Apa Fungsi Gereja dalam Masyarakat dan Krisis Sosial Abad XXI?

0
4662

APA FUNGSI GEREJA DALAM MASYARAKAT DAN KRISIS SOSIAL ABAD XXI? Oleh: Pdt. Elson Lingga M.Th.
Tidak henti-hentinya arus informasi melalui televisi dan jejaring internet menyuguhkan bagaimana dunia sekarang ini dipenuhi masalah yang rumit. Persoalan di Mesir, Suriah, Nigeria, Irak, Ukraina, dan negara-negara yang sedang mengalami konflik menyentak dunia dengan banyaknya korban meninggal dunia setiap harinya. Ribuan orang mati sia-sia setiap harinya akibat peperangan, konflik dan kemiskinan Dunia ini sedang mengalami krisis dalam segala hal.

Nampaknya dunia yang kita diami sekarang ini semakin dijejali persoalan yang tidak pernah tuntas, dan kita sebagai penghuninya semakin sulit untuk mengurai benang kusut itu. Bukan hanya di Timur tengah masalah krisis sosial terjadi, hampir di setiap negara sekarang mengalami problem sosial yang khusus dan rumit. Indoneia juga sarat dengan problem sosial mulai dari masalah kemiskinan di perkotaan, sulitnya mencari penghidupan di desa hingga kerusuhan-kerusuhan massa yang sering terjadi di mana-mana. Nampaknya masalah lingkungan hidup yang tidak menjadi persoalan serius di abad lampau kini justru menjadi persoalan utama. Tidak mengherankan dampak Krisis lingkungan hidup memacu ketidakstabilan iklim yang pada gilirannya di setiap negara menghancurkan pertanian. Krisis ini kemudian mendorong bagian-bagian lain seperti semakin kurangnya pangan, memuncaknya jumlah pengangguran , tidak stabilnya politik dan keamanan.

Ada beberapa faktor penyebab krisis sosial ini:

Ledakan jumlah penduduk.

Banyak ahli selaras dengan Maltus yang pada intinya berpendapat seluruh krisis yang terjadi di muka bumi ini bermuara kepada laju pertumbuhan jumlah penduduk bumi yang sangat cepat. Salah satu contoh misalnya Indonesia yang pada tahun 1971 hanya berpenduduk 71 juta, tetapi kini meningkat pesat hingga 270 juta jiwa. Penduduk bumi secara global tidak lama lagi juga akan mencapai 7-8 miliar jiwa. Maka dampak yang tidak terelakkan adalah semakin banyaknya sumber makanan dan energi yang dibutuhkan, semakin habisnya lahan untuk pertanian dan perumahan, semakin banyaknya lapangan pekerjaan yang dibutuhkan. Ini masih sangat sedikit dari jumlah kebutuhan manusia seperti pengangkutan yang berdampak pada polusi udara. Dibutuhkannya bahan bakar yang semakin bertambah mengakibatkan eksplorasi lahan tambang yang merusak tanah dan alam. Semakin tak terkendalinya eksploitasi sumberdaya kelautan karena dibutuhkannya bahan makanan ikan untuk jumlah penduduk yang sangat besar itu. Maka sebenarnya tidak ada satu pun krisis itu berdiri sendiri tanpa bertali temali dengan krisis lain. Munculnya premanisme, semakin maraknya pembunuhan, perjudian, banyaknya kehancuran keluarga adalah akibat dari faktor-faktor di atas.

Terjadinya ketidakadilan

Lebih lagi, Duchrow mengatakan krisis global saat in terjadi akibat ketidakadilan antara negara utara dan selatan dilakukan oleh Negara-negara maju terhadap Negara sedang berkembang dan negra miskin. Dan itulah pemicu atas terjadinya perang dimana-mana bahkan teror dan pemberontakan atas pemerintahan yang sah.

Terkait dengan yang terakhir, sangat mungkin bahwa pemerintahan yang dulunya dipilih secara demokratis namun tidak mampu mewujudkan janji kesejahteraan warganya akan memancing aksi besar-besaran penurunan rejim yang sedang memerintah tersebut. Kita masih teringat bagaimana peristiwa bakar diri pada 17 Desember 2010 di Tunisia. Seorang pemuda bernama Mohammad Bouazizi, meninggal setelah membakar diri dan kematiannya di kota Sidi Bouzid, memicu aksi massa yang akhirnya menjungkalkan diktator Zine Abedine ben Ali. Aksi massa Tunisia itu kemudian menyebar ke Afrika Utara dan Timur Tengah dalam gerakan yang kemudian dikenal sebagai “Arab Spring”. Kalau kita perhatikan ternyata penyebabnya adalah bahwa pemerintah tidak bisa menegakkan keadilan dimana korupsi merajalela sementara rakyat semakin miskin dan terinjak injak. Kemudian reformasi terjadi kemana-mana bahkan hingga kini belum tuntas seperti di Mesir. Yang mau dikatakan adalah bahwa ketidakadilan akan memunculkan gerakan menuntut walau risikonya sangat besar. Tetapi keadilan adalah salah satu keadaan yang diinginkan seluruh rakyat.

