Survei Manulife Insurance: “Investor Indonesia Tidak Siap Mengelola Keuangan Saat Pasar Berfluktuasi”

0
682
Rusli Chan dan Legowo Kusumonegoro (kika)
Rusli Chan dan Legowo Kusumonegoro (kika)

 

 

Jakarta, Suarakristen.com.,

 

 

Kegagalan masyarakat Indonesia dalam mengendalikan pengeluarannya diperburuk dengan kesalahan keuangan yang berulang.

·         Lebih dari separuh investor (53%) menghabiskan minimal 70% penghasilannya setiap bulan

·         Lebih dari 70% investor tidak memiliki target dana simpanan

·         Satu dari empat investor menyesal menyimpan dana tunai di tabungan/deposito, tetapi mereka tetap menganggap tabungan/deposito sebagai investasi utama mereka

·         Perilaku investor menunjukkan ketidaksiapan mereka dalam mengelola keuangan saat pasar berfluktuasi

 

Demikian beberapa hasil Survei yang dilakukan oleh Asuransi Jiwa Manulife  Indonesia baru-baru ini.

 

Survei ini menunjukkan bahwa investor di Indonesia hanya fokus pada perencanaan keuangan dalam jangka pendek dan tidak memiliki strategi yang jelas untuk jangka panjang. Hal ini dapat membahayakan stabilitas keuangan mereka di masa depan. Survei juga mengungkapkan bahwa investor tidak mengelola pengeluaran harian mereka secara efektif dan tidak memiliki tujuan keuangan yang jelas, dimana mayoritas (70%) tidak memiliki target jumlah dana simpanan dalam jangka waktu tertentu. Selain itu, meskipun mayoritas investor mengakui perlunya perencanaan investasi yang lebih baik di tengah kondisi pasar yang berfluktuasi, survei justru menunjukkan bahwa investor terus melakukan kesalahan yang sama, seperti menyimpan terlalu banyak dana tunai di tabungan atau deposito.

 

Kurangnya disiplin dalam pengelolaan keuangan dapat membahayakan kondisi keuangan investor di masa depan.

 

Manulife Investor Sentiment Index mengungkapkan bahwa lebih dari separuh investor (53%) menghabiskan 70% atau lebih penghasilannya setiap bulan, sementara 1 dari 10 investor menghabiskan lebih dari 90% penghasilan bulanannya. Selain itu, 1 dari 4 investor akan meminjam uang dalam kurun waktu 3 bulan jika mereka kehilangan sumber penghasilan utamanya. Temuan tersebut menunjukkan bahwa mereka sangat mengandalkan penghasilan bulanannya dan hanya memiliki sedikit simpanan. Terlebih lagi, 40% investor tidak memantau pengeluaran mereka sama sekali. Kondisi ini semakin memperparah pengelolaan arus kas bulanan rumah tangga.

 

Walaupun hanya 1 dari 5 investor di Indonesia yang saat ini memiliki utang, pengelolaan keuangan yang buruk dapat menyebabkan terjadinya tren perilaku berutang di masa depan, terutama karena sebagian besar investor menyebut biaya kebutuhan sehari-hari dan gaya hidup sebagai kontributor terbesar utang mereka. Padahal, biaya-biaya tersebut dapat dimitigasi dengan mudah melalui pengelolaan keuangan yang lebih baik.

 

Selain kurangnya kontrol terhadap pengeluaran harian, survei juga menemukan bahwa mayoritas masyarakat Indonesia gagal menyimpan dana untuk kebutuhan jangka panjang. Lebih dari 70% investor mengatakan bahwa mereka tidak memiliki target jumlah dana simpanan. Dari investor yang memiliki target dana simpanan, ternyata sebagian besar hanya memiliki tujuan jangka pendek, dimana 76% memiliki target simpanan hanya untuk 1-4 tahun ke depan saja. Selain itu, investor menempatkan rata-rata sepertiga (33%) dari dana simpanannya di rekening tabungan atau deposito tanpa tujuan tertentu. Hal ini menunjukkan bahwa mereka tidak memiliki tujuan keuangan yang jelas.

 

Survei juga mengungkapkan bahwa sebagian besar investor Indonesia fokus pada dana simpanan untuk beragam pengeluaran dalam jangka pendek hingga menengah, dimana biaya pendidikan anak atau pernikahan anak dan biaya kesehatan menempati dua prioritas tujuan keuangan. Sedangkan simpanan untuk dana pensiun hanya menempati urutan keempat.

