Pdt. Elsen Tan, M.Div.: Gerakkan Pengusaha Kristen untuk Mentransformasi Bangsa Kita!

0
1220

Pdt.Elsen Tan, M.Div., (Ketua Umum Sinode Gereja Reformed Kharismatik):

“Gerakkan Pengusaha Kristen Untuk Mentransformasi Bangsa Kita!”

Elsen“Roh Kudus sedang membuat kegerakan baru dengan memobilisasi kaum pemimpin dan pengusaha Kristen untuk terlibat aktif dalam memajukan Kerajaan Allah. Murid-murid Kristus yang memimpin usaha besar dan kecil semakin banyak yang berkomitmen untuk hidup sesuai dengan nilai-nilai Kerajaan Allah dan strategi bisnis yang etis. Tujuan utamanya adalah untuk memperkuat gerakan bisnis yang misioner bagi dunia ini, dengan melibatkan para pengusaha dan profesional Kristen untuk membangun Kerajaan Allah melalui bisnis. Allah sedang melakukan restorasi besar dalam dunia bisnis dan pekerjaan dengan memanggil anak-anak Tuhan berperan dalam proses restorasi martabat dan derajat pekerjaan yang bersifat ilahi dan manusiawi. Kita perlu banyak profesional dan pengusaha yang memiliki jiwa misi. Mau menggunakan profesionalitas dan kekayaannya untuk kemuliaan Tuhan untuk membangun Kerajaan Allah. Karena itu, Gereja perlu mendorong dan melatih jemaatnya menjadi pengusaha agar mau melayani Tuhan dan orang lain. Gerakan ini sering disebut Gerakan Bisnis Transformasional atau Bisnis Kerajaan. Perusahaan-perusahaan yang berkomitmen dalam mendukung misi disebut Perusahaan Amanat Agung. Akan terjadi transformasi besar kalau kita membawa otoritas, dimensi-dimensi, nilai-nilai dan budaya Firman Tuhan masuk ke dalam dunia bisnis atau pekerjaan.”demikian dikatakan Pdt. Elsen Tan, M.Div, Ketua Umum Sinode Gereja Reformed Kharismatik (GRK), ketika menerima audiensi Tabloid Tritunggal dan Suara Kristen di kantornya di daerah Pantai Indah Kapuk, Jakarta Barat

“Bisnis merupakan bagian kehidupan, merupakan mandat Allah bagi orang percaya untuk membangun masyarakat atau komunitas. Sebagian besar waktu orang dewasa dihabiskan di dalam dunia pekerjaan dan bisnis. Karena itu, dunia bisnis dan pekerjaan adalah kesempatan terbesar kita untuk bersaksi, mendemonstrasikan Kerajaan Allah melalui dunia bisnis (market place). Bisnis sebagai misi berarti kita membangun bisnis yang besar untuk mendemonstrasikan dan memajukan kerajaan Allah. Karena itu, pemimpin bisnis Kristen harus mempunyai perspektif alkitabiah tentang bisnis.

 

Kita perlu mengetahui alasan mengapa Tuhan merancang pekerjaan. Pekerjaan adalah kegiatan yang kudus yang diamanatkan dan ditahbiskan oleh Tuhan. Pekerjaan itu pertama-tama untuk memenuhi kebutuhan manusiawi kita. Dia memberi talenta unik bagi masing-masing orang untuk bekerja dan berusaha sehingga bisa memenuhi kebutuhan hidupnya. Kedua, Allah ingin kita memahami bahwa pekerjaan kita itu adalah pelayanan kita. Kalau kita melayani orang lain, sebenarnya kita melakukan pelayanan kepada Tuhan, bahkan sekalipun itu pekerjaan sekuler. Ketiga, kita harus memandang pekerjaan kita sebagai ibadah yang kudus dan hidup kepada Allah. Seluruh aspek hidup yang kita jalani adalah bentuk ekspresi ibadah kepada Tuhan. Kita harus menggunakan pekerjaan kita sebagai sarana untuk membagikan dan mendemonstrasikan kasih Allah. Melalui pekerjaan kita membangun relasi dengan orang lain dan ini merupakan langkah awal untuk membagi kasih Allah tersebut. Kelima, kita harus bekerja untuk mencari uang agar kita bisa mendanai pekerjaan Allah di muka bumi ini. Ulangan 8:18 memberitahu kita bahwa Allah memberi kita kekuatan dan kemampuan untuk memperoleh kekayaan agar bisa mewujudkan PerjanjianNya di bumi ini. Keenam, Kita bekerja untuk melayani dan peduli pada orang yang miskin dan yang berkekurangan. Pengusaha Kristen harus menerapkan prinsip kasih pada orang miskin. Ketujuh, kita bekerja untuk mentransformasi masyarakat dan kebudayaan. Dari sejak awal penciptaan, Allah ingin manusia memancarkan kemuliaanNya melalui pekerjaan manusia, sehingga hal itu bisa mempengaruhi kebudayaan kita. Tuhan ingin kita peduli pada kota kita, bangsa kita. Ia ingin setiap orang ditransformasi bagi Kristus. Kedelapan, kita bekerja untuk membawa kemuliaan bagi Tuhan. Kita harus mengembangkan dan memaksimalkan talenta dan keahlian kita yang unik dan khusus untuk kemuliaan dan keharuman nama Tuhan.”ungkap Mahasiswa S-2 STT Reformed Injili Internasional, Jakarta, ini.

