Pulih dari Krisis Utang

0
456

Oleh : Prof. Roy Sembel

 

 

Dilan dan Milea adalah pasutri muda yang sepintas terlihat sangat harmonis dan bahagia. Setelah 7 tahun menikah, mereka telah dikaruniai seorang putra berusia 5 tahun bernama Deni dan seorang putri berusia 3 tahun bernama Dela. Mereka tinggal di kompleks perumahan kelas menengah di pinggir kota Jakarta. Keluarga muda ini memiliki 2 mobil kelas menengah, satu untuk digunakan Dilan bekerja di tengah kota Jakarta, satu lagi untuk Milea beraktivitas sebagai ibu rumah tangga. Dengan memanfaatkan pinjaman tanpa agunan, mereka baru saja berlibur ke luar negeri awal tahun lalu. Foto-foto liburan tersimpan rapih dalam beberapa album foto yang tertata apik di ruang tamu mereka.

 

Sayang sekali, cerita bahagia itu harus berakhir. Krisis finansial melanda dunia. Dimulai dari krisis subprime mortgage di AS, bencana ekonomi merambat seolah tsunami yang melanda ke berbagai negara termasuk Indonesia. Akibat menurunnya aktivitas perekonomian, perusahaan tempat Dilan bekerja terpaksa harus melakukan PHK terhadap jajaran manajemen level menengah. Dengan berbekal pesangon 6 bulan gaji, pada awalnya Dilan dan Milea masih optimis menyongsong masa depan. Mungkin karena terlalu optimis, Dilan mengambil langkah terlalu berani dengan menginvestasikan sebagian besar uang pesangon dalam investasi saham spekulatif di pasar modal.

 

Setelah mencoba mencari pekerjaan selama 4 bulan tanpa hasil, persediaan dana mereka semakin menipis. Utang kredit perumahan dan kredit mobil mulai terasa berat. Tambahan pula, investasi di pasar saham terkena imbas krisis keuangan dunia sehingga nilai investasi merosot. Sementara itu, kenaikan biaya hidup akibat kenaikan harga BBM semakin memberatkan situasi keuangan keluarga muda ini.

 

Tekanan finansial membuat Dilan stress dan jatuh sakit. Biaya dokter dan rumah sakit untuk merawat Dilan membuat keuangan keluarga muda ini semakin parah. Memasuki bulan ke tujuh setelah PHK, kredit mobil dan kredit rumah pun sudah tidak terbayar. Kondisi keuangan keluarga ini kacau balau.

 

Sinta –tetangga Milea- merasa iba melihat situasi Milea. Kebetulan Sinta dan Julius (suami Sinta) juga pernah mengalami situasi mirip seperti itu 3 tahun lalu saat Julius terkena PHK dari pekerjaannya di sebuah perusahaan farmasi lokal. Untungnya, saat itu Sinta dan Julius mendapat pertolongan berupa advis yang sangat tepat waktu dari Rendra, rekan Julius yang bekerja pada sebuah bank terkemuka. Berikut ini advis dari Rendra.

 

Pertama, Dilan dan Milea harus mengakui bahwa situasi keuangan sudah berbeda sehingga gaya hidup harus diubah. Misalnya, mobil tidak lagi bisa dipertahankan dan harus dijual untuk mengurangi biaya hidup dan pengeluaran, serta menutupi sebagian dari Utang mereka. Selanjutnya, Dilan dan Milea dianjurkan untuk memaparkan situasi keuangan mereka secara jujur kepada kreditor, sehingga bisa dicari jalan keluar yang pas dengan situasi mereka.

 

Hasil pembicaraan hati ke hati dengan bank membuahkan solusi yang manusiawi. Bank menghapus biaya keterlambatan bayar serta menurunkan suku bunga pinjaman untuk sementara waktu. Solusi ini sangat membantu mengurangi tekanan keuangan Dilan dan Milea.

 

Dilan dan Milea harus rendah hati minta tolong kepada orang tua Milea yang relatif cukup mampu. Rumah yang mereka tempati saat ini bisa disewakan untuk memperoleh penghasilan tambahan, sementara mereka bisa mengungsi untuk sementara waktu di rumah orang tua Milea yang terletak cukup strategis di tengah kota Jakarta.