Baca juga  Pertanggungjawaban ISIS dari sudut Hukum Internasional

Pengangguran

Pengangguran adalah fakta tak terbantah pemicu pencurian, bahkan penyakit-penyakit sosial. Hal itu terjadi karena setiap manusia membutuhkan makanan, pakaian dan yang lain. Di sisi lain pemerintah yang tidak bisa menyediakan lapangan kerja untuk mereka, pasti akan berakibat munculnya solusi pintas yang dilakukan oleh masyarakat yang menganggur tersebut yaitu tindakan pencurian sampai tindakan kriminal. Tak heran jika saat ini perilaku anarkis di masyarakat sangat sering terjadi, hal itu sebagai bukti bahwa masyarakat sudah bimbang dan terjadi krisis moral serta mental akibat situasi ekonomi yang semakin menghimpit, sehingga masyarakat akan mudah terpancing amarah, mengamuk, dan brutal meskipun karena hal sepele. Dan itu terjadi karena mereka menganggur dan kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Di Negara-negara yang jumlah penganggurannya kecil seperti Jepang, Korea Selatan dapat kita lihat kejahatan-kejahatan, penyakit sosial lain cenderung terkontrol dan sedikit jumlah dan frekuensinya.

Kesenjangan Pembangunan

Bisa dipastikan setiap selesai lebaran maka penduduk Jakarta akan semakin bertambah. Tentu para pemudik bercerita tentang bagaimana Jakarta yang kemudian menarik perhatian para saudara dan tetangganya untuk menyabung untung di tengah ibu kota Indonesia ini. Ternyata, Jakarta lebih menarik, lebih menjanjikan dari daerah lain di Indonesia. Pembangunan Jakarta jauh lebih melesat dibanding dengan yang lain. Kemajuan ibu kota provinsi jauh lebih hebat dari daerah kabupaten, kecamatan dan perbedaan-perbedaan itulah yang membuat banyak orang meninggalkan daerahnya mencari kehidupan baru di kota yang juga belum tentu menjawab tantangan hidup mereka. Orang yang memiliki keberadaan serba minim seperti pendidikan dan daya saing lainnya yang lemah namun karena meninggalkan desanya untuk menyabung untung di kota serta merta membawa kebiasaannya, maka banyaklah dari mereka menjadi sumber permasalahan baru di kota sebab setelah tidak mendapat pekerjaan mereka menjadi gelandangan dan pengemis, tentu membuat wajah kota semakin kusam. Keadaan di Negara jiran kita Malaysia amat berbeda, sebab penempatan industri yang merata di daerah dan di desa-desa membuat kota tidak seperti Jakarta. Desa desa nampak sejahtera karena penduduknya mendapatkan pekerjaan di daerahnya sendiri. Keadaan seperti itu seharusnya menjadi pilihan pemerintah.

Baca juga  Pertanggungjawaban ISIS dari sudut Hukum Internasional

Sikap gereja tentang krisis sosial

Sebenarnya alangkah baiknya kalau peran Kristen itu sendiri dimulai dengan melihat konsep ekklesiologi, di mana kita menemukan gereja yang berkarakter misi bahwa gereja terpanggil untuk menyampaikan syalom Allah atas bumi dan rencana keselamatan Allah atas manusia (Yohanes 17:21, 1 Petrus 2:9-10, Efesus 4:17-21, dan Matius 28: 18-21). Gereja tanpa misi (koinonia, martuaria, diakonia) adalah gereja yang kehilangan reason to exist-nya. Juga tidak boleh lupa konsteks kehidupan gereja berada itu sendiri.

Di Indonesia tentu tidak boleh dilupakan bahwa gereja tergolong minoritas sehingga sering ditolak bahkan dimusuhi. Maka karakter kekristenan yang seharusnya tetap terbangun adalah Kristen yang mengikuti jalan salib, setia terhadap Tuhan walau penuh dengan penderitaan, dan rela berkorban. Peran dan fungsi gereja yang dimusuhi, ditolak namun setia dan berkorban adalah sikap Yesus (Yohanes 15:18-20, Mat 5:10-12, 1 Petrus 2:19-21). Sehubungan dengan konsep diatas ada beberapa sikap orang Kristen:

Mengamini pesan-pesan sidang raya gerejani

Gereja terpanggil sebagai garam dan terang, dalam arti karena gereja adalah bagian integral dari kemanusiaan yang utuh maka dirinya tidak boleh meluputkan diri dari tugas yang diamanahkan tersebut. Di setiap persidangan gereja selalu menghasilkan pesan pesan yang seharusnya mempertajam secara praktis keterpanggilan gereja dalam dunia milik Tuhan. Misalnya Sidang Raya LWF tahun 2003 di Winnipeg Kanada dibawah thema: Gereja terpanggill menjadi kesembuhan bagi dunia dengan teks rujukan Wahyu 22:2. Dalam sidang sidang tersebut dengan sangat antusias gereja membahas tantangan sentral masa kini berupa justice Peace and Integrity of Creation.Penyorotan tentang kondisi kemiskinan di negara-negara berkembang di seputaran Sub Sahara Afrika, kondisi kerukunan umat beragama di negara-negara Asia, bencana-bencana yang melanda dunia, korban HIV Aids dll. Saya rasa gereja gereja di Indonesia juga perlu menyadari perannya sebagai pengemban misi bahwa Tuhan mencitai seluruh manusia (Mazmur 145:9a) seperti Thema sidang raya lalu.