Baca juga  Menyikapi Fenomena Negara ditengah Pandemi Covid 19, Cipayung Plus Denpasar Menggelar Diskusi Daring.

 

Rusli Chan, Chief Agency Officer, PT Asuransi Jiwa Manulife Indonesia mengatakan, “Survei ini mengungkap beberapa pola pengeluaran yang sangat memprihatinkan. Jika jumlah pengeluaran para investor masih terus lebih besar daripada pendapatan bulanan mereka, maka mereka akan terlilit utang jangka panjang dan terkena dampak finansial yang serius di kemudian hari. Dengan meningkatnya angka harapan hidup masyarakat Indonesia secara signifikan dalam beberapa dekade terakhir, adalah memprihatinkan jika persiapan dana pensiun tidak menjadi prioritas keuangan yang utama. Para investor sebaiknya segera berkonsultasi dengan penasihat keuangan agar mereka dapat mengelola pengeluaran hariannya dengan lebih baik dan menyiapkan rencana keuangan jangka panjang.”

 

Investor sesali perencanaan keuangan yang buruk, tetapi terus mengulang kesalahan yang sama

 

Meski kurang disiplin dalam pengelolaan keuangan, sebagian besar investor menyadari bahwa mereka seharusnya mengelola keuangan dengan lebih baik, dimana 59% investor berharap memiliki perencanaan investasi yang lebih baik. Secara spesifik, 25% investor menyesali keputusannya menyimpan dana tunai di tabungan atau deposito, sementara 28% lainnya menyesal tidak berinvestasi pada waktu yang tepat.

 

Walaupun investor memiliki niat yang baik terkait perencanaan keuangan mereka, survei menunjukkan bahwa mereka terus mengulang kesalahan yang sama. Terbukti, walapun para investor mengatakan bahwa mereka menyesal menyimpan dana tunai di tabungan dan deposito dalam jumlah yang terlalu banyak, investor meningkatkan jumlah simpanan dalam bentuk dana tunai sejak tahun lalu. Simpanan dana tunai naik dari 30% pada Q4 2014 menjadi 38% pada Q4 2015. Tidak tertutup kemungkinan bagi para investor untuk terus mengulangi kesalahan-kesalahan keuangan yang sama, karena dalam membuat perencanaan keuangan para investor mengandalkan penilaian dan pengetahuan pribadi (77%) atau saran dari pasangan (75%). Sementara saran dari perencana keuangan/ahli investasi memiliki pengaruh yang lebih sedikit (11%), bahkan lebih rendah bila dibandingkan dengan pengaruh media (20%).

 

Sebagai dampak dari turunnya nilai tukar rupiah dan kekhawatiran terhadap kondisi pasar yang berfluktuasi, harapan investor terhadap imbal hasil investasi menjadi lebih realistis, turun signifikan dari rata-rata 14,8% di Q4 2014 menjadi 11,8% untuk tahun 2016. Namun investor masih terus menerapkan pendekatan tradisional dalam pengalokasian portofolio mereka. Hal ini ditunjukkan dengan fakta bahwa ketika mereka ditanyakan mengenai rencana investasi mereka di masa depan, secara menakjubkan, 92% mengklasifikasikan simpanan di rekening bank dan deposito sebagai investasi, meskipun fakta menunjukkan bahwa pendekatan ini tidak mungkin dapat membantu mereka meraih imbal hasil yang diharapkan. Selain itu, survei juga mengungkap bahwa investor menganggap dana tunai (72%) dan emas (67%) sebagai metode perlindungan terbaik untuk menghadapi kejadian yang tidak diharapkan, sementara alternatif lainnya tidak begitu diminati.

 

“Dalam kondisi pasar seperti apapun, walaupun ketika pasar kelihatannya tidak menguntungkan, investor disarankan untuk tetap melakukan investasi pada beragam portofolio daripada hanya menyimpan dananya di tabungan atau deposito. Karena pada akhirnya, investor tetap membutuhkan perencanaan keuangan yang menyeluruh, yang mencakup pengelolaan pengeluaran harian, memiliki portofolio investasi yang terdiversifikasi, serta tujuan keuangan yang lebih terarah, agar keuangan mereka dapat lebih terjamin dalam jangka panjang,” kata Legowo Kusumonegoro, Presiden Direktur PT Manulife Aset Manajemen Indonesia.

