Pdt. DR. Mulyadi Sulaeman: Hanya Kekristenan yang Kuat yang Bisa Mentransformasi Sebuah Bangsa!

0
710

Pdt. DR. Mulyadi Sulaeman (Ketua Umum Sinode Gereja Sidang Pantekosta Di Indonesia (GSPDI):

“Hanya Kekristenan Kuat yang Bisa Mentransformasi Sebuah Bangsa”

 

“Segala sesuatu dalam dunia kontemporer sedang mengalami krisis, tidak hanya krisis ekonomi, sosial, politik dan budaya. Tetapi juga krisis moral. Demikian juga gereja dan kekristenan, sedang mengalami krisis, bermasalah. Dalam keadaan krisis dan transisi rohani saat ini, Gereja Tuhan perlu Gerakan Reformasi Baru, Gerakan Iman, Gerakan Kekudusan dan Gerakan Kebangunan Rohani Baru. Gereja perlu pemimpin rohani yang betul-betul memahami pergumulan atau persoalan zaman, agar bisa merespons tantangan-tantangan yang ada dengan hikmat, iman dan pengetahuan yang luas. Gereja memerlukan pemimpin-pemimpin yang mempunyai keberanian dan semangat yang besar, tekad dan kemauan yang kuat untuk melakukan terobosan besar dalam memimpin umat dan Gereja Tuhan keluar dari krisis tersebut. Komit kepada panggilan Kristus untuk menghargai karakter, menantang kebudayaan dan melayani dunia. Kita perlu pemimpin yang mempunyai gagasan-gagasan visioner dan strategi-strategi pemberdayaan yang transformatif. Yang mau bekerja keras, teruji komitmennya dan mau berkorban untuk Gereja dan umat. Kita perlu kepemimpinan Kristen yang kuat dan berprinsip dalam waktu krisis. Kita tidak boleh lagi mentolerir pemimpin-pemimpin yang berkompromi dengan dunia ini dalam hal prinsip iman dan integritas. Sekarang bukan waktunya berkompromi atau mendua sikap. Sekarang saatnya kita membuat perbedaan, tampil beda dengan dunia ini, antara yang gelap dan terang, antara yang benar dan keliru. Kepemimpinan alkitabiah yang benar membutuhkan keberanian dan terobosan. Seorang pemimpin Kristen tidak boleh takut pada saat krisis, tetapi harus membawa pengharapan dan memberi solusi/jalan keluar bagi krisis. Jikalau seorang pemimpin Kristen bisa berhasil memimpin orang keluar dari krisis, maka apabila krisis itu berakhir, orang akan terus mendengar gagasan-gagasan, pandangan hidup dan iman sang pemimpin tersebut.” Demikian disampaikan Pdt. DR. Mulyadi Sulaeman, Ketua Umum Sinode Gereja Sidang Pantekosta Di Indonesia (GSPDI), ketika menerima audiensi Tabloid Tritunggal di kantor pusat Sinode GSPDI di daerah Kemandoran, Jakarta Barat.

“Dengan kepemimpinan yang visioner, seorang pemimpin Kristen bisa menginspirasi masyarakat, bisa menggarami dan menerangi masyarakat. Mampu mengeksplorasi isu-isu kepemimpinan dalam dunia kontemporer. Terlibat dalam beragam wilayah kehidupan publik, mempersiapkan agenda baru, melakukan langkah konkrit dan berpikir strategis. Gereja dan umat perlu pemimpin yang mudah didekati, dihubungi. Perlu pemimpin yang bisa membawa kesejahteraan dan berkat, baik jasmani maupun rohani bagi umat. Kita perlu pemimpin yang bisa memberdayakan gereja, organisasi dan umat. Kita perlu pemimpin yang bisa berkomunikasi dengan efektif dengan semua orang, yang bisa membangun hubungan yang baik dengan pelbagai organisasi, baik nasional maupun lokal. Seorang pemimpin harus mempunyai visi besar dan harus loyal pada GerejaNya dan mampu memimpin dengan efektif dan efisien. Pemimpin Kristen harus mempunyai visi yang dari Tuhan tentang masa depan. Kita perlu pemimpin yang yang bisa menjadi pemimpin bagi semua masyarakat, yang suaranya dicari dan mau didengar masyarakat. Pemimpin yang bisa mempengaruhi dan memberi dampak besar bagi masyarakat. Agar Kekristenan dan umat bisa lebih berhasil dan maju, kita perlu pemimpin baru yang mau bekerja keras, berkorban, berhati pelayan, berjiwa besar, visioner, progresif dan emansipatif. Pemimpin Kristen kedepan harus berani, kuat, mau membayar harga untuk terus memberitakan Injil, menyerukan tidak saja pertobatan pribadi, tetapi juga pertobatan nasional, menganjurkan kekudusan pribadi dan kekudusan sosial, menyuarakan keprihatinan sosial, keadilan sosial,”tegasnya.

