EROPA PERLU GERAKAN REFORMASI JILID II DAN KEBANGUNAN ROHANI BARU!

0
1350

Hotben Lingga

agamataikKekristenan saat ini memang masih merupakan agama terbesar di Eropa. Kekristenan telah dipraktekkan di Eropa sejak abad I. Rasul Paulus beberapa kali mengirim surat untuk orang-orang Kristen yang tinggal di Yunani dan Roma. Saat ini, masih 76,2 % orang Eropa menganggap dirinya Kristen. Katolik merupakan kelompok Kristen terbesar di Eropa (46% dari orang Kristen Eropa). Kelompok Kristen terbesar kedua adalah Kristen Ortodoks (35%). Walaupun Reformasi Protestan dimulai di Eropa, hanya sekitar 18% orang Eropa yang menganut Protestan. Rusia merupakan negara Kristen terbesar di Eropa secara jumlah, diikuti oleh Jerman dan Italia.

Namun, Eropa saat ini sedang di persimpangan jalan, dalam keadaan bahaya. Bencana menurunnya Kekristenan di Eropa dan tingkat kelahiran yang menurun tajam, bersamaan dengan “invasi” imigran secara besar-besaran, telah membuat Eropa menjadi gampang diambilalih oleh kekuatan lain. Eropa saat ini sedang menghadapi krisis multi-dimensi yang sangat mengerikan, krisis ekonomi khususnya.

Humanisme sekuler dan hedonisme telah menghancurkan Eropa secara moral, rohani dan etika. Kebanyakan orang Eropa telah menggantikan kesenangan beribadah dengan beribadah kepada kesenangan. Materialisme dan perdukunan, dalam banyak hal, mengisi kekosongan rohani. Aborsi, pornografi, kejahatan dan sikap suka melawan telah merusak moral Eropa.

Sejarah sedang terulang kembali. Eropa saat ini sedang menghadapi kebangkitan kembali roh penyembahan berhala (paganisme) era Renesans dan ekspansionisme kaum anti-kris yang agresif, seperti di abad 15 dan 16. Perlu sekali lagi terjadi Reformasi Protestan yang baru. Humanisme sekuler dan Hedonisme bukan tandingan bagi kaum anti-Kris. Hanya Kekristenan sejati, yang alkitabiah, yang bersemangat Injili yang dapat memampukan Eropa untuk menghadapi kelompok-kelompok anti-Kris.

Dari era Reformasi di tahun 1500-an, sampai ke permulaan Perang Dunia II, Eropa merupakan daerah industri dan perdagangan utama dunia. Akan tetapi, Ekonomi Marxis dan kediktatoran di Eropa Timur telah melumpuhkan pembangunan, melongsorkan infrastruktur nasional, merusak ekologi, merusak etika kerja, memperlambat pembangunan ekonomi. Di Eropa Barat, perang-perang dunia yang destruktif dan Negara Kesejahteraan (welfare state) yang berbiaya tinggi dengan praktek-praktek pembatasan perdagangan dan industri, mengurangi kecepatan pembangunan yang inovatif. Menjelang pertengahan kedua abad XX, Ekonomi Amerika Utara dan Asia Timur bergelora melampaui Eropa.

Mulai era Revolusi Perancis tahun 1789, idiologi-idiologi yang memusuhi kekristenan, yang anti-kristen, mulai bersaing dengan kekristenan untuk menguasai dunia. Humanisme sekuler, Evolusionisme, Sosialisme dan Marxisme telah menuntun/membawa Eropa kepada perang-perang, penindasan dan kehancuran yang sangat mengerikan,

Dengan bangkitnya Humanisme Sekuler, maka atheisme praktis, atau spiritualitas abad baru yang tidak jelas menjadi kepercayaan utama kebanyakan orang Eropa. Banyak orang Eropa murtad, meninggalkan iman Kristen yang alkitabiah, batu karang/penopang yang kokoh bagi Eropa, dan beralih ke pasir etika situasi, relativisme, reinkarnasi, gerakan zaman baru dan perdukunan. Popularitas buku dan film-film okultisme Harry Potter merupakan gejala keterpesonaan dan ketertarikan baru kepada ilmu-ilmu sihir/gaib.

