Pdt. Lipiyus Biniluk (Ketua FKUB Provinsi Papua): Pengibaran Bendera Bintang Daud di Papua Hanya Ungkapan Emosional Teologis dan Kultural Saja. Jangan Dipolitisir dan Diprovokasi untuk Merusak Keharmonisan Hubungan antar-umat Beragama

0
704
Pdt. Lipiyus Biniluk

 

Pdt. Lipiyus Biniluk

 

Jakarta, Suarakristen.com

 

“Bertepatan dengan momen pemindahan Kedutaan Besar Amerika Serikat dari Tel Aviv ke Yerusalem dan peringatan HUT ke- 70 Tahun Kemerdekaan Bangsa Israel, sekelompok orang Papua Kristen yang menyebut diri “Sion Kids Papua” membuat sebuah event, dengan menggerakkan sebagian masyarakat  Kristen Papua, dimana seusai Ibadah di Gedung Olah Raga, mereka melakukan  konvoi kendaraan di jalan-jalan, berkeliling Kota Jayapura sambil mengibarkan Bendera Israel, Bintang Daud.

Hal ini tentu saja mengundang pro-kontra, kritik dan polemik dan sedikit memanaskan atmosfir politik dan geopolitik Indonesia, di tengah-tengah pergolakan konflik Israel- Palestina yang kian memanas akhir-akhir ini.

 

Menurut saya, Pengibaran Bendera Bintang Daud yang dikibarkan sekelompok kecil orang Kristen Papua tersebut adalah ungkapan emosional teologis dan kultural saja. Orang-orang Kristen Papua ini memandang dan menggunakan Lambang Bintang Daud sebagai simbol rohani saja, karena Bendera Bintang Daud merupakan simbol pengingat bahwa Yesus Kristus merupakan keturunan Raja Daud. Sehingga, umat Kristen sebagai pengikut Yesus yang adalah juga keturunan Raja Daud, secara tradisional juga biasa mengibarkan panji-panji Raja Daud. Dengan mengibarkan Bendera Bintang Daud, mereka sebenarnya mengartikannya sebagai merayakan dan mengagungkan Yesus sebagai Anak Daud.”demikian disampaikan Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi Papua, Pdt. Lipiyus Biniluk kepada Suarakristen.com (20/5/18), tentang polemik pengibaran Lambang dan Bendera Bintang Daud di Papua, beberapa waktu lalu. (Di Jakarta)

 

Tegas Pdt. Lipiyus Biniluk,Secara teologis, Panji Bintang Daud itu amat penting bagi kelompok Kristen ini, karena merupakan simbol kemenangan Yesus, Anak Daud, atas dosa, penderitaan, kematian, sakit penyakit dan keputusasaan. Panji Bintang Daud adalah simbol pengharapan, iman dan kasih, sukacita dan damai sejahtera.

Kelompok ini tidak bermaksud mengibarkan Bendera Negara Israel! Tetapi hanya mengibarkan Bendera Bintang Daud saja dalam konteks iman Kristen

Baca juga  Pengobatan Asma yang Lebih Baik di Puskesmas Dapat Meningkatkan Pengendalian Penyakit dan Mengurangi Beban Ekonomi

Oleh karena itu, Pengibaran Bendera Bintang Daud ini jangan disalahpahami sebagai Zionisme, dukungan kepada Negara Israel. Pengibaran Bendera Bintang Daud ini jangan dipolitisir, karena hanya bersifat ritual dan tradisi keagamaan Kristen yang bersifat selebrasi simbolik saja.”

 

Tambah Lipiyus Biniluk lebih lanjut,”Kami berpendapat, penggunaan dan pengibaran Lambang Bendera Daud dalam konteks praksis iman Kristen tidak bisa dilarang oleh pihak manapun,  karena itu merupakan hak dan kebebasan beragama yang dijamin Undang-undang Dasar.”

“Saya sebagai Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi Papua, memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada Pemerintah Provinsi Papua dan Pihak Kepolisian Daerah Papua, dalam situasi nasional dan global saat ini yang agak panas, tetap bisa menjaga keharmonisan, kerukunan dan ketertiban di Papua.

Saya menghimbau jangan ada pihak pihak yang mencoba memprovokasi dan mempolitisir isu ini. Karena Papua saat ini semakin mendapat perhatian internasional.” Imbuh Lipiyus Biniluk.

“Kerukunan harmonis antar umat beragama yang sudah terjalin di Papua harus terus dikembangkan dan dipelihara. Itu salah satu modal dasar bagi  kemajuan Papua, dan Indonesia.

“Saya juga menghimbau agar masalah agama jangan dipolitisir dan dijadikan sebagai alat pemecah belah antar anak bangsa.’seru Lipiyus

Jelas Lipiyus Biniluk lagi,”Relasi antara Kekristenan, Umat Kristen dan Gereja dengan Israel merupakan relasi yang sulit untuk dipisahkan dan bersifat unik.Bagi Kekristenan, Israel merupakan bangsa pilihan dan umat perjanjian yang Allah pilih dalam PL (Kel. 19:5-6), sedangkan Gereja didirikan oleh Tuhan Yesus dan Roh Kudus dalam Perjanjian Baru setelah Israel menolak Tuhan Yesus sebagai Mesias yang dijanjikan Allah (Mat. 16:18). Akan tetapi, meskipun Israel dan Gereja berbeda, namun panggilan, tugas dan misi yang Tuhan berikan kepada Israel dan Gereja (Umat Kristen) pada prinsipnya sama, yakni menjadi tangan dan alat Tuhan agar setiap suku bangsa di seluruh dunia mengenal Tuhan dan diberkati serta diselamatkan.

