Majukan Teologi Perdamaian

0
3638

Majukan Teologi Perdamaian Oleh: DR. H.P. Panggabean

panggabeanTubuh Kristus saat ini sedang menghadapi tantangan-tantangan yang diakibatkan oleh pengaruh gelap globalisasi. Pengaruh-pengaruh negatif itu antara lain mencakup individualisme ekstrim, materialisme praktis, budaya kekerasan dan perang, dan pandangan mekanistik terhadap manusia. Problem sosial kemanusiaan seperti konflik, kekerasan, peperangan, kemiskinan, keterbelakangan ekonomi dan politik, kebodohan, serta kejahatan terhadap manusia dan kemanusiaan lainnya sungguh-sungguh menjadi persoalan nyata yang dihadapi manusia, umat Kristen khususnya.

Karena itu, kita harus mendorong gereja-gereja untuk memajukan Teologi Perdamaian, yaitu teologi yang mencerminkan dan mempromosikan perdamaian dan keadilan. Amanat Agung Tuhan Yesus “Kasihilah sesamamu manusia seperti engkau mengasihi dirimu sendiri” adalah paradigma dan cahaya penuntun untuk membangun komunitas dan dunia yang damai.

Kita harus memahami bahwa perdamaian merupakan bagian yang sangat penting dari iman kita. Perdamaian tidak mungkin terlepas dari kasih, keadilan dan kebebasan yang Tuhan karuniakan kepada semua manusia melalui Kristus dan pekerjaan Roh Kudus. Perdamaian merupakan pola kehidupan yang menggambarkan partisipasi manusia dalam kasih Allah untuk dunia. Hakikat dinamis perdamaian sebagai karunia dan karya tidak mengingkari adanya ketegangan dan konflik, yang merupakan bagian tak terpisahkan dalam hubungan manusia, tetapi dapat mengurangi daya hancurnya dengan membawa perdamaian dan rekonsiliasi. Gereja harus sadar bahwa ketidakadilan, kekerasan dan perang dalam segala bentuknya masih mengganggu dunia saat ini. Gereja harus turut serta dan berani terlibat membangun perdamaian dengan keadilan melalui respons bersama pada panggilan Tuhan untuk membangun budaya perdamaian yang adil. Kita harus menyuarakan perhatian dan keprihatinan ini dengan mempelajari kitab suci, doa bersama, seminar-seminar, loka-karya, ceramah-ceramah, acara-acara budaya, percakapan-percakapan, lembaga-lembaga pelayanan, penggunaan multimedia dan berbagi pengalaman dengan orang-orang yang telah mengalami kekerasan, ketidakadilan dan perang. Kita percaya bahwa Gereja mampu dan telah diberikan kekuatan dan kuasa oleh Tuhan Yesus untuk mengatasi kekerasan.

Kita sadar bahwa orang Kristen juga telah sering terlibat dalam sistim kekerasan, ketidakadilan, militerisme, rasisme, kastaisme, intoleransi dan diskriminasi. Kita harus meminta Tuhan mengampuni dosa-dosa kita dan mentransformasi kita menjadi agen kebenaran dan perdamaian yang adil. Kita mendesak pemerintah-pemerintah di seluruh dunia dan kelompok-kelompok lain untuk tidak menggunakan agama sebagai dalih pembenaran atas tindakan kekerasan. Perdamaian merupakan nilai utama dalam semua agama. Karena itu memperjuangkan perdamaian harus menjadi aspirasi bersama semua agama dan masyarakat walaupun dengan ragam tradisi, komitmen, konteks dan sejarahnya.

Kita sadar bahwa perbedaan gereja dan agama menghasilkan ragam perspektif tentang perdamaian. Ada yang memulai dengan penekanan pada pertobatan pribadi dan moralitas; menerima perdamaian dari Allah dalam hati seseorang sebagai dasar perdamaian di dalam keluarga, masyarakat, ekonomi dan di seluruh bumi dan dunia bangsa-bangsa. Ada yang menekankan pertama-tama untuk fokus pada saling mendukung dan koreksi dalam Tubuh Kristus kalau perdamaian itu hendak diwujudkan. Ada yang mendorong gereja agar berkomitmen untuk memperluas gerakan-gerakan sosial dan kesaksian umum gereja. Masing-masing pendekatan mempunyai manfaat tersendiri, yang penting kita berani dan mau satu suara untuk mengusahakan perdamaian. Gereja harus memberikan kontribusi yang unik bagi perwujudan dan pekerjaan perdamaian yang adil, dengan berusaha mengikuti jejak langkah Tuhan Yesus. Kita tegaskan bahwa Firman Tuhan berbicara kepada kita dan menantang kita untuk bertindak secara all-out dan komprehensif untuk mewujudkan konsep shalom yang berakar dalam Firman Tuhan dan refleksi teologis. Karena itu Tuhan memberkati orang yang mengusahakan dan membawa perdamaian.

Saat ini kita harus mengusahakan perdamaian di empat area utama, yaitu:

Perdamaian di masyarakat. Perdamaian dimulai dengan diri kita, dengan sesama kita. Pemahaman tentang diri-sendiri dan tentang orang lain menentukan cara kita berhubungan dengan dunia yang lebih luas. Kalau kita sebagai umat Kristen percaya bahwa perdamaian di bumi harus dimulai di rumah, maka bagaimana caranya kita mengupayakan dan menjamin ada perdamaian di komunitas/masyarakat? Bagaimana kita mengatasi rasisme, diskriminasi gender dan budaya-budaya yang memperkosa kehidupan banyak orang?

