EKONOMI SIRKULER DAN PERTUMBUHAN EKONOMI

0
339

EKONOMI SIRKULER DAN PERTUMBUHAN EKONOMI

 

Oleh : Amistan Purba

I. PENDAHULUAN

Perekonomian global saat ini menghadapi tantangan yang kompleks, seperti meningkatnya ketergantungan pada sumber daya alam terbatas, meningkatnya limbah dan polusi lingkungan, serta disekuilibrium ekonomi antara negara-negara. Untuk mengatasi tantangan ini, konsep ekonomi sirkuler telah hadir sebagai pendekatan yang berpotensi meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan mengurangi efek negatif terhadap lingkungan.

Indonesia, sebagai negara dengan populasi yang besar dan sumber daya alam yang melimpah, implementasi konsep ekonomi sirkuler potensial menjadi solusi yang relevan untuk memperkuat pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan. Indonesia memiliki berbagai sektor ekonomi yang dapat memanfaatkan potensi ekonomi sirkuler, seperti pertanian, industri manufaktur, dan sektor jasa. Namun, implementasi ekonomi sirkuler di Indonesia masih menghadapi tantangan dan hambatan yang harus diatasi.

Indonesia menghadapi masalah lingkungan krusial, misalnya, tingkat deforestasi di Indonesia tinggi. Antara tahun 2001 dan 2019, Indonesia kehilangan puluhan juta hektar hutan, mengancam keberlanjutan sumber daya alam dan keanekaragaman hayati. Selain itu, mengenai tingkat pencemaran udara menunjukkan kualitas udara buruk. Dalam kondisi ini, konsep ekonomi sirkuler tampil sebagai pendekatan yang bisa mengatasi tantangan ekonomi, lingkungan, dan sosial yang dihadapi oleh Indonesia.

Ekonomi sirkuler bertujuan untuk mempertahankan nilai sumber daya sebaik mungkin melalui penggunaan yang efisien, pengurangan limbah, dan daur ulang material. Dengan menerapkan prinsip-prinsip ekonomi sirkuler, Indonesia dapat memperoleh manfaat ganda, yaitu meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan melindungi lingkungan secara berkelanjutan.

II. KONSEP EKONOMI SIRKULER

Ekonomi sirkuler adalah pendekatan ekonomi yang bertujuan untuk mengubah pola pikir konvensional yang didasarkan pada model linier “ambil, buat, buang” menjadi model yang lebih berkelanjutan. Konsep ini didasarkan pada prinsip- prinsip utama, yaitu penggunaan sumber daya secara efisien, pengurangan limbah, dan daur ulang material.

1. Penggunaan Sumber Daya Secara Efisien

Dalam ekonomi sirkuler, sumber daya alam digunakan secara efisien dengan mempertimbangkan siklus hidup produk. Menurut data yang diterbitkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia, sektor industri di Indonesia menggunakan sekitar 45% dari total konsumsi energi. Dengan menerapkan prinsip efisiensi energi dan penggunaan bahan baku yang lebih sedikit, sektor industri dapat mengurangi ketergantungan pada sumber daya alam dan menghasilkan penghematan energi yang signifikan.

2. Pengurangan Limbah

Ekonomi sirkuler berfokus pada pengurangan limbah melalui praktik seperti pengurangan pengemasan berlebih, penggunaan kembali produk, dan pengurangan limbah yang dihasilkan selama proses produksi. Data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Indonesia menunjukkan bahwa pada tahun 2019, Indonesia menghasilkan lebih dari 64 juta ton limbah padat. Dengan mengadopsi prinsip pengurangan limbah, Indonesia dapat mengurangi dampak negatif limbah terhadap lingkungan dan meningkatkan efisiensi penggunaan sumber daya.

