Zionisme Kristen: Rintangan untuk Perdamaian Timur Tengah?

0
1069

Zionisme Kristen: Rintangan untuk Perdamaian Timur Tengah?

Oleh: Hotben Lingga

Zionisme KristenJudaisme dan Ismaelisme merupakan dua isme utama yang sedang terlibat konflik ideologi di Timur Tengah saat ini. Akan tetapi, apakah kelompok Zionis Kristen merupakan rintangan terbesar untuk perdamaian? Selama lebih dari dua abad, Zionisme Kristen telah menggunakan seluruh kekuatan mereka dalam politik Timur Tengah.

Apa itu Zionisme Kristen?

Kaum Zionis Kristen menganut penafsiran Alkitab secara literal. Kepercayaan utama mereka, yang didasarkan atas janji-janji yang dibuat oleh Allah dalam Perjanjian lama, adalah:

Bahwa tanah/negeri Israel merupakan hak milik kepunyaan orang Yahudi. Hanya Bangsa Yahudi pemilik syah Tanah Perjanjian.

Bahwa orang-orang Yahudi yang tersebar (diaspora) di seluruh dunia pada akhirnya akan kembali lagi hidup di Israel, dimana Allah sendiri (pada akhir zaman) yang akan mengumpulkan dan membawa mereka pulang kembali ke negeri perjanjian.

Kaum Zionis Kristen percaya dua kondisi di atas tersebut harus digenapi dan dipenuhi sebelum Akhir Zaman dan sebelum kedatangan Yesus yang kedua kali. Karena itu mereka menganggap benar untuk membantu mewujudkan kondisi ini. Mereka juga percaya bahwa di Akhir Zaman ini akan terjadi bencana-bencana alam dahsyat dan peristiwa-peristiwa besar.

Banyak Zionis Kristen percaya bahwa peristiwa-peristiwa historis saat ini menunjukkan bahwa Akhir Zaman sudah dekat. Pendirian Negara Israel di tahun 1948, penaklukan Tepi Barat dan Yerusalem Timur di tahun 1967, dan pembangunan perkampungan Yahudi di wilayah Palestina semua dianggap sebagai penggenapan nubuatan-nubuatan, demikian juga bencana-bencana alam seperti gempa bumi, tsunami dan banjir-banjir.

Bagi kaum Zionis Kristen, Negara modern Israel, dimulai tahun 1948, merupakan penggenapan perjanjian Allah dengan Abraham (Kej. 12:3) dan merupakan pusat tindakan Tuhan dari saat ini sampai kedatangan Kristus yang kedua kali dan merupakan peperangan Armageddon yang terakhir ketika Anti-Kris akan dikalahkan. Akan tetapi, nubuatan alkitabiah meramalkan bahwa orang Yahudi dari Negara-negara lain akan kembali ke Israel sebelum peperangan Armageddon.

kristenyahudi

Zionisme Kristen merupakan posisi teologis yang mempunyai implikasi politis, karena ia mentransformasi iman menjadi idiologi politis. Kelompok-kelompok Protestan yang konservatif ini dalam menyebarkan Injil dan pengutusan misionaris juga mengekspor “idiologi” ini ke ladang misi mereka, seperti Korea Selatan dan Cina. Sehingga tipikal kaum Protestan di Korea Selatan dan Cina (dari tahun 1882-1960) juga amat didominasi pemikiran Zionis Kristen yang pra-milenarian dan dispensasionalis.

Akhir Zaman

Salah satu skenario yang divisualisasikan untuk Akhir Zaman ini adalah bahwa sesudah kembalinya semua orang Yahudi ke Tanah Suci, umat Kristen yang lahir baru akan diangkat secara jasmaniah ke angkasa/langit (Firdaus) dalam sebuah peristiwa yang dikenal sebagai Pengangkatan (Rapture). Setelah itu Periode Tujuh Tahun Tribulasi/Kesengsaraan akan terjadi karena Anti Kris berkuasa di bumi. Akan terjadi perang Armagedon. Sesudah itu Kristus akan datang kembali untuk mendirikan kerajaanNya di bumi selama seribu tahun. (Tidak semua Zionis Kristen menganut ajaran tentang Pengangkatan ini).