“Kita diciptakan oleh Allah untuk menjadi makhluk kreatif seperti Allah sendiri untuk menciptakan hal-hal yang baik juga. Tuhan memerintahkan Adam dan Hawa untuk “mengusahakan dan memelihara” taman Eden. Itu berarti Tuhan memberi mandat kepada Adam dan Hawa untuk menjadi “pengusaha sekaligus pelayan”, untuk memberi nilai tambah bagi ciptaanNya. Jadi berbisnis itu adalah mengikuti sifat yang berkarakter pencipta dan pengusaha yang berjiwa sosial (melayani ciptaanNya). Aktifitas bisnis merupakan demonstrasi keadilan dan kasih Allah. Dalam Alkitab, banyak contoh orang-orang yang takut akan Tuhan yang mengasihi Allah dan melayani orang melalui bisnis. Abraham misalnya. Tuhan Yesus juga bekerja dalam sebuah bisnis keluarga yang kecil selama beberapa tahun. Kita perlu model pengusaha seperti Abraham. Selain seorang bapak rohani (nabi), Abraham juga seorang pengusaha besar atau konglomerat pada zamannya. Abraham menjadi saluran berkat materi dan rohani kepada banyak karyawannya.

Kita percaya bahwa kita masing-masing diciptakan “dalam citra Allah” oleh Allah pencipta yang bekerja enam hari sebelum beristirahat pada hari ketujuh. Kita percaya dengan menjadi kreatif, berkontribusi pada masyarakat, menyokong sebuah keluarga dan merasa bangga dengan pekerjaan yang baik merupakan bagian dari menjadi manusia. Bekerja menciptakan martabat, gengsi dan kesadaran tentang siapa kita dan apa tempat kita di dunia ini. Tentunya tidak semua pekerjaan itu kreatif, sehat atau memberikan gengsi. Itu soal lain. Menjadi pengangguran bukanlah bagian rencana Allah. Jadi, menjadi pengusaha itu amanah dan Alkitabiah, berakar dalam Firman Tuhan. Lihatlah karakter, kegiatan dan obyek-obyek perbuatan Allah. Allah adalah pencipta. Dia kreatif. Tuhan mencipta untuk diriNya sendiri dan orang lain. Kita diciptakan dalam citra Allah, jadi cap karakter Allah ada dalam diri kita. Ketika Allah mencipta Dia mengevaluasi pekerjaanNya setiap hari dan menyimpulkan “semuanya baik”, baik proses maupun hasil ciptaanNya. Pekerjaan dan bisnis sebagai misi dimulai dalam Kejadian 1. Akan tetapi masalah timbul ketika manusia jatuh dalam dosa. Dunia pekerjaanpun menjadi tercemar dan rusak karena dosa. Akibat dosa, manusia menjadi egois, korup, licik, tinggi hati, kurang peduli pada orang lain, jahat dan saling sikut menyikut. Akan tetapi, dalam Kejadian 3, Allah menyatakan bahwa melalui Kristus, Dia akan menebus dan membaharui umat manusia yang sudah terjatuh kedalam dosa (Kej.3:15). Yesus membaharui hubungan kita dengan Tuhan, dengan diri kita sendiri, dengan orang lain dan membaharui proses kreatif itu. Menjadi seorang pengusaha haruslah menjadi manusia kreatif, agar bisa menolong menopang sebuah keluarga, menyokong perusahaan lokal dan berkontribusi menciptakan masyarakat yang lebih baik. Pengusaha bisa menjadi bagian proses pembaharuan dalam Kristus.”tegasnya lagi dengan penuh semangat.

