Pdt. Dr. Jerry Rumahlatu: Jangan Lupa Reformasi Protestan!

0
1626
Pdt. Dr. Jerry Rumahlatu

Pdt. Dr. Jerry Rumahlatu, D.Th. “Jangan Lupa Reformasi Protestan”

Jerry Rumahlatu“Saat ini situasi banyak gereja Protestan (khususnya di Barat (AS/Eropa)) amat menyedihkan karena telah meninggalkan Injil dan pelayanan alkitabiah. Banyak gereja Protestan di seluruh dunia sedang krisis karena keduniawian, kedunguan dan sikap kompromistis/toleransi. Gereja-gereja Protestan saat ini semakin didominasi oleh roh zaman daripada Roh Kristus. Banyak gereja Protestan telah melupakan dan mengabaikan arti penting Reformasi Protestan abad XVI. Bahkan banyak yang tidak menyebut-nyebutnya lagi di dalam gereja. Saat ini banyak orang Protestan yang tidak mengenal Martin Luther, John Calvin atau Jan Hus, dan lain-lain. Hari Reformasi bahkan sudah tidak dikenal dan diperingati lagi.

Saat ini cahaya Reformasi semakin meredup karena umat Protestan sendiri yang meninggalkan dan melupakan kebenaran-kebenaran standar, sentral dan absolut dari Alkitab. Celakanya lagi, banyak Gereja Protestan secara sadar atau tidak, sedang digiring kembali ke “negeri Mesir”, ke era abad kegelapan. Masih adakah yang peduli dan komit dengan doktrin pembenaran hanya oleh iman saja?”demikian dipaparkan Pdt. Dr. Jerry Rumahlatu, D.Th., dalam diskusi bulanan dengan tema “Revitalisasi Spirit Reformasi Protestan” yang diselenggarakan oleh lembaga pengkajian “Akademi Protestan Indonesia” (API), Jakarta, beberapa waktu lalu.

Menurut Pdt. Jerry Rumahlatu,” Reformasi Protestan di Eropa selama abad XVI merupakan salah satu masa paling penting dalam sejarah dunia. Reformasi Protestan merupakan peristiwa paling penting dalam sejarah kekristenan paska peristiwa pencurahan Roh Kudus. Para Pembaharu memperjuangkan prinsip-prinsip bahwa Alkitab saja otoritas kita yang terakhir. Kristus saja kepala Gereja dan pembenaran merupakan anugerah Allah saja, atas dasar pekerjaan Kristus yang sudah selesai, yang diterima melalui iman saja.

Sebelum terjadi Reformasi Protestan, Kekristenan memiliki daftar tradisi yang panjang dan daftar tahyul-tahyul yang harus diikuti oleh umat Tuhan. Alkitab merupakan kitab terlarang yang tidak boleh dibaca dan tidak boleh dimiliki umat. Sebelum Reformasi, Kekristenan adalah agama/gereja tanpa Injil, tanpa pengetahuan, tanpa iman, tanpa pengharapan yang hidup, tanpa pembenaran, tanpa kelahiran baru, tanpa kekudusan, tanpa pandangan tentang Yesus atau Roh Kudus. Sebelum Reformasi, kekristenan lebih merupakan organisasi penyembah/pemuja orang-orang suci, pemuja patung, pemuja barang-barang keramat, ziarah, amal, formalisme, seremonialisme, arak-arakan, perkawinan, puasa, misa, dan ketaatan buta kepada para pendeta.

Akan tetapi, Tuhan mempunyai rencana dan waktu untuk memulihkan gerejaNya. Hampir 500 tahun yang lalu, Martin Luther menyalakan api Reformasi Protestan dengan memakukan 95 tesis di pintu Gereja Istana di Wittenberg.Tuhan membangkitkan Martin Luther untuk mereformasi Gereja sehingga melahirkan Reformasi Protestan. Kita harus berterima-kasih kepada Tuhan karena mengutus Luther yang pemberani untuk melakukan pembaharuan dan pemulihan terhadap ajaran-ajaran Alkitab. Tuhan membaharui umatNya melalui pemulihan FirmanNya. Raja Yosia “dengan didengar mereka ia membacakan segala perkataan dari kitab perjanjian yang ditemukan di rumah Tuhan itu… dan seluruh rakyat turut mendukung perjanjian itu” (2 Raj 23:3). Dalam zaman reformasi Ezra,”Bagian-bagian daripada kitab itu, yakni Taurat Allah, dibacakan dengan jelas, dengan diberi keterangan-keterangan, sehingga pembacaan dimengerti” (Neh. 8:8).”

