Harga Rokok Murah dan Pengaruh Teman Sebaya Tingkatkan Peluang Anak menjadi Perokok

0
57

 

Ket.Foto Utama: Prof. Dr. Muhajir Effendy, M.A.P, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemenko PMK)

 

Harga Rokok Murah dan Pengaruh Teman Sebaya Tingkatkan Peluang Anak menjadi Perokok

 

Jakarta, Suarakristen.com

 

Persentase perokok usia 10–18 tahun terus mengalami peningkatan dari tahun 2013 sebesar 7,2% menjadi 9,1 % di tahun 2018. Angka ini jauh dari Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJM) 2019 dengan target prevalensi merokok usia muda sebesar 5,2%. Untuk mengatasi kebiasaan merokok di kalangan anak-anak, kebijakan perlu melihat bukti empiris peran berbagai faktor di antaranya adalah pengaruh teman sebaya (peer effect) dan tingkat harga (price effect). Hari ini, Pusat Kajian Jaminan Sosial Universitas Indonesia (PKJS-UI) meluncurkan penelitian mengenai Efek Harga Rokok dan Efek Teman Sebaya terhadap Tingkat Prevalensi Merokok pada Anak di Indonesia. Studi ini menunjukkan bahwa teman sebaya (peer effect) dan tingkat harga (price effect) berhubungan dan secara statistik signifikan dengan peluang seorang anak menjadi perokok. Pengaruh menurut umur, peer effect lebih dominan dibandingkan price effect untuk usia dini dan sebaliknya, price effect lebih dominan daripada peer effect untuk usia remaja. Selanjutnya, rumusan kebijakan dapat diarahkan pada instrumen pendidikan terkait efek teman sebaya dan peningkatan cukai untuk efek harga dalam upaya menurunkan kebiasaan merokok di antara anak-anak dan remaja.

Pada tahun 2018, berdasarkan data Kementerian Kesehatan, Indonesia menempati urutan ketiga terbesar di dunia dalam hal konsumsi rokok setelah China dan India, dimana 38,3% penduduk adalah perokok dan sekitar 20% diantaranya adalah remaja usia 13–15 tahun. Persentase perokok usia 10–18 tahun terus mengalami peningkatan dari tahun 2013 sebesar 7,2% menjadi 9,1 % di tahun 2018. Di antara perokok anak, 1,5% perokok mulai merokok pada usia yang sangat muda yaitu usia 5-9 tahun sehingga Indonesia mendapat julukan baby smoker country dan 56,9% perokok memulai merokok pada usia 15-19 tahun (Riskesdas 2013). Studi PKJS-UI bertujuan untuk melihat dampak dari keberadaan teman sebaya dan tingkat harga secara bersamaan dengan pendekatan kuantitatif (hubungan sebab akibat) dan menggunakan data survei Susenas dan IFLS yang mewakili populasi perokok anak di Indonesia.

Baca juga  Pelaksanaan UTBK-SBMPTN 2021 Dimulai! Simak Tips Mengerjakan Soal Saintek

Untuk melihat pengaruh dari pengaruh teman sebaya dan tingkat harga terhadap peluang seorang anak menjadi perokok diperlukan data di tingkat individu yang merekam tiga informasi penting: status anak merokok, proporsi teman sebaya yang merokok dan rata-rata tingkat harga rokok di lingkugan tempat tinggal anak. Susenas (Survei Sosial Ekonomi Nasional) dan Indonesia Family Life Survey (IFLS) adalah dua data survey rumah tangga dan individu yang representatif di tingkat nasional dan menyediakan informasi dan proxy untuk tiga informasi penting tersebut. Dalam studi ini peneliti menggunakan data Susenas 2015 yang mencakup sampel sebanyak 244.737 sampel anak usia 7–18 dan data IFLS 4 dan 5 yang mencakup sampel sebanyak 7.122 sampel remaja usia 15–18 tahun.

Berdasarkan hasil analisis, prevalensi merokok pada anak dan remaja di Indonesia (7-18 tahun) berdasarkan Susenas 2015 adalah sebesar 2,7%. Berdasarkan kelompok umur, prevalensi tertinggi berada pada usia 16-18 tahun, namun tidak sedikit dari anak usia 7–12 tahun juga telah merokok. Berdasarkan estimasi peneliti dengan data Susenas, total perokok anak dan remaja di Indonesia mencapai 1,5 juta jiwa. Prevalensi merokok anak dari IFLS relatif lebih tinggi karena perbedaan cakupan dan definisi sampel IFLS. Selain itu, studi PKJS-UI juga menunjukkan:

1) Secara umum kedua faktor, peer effect maupun price effect secara statistik berpengaruh terhadap peluang
seorang anak merokok. Estimasi poin dari pengaruh positif sebaya merokok terhadap peluang seorang anak
menjadi perokok berada pada rentang 0.1–49% dari tiap 1% proporsi teman sebaya yang merokok.

2) Price effect (Harga Rokok) berhubungan negatif dengan peluang anak merokok. Semakin mahal harga rokok maka semakin turun prevalensi anak merokok. Price Effect (Harga Rokok) berpengaruh besar terhadap perilaku merokok anak usia remaja (SMA) dibandingkan usia SMP & SD.