Masyarakat-masyarakat sekuler di Eropa saat ini menganggap kebenaran-kebenaran Kristen sebagai intoleransi dan orang-orang Kristen yang percaya kepada Alkitab sering diejek, disingkirkan dan bahkan secara hukum ditentang oleh pemerintahan sekuler. Di Eropa saat ini moralitas yang menyimpang dianggap normal, dan yang normal menjadi menyimpang. Popularitas buku-buku fiksi anti-kristen seperti The Da Vinci Code dan The Gospel of Judas merupakan gejala bangkitnya kaum kafir anti-kristen di Eropa.

William Booth, pendiri salah satu lembaga kemanusiaan Protestan terbesar di dunia “Bala Keselamatan”, selama seabad yang lalu, telah memperingatkan bahwa di suatu waktu Eropa akan: “ Memiliki Agama tapi tanpa Roh Kudus”, ‘Memiliki orang Kristen tapi tanpa Kristus”, “Ada pengampunan tapi tanpa pertobatan”, “Ada keselamatan tapi tanpa kelahiran kembali”, “Berpolitik tapi tanpa Tuhan”, “Memiliki surga tapi tanpa ada neraka”, dan “Memiliki Juruslamat tapi tanpa salib”. Hal-hal itu menggambarkan kondisi banyak gereja saat ini dan menegaskan pentingnya urgensi Reformasi yang baru lagi!

Seperti yang ditegaskan Alexander Solzhenitsyn dari Rusia pada tahun 1917: “We forgot God” (Kita Telah Melupakan Tuhan). Mereka yang melupakan pelajaran di waktu lampau akan mengulangi kegagalan yang sama yang membawa celaka. Orang Eropa perlu menemukan kembali sejarah mereka agar bisa bertahan melawan ancaman-ancaman saat ini.

Tindakan Eropa meninggalkan warisan Kristen merupakan akar penyebab problem penduduknya. Pesta besar hedonisme Barat tidak akan bertahan lama lagi. Ada hukum besi dalam sejarah. Masa depan milik orang yang subur. Seperti suku-suku bangsa barbar Jerman yang sukuistis dan punya banyak anak, yang menyapu bersih Kekaisaran Romawi Barat yang tandus dan hedonis, kaum anti-kris saat ini sedang menginvasi Eropa secara agresif.

Eropa saat ini sedang menghadapi penyusutan populasi. Menurunnya populasi Eropa disebabkan oleh hancurnya nilai-nilai keluarga. Teknologi kontrasepsi telah membuat seks terpisah dari melahirkan anak. Kontrasepsi telah mendorong orang Eropa melakukan seks tanpa tanggung-jawab/ikatan pernikahan. Bagi banyak wanita yang mengejar karir, kehamilanpun menjadi sesuatu yang tidak menyenangkan maka aborsipun banyak dilakukan di Eropa. Eropa sedang membunuh/mengaborsi generasi masa depannya. Mengejar kesenangan dan mendewakan kekayaan/uang (mamon) sudah menaburkan benih-benih kehancuran ekonomi. Memiliki lebih sedikit anak bisa merusak ekonomi, menciptakan kekurangan baik tenaga kerja dan kekurangan pembeli. Pemerintah yang penduduknya sedikit menghadapi problem militer yang lebih sedikit dan pembayar pajak yang lebih sedikit. Populasi yang merosot telah sering menjadi tanda kemunduran budaya, dengan kurang kreativitas, energi dan vitalitas pada setiap tingkat masyarakat.

Sebagai hasilnya, budaya Eropa yang menuntut kebebasan pribadi tanpa batas sedang menghadapi tantangan hukum agama yang lain yang alergi terhadap kebebasan. Dengan menolak warisan Kristennya, memeluk humanisme sekuler dan menyambut imigrasi secara besar-besaran, maka Eropa sedang melakukan bunuh diri kultural dan ekonomi.

 

Kebutuhan Mendesak untuk Reformasi dan Kebangunan Rohani

Baru setelah Reformasi di abad 16 Gereja benar-benar dibangunkan kembali menjadi kekuatan untuk menginjili dunia. 400 tahun terakhir ini telah terjadi kemajuan yang besar untuk Injil, tetapi belakangan ini kita menyaksikan sendiri kemunduran yang sangat memilukan di Eropa.