Menunjukkan kepedulian dan simpati

Gereja adalah bagian dari masyarakat itu sendiri, bukan di luar. Memang dirinya diutus ke dalam dunia tapi tidak terpisah dari komunitas dunia. Dirinya harus mempraktekkan ajaran Tuhannya di dalam kehidupan itu, bukan justru menutup diri bahkan mengasingkan diri. Ketika Yesus mengosongkan diri (Filipi 2:5-11), misinya adalah memberi diri untuk orang lain, mengorbankan diri untuk keselamatan kita. Tentu Injil yang dipraktekkan adalah injil yang mengasihi dan bertindak untuk keselamatan orang lain. Kalau gereja tidak melakukan hal itu, tetap eksklusif maka dirinya akan tetap sebagai mahluk asing, ditolak bahkan dianiaya. Hanya dengan kepedulian terhadap sesamalah, walau tidak semarga, sesuku bahkan tidak segolongan, separtai dan seagama. Ini pesan yang disampaikan Yesus dengan cerita Orang Samaria yang baik hati itu.

Baca juga  Pertanggungjawaban ISIS dari sudut Hukum Internasional

Menjadi peace keeper bukan problem maker

Penjaga suasana damai sama seperti pasukan perdamaian yang tidak berpihak kepada satu pihak, dan tidak mempergunakan senjata untuk menyelesaikan permasalahan. Sering sekali kita tertarik ke pusaran masalah yang mengakibatkan kita tidak lagi netral. Tentu kita harus mampu jadi pembawa damai tanpa menyakiti orang lain. Orang Kristen harus mengingat bahwa sebagai anak Tuhan mereka senantiasa menjaga diri untuk tetap layak disebut “pengikut Kristus”, tentu dengan terus menerus berada dalam sifat-sifat manusia baru yang telah meninggalkan manusia lama yang penuh keburukan (problem maker). Tetapi sebagai manusia baru adalah yang telah menyematkan sifat yang baru sebagai manusia yang telah ditebus Yesus (Rom 6:11-13). Dari sekian banyak orang Kristen di RT mu atau di RWmu cobalah selidiki berapakah diantaranya sebagai warga yang disenangi penduduk setempat karena prilakunya yang baik dan patut di contoh. Atau apakah anda salah seorang di dalamnya?

Berdoalah untuk bangsa dan Negara

Ketika umat Israel dibawa ke dalam pembuangan Babel, mereka berputus asa, tidak bersemangat lagi melanjutkan hidup. Alangkah jauhnya perbedaan negeri Israel dengan negeri penjajah tersebut, mereka menyesal telah menghianati Tuhan dengan dosa pelanggaran mereka, tetapi tidak berusaha bangkit dari keterpurukan itu. Saat itulah Yeremia mengirimkan surat ke umat terbuang itu, dan dalam surat tersebut nabi Allah itu berpesan agar mereka berusaha dan berdoa untuk kesejahteraan kota tempat mereka terbuang sebab kesejahteraan kota itu, juga kesejahteraan mereka (Yer 29:7)

Pesan Yeremia tersebut mengundang segenap orang percaya untuk bekerja dan berdoa demi kesejahteraan bangsa dan negara. Bekerja tentu melakukan apa yang bisa dilakukan demi kemakmuran keluarga, tetapi tanpa berdoa, tanpa beriman tanpa hubungan yang harmonis dengan Tuhan, walau kita telah menjadi kaya namun kita bisa jatuh kedalam dosa kesombongan, rakus dan tamak. Jadi kalau Yeremia mengatakan kita berusaha dan berdoa adalah agar hidup kita terbingkai dengan kerja keras, namun tetap bertuhan. Hanya dengan bertuhan maka kita tidak akan pernah patah pada waktu terjadi kesulitan dan putus asa, tetapi juga tidak pernah sombong mana kala kita menjadi kaya dan terpandang.

Partisipasi kita sebagai orang Kristen di tengah-tengah bangsa dan di dunia ini senantiasa diharapkan Tuhan menjadi saksi kebesaran dan kebaikan Tuhan, juga menjadi garam dan terang terhadap persoalan bangsa dan kegelapan yang terjadi. Janganlah jemu-jemu melakukan yang terbaik di tengah bangsa ini walaupun usaha kita tidak dilihat orang lain, sebab apa yang kita lakukan diperhatikan oleh Bapa kita yang di sorga. (Penulis adalah Pendeta di Gereja Kristen Protestan Pakpak Dairi (GKPPD)