 

“Kita harus menyadari bahwa anak-anak kita meniru dan belajar dari perilaku keuangan orang tuanya. Untuk menghindari terulangnya kesalahan pengelolaan keuangan, maka pendidikan keuangan harus dilakukan di setiap keluarga. Orang tua harus harus berusaha untuk menaikkan tingkat kecerdasan finansialnya dan menerapkannya dalam gaya hidup mereka agar kekayaan rumah tangga dapat lebih meningkat dan pada saat yang sama orang tua bisa menjadi teladan bagi anak-anak mereka dalam pengelolaan keuangan yang baik,” tambah Legowo.

Baca juga  KPNEJ Apresiasi Jokowi 'Tarik' Relokasi 7 Perusahaan Asing ke RI

 

Untuk temuan dan informasi lebih lanjut terkait Manulife Investor Sentiment Index di Asia, kunjungi www.manulife-asia.com.

 

Untuk informasi mengenai Manulife Investor Sentiment Index, kunjungi www.manulife.com.

 

Tentang Manulife Investor Sentiment Index (MISI)

 

Manulife Investor Sentiment Index (MISI) di Asia adalah survei eksklusif yang dilakukan Manulife setiap semester untuk mengukur dan melacak pandangan investor di delapan pasar di kawasan tersebut mengenai perilaku mereka terhadap kelas-kelas aset utama dan hal-hal lain yang terkait dengan perencanaan keuangan pribadi. Indeks dihitung sebagai skor bersih (persentase “waktu yang sangat baik” dan “waktu yang baik” dikurangi persentase “waktu yang buruk” dan “waktu yang sangat buruk”) untuk setiap kelas aset. Indeks keseluruhan adalah hasil rata-rata angka indeks dari setiap kelas aset. Nilai positif berarti sentimen yang positif, indeks nol berarti sentimen yang netral, dan indeks negatif berarti sentimen yang negatif.

 

MISI didasarkan pada 500 wawancara online di Hong Kong, Tiongkok, Taiwan, Jepang, Singapura, Malaysia, dan Filipina. dan wawancara tatap muka di Indonesia. Para responden adalah investor kelas menengah hingga atas, berusia 25 tahun ke atas yang menjadi pengambil keputusan utama dalam hal-hal terkait keuangan di rumah tangga dan saat ini sudah memiliki produk investasi.

 

MISI merupakan seri penelitian yang telah lama dilakukan di Amerika Utara. MISI sudah mengukur sentimen investor di Kanada selama 17 tahun terakhir, dan memperluas survei ini ke perusahaan John Hancock di Amerika Serikat pada tahun 2011 dan Asia pada tahun 2013. Kelas-kelas aset yang diamati dalam perhitungan MISI Asia adalah saham/ekuitas, real estate (rumah utama atau investasi properti lainnya), reksa dana, investasi pendapatan tetap, dan uang tunai.

 

Materi ini ditujukan untuk digunakan secara eksklusif oleh pihak tertuju yang diperbolehkan menerima dokumen ini di bawah hukum dan peraturan yang berlaku dari yurisdiksi terkait. Materi ini diproduksi dan merefleksikan opini dari Manulife atau afiliasi-afiliasinya per Desember 2015 dan dapat berubah sewaktu-waktu berdasarkan kondisi pasar. Informasi dan/atau analisis yang terdapat di dalam materi ini telah digabungkan dan disusun dari berbagai sumber yang dapat dipercaya namun Manulife atau afiliasi-afiliasinya tidak dapat dihubungkan dengan keakuratan, ketepatan, kegunaan atau kelengkapan data dan tidak bertanggungjawab untuk segala bentuk kerugian yang disebabkan oleh informasi dan/atau analisis yang terdapat dalam dokumen ini. Informasi dalam dokumen ini, termasuk pernyataan terkait tren pasar keuangan, adalah berdasarkan kondisi pasar saat ini, yang akan berfluktuasi dan dapat digantikan oleh peristiwa pasar berikutnya atau hal-hal lainnya. Manulife dan afiliasi-afiliasinya tidak bertanggungjawab untuk terus memperbarui informasi tersebut. Manulife dan afiliasi-afiliasinya, seperti direktur, petugas, dan pegawai tidak bertanggungjawab atas kerugian baik secara langsung maupun tidak langsung serta konsekuensi lainnya terkait dengan pernyataan terkait dalam dokumen ini. Seluruh pandangan dan pernyataan dalam dokumen ini adalah bersifat umum terkait kondisi pasar saat ini. Meskipun berguna, pandangan ini tidak dapat dipergunakan untuk mengganti pandangan profesional terkait pajak, investasi, atau hukum. Klien harus mencari saran profesional untuk kondisi spesifik mereka masing-masing. Manulife dan afiliasi-afiliasinya tidak menyediakan layanan konsultasi pajak, investasi, atau hukum. Hasil sebelumnya tidak merepresentasikan hasil di masa depan. Materi ini disiapkan hanya sebagai informasi dan bukan merupakan penawaran atau undangan mengatasnamakan Manulife atau afiliasi-afiliasinya kepada perorangan untuk membeli atau menjual sekuritas dan bukan merupakan indikasi adanya tujuan transaksi dana atau rekening yang dikelola Manulife. Tidak ada strategi atau teknik manajemen risiko yang dapat menjamin hasil investasi atau mengurangi resiko di lingkungan pasar manapun. Semua data bersumber dari Manulife, kecuali ada sumber lain yang disebutkan.

