Refleksi HUT ke-72 Kemerdekaan RI : MERINDUKAN KEMERDEKAAN SEJATI

0
1431

Oleh: Pdt. Weinata Sairin

Tatkala angin Agustus menghembus lembut, ia adalah angin kemerdekaan, angin yang menyegarkan kembali. Makna, hakikat dan visi kemerdekaan. Maka suasana syukur dan meriah menyambut HUT kemerdekaan tak kuasa lagi dibendung. Masyarakat dan bangsa kita penuh antusias menyambut peringatan HUT kemerdekaan.

Kemerdekaan bukanlah sekadar kata, bukan hanya terminologi tak punya arti. Kemerdekaan bukanlah sekadar _terminus tehnikus_ dalam kehidupan kita membangsa dan menegara. Kemerdekaan bukanlah sebuah mantera yang memiliki kekuatan magis untuk newujudkan sebuah cita-cita tanpa gelimang darah, tanpa denyut jantung yang berhenti, tanpa menelan korban.

Kemerdekaan adalah keteguhan komitmen, cita-cita dan harapan serta perjuangan bagi hadirnya suatu tatanan masyarakat baru. Masyarakat baru yang di dalamnya ditumbuhkembangkan keadilan, hak asasi manusia, kebebasan beragama, keadilan dan kemakmuran yang dihidupi oleh semua lapisan masyarakat.

Apakah sesudah 72 tahun bangsa kita mengecap.kemerdekaan seluruh warga bangsa telah benar-benar menikmati dan mengalami roh kemerdekaan itu dalam kehidupan mereka secara pribadi atau dalam sebuah komunitas? Apakah semacam komplain dan sikap skeptis terhadap kemerdekaan sudah benar-benar punah dari mindset kita?

Bambang Widiatmoko, seorang penyair kelahiran Yogyakarta dalam puisi 3 bait berjudul ”Kemerdekaan Angan- Angan” memberikan narasi yang cukup menggambarkan tentang sikap terhadap kemerdekaan. Kita dengarkan ungkapannya dalam bait 2 dan 3.

*”..Aku makin merasa sulit memaknai kemerdekaan/Dalam gelap malam, dalam bayangan kibaran bendera/ Deretan tunawisma dan pelacur tua/ Menerbangkan angan dipucuk tiang menuju bulan/*
*Menerbangkan angan untuk mengusir lapar dan dahaga/Menerbangkan angan karena hanya anganlah/Yang bisa terbang memaknai kemerdekaan.*

*Kemerdekaan adalah angan-angan/*
*Dan angan-angan tetap bebas merdeka/ Tanpa mampu dijajah oleh siapapun juga/ Jika aku merasa sulit memaknai kemerdekaan/ Mungkin kemerdekaan adalah angan-angan /Yang berjuang merebut makna/Merdeka! ~ 2013*.

Baca juga  PERSONAL LEADERSHIP BRAND (BAG IV)

Penyair Bambang dengan amat lugas di sini mengungkapkan perasaannya yang ragu dan skeptis terhadap apa itu kemerdekaan, kemerdekaan bangsa dari penguasaan penjajah. Ia tak bisa memahami bahwa kemerdekaan itu sebuah kenyataan jika dalam sebuah negeri merdeka itu masih ada tuna wisma, pelacur tua. Secara kontras ia menampil¬kan kibaran bendera (merah putih) yang hadir di malam pekat sebagai representasi negeri merdeka, dengan realitas mereka yang tak punya rumah dan ”pelacur tua” (mengapa ia gunakan kata ”tua” di sini yang menambah sarkastisnya realitas itu).

Kita bisa saja tak setuju dengan tajamnya tulisan seorang Bambang, tapi kenyataan bahwa tuna wisma, pelacur tua, dan bahkan sederet masalah lain yg muncul dalam sebuah NKRI yang kemerdekaannya berusia 72 tahun tak bisa disangkal!

Di negeri ini mungkin ada cukup banyak orang yang memiliki pikiran yang seirama dengan Bambang dan mengungkapkan rasa skeptisnya itu dalam berbagai bentuk sesuai dengan kapasitasnya.

Dalam sebuah negara demokrasi pemikiran-pemikiran yang berbeda dari mainstream ya sah-sah saja. Sejauh pemikiran itu kuat argumentasinya dan memiliki bukti yang sahih, tidak mengganggu ketertiban umum ya bisa saja diungkapkan. Tatkala pmikiran itu sudah mengajak orang untuk melakukan tindakan menggulingkan pemerintahan yang sah maka pemikiran itu sudah memasuki ranah yang lain yang bisa berakibat hukum.

Umat beragama di Indonesia tanpa kecuali telah memberi kontribusi signifikan dalam perjuangan kemerdekaan negeri ini. Di masa depan, Gereja dan umat Kristen Indonesia harus makin kontributif dalam ikut membangun sebuah NKRI yang majemuk.

Bagi Gereja dan umat Kristen, kemerdekaan hakiki terwujud tatkala manusia mengalami pemerdekaan penuh dari kuasa dosa. Dan itu sudah terjadi oleh dan di dalam Yesus Kristus. DIA-lah pemberi kemerdekaan sejati. Berdasarkan pemerdekaan yang dilakukan Yesus itu, Gereja dan umat Kristen memberi yang terbaik bagi NKRI di dalam mengisi kemerdekaannya. Gereja harus menjadi garam, terang bagi masa depan NKRI. Walau demikian Gereja tetaplah sebuah Gereja. Ia harus menjaga jarak dengan kekuasaan, Ia tak boleh dikooptasi oleh kekuasaan. Selamat berjuang, Merdeka!

Baca juga  PERSONAL LEADERSHIP BRAND (III)

God bless.
Weinata Sairin

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here