut “Niha Baero” yang artinya “KAFIR”. Selain itu, dalam kasus Israel-Palestina, di kalangan para pelayan/gembala masih ada yang menyatakan pemihakan dengan Israel – dan menganggap Palestina sebagai pihak lawan). Oleh karena itu hendaknya pada Konferensi Pekabaran Injil yang akan dilaksanakan 29-30 Mei 2018 di Berastagi, kita melakukan evaluasi dan merumuskan ulang  hakikat dan pelaksanaan misi Gereja-gereja di Indonesia yang konteksnya adalah masyarakat majemuk.

Baca juga  ERAJAYA GROUP GELAR ERAFONE FAIR 2020

 

5. Sebagai pimpinan Gereja baik MPH-PGI maupun Gereja-gereja anggota— perlu mengoptimalkan enerji dan bersinerji dengan pemerintah, lembaga-lembaga keagamaan dan keumatan, untuk bersama-sama memerangi radikalisme yang telah merasuki berbagai saluran/wadah (pendidikan, keagamaan, kemasyarakatan, bahkan ASN, dsb). Bila memungkinkan, juga perlu melakukan perjumpaan dan dialog dengan pihak-pihak yang “berpaham radikalisme”, sebagai langkah mengurangi gerakan radikalisme dengan budaya cinta kasih.

 

6. Gereja-gereja terpanggil untuk turut mensosialisasikan nilai-nilai Pancasila dengan pendekatan partisipatif dan penekanan pada pendidikan karakter.

 

Kita tidak akhiri di sini tetapi marilah terus menggumulinya dan bertindak dalam kasih.

 

Jakarta,.25 Mei.2018

Sekum PGI

Pdt Gomar Gultom.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here