3. Daur Ulang Material

Prinsip dasar dari ekonomi sirkuler adalah daur ulang material. Menurut data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Indonesia, pada tahun 2020, tingkat daur ulang limbah di Indonesia hanya sekitar 8%. Dengan meningkatkan kapasitas dan infrastruktur daur ulang, Indonesia dapat mengurangi kebutuhan akan bahan baku baru dan mengurangi tekanan terhadap lingkungan.

Baca juga  Kemenpan RB Pastikan ASN IKN Perkuat Tata Kelola Birokrasi

III. MANFAAT EKONOMI SIRKULER

Penerapan ekonomi sirkuler memberikan berbagai manfaat yang signifikan, baik bagi perekonomian maupun lingkungan. Beberapa manfaat kunci dari ekonomi sirkuler adalah sebagai berikut:

1. Peningkatan Efisiensi Sumber Daya

Dalam konteks Indonesia, penerapan ekonomi sirkuler dapat menghasilkan penghematan biaya yang signifikan. Menurut laporan yang diterbitkan oleh Ellen MacArthur Foundation pada tahun 2019, diperkirakan bahwa dengan menerapkan ekonomi sirkuler, Indonesia dapat menghemat hingga 8% dari total biaya material pada tahun 2030.

2. Pertumbuhan Ekonomi yang Berkelanjutan

Ekonomi sirkuler dapat mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dengan menciptakan peluang baru dalam bidang pekerjaan dan inovasi. Menurut studi oleh McKinsey & Company pada tahun 2016, penerapan penuh dari prinsip ekonomi sirkuler di Indonesia dapat menciptakan sekitar 4,5 juta lapangan kerja baru pada tahun 2030.

3. Pengurangan Dampak Lingkungan

Dengan menerapkan ekonomi sirkuler, Indonesia dapat mengurangi dampak negatif pada lingkungan. Menurut laporan World Bank pada tahun 2018, mengurangi limbah plastik dan mengelola limbah dengan lebih baik dapat membantu melindungi ekosistem terumbu karang, hutan, dan sumber daya air di Indonesia, yang memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa penerapan ekonomi sirkuler di Indonesia memiliki potensi untuk memberikan manfaat ekonomi dan lingkungan yang signifikan. Dengan memanfaatkan sumber daya secara efisien, mengurangi limbah, dan mendaur ulang material, Indonesia dapat mengembangkan ekonomi yang berkelanjutan dan melindungi lingkungan alaminya.

IV. POTENSI EKONOMI SIRKULER di INDONESIA

1. Kekayaan Sumber Daya Alam

Indonesia memiliki kekayaan sumber daya alam yang melimpah, termasuk mineral, hutan, perikanan, dan energi terbarukan. Potensi ini dapat dimanfaatkan dalam implementasi ekonomi sirkuler untuk menghasilkan nilai tambah dan mengurangi ketergantungan pada sumber daya alam yang terbatas. Sebagai contoh, sektor pertanian di Indonesia memiliki potensi besar untuk mengembangkan praktik pertanian berkelanjutan yang meminimalkan limbah dan mengoptimalkan penggunaan sumber daya alam. Menurut data dari Kementerian Pertanian Indonesia, pada tahun 2020, luas lahan pertanian organik di Indonesia mencapai 1,9 juta hektar. Potensi ini dapat ditingkatkan dengan meningkatkan pemahaman dan dukungan terhadap praktik-praktik pertanian berkelanjutan.

2. Industri Daur Ulang dan Pengolahan Limbah

Pengembangan industri daur ulang dan pengelolaan limbah merupakan aspek penting dari ekonomi sirkuler di Indonesia. Dengan meningkatnya kesadaran akan pentingnya pengurangan limbah dan daur ulang, sektor ini memiliki potensi pertumbuhan yang signifikan. Data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Indonesia menunjukkan bahwa pada tahun 2020, terdapat sekitar 3.240 unit usaha daur ulang yang beroperasi di Indonesia. Namun, potensi ini masih perlu ditingkatkan, mengingat tingkat daur ulang limbah di Indonesia yang masih rendah. Peningkatan investasi dan pengembangan infrastruktur daur ulang dapat mendorong pertumbuhan sektor ini dan menciptakan lapangan kerja baru.