Baca juga  Film Begadang Rendang Shooting di Sumatera Barat, Panji Zoni Berasa Pulang Kampung

3) Peer effect berhubungan secara positif meningkatkan peluang seorang anak menjadi perokok terutama untuk kalangan: anak usia SMA (berdasarkan antar kelompok usia peer effect), tinggal di desa dan luar Jawa.

Ketua Peneliti, Teguh Dartanto, Ph.D mengatakan bahwa Kenaikan prevalensi perokok anak menunjukkan perlu kebijakan yang lebih efektif untuk menekan laju perokok khususnya perokok usia muda. Hasil studi menunjukkan peer effect maupun price effect secara statistik berpengaruh terhadap peluang seorang anak merokok. Untuk itu peneliti merekomendasikan kebijakan yang dapat dilakukan, di antaranya:

1) Hasil penelitian menunjukkan price effect (harga rokok) berpengaruh besar terhadap perilaku merokok terutama usia remaja, maka kenaikan harga rokok adalah kunci pengendalian rokok pada anak-anak.

2) Peer effect pun berhubungan secara positif meningkatkan peluang seorang anak menjadi perokok, maka diperlukan upaya terpadu dan menyeluruh dalam mempengaruhi social cognitive behaviour anak (misalnya: program kampanye anti rokok di sekolah-sekolah, pelarangan iklan rokok di sekitar sekolah).

Prof. Dr. Muhajir Effendy, M.A.P, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemenko PMK) yang turut hadir dalam acara ini menjelaskan bahwa Kemenko PMK sangat berkepentingan terhadap upaya untuk menekan, mengurangi bahkan menghapuskan kebiasaan penggunaan rokok di kalangan masyarakat. Prof. Muhajir menambahkan bahwa salah satu jebakan yang hampir terjadi di seluruh bagian siklus pembangunan manusia di Indonesia adalah rokok.

“Dikhawatirkan rokok sudah mulai menyerang upaya kita untuk membangun sumber daya manusia Indonesia sejak prenatal (dalam kandungan). Salah satu penyebab stunting adalah rokok. Rokok memicu berbagai macam penyakit keluarga termasuk penyakit ekonomi. Maka distribusi dana PKH yang diberikan lewat ibu-ibu agar tidak dibelikan rokok, karena rokok sangat mencandu. Ini akan sangat berbahaya bagi masa depan,” ujarnya. Apa yang didapat oleh negara atau pemerintah melalui cukai rokok tidak sebanding dengan ongkos yang harus dikeluarkan oleh pemerintah terhadap risiko-risiko, terutama risiko kesehatan akibat rokok. “Harus kita tekankan dengan baik terutama bagaimana kita bisa menyelamatkan remaja-remaja kita, anak-anak kita jangan sampai menjadi perokok dini. Semakin dini mereka kecanduan rokok, maka tingkat kerusakan kesehatan maupun mentalnya akan semakin parah ketika dia memasuki usia produktif. Prinsipnya kita harus memiliki komitmen yang kuat baik kalangan masyarakat sipil, termasuk didalamnya kelompok peneliti, kelompok peduli terhadap bahaya rokok maupun pemerintah untuk sama-sama menjadikan agenda strategis, agenda yang penting dalam upaya kita untuk menekan, menahan, laju perokok atau pecandu rokok di Indonesia,” tambahnya.

Baca juga  TNI AL Bersama Tim Terpadu PSDKP Melaksanakan Pelepasliaran Benih Bening Lobster

Ketua PKJS-UI, Ir. Aryana Satrya, M.M., Ph.D menambahkan bahwa jika harga rokok tetap murah, prevalensi perokok muda akan terus meningkat, dan menyebabkan kesehatan yang signifikan serta beban ekonomi. “Untuk itu, pemerintah harus segera mengambil langkah dengan menaikkan cukai secara seragam minimal 25% untuk tahun 2021 demi mengurangi prevalensi perokok muda dan dewasa yang mengkhawatirkan di Indonesia”, ujarnya. Layer cukai hasil tembakau di Indonesia saat ini masih kompleks dan banyak golongannya. Hal ini menyebabkan harga rokok bervariasi dan memungkinkan masyarakat membeli harga rokok yang lebih rendah jika harga rokok naik. “Hal ini mengindikasikan bahwa kenaikan cukai rokok saja belum cukup optimal menurunkan prevalensi merokok. Diperlukan simplifikasi layer cukai hasil tembakau untuk mencapai hasil yang diinginkan dalam mengurangi konsumsi rokok. Selain itu simplifikasi pun dapat meningkatkan pendapatan negara”, tutup Ir. Aryana Satrya M.M., Ph.D dalam acara hari ini.

***

Tentang Pusat Kajian Jaminan Sosial, Sekolah Kajian Stratejik dan Global Universitas Indonesia (PKJS-UI):

Institusi yang bergerak pada pelatihan, konsultasi, dan penelitian seputar Jaminan Sosial secara luas termasuk menangani isu ekonomi dan kesehatan, untuk berkontribusi pada kesejahteraan rakyat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here