Protestantisme Perlu Nabi-nabi Kebangunan Rohani Baru!

0
798

 

logo copy

Oleh: Hotben Lingga

Saat ini, Gereja-gereja dan umat Tuhan sedang mengalami krisis besar. Sedang dalam kondisi gawat darurat, bahaya besar. Seperti dalam zaman Perjanjian Lama, Gereja dan umat Tuhan banyak yang kompromi dan toleran terhadap dosa-dosa perjinahan, percabulan, homoseks, lesbianisme dan pornografi. Tidak ada roh takut akan Tuhan. Ratusan juta orang Kristen saat ini sedang krisis identitas, krisis pengetahuan akan kebenaran Firman Tuhan, buta rohani, gampang terombang-ambing, suam-suam kuku, lemah iman, bahkan telah murtad dan melakukan “pemberontakan” kepada Tuhan. Di Eropa dan AS saat ini, ada ratusan juta orang Kristen yang “tidak mengenal/tidak mengakui” siapa Tuhan yang benar/sejati”, ragu-ragu, tidak mengakui ajaran-ajaran alkitabiah seperti tentang fakta kebangkitan Kristus, ketuhanan Yesus, ajaran tentang keselamatan/penebusan dosa di dalam Kristus. Apa yang menjadi keyakinan dan kebenaran dasar/esensial tentang iman Kristen sudah dianggap “mitos, khayalan, bualan dan kebodohan”. Banyak gereja secara teologis adalah gereja yang terhilang, murtad, mati dan tersesat.

 

Karena kebenaran absolut Firman Tuhan tidak diajarkan lagi maka Gereja/kekristenan mengalami degradasi, kemorosotan, kemunduran. Jadi, problem terbesar Gereja dan umat Tuhan saat ini adalah karena tidak melek Firman Tuhan, tidak mengenal kebenaran-kebenaran dasar Firman Tuhan. Firman Tuhan menyatakan “UmatKu binasa karena tidak mengenal Allah dan pengajaranNya” (Hosea 4:6). Sebagai akibatnya, pengaruh agama Kristen pada kebudayaan dan kehidupan individual sudah tidak begitu kelihatan.

 

Dalam era krisis multi-dimensi dan benturan peradaban saat ini, medan pertempuran yang sedang kita hadapi ada di ruang-ruang sekolah, bioskop, kampus, toko buku, dunia kerja, di mimbar gereja, parlemen, di rumah dan di dalam hati.

 

Karena itu, sekarang adalah waktunya untuk melakukan transformasi, restorasi dan Reformasi besar-besaran lagi dalam Gereja. Sekarang waktunya bagi Gereja-gereja dan umat Tuhan bangkit kembali dan mengalami kebangunan rohani. Kita sangat ingin Tuhan memberkati umatNya dan bangsa-bangsa. Namun, kita tidak bisa mengharapkan Tuhan yang Maha Kudus untuk memberkati orang-orang yang memberontak terhadap hukumNya. Seperti pada zaman Reformasi abad ke-16, saat ini kita sedang menghadapi serangkaian ancaman dan serangan yang sangat besar terhadap Gereja/kekristenan, baik dari dalam maupun dari luar.

 

Secara internal kita sedang menghadapi kebangkitan kaum kafir, kaum atheis/anti Tuhan, penyembah-penyembah berhala dan agama-agama palsu. Kita sedang menghadapi banyak pengajaran-pengajaran palsu/sesat, nabi-nabi/rasul-rasul/guru-guru palsu dan perpecahan-perpecahan dan konflik dalam tubuh Kristus. Bahkan yang lebih problematik, ada krisis yang sangat parah di dalam gereja-gereja kita. Sebagian umat Kristen bebal dan tidak mengerti sejarah, dan mempunyai pemahaman yang sangat dangkal pada Alkitab. Secara eksternal kita menghadapi penganiayaan yang semakin agresif dan meningkat di seluruh dunia kepada orang Kristen, khususnya dari kelompok-kelompok radikal. Sebagai akibatnya, banyak orang Kristen yang kompromistis, apatis, pengecut dan tidak cakap. Gereja kita penuh dengan umat yang lemah, duniawi, suam-suam kuku dan tidak aktif. Garam telah kehilangan rasa, dan lampu/terang kita seringkali disembunyikan di bawah gantang.