Kita masih sering menyaksikan ketidakadilan dan penindasan dalam kehidupan banyak orang. Ada yang menjadi orang yang tertindas dan ada juga dalam komunitas kita yang menjadi penindas. Gereja harus membantu mengidentifikasi pilihan-pilhan sehari-hari yang dapat mengakhiri penganiayaan dan mempromosikan hak asasi manusia, keadilan gender, keadilan iklim, keadilan ekonomi, persatuan dan perdamaian. Gereja-gereja perlu terus melawan rasisme dan kastaisme sebagai sesuatu yang merendahkan martabat manusia di dunia saat ini. Demikian juga, kekerasan terhadap perempuan dan anak-anak harus dinyatakan sebagai dosa. Di semua tingkatan, Gereja harus berperan mendukung dan melindungi hak-hak asasi universal dan mengupayakan suaka politik bagi mereka yang melawan dan menentang militerisme dan konflik bersenjata. Gereja-gereja harus meningkatkan suara bersama untuk melindungi jutaan orang Kristen yang mengalami diskriminasi dan penganiayaan dalam bentuk intoleransi beragama. Salah satu solusi adalah agar Pendidikan perdamaian harus masuk dalam setiap kurikulum di sekolah-sekolah, seminari dan sekolah agama dan universitas-universitas. Kita mengakui bahwa generasi muda dan pemuda mempunyai kemampuan untuk menghadirkan perdamaian. Gereja harus mengembangkan dan memperkuat jaringan untuk pelayanan perdamaian yang adil dan tampil di publik untuk mengusahakan rekonsiliasi dan perdamaian. Perdamaian yang adil hanya bisa dicapai hanya kalau kita semua bekerja-sama. Kita perlu dukungan yang kuat dari gereja-gereja kita, kita membutuhkan satu sama lain, kita harus berdoa dan bekerja-sama.

Perdamaian dengan Bumi.

Perdamaian di bumi itu mencakup perdamaian dengan bumi. Umat manusia dituntut untuk bertanggung-jawab atas alam. Tantangan-tantangan saat ini berkaitan dengan perubahan iklim dan ekologi dan sumber-sumber daya alam. Kita berpendapat bahwa krisis lingkungan hidup merupakan krisis spiritual dan etis umat manusia. Bumi rusak oleh karena aktivitas manusia, karena itu kita tegaskan lagi komitmen kita pada integritas/keutuhan ciptaan dan gaya hidup sehari-hari yang alkitabiah. Kepedulian kita pada bumi dan keprihatinan kita pada problem kemanusiaan berjalan seiring. Sumber daya alam dan barang-barang kebutuhan sehari-hari seperti air harus dibagi secara adil dan berkelanjutan. Kita ikut dengan masyarakat sipil sedunia untuk mendesak pemerintah-pemerintah agar merekonstruksi secara radikal semua aktivitas ekonomi kita untuk mencapai tujuan ekonomi yang berkelanjutan secara ekologis. Penggunaan bahan bakar fosil yang berlebihan dan emisi CO2 harus segera dikurangi sampai pada tingkat yang bisa menjaga iklim berubah secara terbatas. Bencana nuklir Fukushima telah membuktikan sekali lagi bahwa kita harus tidak lagi bergantung pada tenaga nuklir sebagai sumber energi.

Perdamaian di Dunia Usaha

Gereja dan umat Kristen harus terlibat aktif dalam membangun tatanan kehidupan ekonomi manusia, harus mengupayakan kesejahteraan kota, masyarakat, keluarga dan lingkungan sosialnya. Misi dan visi Gereja bagi dunia saat ini antara lain adalah untuk membebaskan orang dari lilitan kemiskinan, ketidakadilan sosial, ekonomi dan budaya. Gereja diutus untuk membawa berkat rohani dan ekonomis bagi dunia ini. Visi alkitabiah Gereja sebagai “agen kehidupan yang berkecukupan dan berkelimpahan” bagi semua orang harus diimplementasikan.

Kita mendesak pemerintah-pemerintah agar dana besar untuk keperluan militer, persenjataan atau perdagangan senjata dialihkan untuk mengurangi tingkat kemiskinan di seluruh dunia. Dana-dana itu harus digunakan untuk mendukung aksi-aksi kemanusiaan dan program-program kehidupan. Kepedulian, kehadiran dan keterlibatan Gereja dalam dunia kerja/usaha adalah untuk membawa berkat, teladan, terang, garam, pertumbuhan ekonomi, perdamaian/rekonsiliasi dan kemakmuran bagi masyarakat dan bagi dunia!

4. Perdamaian antara Bangsa-bangsa

Sejarah mengingatkan kita pada kenyataan bahwa kekerasan bertentangan dengan kehendak Allah dan tidak pernah dapat memecahkan konflik-konflik. Karena itu Gereja harus berkomitmen untuk membangun dan melindungi perdamaian. Gereja bertanggung-jawab untuk mencegah dan menghindari kekerasan sampai ke akar-akarnya. Gereja harus berjuang agar orang-orang tidak berdosa dilindungi dari ketidakadilan, perang dan kekerasan. Gereja mengajarkan non-kekerasan, tetapi mengajarkan kasih dan perdamaian bagi bangsa-bangsa.

Karena itu, memajukan Teologi Perdamaian (Harmoni) adalah suatu keniscayaan iman Kristen. Teologi Perdamaian adalah landasan kebudayaan dan peradaban manusia. Teologi Perdamaian adalah Perdamaian antara manusia dengan Penciptanya, perdamaian antara manusia dengan sesamanya, perdamaian antara manusia dengan alam, perdamaian antara masyarakat dengan masyarakat dan perdamaian antara bangsa dengan bangsa,- dengan kasih, salib dan ajaran Kristus sebagai landasan dan referensi teori- praksisnya. Amin! (DBS)

(DR. H.P. Panggabean adalah seorang praktisi hukum dan pengamat sosial-budaya dan keagamaan, tinggal di Jakarta)