Merayakan Ultah ke-20 Tahun, Yayasan Sacred Bridge akan Menggelar” Sacred Rhythm: Reborn Unison “20​th​ Anniversary for the 2​nd​ Millennium”

0
276

Merayakan Ultah ke-20 Tahun, Yayasan Sacred Bridge akan Menggelar” Sacred Rhythm: Reborn Unison “20​th​ Anniversary for the 2​nd​ Millennium”

Jakarta, Suarakristen.com

Saatnya meniti kembali…

Festival Musik Sacred Rhythm​ memperingati 20 Tahun Festival Perkusi Dunia Sacred Rhythm di Pura Samuan Tiga (Gianyar) dan Penataran Sasih (Ubud), Bali pada 31 Desember 1999, yang digelar menyambut datangnya Abad 21.

Yayasan Sacred Bridge menyadari betapa pentingnya festival musik Sacred Rhythm untuk tetap melangkah dalam rangka menemukan kembali keterhubungan antara Seni, Ilmu Pengetahuan, dan Spiritualitas (Hati Nurani) tepat 20 tahun sejak generasi pertama para pendahulu berkumpul dan mengadakan acara penting ini pada pergantian abad di Bali.

Indonesia saat itu menjadi pusat perhatian dunia melalui festival Sacred Rhythm yang menjadi agenda resmi Perserikatan Bangsa-Bangsa mengawali pergantian Millennium – tahun yang dinobatkan sebagai ​the International Year For the Culture of Peace​ – yang dimana melibatkan 1000 pemain perkusi Indonesia dan 100 pemain perkusi Internasional.

Demi membuat perubahan yang nyata, khususnya dengan munculnya kekhawatiran baru yang disebabkan oleh serbuan teknologi yang bertubi-tubi cenderung membuat manusia semakin serakah dan tidak peduli terhadap sekitarnya. semangat generasi muda sangat dibutuhkan agar ​Sacred Rhythm: Reborn Unison (SRRU)​ dapat terus melangkah sesuai dengan visinya yang salah satunya adalah menyadarkan generasi muda khususnya akan pentingnya memiliki rasa berkesenian.

Pra-acara pertama dari SRRU telah dilaksanakan di Griya Santrian (Bali) pada bulan Agustus 2018, diikuti oleh SRRU: Celebrate Life di Museum Nasional Indonesia pada April 2019. Pada Acara Perayaan kali ini, SRRU mengambil tema “Recognizing Rhythm”, yang dimana menjadi respon dari kekhawatiran akan masa depan kota Jakarta​, kota dengan pertumbuhan tercepat di Indonesia yang memiliki Irama dan Keragamannya tersendiri.

Baca juga  Antisipasi Pandemi Covid-19 Berkepanjangan, Kampus UKI Buka Dapur Umum Siang Malam Serta Bagi Sembako dan Pulsa Bagi Mahasiswa

Selama ratusan tahun kota ini telah menjadi titik temu dan integrasi kebudayaan global. Penduduk “asli” Jakarta, dikenal sebagai orang Betawi, telah lama dipengaruhi tidak hanya oleh keberagaman budaya Indonesia, tetapi juga budaya asing yang memainkan peran besar dalam membentuk kebudayaan Betawi dan Jakarta sebagai kota yang beragam, bergairah dan dinamis. Terlepas dari segala pencapaiannya, kota ini masih menghadapi berbagai tantangan, dimana penduduknya semakin meninggalkan nilai-nilai yang luhur seperti toleransi, saling menghormati dan gotong royong.

Nilai-nilai ini telah menjadi slogan sehari-hari yang sayangnya sering kali berlawanan dengan perilaku. Ditambah lagi dengan dunia yang berkembang pesat dan dipenuhi informasi, membuat kita semakin tidak mampu lagi memahami sebuah “irama”, internal maupun eksternal. Dengan musik dan irama, festival ini menjadi lembaran baru untuk memperkuat semangat persaudaraan melalui dialog multikultur sekaligus meninjau ulang kesakralannya di era globalisasi yang “serba-sendiri” ini.
Cara paling efektif untuk memahami visi Acara ini adalah dengan berkaca pada sejarah, ketika seni diperlakukan sebagai media untuk berkomunikasi di semua ranah kehidupan baik dalam bentuk fisik maupun metafisik. Musik, contohnya, telah berhasil membuat manusia mampu menghilangkan batasan-batasan ruang dan waktu, sekaligus memperkuat komunitas secara nyata juga maya.

Musik, secara organik dan mendasar, menggiring manusia pada kehidupan yang harmonis tanpa memandang ras, etnis, dan status sosial.

Sacred Rhythm: Reborn Unison adalah kendaraan yang tepat dalam memahami kondisi mendasar umat manusia dengan menekankan pentingnya peranan dan fungsi irama dan perkusi. Selain merupakan bentuk musik tertua di dunia, musik perkusi juga menyajikan perangkat primordial yang digunakan oleh manusia untuk berkomunikasi dan menjalin hubungannya dengan semesta.

Baca juga  Ketua KPAI: Pemerintah Mesti Tunda Pembelajaran Tatap Muka di Pesantren, Sampai Dinyatakan Siap.

Ciri khas perkusi yang paling menonjol adalah kemampuannya dalam memicu emosi, kondisi ​trance​, dan efek lainnya. ‘Irama Sakral’ ini tidak hanya mengisi ruang, tetapi juga menciptakan waktu. Melalui irama lah kita kemudian menandai, mengukur, dan memahami waktu. Irama ini mendasari inti dari keberadaan kita dan memicu emosi terkuat kita: rasa kagum, suka cita, dan rasa takut.

Dalam rangkaian acara ini juga, program edukasi musik lintas ​genre​ milik Sacred Bridge, ​Rhythm Salad​, kembali dihidupkan.

“If we are to reflect on the next one thousand years, this must be in spiritual and human terms, not commercial.”
-Stephen Hill, the founder of Sacred Bridge

(Hotben)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here