 

“Orang-orang percaya yang menghabiskan sebagian besar waktunya di dunia bisnis, merekalah garam dan terang. Mereka bisa membawa transformasi melalui bisnis. Bukannya bidang-bidang pendidikan, seni, hiburan, media dan pemerintahan kurang penting. Orang-orang yang bekerja di luar dunia bisnis juga dipanggil untuk menjadi garam dan terang. Akan tetapi, dunia bisnis mempunyai peran unik sebagai katalis dalam transformasi masyarakat. Bukan saja kaum bisnismen bisa menciptakan kekayaan yang memampukan masyarakat untuk mendukung kesenian, hiburan dan banyak kegiatan sosial yang memperkaya kehidupan, tetapi juga memberikan paradigma dan panggung ideal untuk memperagakan dan menyebarkan seluruh Injil.

Kita harus merubah paradigma. Akhir-akhir ini ada pandangan yang keliru dan tidak alkitabiah, yang mengajarkan bahwa “melayani Tuhan penuh waktu” atau “menjadi pendeta” merupakan panggilan yang lebih tinggi. Sedang, bekerja di luar pelayanan gereja itu duniawi, kurang rohani. Kita jangan lagi menganggap menjadi pengusaha dan berbisnis itu mammon, tidak melayani Tuhan. Semua pekerjaan adalah pelayanan, baik pekerjaan sekuler maupun gerejawi. Tetapi karena Tuhan memberikan panggilan, talenta, pengalaman dan pekerjaan yang unik pada setiap orang, maka kalau Tuhan sudah memanggilmu untuk terjun dalam dunia bisnis, jangan merendahkan dirimu lagi menjadi seorang pendeta. Panggilan bisnismu adalah panggilan tertinggimu. Akan tetapi, kalau kita dipanggil untuk menjadi pendeta, itu juga adalah panggilan tertinggumu. Membedakan antara yang sakral dan sekuler, antara dunia yang rohani dan fisik tidaklah alkitabiah, karena dikotomi itu bersumber dari filsafat gnostik Yunani. Kita harus menjawab seruan Allah untuk membawa seluruh Injil ke semua manusia ke seluruh dunia.

Jadi, kita harus bisa mematahkan penghalang-penghalang antara yang kudus dan sekuler dan memperlihatkan bahwa bisnis itu baik dan merupakan ekspresi Kerajaan Allah di tempat kerja dalam komunitas. Kita berbisnis untuk mencari keuntungan atau benefit. Tetapi keuntungan bisnis itu kita maksimalkan dan pergunakan untuk melayani keluarga, karyawan, saudara, tetangga, gereja dan masyarakat. Dengan melayani sesama kita juga sudah melayani Allah. Dengan membantu sesama kita sudah mempermuliakan Allah. Allah mempunyai kabar baik untuk setiap orang. Bagi orang sakit ini bisa berarti kesehatan dan bagi orang yang kesepian itu dapat berarti persahabatan, tetapi bagi jutaan orang yang tidak bekerja kabar yang terbaik adalah mereka bisa mendapat kesempatan kerja.

 

Sebagai pengikut Kristus kita harus meneladani sifat-sifat Kristus. Kita harus menolong orang miskin, yang lapar, yang haus, yang tidak mempunyai pakaian, yang sakit dan yang dalam penjara (Matius 25). Apa yang menyebabkan orang miskin, kurang gizi, kelaparan, tunawisma, sakit dan melakukan pencurian atau tindak kriminal sehingga orang masuk penjara? Penyebab utamanya biasanya tidak punya pekerjaan. Karena itu kalau kita bisa menyediakan pekerjaan bagi orang yang tidak mempunyai pekerjaan kita telah melakukan salah satu perintah dan kehendak Tuhan, yaitu kita mengasihi sesama kita. Iman kita adalah iman yang sosialis juga, iman yang peduli pada konteks sosial dan problem kemanusiaan di lingkungan kita. Ini adalah misi dimana penginjilan dan tanggung-jawab sosial berjalan seiring.

