Salib Golgotha Adalah Simbol Gereja

0
808

Oleh: HMT. Oppusunggu

 

 

 

Mengapa saya sebut STT (Sekolah Tinggi Theologi) Jakarta kedaluwarsa?

Kedaluwarsa berarti: HAKIKAT AJARAN THEOLOGI STT – Jakarta  sudah habis tempo,  menyeleweng dan tidak sesuai lagi dengan zaman sebelumnya. Seperti saya nyatakan di waktu yang lalu, pendidikan theologi di STT Jakarta  pada zamannya Dr. Andar Tobing dan Dr. Sutan Hutagalung, pada tahun-tahun 50-an, sudah berbeda jauh dari yang dilakukan oleh dosen-dosen STT sekarang ini. Bukan STT Jakarta saja tapi juga STT-Nommensen, Pematang Siantar, yang sama seperti STT Jakarta, juga sudah kelewat tempo dari kejayaanya dahulu. Jika dimakan yang sudah kedaluwarsa, maka makanan tersebut akan membahayakan kesehatan. Jadi, bila kedua STT tadi diteruskan seperti dalam keadaan mutunya sekarang ini, maka dengan sendirinya akan merusak hasil didikannya.

 

Bukan saja latar belakang pendidikan sebelumnya dari mahasiswanya, tapi juga dari para mahaguru dan dosen mereka, yang ternyata ‘asal-asalan’ belaka dan bukan lulusan yang bermutu. Jadi, jika lulusan dari kedua STT tadi tidak bermutu lagi, maka otomatis berarti, bahwa para dosen mereka, juga sudah tidak bermutu lagi. Pendeta GKPI Hampir semua Pendeta GKPI adalah lulusan STT Jakarta dan Pematang Siantar.

 

Sekarang ini, GKPI dilanda rusak  oleh peraturan-organisasi yang dirumuskan oleh para Pendetanya. GKPI semula memisahkan diri dari HKBP pada 1964, justru karena pintarnya Dewan Pengurus Pusat HKBP menyusun peraturan-baru dari organisasi Gereja –di luar dasar-dasar Alkitab, yang dipaksakan harus diikuti para Pendeta-Pendeta HKBP, khususnya yang dianggap dan dituduh tidak mampu bekerjasama dengan Dewan Pengurus Pusat HKBP. Ephorus HKBP sendiri dipaksa harus berhenti. Jadi, terjadi adanya pilih-kasih sebagai biang kerok yang merusak hidup Gereja.

 

Namun, setelah berpisah dari HKBP, seluruh Pendeta-Pendeta GKPI, pada Sinode mereka tahun 2013, merumuskan sebuah peraturan Gereja GKPI yang sangat rumit dan sangat panjang lebar pula dan menciptakan Gereja kecil seperti GKPI memiliki sebuah peraturan-Gereja yang rumusannya paling terpanjang-lebar-lebar tak karuan seantero Gereja sedunia.

Baca juga  Prestasi Polri : Idham Azis & Listyo Sigit Prabowo Memaknai Komitmen Jokowi Tangkap Dan Tindak Djoko Tjandra

 

Gereja –pada dasarnya- adalah bentukan Yesus, dan di sana Yesus sendiri yang menjadi satu-satunya sentrum Kristokrasi dengan YESUS sendiri menjadi Raja Yang memerintah dan mengurus hidup dan kegiatan Gereja dan sama sekali bukan di bawah pemerintahan dari para Pendeta seperti yang dirumuskan dalam Tata Gereja dan PRT GKPI.

Gereja tanpa Kristokrasi bukan Gereja sama sekali.

Gereja berdiri, karena Yesuslah yang mengundang manusia masuk dalam GerejaNya untuk bersekutu denganNya. Jadi, Gereja ada terlebih dahulu  sebelum adanya  kita manusia menjadi anggotanya. Gerejalah yang mendatangi manusia dan baru sesudah itu manusia datang menjadi anggotanya. Inilah hakekat dari keberabedaan Gereja yang membedakannya dari semua bentuk organisasi kemasyarakatan. Disinilah letaknya kekeliruan Tata Gereja yang menyebutkan dalam Pasal III-nya, bahwa ‘Dalam kehidupan GKPI bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, GKPI BERAZASKAN Pancasila’. GKPI justru bukan organisasi kemasyarakatan, tapi melulu organisasi rohaniah bentukan Yesus. Pancasila tidak akan membawa kita bersekutu dengan Yesus.

 

Gereja ada justru untuk mempersekutukan kita dengan Yesus dan sekaligus juga untuk mempersekutukan kita bersama kita.  Kedua persekutuan tadi terjadi karena  Gereja adalah tubuh Kristus sendiri. Dalam Gereja kita menjadi anggota tubuh Yesus (1Kor. 12, 12).

 

Salib Golgotha menjadi simbol Gereja.

Simbol tsb bukan diciptakan oleh orang seseorang, tapi lahir di bawah-sadar dari imamat am orang percaya.  Salib Yesus menandakan atau merupakan simbolisasi dari partisipasi kasih Yesus dalam penyelamatan kita dari belenggu dosa. Seperti bendera yang menjadi simbol negara berpartisipasi dalam memperjuangkan jatidiri negara, begitu juga smbol Salib Golgotha menandakan partisipasi Kristus menegakkan jatidiri kita sebagai ciptaan baharu dalam namaNya (2 Kor.5,17).

