Penguatan Pekabaran Injil Agama Kristen Protestan Untuk Kemajuan Indonesia.

0
61

Penguatan Pekabaran Injil Agama Kristen Protestan
Untuk Kemajuan Indonesia.

 

Oleh: Merphin Panjaitan.

Indonesia adalah negara-bangsa yang besar, dengan wilayah luas; dengan penduduk terbesar keempat di dunia, setelah Republik
Rakyat China, India, dan Amerika Serikat; dan pada tahun 2020 berjumlah sekitar
270 juta jiwa. Penduduk Indonesia sangat majemuk; dengan berbagai ragam suku
bangsa, bahasa daerah, budaya, agama, dan
kepercayaan. Indonesia adalah suatu negara-bangsa yang hidup di sekitar 17.000 pulau.

Para pendiri bangsa melihat
kemajemukan ini memiliki potensi kemajuan, tetapi juga punya potensi kerawanan. Mereka menyusun sejumlah konsepsi kebangsaan dan
kenegaraan yang sesuai, al: Pancasila sebagai dasar Negara; Negara Kebangsaan; Negara Kesatuan; Sistem Pemerintahan Presidensial.

Kebangkitan Indonesia di era
modern dimulai dengan Sumpah Pemuda. Kaum pergerakan nasional
menyadari bahwa masyarakat
Indonesia adalah suatu bangsa, yang sama dengan bangsa-bangsa lain berhak untuk merdeka dan memiliki
suatu negara berdaulat.

Sumpah Pemuda.

Pada 28 Oktober 1928, dalam Kongres Pemuda II, semua utusan yang datang, bersama-sama mengucapkan Sumpah Pemuda, yang berbunyi:
1. Kami putra dan putri Indonesia mengaku bertumpah darah yang satu, tanah Indonesia;
2. Kami putra dan putri Indonesia mengaku
berbangsa yang satu, bangsa Indonesia;
3. Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945.

Sukarno dan Hatta,
atas nama bangsa Indonesia
memproklamirkan kemerdekaan Indonesia:

Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan Kemerdekaan Indonesia.
Hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan dll, diselenggarakan dengan cara
seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Hidup bersama dalam semangat persaudaraan adalah bagian dari
tanggungjawab bersama bangsa Indonesia, sebagai suatu bangsa merdeka yang mendirikan dan menyelenggarakan suatu negara-bangsa, yakni Negara Kesatuan Republik
Indonesia. Berjuang mewujudkan kehidupan yang lebih baik, demokratis,
damai dan adil di tengah lingkungan hidup yang lestari.

Ketidakadilan dilawan dengan keadilan, ketimpangan ekonomi dikurangi, agar
kemajuan bersama dapat diwujudkan.

Perbedaan agama dan berbagai perbedaan lainnya tidak boleh dijadikan penghalang bagi kehidupan bersama yang damai,
rukun, toleran, bantu membantu dan tolong
menolong. Konflik yang terjadi antar berbagai kelompok masyarakat dapat
diselesaikan dengan cara damai dan beradab;
tidak perlu memaksakan kehendak dengan
menggunakan kekerasan.

Dialog terbuka yang adil dan setara dalam semangat persaudaraan akan dapat
menyelesaikan perselisihan. Dalam kehidupan
kemasyarakatan, warga kaya memberikan sebagian kekayaannya membantu warga miskin, warga pintar menggunakan pengetahuannya membantu yang bodoh, yang kuat menggunakan kekuatannya menolong yang lemah, penguasa menggunakan
kekuasaannya membantu yang tidak kuasa, warga sehat mengurus yang sakit, dan orang hidup mengurus yang mati.

Sidang Raya XIV PGI, yang berlangsung di Wisma Kinasih, Caringin, Bogor, pada
30 November sd 4 Desember 2004; dalam pesannya menyatakan agar warga gereja membangun kerjasama dengan semua
lapisan dan golongan di dalam masyarakat
atas dasar saling menghargai dan menjunjung tinggi jatidiri dan keyakinan masing-masing, dalam rangka bersama-sama mewujudkan
satu negara bangsa yang kuat, adil, damai, dan tidak membeda-bedakan menurut suku, ras, maupun agama/golongan agama.

Baca juga  Pasangan E2L-MEP Calon Ideal yang Diidamkan Rakyat Sulut, Dijagokan Menang Satu Putaran

Pekabaran Injil adalah jawaban Gereja dan
orang percaya terhadap panggilan Tuhan, untuk mengabarkan Injil Yesus Kristus kepada semua bangsa.

Penguatan pekabaran Injil adalah kontekstualisasi pekabaran Injil dalam upaya
memuliakan Tuhan, mewujudkan damai
sejahtera manusia, dan melestarikan bumi.