 

Kekristenan yang sekarang lebih cenderung tanpa Kristus. Sehingga banyak orang Kristen yang mengalami kekalahan dan kemunduran, tidak mampu menghadapi musuh-musuh Injil, kaum kafir dan ancaman kaum radikal yang agresif. Dari segi teologis, humanisme sudah membajak gereja. Teori Evolusi Teistik sudah diterima secara luas tanpa kritik. Hiburan-hiburan duniawi, tato dan jenis-jenis musik yang destruktif seperti musik rock n roll memperbudak banyak pemuda Kristen. Kekafiran dapat dilihat di banyak Gereja dan kelompok pemuda. Terlalu banyak gereja yang menjadi serupa dengan dunia, bukan membaharui dunia ini. Konsumerisme, pragmatisme dan materialisme menjadi mamon baru bagi banyak umat Kristen. Banyak gereja juga dijadikan tawar dengan eskatologi eskapisme (pelarian diri). Demam pengangkatan (rapture) dan obsesi/spekulasi akhir zaman telah membingungkan banyak umat sehingga mereka ingin cepat-cepat diangkat ke surga, sehingga bersikap pasif untuk terlibat secara aktif dalam problem-problem kemanusiaan dan pekabaran Injil. Banyak yang mengabaikan doa, kurang takut akan Tuhan dan dungu dalam kebenaran Firman Tuhan. Banyak orang Kristen yang sedang dicuci otaknya oleh pendidikan sekuler, dipengaruhi oleh hiburan duniawi dan ditipu oleh media berita sekuler.

 

Kita harus menyelamatkan Gereja-gereja kita dari keduniawian dan mengusahakan Reformasi Alkitabiah dan Kebangunan Rohani. Kita harus berusaha membaharui masyarakat dan bangsa-bangsa kembali. Seperti kata Martin Luther,”Hatiku sudah ditawan oleh Firman Tuhan. Dan sekarang saya mau menawan masyarakat dengan Firman Tuhan”.

 

Karena itu, kita perlu menekankan kembali ajaran-ajaran Reformasi Protestan yang menekankan bahwa kita semua umat Tuhan adalah Imamat Rajani, anak Allah, Duta Besar Allah, anak Raja, “nabi-nabi dan rasul-rasul yang sudah diberikan otoritas dan kuasa Roh Kudus untuk mengalahkan musuh-musuh, kuasa-kuasa dunia dan singa-singa kegelapan. Kita harus menghidupkan kembali ibadah kita, memperbaharui doa kita, membangkitkan kembali keluarga-keluarga kita, merestorasi ekonomi yang alkitabiah, membangun ulang banyak sekolah Kristen, membaharui masyarakat, menyingkirkan berhala-berhala dan mempengaruhi pemerintah untuk memajukan peradaban.

 

Ketika Israel dan Gereja sedang dalam masalah dan memerlukan seorang pembebas, Tuhan senantiasa mengirimkan “nabi-nabi” untuk mengkotbahkan pertobatan nasional, kesucian hati, pembaharuan iman/hati, pemulihan kehidupan, pengampunan dosa, perlunya iman yang kokoh, peran doa siang dan malam, dan penghukuman; -untuk memberi arah dan koreksi kepada Gereja atau kepada sebuah bangsa Hal terburuk yang dapat terjadi pada sebuah bangsa dan sebuah generasi adalah apabila tidak memiliki nabi-nabi.

 

Kita perlu hamba-hamba Tuhan, pekerja-pekerja Injil, pemimpin-pemimpin, pemikir, penulis-penulis, teolog-teolog, tokoh-tokoh revolusioner, panglima perang, pembunuh raksasa, pengkotbah-pengkotbah besar, transformator masyarakat, penginjil-penginjil besar, pengusaha-pengusaha besar, Reformator Gereja dan Umat,- kita perlu “Nabi-nabi” untuk melakukan pembebasan, Reformasi dan Kebangunan Rohani baru seperti Nabi Musa, Joshua, Daud, Elia, Elisa, Yeremia, Daniel, Maleakhi, John Wycliffe, John Huss, Martin Luther, John Calvin, John Knox, Ulrich Zwingli, John Wesley, George Whitefield, Jonathan Edwards, Charles Finney, William Carey, Hudson Taylor, Nommensen, William Booth, Billy Graham, Reinhard Bonke dan lain-lain.

 

Kita perlu mengundang “Nabi-nabi” masuk kembali kedalam Gereja Tuhan untuk melakukan Reformasi dan transformasi iman dalam pemikiran dan kehidupan umat, untuk merestorasi prinsip-prinsip Alkitabiah pada seluruh aspek kehidupan kita; untuk memurnikan ajaran dan mengobarkan api Roh Kudus dalam hati, pikiran dan jiwa kita; untuk melakukan peperangan rohani dengan nabi-nabi palsu, untuk menantang ilah-lah zaman dan memenangkan peperangan rohani dan untuk mendemonstrasikan kuasa Allah dalam kehidupan kita; untuk membawa perubahan besar dalam situasi kritis dan tanpa pengharapan saat ini; untuk mengoreksi pelanggaran moral dan agama, mengajarkan kebenaran moral dan agama yang berhubungan dengan sifat Tuhan. Kiranya Roh Kudus mengutus “nabi-nabi”, hamba-hambaNya, juru bicara Tuhan yang benar, yang dipanggil, diurapi, diperlengkapi dan diutus secara khusus untuk masuk kembali ke dalam gereja-gereja sebagai pengkotbah-pengkotbah, penginjil-penginjil, gembala-gembala dan guru-guru umat Tuhan. Undang kembali Nabi nabi masuk ke Gereja! Amin! (DBS)