Baca juga  IDEOLOGI PANCASILA: HARGA MATI BAGI NKRI

“Salah satu tugas utama dan tugas penting seorang pemimpin Kristen saat ini adalah melakukan transformasi sosial. Pemimpin harus mau menggumuli isu keadilan sosial, mau peduli pada masalah kemiskinan, lapangan pekerjaan, penyakit, tunawisma dan problem-problem sosial lainnya. Gereja dan lembaga-lembaga Kristen harus lebih intens bekerja-sama dalam merespons problem-problem kontemporer, dan bekerja-sama dalam pelayanan sosial. Kita harus sungguh-sungguh berusaha menjadi garam dan terang dalam semua wilayah kehidupan. Kewajiban kita mentransformasi dunia di sekitar kita menjadi masyarakat ilahi yang baik, dan terlibat dalam politik, untuk membantu sesama kita, dan mengubah masyarakat kita,”tambahnya dengan penuh semangat.

 

“Karena itu, orang Kristen harus lebih aktif dalam masyarakat daripada orang lain, baik dalam partisipasi politik, pendidikan, kebudayaan, media, bisnis, pelayanan sosial dan masalah-masalah kontemporer. Orang Kristen, pemimpin Kristen khususnya, jangan hanya jadi penonton. Kita harus terlibat aktif sebagai garam dan terang dalam kehidupan masyarakat yang lebih luas. Iman kita harus menjamah dan bersentuhan dengan masyarakat. Kalau pemimpin Kristen dan kekristenan yang sejati tidak berdiri atau tidak hadir di tengah-tengah masyarakat, maka peradaban modern akan binasa seperti kapal yang akan tenggelam. Kita dipanggil untuk menyalakan terang bagi masyarakat. Terang berarti kehidupan dan kekuatan. Kita harus mengimpartasi nilai-nilai moral dan iman yang sejati pada Tuhan.

Agama dan moralitas yang sejati merupakan pilar sebuah bangsa, pilar penting sebuah civil society,-faktor krusial bagi sukses dan gagalnya sebuah bangsa. Agama dan moralitas yang benar/baik merupakan dasar kebebasan sipil dan kebahagiaan manusia. Agama dan moralitas sejati, yang benar yang bisa memberikan dasar/fondasi yang kokoh untuk membangun sebuah bangsa, yang bisa menciptakan masyarakat yang harmonis, damai, tertib, bebas dan maju.

Baca juga  MTS UPH Kawal Industri Konstruksi Indonesia Meresponi Pandemi COVID-19

Iman dan moralitas yang benar/sejati akan menopang sebuah bangsa/masyarakat.Tanpa iman dan moralitas yang sejati dari Tuhan, suatu bangsa dan masyarakat akan korup, krisis, memburuk. Tanpa dasar moralitas dan iman yang benar, tidak akan ada kebajikan. Dan apabila tidak ada kebajikan, tidak akan ada kebebasan, dimana kebebasan merupakan obyek dan nafas kehidupan sebuah pemerintahan. Agama dan hukum merupakan saudara kembar, teman dan saling menopang.Yes. 32:17 mengatakan,”Di mana ada kebenaran di situ akan tumbuh damai sejahtera, dan akibat kebenaran ialah ketenangan dan ketenteraman untuk selama-lamanya.”

 

Sejarawan Alexis de Tocqueville berkata,”Kekristenan yang fundamental/alkitabiah yang membuat AS dan Eropa menjadi Superpower. Kekristenan merupakan soul/spirit peradaban Barat,-Hidup matinya dan maju mundurnya Barat (AS dan Eropa) bergantung pada Kekristenan yang Alkitabiah.” Kita lihat AS dan Eropa saat ini. Mereka sedang krisis berat, itu karena mereka telah meninggalkan dan mengabaikan Agama/Moralitas Kristen. Kalau suatu masyarakat kehilangan dasar-dasar moralitas, masyarakat itu akan mengalami krisis sosial, angka bunuh diri, kekerasan, perceraian, kriminalitas dan penyakit jiwa menaik. AS dan Eropa sedang krisis dalam segala hal. Di AS saja ada 100 juta orang lebih yang kena penyakit kelamin menular. Tingginya tingkat kriminalitas di banyak negara merupakan konsekuensi kurangnya nilai-nilai moral dalam masyarakat. Semua kesengsaraan dan kejahatan yang dialami manusia saat ini seperti perbudakan, perang, konflik, penindasan, kejahatan, ketidakadilan, ambisi, perbuatan jahat itu karena orang megabaikan dan memandang rendah ajaran-ajaran dalam Alkitab.