Baca juga  Komite Dewan Pengawas BPJS Ketenagakerjaan dan APINDO Gelar "Expert Talk Dewan Pengawas BPJS Ketenagakerjaan", Tema: Strategi Pengawasan Memastikan Keberlanjutan Program di era Digital. Sustanability - Solvability - Hospitality

3. Peningkatan Efisiensi Energi dan Sumber Daya

Sebagai negara dengan populasi yang besar, Indonesia memiliki potensi besar untuk meningkatkan efisiensi energi dan sumber daya dalam berbagai sektor ekonomi. Data Kementerian ESDM, total konsumsi energi di Indonesia mencapai 909,24 juta barel setara minyak pada 2021. Potensi penggunaan energi terbarukan, seperti energi matahari dan energi angin, juga besar di Indonesia. Pemanfaatan energi terbarukan dapat membantu mengurangi ketergantungan pada sumber daya energi fosil yang terbatas dan mengurangi emisi gas rumah kaca.

4. Kolaborasi Dengan Pihak Swasta dan Pihak Internasional

Indonesia telah melakukan kolaborasi dengan pihak swasta dan pihak internasional untuk mempercepat implementasi ekonomi sirkuler. Contohnya, pada tahun 2018, pemerintah Indonesia bersama dengan Ellen MacArthur Foundation dan beberapa perusahaan besar meluncurkan Inisiatif Indonesia untuk Ekonomi Sirkuler (IIES). Gerakan yang dinamai The New Plastic Economy Global Commitment (Komitmen Global Ekonomi Plastik Baru) ini digagas oleh Ellen MacArthur Foundation yang berkolaborasi dengan UN Environment dan diumumkan secara resmi di Our Ocean Conference di Bali pada 29 Oktober 2018.

Gerakan New Plastic Economy Global Commitment memiliki misi untuk membuat standar ‘normal’ yang baru untuk penggunaan kemasan plastik. Target-target yang disusun untuk mencapai misi utama ini akan dievaluasi ulang setiap 18 bulan sekali dan akan terus ditingkatkan setiap tahunnya. Bisnis-bisnis yang ikut menandatangani komitmen bersama ini akan mempublikasikan data tahunan mereka dalam usaha mereka mendukung gerakan New Plastic Economy Global Commitment.

V. IMPLEMENTASI EKONOMI SIRKULER di INDONESIA

1. Sektor Pertanian dan Perikanan

Implementasi ekonomi sirkuler di sektor pertanian dan perikanan di Indonesia dapat memberikan manfaat yang signifikan. Salah satu contoh implementasi yang berhasil adalah praktik pertanian organik dan penggunaan pupuk organik. Pertanian organik mengurangi penggunaan bahan kimia berbahaya dan mempromosikan siklus nutrisi alami, sedangkan pupuk organik menggunakan limbah organik sebagai sumber nutrisi untuk tanaman. Dalam hal ini, Indonesia telah mengalami peningkatan signifikan dalam luas lahan pertanian organik. Menurut data dari Kementerian Pertanian Indonesia, luas lahan pertanian organik mencapai 1,9 juta hektar pada tahun 2020, meningkat dari 1,2 juta hektar pada tahun 2015.

Selain itu, implementasi ekonomi sirkuler juga dapat diterapkan dalam sektor perikanan. Contohnya, praktik budidaya perikanan berkelanjutan seperti aquaponik dapat mengoptimalkan penggunaan sumber daya air dan mengurangi limbah. Aquaponik adalah sistem pertanian yang menggabungkan budidaya ikan dengan pertumbuhan tanaman dalam satu sistem tertutup. Limbah ikan digunakan sebagai pupuk untuk pertumbuhan tanaman, dan tanaman tersebut membersihkan air untuk kehidupan ikan. Penerapan aquaponik di Indonesia telah berkembang pesat, dengan banyak petani yang beralih ke sistem ini. Data aktual tentang luas lahan dan jumlah petani yang menerapkan aquaponik di Indonesia dapat memberikan gambaran tentang pertumbuhan sektor ini.