Baca juga  KPAI Rilis Hasil Pengawasan dan Pengaduan PPDB

 

Tentang PT Asuransi Jiwa Manulife Indonesia

 

Didirikan pada tahun 1985, PT Asuransi Jiwa Manulife Indonesia (Manulife Indonesia) merupakan bagian dari Manulife Financial Corporation, grup penyedia layanan keuangan dari Kanada yang beroperasi di Asia, Kanada dan Amerika Serikat. Manulife Indonesia menawarkan beragam layanan keuangan termasuk asuransi jiwa, asuransi kecelakaan dan kesehatan, layanan investasi dan dana pensiun kepada klien individu maupun pelaku usaha di Indonesia. Melalui jaringan lebih dari 11.000 karyawan dan agen profesional yang tersebar di 25 kantor pemasaran, Manulife Indonesia melayani lebih dari 2 juta klien di Indonesia.

 

Tentang PT Manulife Aset Manajemen Indonesia

Berdiri sejak tahun 1996, PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (“MAMI”), bagian dari Manulife, menawarkan beragam jasa manajemen investasi dan reksa dana di Indonesia. Sejak pertama kali berdiri hingga kini, MAMI secara konsisten berhasil mempertahankan posisinya sebagai salah satu perusahaan manajemen investasi terbesar di industri reksa dana dan pengelolaan dana secara eksklusif di Indonesia, dengan dana kelolaan mencapai Rp 43 triliun per 30 September 2015. Pada tahun 2015, MAMI meraih penghargaan sebagai Best Fund House dari Asia Asset Management.  Tidak hanya itu, di tahun 2015 MAMI juga meraih penghargaan Top Investment House in Indonesia for Local Currency Bonds dari The Asset. Sementara pada tahun 2014, MAMI mendapat pengakuan sebagai Manajer Investasi Terbaik dari harian Bisnis Indonesia, sedangkan pada tahun 2013 MAMI mendapatkan penghargaan Fund House of The Year dari AsianInvestor. MAMI memiliki 19 produk reksa dana yang terdiri dari produk reksa dana pendapatan tetap, saham (termasuk reksa dana saham syariah), campuran, dan pasar uang dengan dukungan tim pengelola investasi yang profesional dan berpengalaman. MAMI merupakan perusahaan Manajer Investasi pertama di Indonesia yang meluncurkan reksa dana saham khusus untuk investor institusi di Indonesia melalui produk reksa dana Manulife Institutional Equity Fund. Selain itu, MAMI juga merupakan Manajer Investasi pertama di Indonesia yang meluncurkan reksa dana saham berdenominasi US dollar yang diberi nama Manulife Greater Indonesia Fund.  MAMI adalah bagian dari Manulife Asset Management, perusahaan manajemen investasi global anggota Manulife.

 

Diterbitkan di Jakarta oleh Manulife dan afiliasi-afiliasinya.

 

Kontak Media

 

Jeane Carolina

 

PT Asuransi Jiwa Manulife Indonesia

Tel: (+6221) 2555 7788

jeane_carolina@manulife.com

 

Dyah Wulandari

PT Manulife Aset Manajemen Indonesia

Tel: (+6221) 2555 7788

dyah_wulandari@manulife.com

 

Maruli Ferdinand

FleishmanHillard

Tel: (+6221) 2982 0233

maruli.ferdinand@fleishman.com

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here