Pesan Pastoral FUKRI Tentang Pilkada Serentak

0
451

 

Oleh: Hotben Lingga

 

Jakarta, Suarakristen.com.

 

 

Forum Umat Kristiani Indonesia (FUKRI) merupakan forum dan wadah dari sejumlah lembaga gereja seperti Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI), Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), Persekutuan Gereja-gereja dan Lembaga-lembaga Injili Indonesia (PGLII), Persekutuan Gereja-gereja Pentakosta Indonesia (PGPI),  Persekutuan Baptis Indonesia, Bala Keselamatan, Gereja Advent, dan Gereja Ortodoks.

 

Pada 29 Oktober 2015 lalu FUKRI mengadakan konferensi pers di Graham Oikumene PGI, Jakarta, untuk menyatakan sikap dan pesan moral tentang Pilkada Serentak yang akan dilaksanakan pada bulan Desember 2015. Hadir dalam konferensi pers tersebut adalah perwakilan dari masing-masing organisasi Gereja seperti Pdt. Dr.Nus Reimas, Jeirry Sumampauw, Pdt. Daniel Agung Samudera, Hasudungan Manurung,Romo Suprapto, Promo Eddy Purwanto, Romo Suprapto dan Robby Repi.

 

Berikut pernyataan lengkap FUKRI yang disampaikan dalam konferensi pers kemarin.

 

FUKRI MENDUKUNG PILKADA SERENTAK:

Sebagai Upaya Memajukan Demokrasi dan Menjaga Eksistensi Kelangsungan Bangsa

 

Waktu Penyelenggaraan Pemilihan Kepala Daerah Serentak (Pilkatak) 2015. Penyelenggaraan Pilkada Serentak (Pilkatak) sudah berlangsung untuk putaran pertama pada 9 Desember 2015 di 266 Daerah (8 Propinsi, 232 Kabupaten dan 26 Kota).  Jika merujuk pada jadwal Pilkatak ini, tahapan yang tengah dijalankan adalah kampanye. Proses ini akan paripurna dengan Penetapan Kepala Daerah dan Wakil Kepala daerah terpilih untuk Kabupaten dan Kota pada 29 Februari 2016, dan untuk Propinsi pada 1 Maret 2016.

 

Makna Penting Pilkatak 2015. Putaran pertama Pilkatak ini pada dasarnya membawa dua makna penting. Pertama, seperti halnya proses pemilu umumnya, Pilkatak merupakan sarana utama perwujudan kedaulatan rakyat dalam menentukan kepemimpinan terbaik pada pemerintahan di daerah.  Kedua, sebagai yang pertama untuk mengawali proses jangka panjang menunju Pilkatak  Raya pada 2027. Oleh karena itu, Pilkatak 2015 menjadi ajang “uji kelayakan” terhadap seluruh perangkat politik, hukum, administrasi dan teknis lainnya serta sumber daya pendukung yang diperlukan bagi terselenggarannya Pilkatak  Raya yang berintegritas.

 

Ikut Mengawal proses. Sebagai sarana untuk pemilihan kepemimpinan daerah, Inti utama dalam prosesnya adalah: 1. terbukanya peluang bagi setiap warga negara untuk menyatakan hak memilih dan dipilih dalam kontestasi jabatan publik ini; 2. tersedianya fasilitas yang memadai dan sama bagi berlangsungnya hubungan pengenalan secara timbal balik antara kontestan dan pemilih; dan, 3. terjaminnya proses penentuan pilihan oleh pemilih terhadap konstestan secara berintegritas (langsung, umum, bebas, rahasia, serta jujur dan adil). Terpenuhinya tiga inti utama ini akan membuahkan hasil-hasil Pilkatak yang tanpa menyisakan masalah, dan absah.

 

Mengantisipasi Masalah dan Ancaman Pilkatak 2015.

 

Proses Rekruitmen calon (kontestan). Ancaman utama terhadap Pilkatak  adalah fakta politis yang menunjukkan bahwa pemilu untuk jabatan publik kepemimpinan pemerintahan seperti ini selalu mengundang peminat dalam jumlah yang melebihi kebutuhannya. Persaingan dalam kontestasi berpotensi terjadi sangat tajam dan akan menimbulkan  berbagai siasat (positif maupun negatif), dan bahkan, tidak jarang sampai dengan menggunakan kekerasaan. Pilkatak semestinya mengatasi ancaman utama ini sehingga tidak akan terjadi kegaduhan apalagi kerusuhan yang membawa korban jiwa maupun harta.

 

Celah Lemahnya Peraturan perudang-undangan. Tampaknya peraturan perundang-undangan kurang mampu secara efektif mengatasi siasat manipulasi proses pencalonan yang mengganggu integritas Pilkatak.  Dalam proses pencalonan ini, nampaknya telah menjadi rahasia umum terkait dengan “harga perahu” untuk mengantarkan pasangan calon.  Ini dirangsang oleh persyaratan yang relatif berat terkait dengan parpol dan/atau gabungan parpol yang untuk dapat menominasi pasangan calon. Meski jual-beli “perahu” ini belum pernah bisa dibuktikan secara materiil, dan tidak pernah diakui oleh partai-partai politik, namun demikian kegagalan dan/atau pembatalan diri dari sejumlah bakal pacangan calon memperkuat dugaan tentang hal ini. Semoga Politik transaksional semacam ini tidak terjadi dalam Pilkatak 2015 yang akan datang.