Banyak kesalahan yang mengakibatkan kemunduran dan kekalahan kekristenan di Eropa. Yang terutama adalah karena teologi liberal yang mulai bangkit menguasai sekolah-sekolah teologi di seluruh Eropa Barat pada awal abad ke 20. Kebanyakan denominasi arus utama dilumpuhkan secara rohani karena tidak mempercayai Firman Tuhan dan kuasa Injil. Akibat utama rayap teologi liberal ini adalah murtadnya dan eksodus besar-besaran jutaan jiwa meninggalkan gereja/kekristenan. Banyak wilayah Eropa saat ini yang tak beragama, memasuki era paska-kristen, dan hanya tinggal sedikit yang tetap menjadi Kristen, sehingga pengaruh Kristen pada masyarakat luas sangat kecil. Kebanyakan orang Eropa perlu diinjili lagi. Banyak wilayah Eropa yang perlu “dicerahkan kembali” dan dilahirkan kembai dengan kekristenan yang alkitabiah untuk generasi-generasi berikutnya.

 

Eropa saat ini memerlukan Reformasi Jilid II dan kebangunan rohani besar. Energi yang dilepaskan oleh Reformasi Protestan (antara lain penerjemahan dan penemuan kembali Alkitab dalam bahasa awam) menghasilkan kebangunan rohani yang paling luar biasa dalam sejarah. Reformasi Protestan membebaskan orang Kristen Eropa Utara dari kemunduran akibat paganisme Renesans dan melahirkan kebebasan berbicara dan penemuan-penemuan ilmiah terbesar dalam sejarah. Reformasi di Eropa memperjuangkan prinsip kebebasan beragama, kemerdekaan hati-nurani, negara hukum, pemisahan kekuasaan dan pemerintahan yang sesuai dengan konstitusi. Reformasi menghasilkan ledakan penyelidikan ilmiah, revolusi industri, dan menghapuskan perdagangan budak di seluruh dunia.

 

Humanisme sekuler bukanlah tandingan bagi kaum imigran. Hanya Kekristenan yang Injili, yang konservatif alkitabiah yang bisa memampukan Eropa menghadapi krisis multi-dimensi di Eropa saat ini. Eropa memerlukan segera Reformasi yang baru saat ini. Eropa memerlukan iman dan keberanian seperti Martin Luther, ajaran dan totalitas penyembahan kepada Allah seperti Ulrich Zwingli, hati yang menyala-nyala dan pikiran yang diperbaharui seperti Johanes Calvin, keberanian dan keyakinan/pendirian seperti William Tyndale dan semangat menginjili seperti William Farrel dan William Carey. Eropa perlu memiliki orang-orang yang bisa berkata dalam kata-kata Martin Luther,”Hati-nuraniku sudah tertawan pada Firman Tuhan.”Eropa harus bisa lebih berani, lebih beriman dan lebih efektif memenuhi Amanat Agung. Eropa perlu kembali kepada Alkitab, mengasihi Tuhan dengan sepenuh hati dan takut pada Tuhan saja.

 

Mungkin wabah AIDS saat ini menjadi seperti wabah/penyakit pes di abad 14 dan 15 untuk membangkitkan generasi tak bermoral dan ceroboh ini agar bertobat dari dosa-dosa kenajisan, percabulan, perzinahan, homoseks/lesbianisme dan aborsi dan mengingat kebenaran yang tak menyenangkan “mereka menuai/mendapat apa mereka yang taburi”dan “Eropa akan kritis, mati, menjadi kering dan tak bernilai apabila tidak tinggal di dalam Kristus Tuhan”Eropa perlu Reformasi Alkitabiah dan Kebangunan Rohani yang baru! Eropa yang sedang dilanda krisis ekonomi, kembalilah kepada Kristus! Berdoalah agar Allah melawat Eropa kembali dan mengutus nabi-nabi, rasul-rasul dan tokoh-tokoh kebangunan rohani baru seperti Martin Luther, John Calvin, John Knox, John Wesley, Jonathan Edwards, George Whitefield, Charles Grandison Finney, William Wilberforce, John Nelson Darby, Cyrus Scofield, Charles Spurgeon, Dwight L. Moody, Timothy Dwight, Peter Cartwright, Billy Sunday, .John Sung, Billy Graham, Stephen Tong, Reinhard Bonke, dll.  Amin. (DBS/Hotben Lingga)