Lebih lanjut tegas Pdt. Jerry,” Separoh Protestan (khususnya yang Liberal) kini sedang dalam krisis besar. Kaum Protestan saat ini sedang kehilangan jiwa ketaatan/kesetiaannya pada Alkitab, sedang kehilangan penuntun moral dan semangat misi. Banyak gereja yang telah menyerah pada relativisme moral yang mengajarkan tidak ada yang selamanya benar atau suci. Kesetiaan Gereja Protestan di waktu lampau sangat bertolak belakang dengan ketidaksetiaannya saat sekarang.

Di abad XIX dan awal abad XX, gereja-gereja Protestan menjadi kekuatan misi utama di dunia. Ratusan ribu misionaris Protestan berkarya di seluruh dunia membangun banyak lembaga keagamaan untuk melayani dan membangun Kerajaan Kristus di seluruh dunia.

Baca juga  Komitmen Perusahaan Lintas Industri asal Taiwan Bagi Perlindungan Lingkungan Hidup

Ada 4 Erosi yang membuat Protestantisme mengalami krisis besar saat ini:

Pertama, Erosi otoritas: Reformasi Protestan didasarkan atas keyakinan bahwa Alkitab merupakan Firman Allah yang sempurna, mutlak, tidak bisa salah dan diinspirasikan oleh Allah sendiri. Seluruh gereja di abad 21 dibagi atas mereka yang percaya dan menerima Alkitab sebagai satu-satunya Firman Allah yang tidak bisa salah dan mereka yang berpendapat bahwa Alkitab merupakan buku manusia yang penuh dengan mitos-mitos, separuh kebenaran dan penuh kontradiksi. Luther, Zwingli, Calvin dan Reformator-reformator lainnya mempercayai ketidakbisasalahan (infalibilitas) Alkitab, bukan mempercayai infalibilitas pemimpin-pemimpin Gereja atau konsili-konsili Gereja.

Hanya Alkitab merupakan aturan/peraturan kehidupan gereja yang tidak bisa salah. Akan tetapi gereja-gereja Protestan saat ini telah memisahkan Alkitab dari fungsi otoritatifnya. Dalam prakteknya, gereja terlalu sering dituntun oleh kebudayaan (budaya massa).

Karena otoritas biblikal telah ditinggalkan dalam praktek, karena kebenaran-kebenaran telah melayu dan pudar dari kesadaran Kristen, dan karena ajaran-ajarannya telah kehilangan kebenaran-kebenaran pentingnya, gereja semakin kosong, tidak mempunyai integritas, otoritas moral dan arah.

Daripada mengadaptasi iman Kristen untuk memuaskan kebutuhan-kebutuhan pasar (konsumen), dengan menggunakan strategi-strategi pemasaran, teknik terapis dan dentuman hiburan dunia, kita harus memproklamasikan hukum Allah (Alkitab) sebagai satu-satunya ukuran kebenaran sejati dan Injil sebagai satu-satunya maklumat kebenaran yang menyelamatkan. Kebenaran alkitabiah sangat diperlukan untuk pengertian, kedewasaan dan disiplin gereja.

Hanya dalam terang kebenaran Allah saja kita bisa memahami diri kita sebagaimana mestinya dan melihat pemeliharaan Tuhan untuk kebutuhan kita. Alkitab, karena itu harus diajarkan dan dikotbahkan dalam gereja. Kotbah-kotbah haruslah merupakan eksposisi Alkitab dan ajaran-ajarannya, bukan ungkapan pendapat pengkotbah atau ide-ide zaman. Hanya dengan kembali kepada Alkitab, kembali berdoa, kembali kepada kehidupan yang suci Gereja bisa mengalami Reformasi dan kebangunan rohani baru lagi.