 

Tinggal sementara di tengah kota sangat membantu menghemat tenaga, biaya transportasi dan waktu, saat Dilan harus mengikuti proses melamar pekerjaan di beberapa perusahaan yang kebanyakan berkantor di tengah kota. Dengan penampilan yang lebih segar dan percaya diri, serta pikiran yang lebih tertata baik, akhirnya Dilan pun berhasil memperoleh pekerjaan yang cukup baik.

 

Setelah memperoleh pekerjaan, Dilan dan Milea masih menumpang sekitar 6 bulan lagi di rumah orang tua Milea sambil menunggu berakhirnya kontrak sewa rumah mereka di pinggir kota Jakarta. Belajar dari pengalaman pahit, mereka mulai merencanakan keuangan keluarga mereka secara lebih berhati-hati.

 

Bangkit dari keterpurukan

 

Mengikuti nasehat Rendra, Dilan dan Milea mulai mempraktekkan spending diet dan debt diet sebagai bagian dari gaya hidup mereka sehari-hari. Spending diet dilakukan untuk mengurangi pengeluaran yang tidak penting, seperti makan di luar rumah, ‘ngedugem’ setelah pulang kantor, pembelian barang konsumtif secara berlebihan, dan lain-lain. Spending diet sangat tertopang oleh kebiasaan baru mereka yaitu pay yourself first atau sering juga disebut prinsip SAINTS  (Save And INvest, Then Spend; sisihkan dan investasikan, baru sisanya dibelanjakan). Artinya, setiap kali menerima gaji, mereka secara disiplin langsung menyisihkan 10% dari gaji tersebut untuk investasi dalam reksadana.

 

Debt diet dilaksanakan dengan berusaha keras untuk selalu membayar tunai untuk kepentingan konsumtif. Prinsipnya adalah live within your means, atau hidup sesuai dengan kemampuan. Untuk kepentingan produktif, seperti membuka usaha, Utang tetap bisa dipertimbangkan. Jadi, mereka menghindari Utang buruk (Utang untuk kepentingan konsumtif berlebihan), sementara Utang baik (Utang untuk mengembangkan aset produktif terutama yang memberikan imbal hasil di atas biaya Utang) tetap bisa dipertimbangkan.

 

Satu tahun setelah gaya hidup baru diterapkan, Dilan dan Milea sudah kembali menempati rumah mereka di pinggir kota Jakarta. Pembayaran Utang berjalan lancar dan kembali normal. Mereka bisa mencicil mobil kecil dan irit BBM dengan bunga ringan karena ada promosi khusus. Mereka telah memiliki dana darurat yang ditempatkan di reksadana pasar uang, dan mulai bisa menyisihkan dana untuk berinvestasi jangka menengah di reksadana terproteksi. Mereka juga mulai merencanakan untuk berinvestasi jangka panjang di reksadana saham bila kebutuhan investasi jangka pendek dan menengah telah terpenuhi.

 

Milea membuka usaha kue brownies dan catering, memanfaatkan bakat terpendam yang selama ini diabaikan. Modal usaha diperoleh dari pinjaman usaha kecil yang disalurkan pemerintah melalui bank langganan Dilan dan Milea, sebagai kompensasi kepada masyarakat atas pencabutan subsidi BBM. Pembayaran pinjaman usaha kecil ini pun berjalan lancar.

 

Melihat perkembangan positif ini, bank menawarkan refinancing dari Kredit Rumah mereka dengan bunga yang lebih rendah mengikuti tren penurunan suku bunga saat itu. Situasi keuangan keluarga Dilan dan Milea semakin baik dan mereka telah berhasil keluar dari tekanan finansial akibat Utang. Utang yang dikelola dan dimanfaatkan dengan baik menjadi teman untuk mengembangkan kemakmuran.

 

Tiga tahun telah berlalu sejak Dilan terkena PHK. Hari Sabtu sore, Dilan, Milea, Sinta, dan Julius terlihat duduk santai di teras rumah Dilan dan Milea sambil menikmati teh dan brownies buatan Milea. Mereka asyik berbicara santai tentang perkembangan investasi mereka di reksadana saham yang tahun lalu memperoleh return (imbal hasil) yang sangat tinggi. Anak-anak mereka bermain dengan asyiknya di halaman rumah. Kedua keluarga itu terlihat bahagia.

 

 

Semoga bermanfaat. Prof. Roy Sembel

Twitter/Instagram:@ProfRoySembel

FB/LinkedIn: Prof. Roy Sembel

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here