 

Saat ini kita sedang hidup dalam dunia/zaman yang telah kehilangan tambatan moral. Manusia memang semakin pintar tetapi tanpa kebijaksanaan dan hati nurani. Etika dan moralitas telah menjadi usang. Etika telah diganti dengan sains, psikologi populer, dan filsafat relativisme. Keadaan terburuk suatu masyarakat atau bangsa adalah apabila kehilangan dan meninggalkan dasar-dasar moralitas yang bisa memberi makna hidup. Karena hanya moralitas yang baik yang bisa merestorasi sebuah bangsa.

 

Karena itu, moralitas Kristen sangat dibutuhkan masyarakat. Masyarakat dan dunia ini harus dituntun dan diterangi kembali oleh Firman Tuhan agar bisa tertib, harmonis, maju, sehat dan bisa keluar dari krisis.. Kita tidak bisa membangun masyarakat dan bangsa tanpa moralitas yang benar, kuat. Agama Kristen yang biblikal merupakan dasar dan sumber dari semua moralitas, kebebasan sejati dalam sebuah bangsa. Satu-satunya dasar pengharapan untuk menghindari anarki atau despotisme adalah moral masyarakat. Moralitas alkitabiah yang bisa menopang pemerintahan yang bebas dan menopang civil society. Moralitas yang sejati dibangun oleh Firman Tuhan. Ukuran moralitas adalah Firman Tuhan. Karena itu, orang Kristen harus dididik dengan standar moral dan etis yang tinggi. Alkitab merupakan buku terbaik dari semua buku yang ada di dunia ini, yang bisa membentuk dasar konstitusi sipil dan hukum, kebajikan, nilai-nilai kemanusiaan. Kita harus menggunakan Alkitab sebagai buku panduan untuk mengajari prinsip-prinsip moral bagi anak-anak, keluarga dan masyarakat. Kita harus membangun fondasi moral yang kuat di masyarakat. Gereja harus membangun masyarakat di atas dasar kasih, kekudusan, pelayanan dan persamaan hak.

Baca juga  MTS UPH Kawal Industri Konstruksi Indonesia Meresponi Pandemi COVID-19

 

Kekristenan yang biblikal itu kekristenan yang kuat, yang yakin pada pesan sentral Kekristenan, bahwa Yesus mati untuk dosa-dosa kita dan bangkit kembali dari antara orang mati. Kita yakin akan kebenaran Firman Tuhan dalam hidup kita dan masyarakat kita. Kekristenan mengajari kita untuk saling mengasihi, saling mengampuni, saling menghormati, saling melayani, saling membangun dan saling memberi. Kekristenan yang Alkitabiah berarti kita berpikir, beriman dan bertindak secara alkitabiah, dengan iman yang berkuasa dan berhikmat. Hanya Kekristenan yang kuat yang bisa mentransformasi sebuah bangsa. Karena Kekristenan yang sejati membawa/memiliki kuasa Allah yang besar untuk melakukan restorasi, transformasi dan terobosan bagi dunia ini.

Tuhan ingin kita mentransformasi/mengubah dunia ini, terlibat aktif dalam mentransformasi masyarakat dan menantang kebudayaan. Bagaimana caranya Tuhan ingin kita mentransformasi dunia kita? Kita tidak boleh menjadi manusia pasif dan apatis. Ia memerintahkan kita untuk “pergi” memberitakan Injil ke seluruh dunia, “pergi” ke tengah-tengah masyarakat, dunia, keluarga, pekerjaan, bisnis dan bangsa, menjadi “garam” dan “terang”, menjadi saksi dan teladan, menjadi orang-orang yang sudah ditransformasi oleh kuasa Roh Kudus.

Potensi gereja untuk mentransformasi masyarakat sangat besar. Krisis yang sedang terjadi saat ini menantang kita untuk semakin terlibat aktif untuk melakukan perubahan sosial, mengembangkan visi sosial yang alkitabiah. Hanya Kerajaan Allah yang bisa mengubah sebuah bangsa. Tuhan sedang mempersiapkan pemimpin yang berintegritas, beriman, mempunyai visi besar, yang bermoral, penuh kebajikan dan hati yang antusias untuk memanifestasikan Kerajaan Allah. Jangan ada lagi kekristenan yang lemah.”tegas Pdt. Mulyadi ketika mengakhiri percakapan dengan Tritunggal. (Hotben Lingga)