 

Misi sering dikonotasikan dengan peduli pada orang lain, berkotbah atau mengajar, tetapi kita percaya bahwa misi juga menyangkut bisnis yang sehat yang menyediakan kesempatan-kesempatan yang riil untuk wanita dan pria agar bisa seperti Allah, kreatif, bekerja untuk orang lain dan kemudian mampu mengatakan “itu pekerjaan yang baik”. Jadi, kita semua adalah misionaris. Masing-masing diberi mandat kesaksian dan penginjilan. Allah ingin kita melakukan transformasi menyeluruh pada setiap individu dan masyarakat. Kita sudah diberikan amanat dan kuasa untuk mentransformasi orang dan komunitas, secara rohani, ekonomis, sosial dan lingkungan

 

Kita harus mempunyai perspektif Kerajaan Allah. Saat ini di banyak negara, pengangguran menjadi problem akut. Angka pengangguran semakin tinggi di zaman krisis saat ini, bisa berkisar antara 30%-70%. Dua milyar manusia saat ini hidup dengan kurang dari 20 ribu rupiah perhari. 50% penduduk dunia saat ini berusia dibawah 25 tahun. Dalam waktu 20 tahun lagi, 3 milyar manusia akan masuk dalam dunia kerja mencari pekerjaan. Menciptakan lapangan pekerjaan adalah baik sekali karena membantu orang untuk bertumbuh dalam citra Allah. Jadi Gereja harus memperhatikan aspek ini, harus terlibat aktif dalam pengembangan dan pembangunan ekonomi-bisnis umat dan jemaat. Kalau kita bisa memenuhi kebutuhan manusia secara holistik dengan membantu menciptakan lapangan pekerjaan, kita bisa mempengaruhi seluruh masyarakat. Kita dipanggil untuk memuridkan orang dan bangsa-bangsa dan mentransformasi masyarakat.

Banyak pemerintah yang tertutup kepada misionaris, tetapi terbuka kepada pengusaha-pengusaha dan profesional-profesional. Jadi pengusaha dan professional Kristen perlu ditantang dan didorong untuk menjadi “bisionaris” (pengusaha yang berhati misionaris), yang mau menggunakan talenta, kemampuan, kekayaan dan pengalamannya untuk membangun Kerajaan Allah, untuk melakukan pekerjaan dan bisnisnya sebagai misi dan untuk misi. Kita perlu banyak pengusaha yang mau menginternalisasi prinsip-prinsip dan standar alkitab, yang mau memuliakan Allah melalui bisnisnya, yang mau memaksimalkan diri, memaksimalkan keuntungan bisnisnya dan memaksimalkan pemberiannya untuk Tuhan. Yang mau menciptakan produk dan jasa yang bisa memperbaiki kehidupan. Yang mau memperlengkapi dan peduli pada semua orang. Yang mau menaati roh hukum. Yang peduli pada orang miskin, menolong orang yang lemah dan menciptakan lingkungan kerja yang kudus, damai dan penuh sukacita. Para bisionaris harus membawa kesejahteraan bagi orang lain.

Kita berharap setiap orang Kristen memiliki keahlian yang benar dan mau melakukan pekerjaannya dengan hebat, dengan penuh integritas dan profesional. Kita sudah diberi talenta karena itu kita adalah pelayan yang baik dari talenta kita, bertindak secara bertanggung-jawab dan peduli pada orang lain, apakah itu anggota keluarga, teman, karyawan, pelanggan, orang miskin dan yang berkebutuhan. Dan melayani Tuhan dan orang dengan professional, baik dan integritas.

 

Pengusaha dan profesional Kerajaan merupakan mesin yang bisa mentransformasi sebuah masyarakat dan bangsa dari yang belum mengenal Kristus menjadi, komunitas yang mengasihi Allah dan gereja Tuhan. Sebuah komunitas yang sudah ditransformasi ciri-cirinya kelihatan dari pancaran kasih, sukacita, kedamaian, kesabaran, kebaikan, kemurahan-hati, kesetiaan, kelemahlembutan dan penguasaan diri. Sedang masyarakat yang belum mengalami transformasi karakternya bejat seks, najis, menyembah berhala, penuh kebencian, suka bertengkar/berselisih, iri hati, cepat marah, egois, suka mabuk dan suka berpesa pora. Gereja mempunyai peran kunci dalam membangun kepercayaan.