Matius 28: 18-20:
Yesus mendekati mereka dan berkata: “Kepada-Ku telah
diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu
pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan
baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala
sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan
ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai
kepada akhir zaman.”

Markus 16: 15-16:

Lalu Ia berkata kepada mereka: “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk. Siapa yang percaya dan dibabtis akan diselamatkan, tetapi siapa yang
tidak percaya akan dihukum.

Kisah Para Rasul 1: 8:
Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus
turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di
Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan
sampai ke ujung bumi.

Yohanes 14: 6:
Kata Yesus kepadanya: Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.

Saya pikir, kita sering melakukan kekeliruan, dengan menggunakan Yohanes 14 : 6 untuk menghakimi orang lain.

Pekabaran Injil di Indonesia.

Abad ke-19 dapat disebut sebagai abad Sekularisasi sekaligus abad Pekabaran
Injil. Sekularisasi yang mengakibatkan kemunduran agama Kristen di Eropa
berjalan bersamaan waktu dengan kemajuan Pekabaran Injil di benua lain,
termasuk Indonesia.

Tahun 1512 Portugis tiba di Maluku, dan pada 1546-1547 Fransiskus Xaverius bekerja di Maluku. Tahun 1605: Benteng Portugis di
Ambon diserahkan kepada VOC, dan warga Katolik dijadikan Protestan. Disini
berlaku hukum “Siapa menguasai wilayah,
Dia menentukan agama”.

Tahun 1666: VOC membangun benteng di
Manado, warga Katolik menjadi Protestan.

Kehadiran Kristen Protestan di Indonesia

Tahun 1860: 1%, dan tahun 1938: 2,5%.

Pembukaan UUD 1945 ditetapkan dalam
Sidang PPKI pada 18 Agustus 1945.

Dalam sidang tersebut terjadi
penghapusan tujuh kata dari draft sila pertama Pancasila, dan hasilnya, sila pertama
Pancasila berbunyi Ketuhanan Yang Maha
Esa. Penghapusan itu adalah usulan para pejuang Indonesia Timur, dengan tokohnya Dr. Ratu Langie.

Jakob Tobing, Ketua PAH I BP MPR (2000 –2002), memimpin Perubahan Kedua,
Perubahan Ketiga, dan Perubahan Keempat
UUD 1945, menyatakan: setelah Perubahan
UUD 1945, Indonesia menjadi negara demokrasi terbesar ketiga di dunia setelah
India dan Amerika Serikat.

Baca juga  Carlo Acutis Seorang Yang Kudus.

Kebebasan
berpendapat, HAM, supremasi hukum dan
mekanisme checks and balances diberlakukan.

Tahun 2020: Kristen Protestan sekitar 10%.

Melalui penyajian fakta di atas, saya ingin
memperlihatkan bahwa di Indonesia telah terjadi
Pekabaran Injil Kontekstual. Dan untuk itu saya
ajukan 4 pertanyaan; saya harap saudara bersedia
menjawabnya.

Pertama, adakah pengaruh gerakan pekabaran Injil
di Indonesia sebelum Proklamasi Kemerdekaan 17
Agustus 1945 terhadap peningkatan penganut
Kristen Protestan di Indonesia.

Kedua, adakah pengaruh peningkatan penganut
Kristen Protestan di Indonesia terhadap kehadiran
Pancasila, khususnya, terhadap hilangnya 7 kata
dari draft Pancasila.

Ketiga, adakah pengaruh kehadiran Kristen Protestan di Indonesia terhadap
Perubahan Kedua, Perubahan Ketiga, dan Perubahan Keempat UUD 1945.

Keempat, adakah pengaruh berbagai kemajuan di atas terhadap peningkatan
penganut Kristen Protestan di Indonesia.

Dari jawaban 4 pertanyaan di atas, saya pikir, di Indonesia sudah terjadi Pekabaran Injil Kontekstual.

Demokrasi memperlihatkan pandangan alkitabiah, terutama dengan konsep
Manusia Citra Allah. Hal ini bisa dimengerti, karena persemaian demokrasi bertempat di Eropa yang
Kristiani pada masa pasca Reformasi.

Samuel P.Huntington dalam bukunya Gelombang Demokratisasi Ketiga
menyatakan terdapat suatu korelasi yang kuat antara Protestantisme dengan
demokrasi.

Permasalahan Yang Dihadapi
Indonesia 20 tahun Ke depan.

*Ledakan penduduk Indonesia.
*Kerusakan lingkungan dan bumi.
*Korupsi dan penyalahgunaan
kekuasaan merajalela. *Kemiskinan dan
ketimpangan ekonomi. *Kualitas tenaga
kerja rendah; para pemalas banyak.
*Tekanan ekonomi dan industri dari negara maju.

Perangkap Keterbelakangan Yang Menjerat Indonesia:

*Masyarakat emosional berorientasi status; emosi dipupuk, rasio dikubur
dalam-dalam.

