JELANG PILKADA 2020, CHRISPOL SERUKAN POLITIK HOSPITALITAS

0
31

JELANG PILKADA 2020, CHRISPOL SERUKAN POLITIK HOSPITALITAS

 

Jakarta, Suarakristen.com

 

Politik itu suci, karena hakikat politik ialah mengikhtiarkan kebahagiaan kehidupan masyarakat. Demikian kata pengamat sosial politik dan Ketua Umum Visi Indonesia Unggul (VIU) Horas Sinaga, dalam kelas “Politik Hospitalitas” yang diselenggarakan CHRISPOL secara daring, Senin malam (27/7/2020).

Dalam kelas yang diampu bersama Dedy Mahendra dari Komunitas Milenial Peduli Indonesia (KOMPII) itu, Horas mengatakan, “Politisi itu sejatinya merupakan profesi yang sakral, sebab seseorang yang berani terjun ke dunia politik berarti ia berani menyandang tugas Ilahi, laksana memancarkan terang di tengah gelap.”

Sebab itu, semua politisi di Tanah Air perlu kembali kepada tekad dan upaya menegakkan prinsip-prinsip kebajikan dalam setiap kiprah dan praktik politiknya, terutama mengedepankan politik hosptalitas. Kata Horas, politik terkenal kotor karena banyak politisi yang melupakan hakikat politik sebenarnya, lalu mempraktikkan cara-cara yang tak elok, seperti menggunakan politik uang, bahkan ujaran-ujaran kebencian.

Ketum VIU mengajak semua politisi di Indonesia menerapkan dan menghidupi politik hospitalitas, yaitu sebuah gaya berpolitik yang berlandaskan keramah-tamahan. Ini berarti sebuah dinamika politik yang bebas ujaran kebencian, fitnah, berita bohong, dan pembunuhan karakter. “Saya mendorong semua politisi di Tanah Air menggunakan keramah-tamahan dalam berpolitik. Sebab, ramah tamah adalah ciri khas semua bangsa di Nusantara. Jangan sampai karena dikuasai nafsu berkuasa, kita jadi jahat pada kompetitor politik kita,” ujar Horas.

Hospitalitas atau keramah-tamahan merupakan jalan masuk baru untuk hidup bersama dalam pergumulan perbedaan etnis, pendidikan, dan latar belakang sosial, agama, gender, preferensi politik, dan lainnya. Ia mengatakan, hospitalitas adalah sebuah laku politik yang mendesak untuk diterapkan saat ini, terutama menjelang Pilkada serentak 2020, karena memberi ruang bagi udara demokrasi yang sehat.

Baca juga  Respon Tingginya Kebutuhan Fasilitas Pembelajaran Jarak Jauh Akibat COVID-19, Ruangguru Kembali Buka Sekolah Online Ruangguru Gratis

“Sudah cukup di masa lalu kita melihat dalam setiap pesta demokrasi ada ujaran kebencian, fitnah, dan pembunuhan karakter. Mulai sekarang juga, sesuai dengan sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, para politisi dan para pendukungnya perlu menggunakan politik hospitalitas. Silakan bersaing dalam strategi meraih kekuasaan, namun jangan ada cara-cara kotor dan tak elok. Mari utamakan meritokrasi, gunakan adu gagasan, adu program, tapi tetap bersahabat,” kata mantan Senior Manager di bank Mandiri itu.

“Politik Hospitalitas” merupakan sub kajian baru dalam Ilmu Politik yang pertama kali dikembangkan di Indonesia oleh CHRISPOL melalui Horas Sinaga dan Dedy Mahendra. Kajian ini mengupas hakikat politik sebagai ilmu dan seni, serta melihat ekspresi keramah-tamahan atau kesanggrahan sebagai alternatif penerapannya dalam dunia politik praktis.

Di saat yang sama, Dedy Mahendra mengatakan, “Politik hospitalitas merupakan kebutuhan mendesak sekarang ini. Karena negeri kita sempat terpolarisasi dalam dua Pemilu di 2014 dan 2019, sekarang para politisi wajib mendidik generasi muda Indonesia dengan menerapkan gaya politik yang bersahabat, yang ramah.”

“Jabatan politik itu fana. Jabatan adalah sarana untuk melayani masyarakat agar hidup mereka lebih baik dan sejahtera. Jadi, untuk memperoleh jabatan politik, hendaknya para politisi menggunakan cara-cara yang hospital atau ramah, dan dengan demikian akan membangun suasana politik yang kondusif dan harmonis.” pungkas Sekjen KOMPII di kelas daring Politik Hospitalitas.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here