Kita harus menegaskan kembali bahwa Alkitab tidak bisa salah dan harus menjadi satu-satunya sumber wahyu ilahi yang tertulis, yang bisa mengikat dan menerangi hati nurani. Hanya Alkitab yang mengajarkan semua yang penting untuk keselamatan kita dari dosa dan merupakan standar yang olehnya semua tingkahlaku Kristen harus diukur. Kita menolak klaim-klaim pengalaman rohani pribadi sebagai ukuran kebenaran iman.

Karya Roh Kudus dalam pengalaman pribadi tidak boleh terlepas dari Alkitab. Roh Kudus tidak pernah berbicara yang menyimpang dari Alkitab. Selain dari Alkitab kita tidak bisa mengenal anugerah Allah. Firman Tuhan yang Alkitabiah, bukan pengalaman rohani, yang menjadi ujian kebenaran.

Kita harus menekankan kembali bahwa Firman Allah yang tidak bisa salah merupakan sumber dan norma untuk semua iman dan praktek dalam gereja Kristus. Kita berpandangan bahwa Firman Allah berguna, efektif dan cukup untuk kebutuhan-kebutuhan kita dalam melayaniNya.

Banyak teolog saat ini berusaha meyakinkan anggota-anggota gereja bahwa Alkitab tidak lagi relevan kalau menghadapi isu-isu yang menyangkut doktrin, etika dan moralitas pribadi. Sedihnya, karena banyak anggota gereja sudah buta Alkitab, mereka gampang menjadi mangsa yang mudah ditelan oleh guru-guru penipu dan nabi-nabi palsu.

Kedua, Erosi iman yang berpusatkan pada Kristus.

Karena iman Protestan telah tersekularisasi, perhatiannya telah dikaburkan oleh kebudayaan. Nilai-nilai kekudusan dan pertobatan pribadi diabaikan. Kebenaran diganti dengan intuisi, iman diganti dengan perasaan. Kristus dan salibNya telah dibuang dari pusat visi kita.Hasilnya adalah gereja kehilangan nilai-nilai absolut, individualisme menjadi permisif/toleran terhadap dosa.

Pembenaran adalah hanya oleh anugerah saja, melalui iman saja karena Kristus saja. Doktrin pembenaran oleh iman merupakan titik jatuh bangunnya gereja. Saat ini doktrin ini sering diabaikan dan diselewengkan atau kadang-kadang disangkal oleh para pemimpin, sarjana dan pendeta-pendeta yang menyebut dirinya Protestan.

Dimanapun di dalam gereja kalau otoritas biblikal telah hilang, kalau Kristus disingkirkan, Injil didistorsi, atau iman dirusak, maka Gereja akan mengalami krisis, ditinggalkan dan mati. Gereja telah kehilangan sentralitas Kristus. Kuasa Tuhan ada di dalam salib dan darah Kristus dan ada di dalam berita Injil. Yesus mati di kayu salib untuk kita. Disanalah kuasa itu berada.

Baca juga  Kenali Fitur Terbaru Firefox Lite: Awesome Bar, Customized Home Screen, dan Fitur Lainnya

Teolog-teolog dan organisasi-organisasi Gereja saat ini banyak yang sudah menyamakan semua agama dengan kekristenan.

Ketiga, Erosi ibadah yang berpusatkan pada Allah. Allah tidak hadir untuk memuaskan ambisi, idaman atau nafsu makan manusia atau minat pribadi kita. Kita mengubah ibadah menjadi hiburan, kotbah Injil menjadi pemasaran, percaya menjadi teknik, menjadi baik menjadi merasa baik tentang diri kita, kesetiaan diganti menjadi kesuksesan.

Reformasi memberi kita ajaran yang benar tentang ibadah Kristen, menekankan kembali perlunya standar kekudusan hidup. Apa yang kita percaya akan menentukan bagaimana kita bertindak. Kalau kita berpegang pada kebenaran-kebenaran Injil maka setiap tingkah laku atau perbuatan kita juga akan memancarkan kuasa Injil.

