Mengetahui, Tetapi Tidak Melakukan Apa-Apa. Tenggelam!

0
542

Oleh: Santiamer Silalahi

 

 

Manusia berkemampuan menemukan cara menghancurkan dirinya sendiri. Karena manusia memiliki kemampuan merusak, maka wajib pula hukumnya manusia menemukan cara mencegahnya.

 

Manusia berada dalam suatu arena perlombaan. Perlombaan antara kemajuan teknologi dengan kemajuan moral. Jika penemuan cara merusak lebih cepat daripada penemuan cara pencegahnya, maka manusia telah berada dalam tepi jurang kehancuran! Dalam terminologi das sollen, adalah tanggung jawab Allah mengadakan dan mengajarkan aturan main itu kepada manusia sebelum hancur.

 

Stabilitas masyarakat adalah cita-cita luhur semua negara beradab di dunia ini untuk mensejahterakan rakyatnya. Persyaratan untuk itu adalah adanya stabilitas dalam arti yang seluas-luasnya. Stabilitas dalam arti sempit hanya menekankan kepada aspek keamanan physik semata. Penekanan pada aspek keamanan akan melahirkan rejim repressif yang sejatinya kontra produktif dengan stabilitas itu sendiri.

 

Stabilitas masyarakat adalah rentang (gap) antara kemajuan moralitas dan kemajuan teknologi. Masyarakat memiliki masa depan jika kemajuan moralnya lebih baik daripada kemajuan teknologinya, dan sebaliknya tidak memiliki masa depan jika kemajuan teknologi jauh melampaui kemajuan moral. Mengutip perkataan pejuang hak-hak azasi manusia AS, Martin Luther King ”Kita menuntun missil dengan benar, tetapi kita salah menuntun manusia”. Jadi kemampuan masyarakat untuk mencegah dirinya dari kehancuran adalah implikasi dari penerapan moral. Kemampuan masyarakat menghancurkan diri sendiri implikasi dari pendewaan atas teknolog semata. Analogi hubungan sebab-akibat moral-teknologi demikian: Jika masyarakat diibaratkan kenderaan, kemudinya adalah moral, dan teknologi adalah mesin. Jika ukuran kemudi dengan mesin sepadan maka kenderaan stabil. Semakin besar mesin, namun kemudi tetap atau semakin kecil, maka kenderaan semakin tidak stabil.

 

Salah satu contoh yang dapat menggambarkan mengenai moralitas adalah korupsi dan pelakunya. Pemberitaan korupsi dan sepak terjang koruptor melalui media cetak dan media digital hampir tiap hari kita dengar. Sebanyak orang mendengar kata korupsi, mungkin sebanyak itu juga orang tidak menanggap makna korupsi sebenarnya.

 

Ilustrasinya kira-kira demikian. Masyarakat digambarkan seperti kapal sedang berlayar di lautan bebas,  Korupsi dalam masyarakat digambarkan sebagai lobang kebocoran pada kapal, dan kemampuan membuang air ke luar kapal akibat kebocoran adalah teknologi. Sebelum revolusi industri, kemampuan memompa air sangatlah terbatas, sehingga kebocoran sekecil apa pun pada kapal tidak dapat ditolerir. Pembuat kapal sungguh-sungguh memastikan bahwa kapal betul-betul layak dan aman berlayar, bebas bocor! Tetapi sesudah revolusi industri, manusia menciptakan pompa berkapasitas besar yang digerakkan oleh mesin, sehingga kapal masih tetap berlayar walapun kebocoran-keboran kecil semakin banyak. Lobang-lobang kebocoran yang  tidak segera ditutup, sama dengan masyarakat yang semakin korup. Kemudian, dengan semakin majunya teknologi, manusia melakukan penyempurnaan sistem kendali pompa air yang semakin canggih. Pompa yang mampu mengeluarkan air lebih banyak dan lebih cepat dibanding sebelumnya. Pada tahap ini tidak ada lagi niat menutup lobang kebocoran yang semakin banyak dan makin membesar. Kapal masih tetap mengapung dan mengarungi samudra raya dengan tenangnya. Dengan daya kreatifitas dan inovasi, manusia berhasil menciptakan pompa air berbasis digital yang berkemampuan menyedot air  ratusan M3 dalam hitungan detik.  Pada titik ini nakhoda dan crew tidak relevan lagi memusingkan jumlah dan besarnya kebocoran kapal. Manusia lupa, penemuan teknologi ada batasnya, kebocoran pada kapal akan berlanjut terus. Pada akhirnya sempurnalah besarnya lobang kebocoran  dan akhirnya kapal tenggelam!.

 

Pesan moral dari ilustrasi di atas adalah, bahwa korupsi yang menggila akan menghabiskan dalam sekejab semua manfaat yang diperoleh melalui kemajuan teknologi.  Kemajuan teknologi tanpa kemajuan moral akan menghasilkan kerusakan hebat dan berdampak lama.

 

Kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi menangani masalah sosial, agama, politik, keamanan, kebudayaan, ekuin (ekonomi; keuangan; industri), perdagangan, hukum, dan lingkungan hidup semakin canggih, namun pada saat yang bersamaan pengidap psikopat, para kleptomaniac seperti di jaman  Orde Baru, para pengkhianat bangsa, para penganut radikalisme bertopengkan agama semakin sakau dan semakin bertambah jumlahnya. Mereka gila  kuasa, gila hormat, gila harta dan gila wanita. Mereka memegang posisi kunci di partai politik, di legislatif, di organisasi-organisasi  keagamaan, memiliki massa yang siap dimobilisasi setiap saat. Mereka memiliki dana dalam jumlah banyak; Memiliki perusahaan-perusahaan raksasa, memiliki jejaring dengan pemimpin utama negara-negara kapitalis dan liberalis. Mereka lebih memilih cara-cara manipulatif guna menyingkirkan kompetitornya yang berkinerja baik. Lebih memilih melenyapkan keberagaman daripada mengakui dan menghargai keberagaman; Lebih memilih menjadi antek-antek kapitalis dan liberalis demi mencapai satu tujuan : Merebut kursi kekuasaan! Rakyat terperangkap dalam permainan zero sum game yang dimainkan oleh pengidap psikopat dan konco-konconya.

 

Anda, saya, dan silent mayority mengetahuinya, namun jika tidak berbuat apa-apa, maka pada akhirnya nasibnya akan sama dengan kapal seperti ilustrasi di atas. Tenggelam!

 

“Santiamer Silalahi: Pendiri  Komunitas Sepak Sah (Setia Pancasila dan Amanat Pembukaan Konstitusi UUD NKRI 1945 Sampai Akhir Hayat).

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here