 

Simbol Salib Golgotha  memperlihatkan kesatuan Yesus dengan Allah BapaNya sambil mengorbankan di Golgotha semua yang dimilikiNya berdasarkan kesatuanNya dengan Allah demi kasihNYA untuk menyelematkan kita para pedosa yang pada galibnya turut menolak dan menyalibkan Yesus. Namun, Yesus justru menerima penolakan kita atas diriNya. Yesus memiliki kuasa mengorbankan sepenuhnya serta sukarela meniadakan diriNya dan mati di Golgotha, tanpa menghilangkan diriNya. Kata Yesus (Yoh. 10, 17, 18): “Bapa mengasihi Aku, oleh karena Aku memberikan nyawaKu untuk menerimanya kembali. Tidak seorangpun mengambilnya dari pada-Ku, melainkan Aku memberikannya menurut kehendak-Ku sendiri. Aku berkuasa memberikannya meniadakan diriKu dan berkuasa mengambilnya kembali. Inilah tugas yang Kuterima dari Bapaku”.

Baca juga  Mensegerakan Realisasi Anggaran Kesehatan Untuk Covid-19

 

Salib Golgotha bukan memperagakan nilai penderitaan dari seorang martir atau kepahlawanan patriot yang menderita di medan perang. Kematian Yesus unik sekali karena merupakan sebuah misteri kudus yang tidak mungkin bisa kita cerna dan mengerti. Oleh karenanya sewaktu Petrus yang shok dan diliputi kesedihan mencoba meyakinkan Yesus untuk tidak pergi ke Jerusalem, permohonan Petrus dianggap Yesus sebagai pembelaan iblis berlaka. Bila kematianNya tidak dilakukan Yesus, maka Dia justru bukan Kristus-Juruslamat lagi. Sebagai Kristus Dia harus menderita dan mati. Kristus yang benar bukan Kristus yang datang ke dunia memperlihatkan segala kuasaNya yang agung adanya. Keagungan kuasaNYa tsb bila diberlakukanNya, akan menghilangkan jatidiri dan nilai-nilai kemanusiaan kita. Oleh karenanya kita terpaksa harus mempertahankan diri dan menolak kehadiranNya dan justru menyalibkanNya malah… Namun demikian, Yesus menerima penolakan kita tadi dan menyelamatkan kita. Inilah yang dinyatakan simbol Salib Golgotha, di mana Yesus memperlihatkan bukan kuasaNya, tapi  kasih sayangNya sambil menawan hati kita manusia.

 

Seperti Petrus menyatakannya, hanya pada Yesus yang disalibkan itu, kita bersaksi dan berkata: “Engkaulah Kristus itu”. Berarti bahwa pimpinan Yesuslah yang menguasai hidup kita dalam Gereja, bukan pimpinan para Pendeta, yang justru sekadar alat saja dari pimpinan Yesus. Yesuslah yang satu-satunya berfungsi menjadi JURUSELAMAT-KRISTUS dalam hidup kita ber-Gereja sebagaimana disimbolkan Salib-Golgotha dan diaturkan dalam Alkitab, Perjanjian Baru. Otomatis, Ini berarti pula, bahwa Tata Gereja dan PRT GKPI hanyalah produk-akal-akalan-otak-manusia belaka dan atas dasar itu harus dibatalkan hari ini juga. Salib Golgotha sudah mencakup segala-galanya dalam pengaturan hidup kita ber-Gereja.

 

KUK-AGAMA  yang dikenakan Yesus melalui Salibnya menyimbolkan bahwa ajaran Yesus ringan dan lembut adanya; bukan ruwet dan berat seperti yang dikenakan Tata Gereja dan PRT GKPI sekarang ini, yang didasarkan pada pimpinan para Pendetanya,baik di Kantor Pusat, Resort, Jemaat dan 1001 macam lembaga lainnya. Semuanya tidak dihubungkan dengan pimpinan  Yesus-Raja-Gereja. Dalam hubungan ini, kita bertanya-tanya, mengapa perusahaan seperti PT Matahari yang jauh lebih ruwet kegiatannya dari kegiatan GKPI, namun PT Matahari SAMA SEKALI TIDAK MEMILIKI Tata Perusahaan dan PRT seperti yang dirumuskan para Pendeta GKPI? Berarti bahwa para Pendeta GKPI membuat soal sepele menjadi soal prinsipiil (-yang menakdirkan nasib GKPI) = Pendeta disulap menjadi Pende(kar)-(ka)ta =  PINTAR-OMONG DOANG.

Baca juga  Mensegerakan Realisasi Anggaran Kesehatan Untuk Covid-19

 

Sambil membuang Tata Gereja dan PRT GKPI ke tong sampah, begitu juga Kolportasi GKPI harus ditiadakan saja. Anggarannya yang dipakai untuk penerbitan Suara GKPI, Almanak dan kalender dll diperuntukkan untuk menaikkan gaji para Pendeta; jumlah para Pendeta GKPI sekarang ini sudah inflasi dan tidak perlu ditambah lagi selama 15 tahun mendatang. Pimpinan GKPI di Kantor Pusat dibatasi pada Bishop sebagai pimpinan rohaniawan dan seorang awam yang menjadi pimpimpinan organisasi dan administrasi.

 

Janganlah para Pendeta kita, kita biarkan menggiring GKPI ini ke jurang sipelebegu –katanya- demi membuat GKPI “menjadi persekutuan Penyembahan dan Persembahan ( Marsomba huhut Mamele) pada tahun 2030 (Almanak 2017, hal. 8).

 

PS: Bila Pdt Dr Anwartjen masih merupakan reformis seperti Martin Luther -menurut introduksi Dr Andar Tobing di waktu yl, maka tempelkanlah di Gereja-Wittenberg-GKPI-Menteng-Jakarta, satu thesis saja untuk membatalkan TG dan PRT GKPI!

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here