Baca juga  Indonesian American Lawyers Association (IALA) Sampaikan AMICUS CURIAE Kepada Mahkamah Konstitusi RI  

2. Industri Tekstil dan Pakaian

Sektor industri tekstil dan pakaian adalah salah satu sektor yang memiliki dampak lingkungan yang signifikan. Namun, implementasi ekonomi sirkuler dalam sektor ini dapat mengurangi dampak negatif melalui praktik seperti daur ulang serat tekstil, penggunaan bahan baku daur ulang, dan model bisnis berbasis berlangganan atau sewa. Beberapa perusahaan di Indonesia telah mengadopsi model bisnis berbasis berlangganan di mana konsumen dapat menyewa atau memperbarui pakaian mereka daripada membeli baru. Hal ini membantu mengurangi limbah pakaian dan mendorong penggunaan kembali. Selain itu, inisiatif daur ulang serat tekstil juga berkembang di Indonesia. Beberapa perusahaan telah berhasil mendaur ulang serat tekstil menjadi produk baru. Misalnya, pada tahun 2021, sebuah perusahaan di Indonesia berhasil mengembangkan teknologi daur ulang serat tekstil menjadi bahan baku baru untuk industri garmen.

Banyaknya perusahaan yang terlibat dalam daur ulang serat tekstil dan jumlah produk yang dihasilkan dari daur ulang ini dapat memberikan informasi tentang perkembangan implementasi ekonomi sirkuler dalam sektor tekstil dan pakaian di Indonesia.

3. Manajemen Limbah dan Pengelolaan Sampah

Implementasi ekonomi sirkuler juga berperan penting dalam manajemen limbah dan pengelolaan sampah di Indonesia. Salah satu contoh implementasi yang sukses adalah program bank sampah. Bank sampah adalah program yang melibatkan masyarakat dalam mengumpulkan, memilah, dan mendaur ulang sampah. Program ini mendorong partisipasi aktif masyarakat dalam mengurangi sampah dan mengubahnya menjadi sumber ekonomi yang bernilai.

Program Bank Sampah adalah suatu strategi penerapan 3R (Reducing, Reusing, Recycling) dalam pengelolaan sampah ditingkat masyarakat, dengan menyamakan kedudukan sampah serupa dengan uang atau barang yang berharga yang dapat ditabung. Masyarakat dididik untuk menghargai sampah sesuai jenis dan nilai sehingga mereka mau memilah sampah. Bank Sampah mengubah sudut pandang masyarakat bahwa sampah mengandung potensi ekonomi (economic opportunity) kerakyatan, yaitu adanya kesempatan kerja dan penghasilan tambahan dari tabungan di bank sampah. Disamping itu akan terwujud pembangunan lingkungan yang bersih dan hijau guna menciptakan masyarakat yang sehat.

PENUTUP

Dalam era yang ditandai oleh sumber daya yang terbatas dan dampak negatif terhadap lingkungan, implementasi ekonomi sirkuler di Indonesia memiliki peran penting dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi secara berkelanjutan. Ekonomi sirkuler merupakan pendekatan yang mengubah cara kita memproduksi, menggunakan, dan memanfaatkan sumber daya.

Dengan menerapkan prinsip-prinsip ekonomi sirkuler, seperti penggunaan yang efisien, daur ulang, dan pengurangan limbah, Indonesia dapat memanfaatkan potensi sumber daya alamnya secara berkelanjutan, menciptakan lapangan kerja baru, mengurangi dampak lingkungan, dan meningkatkan efisiensi penggunaan energi dan sumber daya.

Penulis :
Amistan Purba, SE, S.Si, MM.
Dosen STIE Dharma Bumiputera, Jakarta

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here