Kita harus bertobat dari keduniawian kita. Gereja kita telah dipengaruhi oleh “injil-injil” budaya sekuler yang bukan Injil. Kita telah melemahkan gereja karena kurang serius bertobat dan karena kita buta pada dosa dalam diri kita dan karena kita gagal menyampaikan kepada orang lain tentang karya penyelamatan Allah di dalam Yesus Kristus.

 

Keempat, Teologia apa saja boleh.

Ajaran-ajaran yang tidak alkitabiah dan tingkah-laku manusia yang paling jahat semakin didukung dan ditoleransi oleh separoh gereja-gereja di Barat. 50 tahun yang lalu tidak ada satu orangpun yang pernah membayangkan bahwa Gereja-gereja mentahbiskan praktek homoseks dan melakukan upacara pemberkatan perkawinan sesama jenis. Tidak ada juga yang membayangkan akan ada banyak pendeta dan uskup yang homo/lesbi.

Para pendeta dan teolog liberal, yang sekolah di STT-STT yang menyangkal Alkitab, sedang menulis ulang Kitab Suci dengan pendapat-pendapat mereka sendiri yang jahat, dengan mengkompromikan kebenaran-kebenaran Firman Tuhan dengan roh-roh zaman dan memproklamasikan mitos-mitos dan fantasi-fantasi kepercayaan-kepercayaan yang diinspirasi oleh Iblis dan mengajarkan Injil tanpa salib Kristus, tanpa murka Allah, tanpa pertobatan, tanpa iman, tanpa mujizat dan tanpa kuasa Roh Kudus kepada umat Tuhan. Ajaran-ajaran yang berbahaya dan tidak alkitabiah ini hanya membawa gereja dan umat Tuhan kepada kematian.

Luther pasti sangat sedih melihat kondisi rohani sebagian Gereja Protestan saat ini yang sangat tercela, yang bahkan keadaannya lebih tercela pada saat Luther dan para Reformator secara berani tanpa takut mati sedikitpun mencetuskan gerakan pembaharuan dan restorasi Gereja secara total.”

Karena itu, menurut Pdt. Jerry Rumahlatu,” Kita jangan melupakan Reformasi Protestan yang agung dan prinsip di belakangnya. Mengapa? Karena Tuhan berada di balik Reformasi. Dia telah menginspirasi pria-pria dan wanita untuk berani berdiri membela kebenaran Firman Tuhan. Reformasi memberitahu kita bahwa KEBENARAN itu penting bagi Tuhan. Kita jangan pernah melupakan sejarah gereja yang paling kelam: Berpuluh-piluh juta umat Kristen dibunuh oleh Gereja sendiri oleh karena membela kebenaran Injil.

Jadi mengapa kita jangan melupakan Reformasi Protestan? Kita tidak boleh melupakan Reformasi Protestan yang agung karena Reformasi mengingatkan kita bahwa kita memiliki Allah yang besar dan bahwa keselamatan hanya ada di dalamNya saja. Kita diselamatkan oleh anugerah saja, melalui iman saja, dalam Kristus saja, untuk kemuliaan Allah saja. Kita tahu ini karena Alkitab saja yang menjadi standar tertinggi kita untuk kebenaran. Kita tidak menentukan apa yang baik dan benar tentang Tuhan. Tetapi Tuhan yang menentukan. Kalau kita melupakan Reformasi, kita akan terjatuh ke tangan Setan. Reformasi Protestan ingin membawa Kekristenan kembali kepada Injil Kristus Yesus yang sejati, kepada kekristenan yang fundamental, Alkitabiah, kuat, bergairah, logis, progresif dan transformatif. Reformasi Protestan mengajarkan kita untuk hanya tunduk kepada otoritas Alkitab dan kuasa Firman Tuhan saja dan hidup dengan iman, kuasa Firman Allah, untuk melayani Allah dan sesama manusia! Kobarkan kembali Semangat Reformasi Protestan: Sola Gratia; Sola Skriptura; Sola Fidei; Solus Christus dan Soli Deo Gloria! Ini untuk Kristus Yesus. Semua ini untuk Kristus Yesus! “Dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu” (Yoh 8:32).”