 

Mewaspadai Siasat politik. Siasat politik yang selalu membawa potensi untuk “menggunakan segala cara” harus dapat diredam dengan peraturan (hukum) yang menyeluruh dan  adil, serta efektif dalam penegakannya. Perlu adanya ketersediaan hukum yang mengatur semua aspek secara menyeluruh dan berlaku secara sama untuk semuanya merupakan satu aspek penting, tetapi harus disertai dengan penegakannya secara efektif sebagai aspek penting dalam memberikan prospektif jaminan bagi terselenggaranya Pilkatak yang bertintegritas.

 

Kapasitas dan kapabilitas penyelenggara pilkatak. Persoalan yang perlu diantisipasi adalah  terkait dengan kapasitas fasilitasi KPUD untuk penyelenggaraan kampanye pasangan calon. Ini bukan saja terkait dengan ketersediaan anggaran yang harus memadai tetapi juga cara dan cakupan kampanye yang memastikan hubungan pengenalan antara kontestan dan pemilih berlangsung secara memadai untuk menghasilkan pilihan-pilihan yang bertanggungjawab

 

Menjaga Pilkatak 2015 Berjalan Damai. Amat penting bagi semua warga masyarakat untuk menjaga agar Pilkatak 2015  berjalan langsung, umum,  bebas, rahasia, jujur, adil, damai dan berkualitas. Jangan sampai terjadi kekerasan dalam bentuk apapun, baik secara terbuka maupun terselubung, karena bila kekerasan terjadi damai dan rasa aman tidak akan mudah dipulihkan. Perlu  tetap waspada terhadap usaha-usaha memecah belah atau adu domba yang dilakukan demi tercapainya suatu target politik. Bila ada sesuatu yang bisa menimbulkan kerawanan khususnya dalam hal keamanan dan persatuan ini, hendaknya segenap warga masyarakat untuk  menangkalnya.

 

Perlunya semua pihak mendukung terselenggaranya Pilkatak 2015. Pilkatak sebagai upaya memajukan demokrasi tengah berlangsung, tetapi potensi-potensi persoalan yang menyertainya ada dalam tataran penjabaran norma, perumusan pengaturan dalam perundang-undangan, dan pelaksanaannya secara teknis. Karena itu, pengalaman Pilkatak putaran pertama perlu benar-benar menjadi lessons learned yang harus digunakan untuk penyempurnaan bagi penyelenggaraan Pilkatak Raya pada 2027 yang memajukan demokrasi Indonesia. Pelibatan semua warga negara untuk pencapain tujuan itu merupakan keniscayaan sekaligus tanggunjawab.  Berikut adalah hal-hal yang bisa dan perlu diperankan oleh Umat Kristiani:

 

Peran Pimpinan Lembaga Gereja. Pimpinan Lembaga Gereja atau pemuka jemaat hendaknya mendorong jemaatnya untuk menggunakan haknya dengan berpartisipasi dalam pilkatak dan mengingatkan serta memberi contoh agar keterlibatannya cerdas, bertanggung dan berdasarkan suara hati. Pemimpin Lembaga Gereja harus memastikan untuk tidak membawa lembaga Gereja ke dalam politik praktis

Umat Kristiani. Umat Kristiani yang telah memenuhi syarat  harus  ikut terlibat menentukan dan memilih siapa yang akan menjadi pemimpin di daerahnya melalui  mekanisme yang telah ditentukan oleh peraturan dab undang-undang yang berlaku. Ikut memilih dalam Pilkada, selain merupakan hak, juga merupakan panggilan Umat Kristiani sebagai bagian dari warga negara. Dengan ikut memilih berarti Anda ambil bagian dalam  menentukan arah perjalanan dan kelangsungan kehidupan daerahnya. Oleh karena itu, penting disadari bagi pemilih untuk tidak saja datang dan memberikan suara, melainkan menentukan pilihannya dengan cerdas, bertanggungjawab dan sesuai dengan hati nurani.

 

Kriteria Pilihan. Para calon pimpinan daerah  yang  akan Anda pilih, harus dipastikan bahwa yang bersangkutan adalah orang baik, menghayati nilai-nilai agama dengan baik dan jujur, peduli terhadap sesama, berpihak kepada rakyat kecil, cinta damai dan anti kekerasan. Calon pimpinan daerah yang jelas-jelas berwawasan sempit, mementingkan kelompok, dikenal tidak jujur, korupsi dan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan kedudukan tidak layak dipilih. Hati-hatilah dengan sikap ramah-tamah dan kebaikan yang ditampilkan calon sang hanya ketika berkampanye, seperti  membantu secara material atau memberi uang. Pastikan Anda tidak terjebak atau ikut dalam politik uang yang dilakukan sang calon mendapatkan dukungan suara. Ikut dalam politik uang dilarang oleh ajaran Kristiani. Demi terjaga dan tegaknya bangsa ini, perlulah Anda memperhitungkan calon pimpinan yang mau berjuang untuk mengembangkan sikap toleran  dalam kehidupan antar umat beragama dan peduli pada pelestarian lingkungan hidup.

 

Berdoa Untuk Pilkatak 2015. Sebagai umat beriman Kristiani, marilah kita mengiringi proses pelaksanaan Pilkatak 2015 dengan doa memohon berkat dari Tuhan, semoga  Pilkatak berlangsung dengan damai dan berkualitas  serta menghasilkan para pemimpin daerah yang benar-benar memperhatikan rakyat dan demi kebaikan bersama. Dengan demikian cita-cita bersama, yaitu kebaikan dan kesejahteraan bersama semakin mewujud nyata.

 

 

Forum Umat Kristen Indonesia (FUKRI)

 

Konferensi Waligereja Indonesia

Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia

Persekutuan Gereja-gereja Pentakosta Indonesia

Persekutuan Gereja-gereja dan Lembaga-lembaga Injili Indonesia

Persekutuan Baptis Indonesia

Bala Keselamatan

Gereja Advent

Gereja Ortodoks

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here