Asal-Usul Zionisme Kristen

Zionisme Kristen mulai menjadi sebuah gerakan di abad 19, dimotori oleh pendeta-pendeta Protestan seperti John Nelson Darby (Gereja Anglikan), yang mengajarkan bahwa kembalinya orang Yahudi ke Tanah Suci dan pendirian Negara Israel sangat penting untuk penggenapan rencana Allah. Pandangan-pandangan Darby sangat mempengaruhi pertumbuhan Fundamentalisme Kristen (Protestan), khususnya pada gerakan Injili di AS. Gagasan-gagasan Darby juga sangat mempengaruhi pemikiran tokoh-tokoh utama dalam sejarah Timur Tengah. Di pertengahan abad 19, Lord Shaftesbury, seorang Perdana Menteri konservatif dan Protestan Injili, sangat berperan dalam penentuan kebijakan luar negeri Inggris yang menguntungkan bagi tanah air Yahudi di Palestina. Lord Balfour, penulis Deklarasi Balfour 1917 yang meletakkan kerangka dasar untuk pennciptaan Negara Yahudi, juga mendukung kepercayaan Zionis Kristen.

Zionisme Kristen di Amerika

Pada akhir abad ke 20 Gereja-gereja Protestan yang fundamentalis dan Injili menjadi kelompok keagamaan yang paling berkembang pesat dalam tubuh kekristenan Amerika. Zionisme telah menjadi kekuatan terorganisir, yang didukung oleh politisi-politisi ternama dan oleh pendeta-pendeta yang sangat berpengaruh dalam kancah dunia politik.

Terpilihnya Ronald Reagan sebagai Presiden AS pada tahun 1980 merupakan hasil perjuangan kaum Zionis Kristen dalam perpolitikan AS. Reagan bersama-sama petinggi-petinggi pemerintahan pada masa itu adalah penyokong Zionisme Kristen.

Jerry Falwel, seorang pendeta Baptis dan pendiri Moral Majority yang menyatakan bahwa “Daerah Kristen adalah jaring keselamatan Israel di AS”, memiliki jutaan orang pengikut. Dukungan kelompok Jerry Falwel senantiasa dicari siapun dia PM Israel. Falwel sering menerima medali dari PM Israel sebagai hadiah atas dukungannya bagi Israel.

Pat Robertson, seorang penginjil televisi, pengusaha media dan mantan kandidat presiden AS, menggunakan posisi dan pengaruhnya untuk melawan setiap gerakan yang mencoba untuk melawan nubuatan Alkitab dan mencap musuh-musuh Israel sebagai musuh-musuh Tuhan. Pada tahun 2004 dia menerima Penghargaan Kemerdekaan Israel.

Presiden George W. Bush adalah penurut kaum Injili. Ketika Israel menginvasi lagi Tepi Barat pada tahun 2002, Jerry Falwel dan pemimpin-pemimpin Zionis Kristen lainnya memobilisasi konstituennya untuk mengirimkan puluhan ribu surat untuk memberitahu Bush agar jangan menekan Sharon dan mengizinkan Israel untuk menyelesaikan pekerjaannya. Bush menurut dan Falwell kemudian tampil di TV CBS mengatakan bahwa Israel bisa mempercayai Bush untuk “melakukanhal yang benar untuk Israel setiap saat”.

Tom Delay, pemimpin DPR di bawah pemerintahan Bush, sering menjadi juru bicara Zionisme Kristen. Selama kunjungannya ke Israel pada tahun 2003 dia berpidato di Parlemen Israel, menyatakan dukungan penuh kaum zionis Kristen untuk masa depan Israel. Delay secara terbuka menentang Peta Jalan Damai dan menyatakan bahwa pemindahan orang Palestina dari Israel dapat dibenarkan atas dasar biblikal. Pada tahun 2003 dia menjadi penerima Anugerah Sahabat Israel.

Dengan jumlah pengikut lebih dari 100 juta orang di AS, kelompok Zionis Kristen merupakan kekuatan lobi paling kuat dan paling berpengaruh di AS dalam hal kebijakan AS di Timur Tengah. (DBS)