*Keterbelakangan dalam
ilmu, teknologi dan seni.

*Keterbelakangan dalam pembuatan
peralatan material.

*Kebencian dan permusuhan antar kelompok masyarakat tinggi.

Tujuan Pekabaran Injil Kontekstual di Indonesia adalah untuk mengubah masyarakat Indonesia menjadi:

Pertama, Mengakui, bahwa
tugas panggilan Tuhan untuk manusia, adalah melayani Tuhan di dunia ini,
untuk kemuliaan Tuhan, damai sejahtera manusia, serta kelestarian
lingkungan dan bumi.

Kedua, Kesediaan manusia mempelajari alam semesta, bukan penyembahan
kepada alam semesta, tetapi
penyembahan kepada Tuhan Sang Pencipta.

Oleh karena itu, kemalasan manusia belajar tentang alam semesta ini adalah
pembangkangan kepada Tuhan Sang Pencipta.

Ketiga, Tuhan mengaruniakan
kemampuan berpikir dan membuat alat kepada manusia; suatu masyarakat atau suatu bangsa harus rajin berpikir dan membuat alat. Berpikir kreatif, kritis, dan konstruktif; disertai
dengan pembuatan berbagai macam alat, yang dibutuhkan untuk memuliakan Tuhan, mewujudkan damai
sejahtera manusia, serta memelihara kelestarian lingkungan dan bumi.

Keempat, Mengakui bahwa manusia adalah mahluk
bumi, dan disebut sebagai manusia selama hidupnya. Semua manusia, tanpa kecuali, memiliki
martabat yang sama, yaitu martabat manusia.
Kelima, memperjuangkan pemisahan agama dengan
negara. negara bukan bawahan agama; dan agama
bukan bawahan negara. Negara menjamin
kebebasan beragama semua penduduk Indonesia.
Negara tidak diperbolehkan bertindak diskriminatif, termasuk diskriminasi berdasarkan perbedaan agama.

Baca juga  Lambertus Labi Ibi Riti, M.T. Siap Bertarung Menjadi Bupati Kabupaten Sumba Tengah 2024-2029: Agenda Besar Pembangunan SDM, Memajukan Pendidikan, Pengentasan Kemiskinan dan Kesejahteraan Masyarakat

Sesuai dengan pemikiran di atas, saya ingin
mengajak saudara, dalam 20 tahun ke depan ini,
membangkitkan kembali gerakan pekabaran Injil
kontekstual di Indonesia dengan kampanye dan penerapan nilai Persaudaraan Segala Ciptaan.

Dengan menggunakan berbagai cara dan sarana, antara lain dengan
menyelenggarakan kampanye, diskusi, ibadah
khusus, doa, dan dialog terbuka dengan berbagai
kelompok masyarakat lintas agama. Tema sentral:
PERSAUDARAAN SEGALA CIPTAAN.

Persaudaraan Segala Ciptaan
didirikan di atas dasar teks
Kejadian 1: 1, 21-22, 26-31.
Kejadian 1: 1:
Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi.
Kejadian 1: 21-22:
Maka Allah menciptakan binatang-binatang laut yang besar dan segala jenis makhluk hidup yang bergerak, yang berkeriapan dalam air, dan segala jenis burung yang
bersayap. Allah melihat bahwa semuanya itu baik. Lalu Allah memberkati semuanya itu, firman-Nya “Berkembangbiaklah
dan bertambah banyaklah serta penuhilah air dalam laut, dan hendaklah burung-burung di bumi bertambah banyak.

Kejadian 1: 26-31:
Berfirmanlah Allah: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi.” Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan- Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. Allah memberkati mereka dan berfirman kepada mereka: “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.”
Berfirmanlah Allah “Lihatlah, Aku memberikan kepadamu segala tumbuhan yang menghasilkan biji di seluruh muka bumi dan segala pohon yang buahnya berbiji. Semua itu menjadi makananmu. Namun kepada segala binatang liar, segala burung di udara dan segala binatang yang melata di bumi, segala binatang yang bernyawa itu Kuberikan segala tumbuh-tumbuhan hijau menjadi makanannya.” Maka jadilah demikian. Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh sangat baik. Lalu jadilah petang dan jadilah pagi; itulah hari keenam.

Saya perkirakan, dalam 20 tahun ke depan ini, di Indonesia akan bangkit gerakan Pekabaran Injil
Kontekstual untuk kemajuan
Indonesia. Dan kemungkinan
besar akan terjadi suatu revolusi keagamaan, dimulai dengan Revolusi Baptisan Gotongroyong.

Terima Kasih Untuk Perhatiannya.
Selamat Melayani.
Tuhan Memberkati Kita Semua.
Tuhan Memberkati Indonesia.