Baca juga  Umah Hanifah HT. S.Sos. Ajak Seluruh Komponen Bangsa Bersinergi Membantu Pemerintah dalam Melawan Wabah Radikalisme dan Intoleransi dalam Kehidupan Berbangsa

Apa yang membuat Italia, Meksiko, negara-negara Amerika Selatan, Irlandia, Spanyol dan Portugal tidak digdaya? Kekristenan yang tidak alkitabiah. Apa yang membuat AS, Inggris, Skotlandia, Jerman, Norwegia, dan negeri-negeri Protestan lainnya menjadi negara-negara yang kuat, makmur? Protestantisme.

Mantan rektor STT Jaffray, Jakarta ini menambahkan,” Alkitab memiliki kemampuan dan kuasa untuk mentransformasi. Ibrani 4: 12 mengatakan,”Sebab Firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam daripada pedang bermata dua manapun, ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita‘. Roma 12: 2 berkata “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna” Firman Tuhan dan Roh Allah benar-benar mengubah kehidupan orang. Alkitab telah mengubah kehidupan banyak pembunuh, pecandu narkoba, pejabat-pejabat tinggi pemerintah, tokoh bisnis, dan pelajar-pelajar, dan masih banyak lagi yang dapat kita sebut, yang telah ditransformasi oleh Alkitab. Tidak ada buku yang bisa membuat klaim seperti ini. Ini karena Alkitab bukan hanya merupakan sebuah buku biasa tentang kehidupan yang baik, tetapi secara literer dibungkus dengan kuasa. Alkitab adalah Firman Allah dengan kuasa untuk mengubah kehidupan.

Sebagai umat Protestan, kita menyerukan agar kita bertobat atas dosa-dosa kita dan kembali kepada iman Kristen yang historis. Kita harus meninggikan kebenaran-kebenaran agung Alkitab dalam kehidupan gereja-gereja, khususnya dalam prinsip “Sola” Reformasi Protestan. Kita tahu melalui Alkitab bahwa kita diselamatkan oleh Kristus saja, oleh anugerah saja, melalui iman saja dan semua untuk kemuliaan Allah saja.

Karena itu tugas kita adalah “tetap berjuang untuk mempertahankan iman yang telah disampaikan kepada orang-orang kudus” (Judas 1:3) dan “bangunlah dirimu sendiri di atas dasar imanmu yang paling suci dan berdoalah dalam Roh Kudus…Tunjukkanlah belas kasihan kepada mereka yang ragu-ragu, selamatkanlah mereka dengan jalan merampas mereka dari api. Tetapi tunjukkanlah belas kasihan yang disertai ketakutan kepada orang-orang lain juga, dan bencilah pakaian mereka yang dicemarkan oleh keinginan-keinginan dosa (Yudas 1:20, 22).”

Allah Yang Maha Kuasa, Pencipta dan Hakim Agung kita, adalah kebenaran. Alkitab yang Ia inspirasikan adalah sempurna, mutlak dan tidak bisa salah/keliru. Alkitab saja otoritas kita yang terakhir. Keselamatan hanya melalui anugerah Allah saja, yang diterima melalui iman saja, atas dasar penebusan Kristus saja. Yesus Kristus saja kepala Gereja.

Kita harus merevitalisasi spirit dan warisan iman dan kebebasan dari Reformasi Protestan. Tuhan telah memberkati kita melalui para pembaharu seperti John Wycliffe, John Hus, Martin Luther, Ulrich Zwingli, John Calvin, John Knox dan William Tyndale.Sekarang adalah waktunya untuk Reformasi Protestan jilid II untuk membuat kembali gereja lebih kuat dalam masyarakat post-modern. Kita harus mengimplementasikan prinsip-prinsip Reformasi Protestan dalam kehidupan,

keluarga dan masyarakat kita saat ini. Kita harus sadar dan semakin berhati-hati karena di akhir zaman ini para anti-kris sedang menyusup masuk ke dalam gereja-gereja Protestan. Banyak Gereja Protestan yang telah diinfiltrasi oleh para anti-kris sehingga separuh Gereja Protestan di Barat sedang krisis, kena kanker dan strok. Kita harus memulihkan dan merebut kembali Gereja-gereja Protestan yang telah dibajak para anti kris. (Hotben Lingga)