 

Kalau kita ingin melihat transformasi dalam sebuah daerah, kita pertama-tama harus mengimplementasikan strategi untuk transformasi di daerah pinggiran kota. Kalau kita ingin melihat transformasi sosial dan kota yang lebih besar, maka kita harus mentransformasi para pengusaha dan profesional Kristen, maka kita harus menguduskan hidup kita dan menjadi seperti Yesus. Para pengusaha Kristen harus digerakkan untuk membantu gereja dalam melakukan transformasi bangsa. Peran kita adalah berdoa, menginjili, mengajar, menyembuhkan dan menguduskan hidup kita agar kita bisa menguduskan kota kita. Kita bisa mentransformasi kota kita kalau kita bertobat, berdamai dan saling mengampuni. Pesan kita sekarang ini adalah kasih, persatuan dan hubungan. Kota kita akan ditransformasikan karena gereja akan selalu bersaksi bagi Yesus. Pemimpin-pemimpin bisnis Kristen harus sering saling berinteraksi untuk berbagi pengalaman tentang menjalankan bisnis mereka dari perspektif alkitabiah.Demonstrasikan otoritas Roh Kudus dalam kehidupan dan mata pencaharian. Kita harus belajar tentang keahlian-keahlian utama agar bisnis bisa berhasil. Kita harus bergaul dengan pengusaha-pengusaha lain yang nafsu bisnisnya besar, belajar tentang marketing, membangun tim, penjualan, finance, relasi, implementasi proyek.

 

Jadi, bisnis sebagai misi adalah tentang bisnis riil yang membuat keuntungan, peduli pada lingkungan, komunitas sumber daya dan mentransformasi kehidupan-kehidupan setiap individu yang sebelumnya tidak mempunyai harapan untuk bekerja, tidak punya kesempatan untuk berkontribusi pada umat manusia. Gereja harus memilki strategi pengumpulan dana melalui bisnis.

 

Tuhan ingin bisnis kita berkembang. Tuhan ingin memberkati bisnis kita agar menjadi berkat bagi diri kita dan agar kita secara finansial bisa membantu menyebarluaskan Injil Kristus ke seluruh dunia. Sukses bisnis kita bukan hanya menjadi berkat bagi kita, tetapi itu juga untuk kemuliaan dan pekerjaan Tuhan. Tuhan membutuhkan bisnis kita untuk membantu menolong orang-orang yang terhilang.

 

Kalau kita ingin hidup makmur, kita harus bertumbuh dalam kebijaksanaan dan pengenalan akan Tuhan. Kita harus meminta Tuhan menunjukkan bagaimana berbisnis sehingga kita bisa tetap di posisi atas dan terus diberkati Tuhan. Izinkan Tuhan menuntun bisnismu agar berhasil.

 

Allah akan semakin memberkati bisnis kita, memberikan terobosan-terobosan finansial baru, kalau kita percaya sepenuhnya kepadaNya dan mau ikut ambil bagian secara maksimal dalam memperluas KerajaanNya. Jadikan Tuhan sahabat bisnis kita maka kita akan diberkati dengan sangat melimpah

 

Jadi kita juga harus mau meluangkan waktu, keluar dari rutinitas kerja, untuk bersekutu dengan Tuhan, mencari perspektif Tuhan tidak hanya untuk bisnis kita tetapi juga untuk kehidupan pribadi kita. Kita harus membangun persahabatan dan jaringan untuk masa depan kita dalam bisnis. Bisnis adalah perihal jaringan dan relasi/persahabatan, yang mungkin bisa membuka pintu-pintu baru untuk diri kita dan bisnis kita.

 

Kita harus selalu mencari inspirasi, perspektif, kerangka, rencana dan strategi baru dari Tuhan agar bisnis kita bisa semakin baik, efektif dan efisien dalam konteks panggilan Tuhan pada hidup kita untuk mendemonstrasikan kerajaan Allah melalui bisnis. Kita harus mau belajar dari pengalaman orang lain, berusaha fokus pada bisnis, cari inspirasi dari kisah-kisah orang lain, mempertajam keterampilan bisnis, mendapat perspektif Allah, memperluas jaringan dan melihat gambar yang lebih besar.

.

Kita perlu kembali kepada nilai-nilai finansial, kebajikan dan ethos kerja Protestan yang menekankan kerja keras, kejujuran, integritas, hemat, kepercayaan, kebijaksanaan, kehati-hatian, milik pribadi, ketenangan hati, etika kerja dan kesalehan.

 

Ini merupakan strategi misi, paradigma teologi dan pemikiran bisnis Alkitabiah, karakter bisnis Kristen. Jadikan Tuhan menjadi pelatih bisnismu, masukkan Tuhan dalam keputusan bisnismu, izinkan Tuhan memimpin bisnismu, jadikan bisnismu pemberi perpuluhan, berdoalah senantiasa untuk keberhasilan bisnismu,”kata Pdt. Elsen Tan ketika mengakhir percakapan dengan Tritunggal dan Suara Kristen (Hotben Lingga)