Pdt. Suyapto Tandyawasesa, M.Th.: Gereja Harus Menjadi Pilar Masyarakat Sipil dan Kekuatan Moral Bagi Bangsa!

0
768

 

Suyapto

“Ormas Kristen merupakan salah satu pilar, corong, komunikator dan representasi Gereja dan umat di dalam kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat. Ormas Kristen berfungsi menjadi katalisator, fasilitator, dinamisator, motivator, aspirator, motor dan jembatan penghubung Gereja ke masyarakat dan pemerintah. Karena itu, keberadaan dan fungsi ormas Kristen yang sangat strategis dan penting dalam dinamika perkembangan masyarakat saat ini harus senantiasa dicermati, dikritisi dan direvitalisasi. Saat ini banyak Ormas Kristen sedang mengalami krisis fungsional, krisis eksistensial dan krisis kepemimpinan. Kita semua harus prihatin dengan krisis yang sedang kita hadapi ini. Karena, kalau peran dan pengaruh ormas Kristen lemah dan kecil di masyarakat, lemah pula bargaining position dan suara kita. Jadi, ormas Kristen sebagai bagian sentral dari masyarakat sipil harus mampu dulu membangun diri menjadi organisasi yang kuat, mapan, solid dan berintegritas,- baru bisa mempengaruhi, menggarami dan menerangi masyarakat dan pemerintah secara kuat dan efektif. Di tengah-tengah krisis global dan krisis kebangsaan kita saat ini, umat Kristen harus terus berusaha menjadi kekuatan moral dan spirit kebangkitan bangsa dengan memperkuat civil society.”demikian dikemukakan Pdt.Suyapto Tandyawasesa, M.Th., ketika menerima audiensi Tritunggal, di kantornya di Jakarta.

“Ormas Kristen didirikan untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan yang baik, terutama untuk menghadirkan berkat dan kasih Allah dan mengusahakan kesejahteraan bangsa. Apabila ormas Kristen tidak berjuang keras untuk menciptakan keadilan sosial, masyarakat sejahtera dan negara demokrasi, maka ormas Kristen akan menjadi organisasi marjinal. Dalam konteks kehidupan berbangsa dan bermasyarakat saat ini yang sedang dilanda krisis dalam segala aspek kehidupan, maka ormas Kristen tidak hanya harus bisa menjadi nabi untuk berbicara tentang kondisi sosial masyarakat, tetapi harus juga bisa berfungsi menjadi agen pembebasan dan agen kesejahteraan bangsa. Melawan ketidakadilan akibat globalisasi, mengadvokasi kepentingan kaum miskin dan membela perdagangan yang adil juga harus disuarakan ormas Kristen.

Orientasi utama/dasar Ormas Kristen Protestan adalah sebagai Abdi Masyarakat Sipil (Civil Society’s Servant). Ormas Kristen harus berjiawa dan berhati pelayan dan bersemangat pengabdi. Kristus memanggil dan mengutus kita ke dalam dunia ini untuk menjadi abdi, pengabdi, pelayan, pengerja bagi masyarakat, bangsa dan dunia. Umat dan ormas Kristen harus bisa menjadi pembawa terang/pencerahan, penyalur berkat/kasih Allah, pembawa damai sejahtera, keadilan, kasih, pengharapan dan rekonsiliasi. Tugas besar/utama kita adalah menjadi agen, administrator, kontributor dan partisipator utama pembangunan nasional.”tegas Pdt. Suyapto.

“Ormas Kristen memang masih sedikit di Indonesia. Karena itu semakin banyak ormas Kristen semakin baik. Karena Ormas Kristen merupakan bagian integral dari kesaksian dan pelayanan, kita sangat mendukung kehadiran ormas Kristen yang misi dan visinya untuk pelayanan sosial-kemanusiaan dan pemberdayaan masyarakat.Kita harus mendorong umat Kristen (warga gereja) dalam membangun ormas-ormas Kristen yang baru. Namun, ormas Kristen harus memperjuangkan kepentingan nasional atau kepentingan bangsa secara keseluruhan, bukan kepentingan umat Kristen semata-mata, tetapi untuk semua kelompok. Politik kita adalah politik kebangsaan. Visi kita adalah visi kebangsaan, kerakyatan dan kesejahteraan bersama. Saya berharap Gereja dan ormas Kristen dapat menjadi pilar civil society yang kuat, kredibel dan bermanfaat bagi bangsa dan masyarakat. Kita adalah Agen Moral Bangsa” tambah Pdt. Suyapto.