Baca juga  Wiranto Ditusuk, Ketua Umum GMKI Angkat Bicara

 

Dalam konteks agama-agama modern sekarang ini, Kekristenan dan Yudaisme merupakan dua agama yang berbeda. Kedua agama ini memiliki sistem dogmatika tersendiri yang sudah standar dan berbeda satu dengan yang lain. Dalam konteks Indonesia yang mayoritas beragama Islam, umat Kristen, khususnya Kristen Papua, perlu menjelaskan sikap dan pandangan teologis terkait hubungan Gereja (Umat Kristen) dengan Israel.”

 

Tanya Lipiyus,”Secara umum, bagaimana pandangan teologis umat Kristen tentang hubungan antara Israel dan Gereja di masa kini? Menurut saya pribadi, Umat Kristen dan Alkitab tetap mengakui eksistensi Israel sebagai umat pilihan Allah. Alkitab tidak sedikit pun mengindikasikan bahwa status Israel sebagai umat pilihan Allah sudah berhenti (Kis. 15:14). Walaupun Israel tidak percaya dan tidak setia, ketidaksetiaan Israel tersebut tidak membatalkan kesetiaan dan pilihan Allah atas mereka (Hos. 14:5-8), sebab Allah tidak pernah mengingkari diri-Nya (Im. 26:40-45).Pada akhirnya Israel juga akan diselamatkan karena mereka bangsa pilihan, dan Allah tidak menyesali kasih karunia dan panggilan-Nya (Rm. 11:28-30).Gereja, Umat Kristen dan Kekristenan tidak akan ada tanpa bangsa Israel.”

“Bagi umat Kristen, Israel merupakan tanah perjanjian bagi orang-orang Yahudi, tetapi bukan tanah perjanjian bagi orang-orang Kristen. Kami menganggap Israel modern sekarang ini lebih merupakan tempat wisata/ ziarah rohani karena memiliki tempat-tempat religius yang tercatat dalam Alkitab.” ungkap Lipiyus.

 

Mengenai hubungan antara Kekristenan dan Yudaisme, jelas Lipiyus:  Pada awalnya Kekristenan merupakan salah satu bagian dari Yudaisme. Dalam Kisah Para Rasul 24:5, Imam Besar Ananias menyebut Kekristenan sebagai ‘sekte’ Nasrani.

Pada mulanya Kekristenan sebenarnya merupakan salah satu kelompok dalam Yudaisme, seperti halnya Farisi dan Saduki. Istilah ‘Kristen’  pertama kali digunakan di Antiokhia oleh para pengikut Kristus sendiri.

Baca juga  Komite Pengusul Nobel Ekonomi Untuk Jokowi) (KPNEJ) Usulkan Presiden RI Ir. H. Joko Widodo sebagai Calon Penerima Nobel Ekonomi Tahun 2020 Ke Komite Nobel di Oslo-Norwegia

Akan tetapi, secara perlahan-lahan, secara teologis, Umat Kristen kemudian memahami umat pilihan Allah tidak lagi sebatas pada bangsa Israel, tetapi kepada siapapun yang percaya kepada Kristus. Amanat Agung (Mat. 28:18-20) menegaskannya.  Dalam Injil dicatat bahwa Yesus menunjukkan kepatuhan-kepatuhan kepada Taurat. Tetapi di sisi lain juga, Yesus terlihat meninggalkan Taurat. Alkitab PB dengan tegas menunjukkan bahwa “semua orang telah jatuh ke dalam dosa”, sehingga batasan-batasan teritorial dan etnis umat pilihan Allah menjadi hilang.

 

Dalam kaitan ini, ketaatan terhadap hukum-hukum Taurat pun secara perlahan-lahan memudar. Inilah yang membuat separasi atau keterpisahan antara Kekristenan Perjanjian Baru dan Yudaisme. Rasul Paulus sendiri menentang penerapan hukum Taurat yang membatasi anugerah Allah hanya pada bangsa Israel dan tertutup bagi bangsa-bangsa non-Yahudi. Bagi Rasul Paulus, iman adalah dasar dan sarana yang melaluinya manusia membangun relasi dengan Tuhan, dan bukan dengan melakukan Taurat (Mat. 8:4)

 

Dalam perkembangan berikutnya, pemisahan Kekristenan dari Yudaisme terus terjadi dan semakin terasa. Rasul Paulus memisahkan murid-muridnya dari orang-orang Yahudi dan mengajar mereka di ruang kuliah Tiranus (Kis. 19:9). Tidak ada kejadian utama yang tiba-tiba memisahkan Kekristenan dari Yudaisme, melainkan pergeseran secara perlahan-lahan dan berkelanjutan yang semakin menjauhkan Kekristenan dari Yudaisme. Perang Yahudi antara tahun 66-74 yang menghancurkan segala sesuatu yang berbau otoritas keagamaan Yudaisme, termasuk Bait Suci dan kompleksnya, membuat posisi Yudaisme melemah.

Orang-orang Kristen Yahudi memainkan peranan penting dalam memisahkan Kekristenan dari Yudaisme. Kebijakan para rabbi Yahudi terhadap Kekristenan sangat konfrontatif. Mereka berusaha dan berhasil memarginalisasikan orang-orang Kristen Yahudi dan mengeluarkan mereka dari ibadah-ibadah keagamaan. Mereka menyingkirkan orang Kristen dari rumah-rumah ibadah dan memaksa orang-orang Yahudi lainnya untuk mengasingkan orang-orang Kristen Yahudi dari masyarakat.”

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here