“Untuk memperkuat masyarakat sipil tersebut maka Gereja dan umat Kristen harus “melek politik”. Sudah lama dan masih banyak orang Kristen yang memahami politik berada di luar tanggung-jawab utama sebagai orang Kristen. Menurut saya, dari sudut pandang Firman Tuhan, perbedaan dualistis antara gereja dan dunia, antara yang kudus dan sekuler itu salah. Kristus adalah Tuhan atas seluruh dunia, atas seluruh dimensi ciptaan. Kita harus membawa setiap pemikiran, setiap kegiatan, setiap tanggung-jawab ke hadapan terang Firman Tuhan. Semua kehidupan adalah ciptaan Tuhan dan milik Tuhan. Karena itu, seluruh dimensi kehidupan harus sesuai dengan kebenaran dan standar Firman Tuhan. Baik sebagai warga negara maupun pejabat negara kita harus menyelaraskan kehidupan pribadi dan kehidupan sosial dengan standar Alkitab. Kita harus menumbuhkembangkan pemahaman dan kesadaran komprehensif tentang politik menurut Alkitab. Kita harus mempunyai pandangan politik Kristen yang sesuai dengan dasar-dasar dan kebenaran Firman Tuhan, sesuai dengan etika dan moralitas Kristen. Misalnya, kita harus menolak gerakan aborsi, Kita harus menolak pandangan dunia yang bertolak dengan Firman Tuhan.

Tantangan politis kita sebagai umat Kristen adalah bagaimana merealisasikan tanggung-jawab politis dunia kita dalam ketaatan kepada Kristus. Bagaimana kita memimpin diri kita secara politis dengan prinsip-prinsip Kristen dalam kehidupan sosial kita?

Jadi, kita harus menganggap bahwa masalah-masalah dan tantangan-tantangan kemanusiaan adalah problem-problem dan tantangan bagi gereja juga. Sehingga kita tidak mengatakan masalah ekonomi, politik, sains, teknologi dan media massa merupakan masalah “duniawi” yang terpisah sama sekali dari Kekristenan, yang bukan merupakan bagian dari struktur dan fungsi dari iman Kristen. Sedangkan kehidupan Kristen hanya berurusan dengan masalah kesalehan pribadi, keselamatan jiwa, kegiatan gereja, doa keluarga dan pelajaran Alkitab.

Karena itu, sudah waktunya kita terlibat secara aktif dan kreatif dalam dunia politik dan dalam kehidupan publik. Karena Politik yang menentukan arah dan dinamika bangsa kita, yang dengan sendirinya akan mempengaruhi eksistensi kita. Dalam pemilu 2014 ini, semua potensi politik umat Kristen harus digerakkan dan disinergikan, karena suara kita sebenarnya bisa menjadi King Maker dalam konstelasi politik nasional. Karena itu, Gereja-gereja dan pendeta-pendeta harus menggerakkan jemaatnya menggunakan hak pilih dan hak politiknya secara bijaksana, cerdas dan tepat. Umat Kristen jangan pasif dan golput! Iman kita harus berkaitan dengan pertimbangan etis dan politis. Kita harus mengintegrasikan dan menyelaraskan iman Kristen dengan pandangan-pandangan politik. Kita harus berperan dalam membangun demokrasi pluralistis. Politik bagi kita adalah politik garam. Politik sebagai bagian tak terpisahkan dalam kehidupan professional dan personal kita. Politik Kristen harus bertolak dan bertumbuh dari kebenaran iman Kristen.”harap mantan Bendahara Umum PGI ini.

“Umat Kristen harus bisa membawa transformasi kehidupan; hidup yang semakin harmonis dengan Tuhan, sesama, dan alam. Kita sangat prihatin karena banyak umat Kristen yang penghayatan imannya dangkal, kurang memahami imannya sendiri dan iman orang lain. Iman kita harus membumi. Membumi berarti harus diaktualisasikan di dalam kehidupan nyata dan dihayati. Sehingga membuat kita menjadi pribadi yang otentik, yang mampu berinteraksi dan berkorelasi dengan seluruh ciptaan dengan mendasarkan seluruh pelayanan pada azas cinta kasih. Iman harus dipraktekkan secara bertanggung-jawab di dunia kita yang sedang mengalami globalisasi. Iman harus berkontribusi bagi humanisasi dari proses-proses globalisasi. Sehingga bisa menuntun kita pada rekonsiliasi dan hidup berdampingan secara damai. Kita harus mempromosikan peran positif iman Kristen dalam realitas global di abad XXI, dan mendemonstrasikan hasil positif iman kita, dengan bekerja sama. Akan tetapi, Kita harus berhati-hati menggunakan bahasa iman dalam diskursus publik.

Salah satu cara utama untuk mencapai hasil ini adalah melalui pendidikan. Peran besar agama adalah untuk kebaikan masyarakat dalam ekonomi global. Nilai-nilai agama harus menyatukan, bukan memecahbelah kita. Iman harus bisa berfungsi sebagai agen perdamaian, kemajuan dan kesejahteraan untuk semua bangsa di dunia ini.

Kita harus sadar bahwa setelah kebangkrutan komunisme internasional, maka ke depan akan ada tiga idiologi visioner yang akan mempengaruhi dan mentransformasi umat manusia secara global. Pertama, Sekularisme Barat yang berjiwa humanisme anti-agama. Kedua, Kelompok Khilafah yang ingin menerapakan Hukum Syariah bagi dunia. Dan yang ketiga, Kekristenan, yang ingin mengtransformasi dunia dengan nilai-nilai Injil dan kuasa Allah.”papar Pdt. Suyapto ketika mengakhiri pembicaraan dengan Tritunggal. (Hotben Lingga)