Reformasi Gereja & Agenda Sidang Raya PGI

0
74

 

Oleh: Efpranoto

Setiap tanggal 31 oktober seluruh Umat Kristen Protestan memperingatin hari lahirnya, yang dikenal dengan sebutan Reformasi Gereja. Tulisan ini tidak akan menuliskan ulang sejarah Reformasi gereja dengan tokohnya Martin Luter,tetapi lebih kepada peranan gereja dalam mereformasi ekonomi, pendidikan dan pelayanan kesehatan bagi umat gerejanya. Tulisan ini juga berangkat dari kekawatiran bahwa komunitas gereja tidak menjadi menarik lagi ketika tidak ambil bagian dalam upaya pensejahteraan umat dan pencerdasan melalui pendidikan formal warga gerejanya.

Selanjutnya soal kepedulian/rasa empati/solidaritas sesama gereja yang hari ini juga menjadikan komunitas Kristen di negeri ini semakin kecil dan tidak terlalu diperhitungkan. Seperti persoalan yang barusaja terjadi di Papua, seolah beban itu hanya ditanggung oleh komunitas gereja yang ada di Papua. Belum lagi peristiwa bencana alam yang menimpa di Palu, Lombok, Bengkulu, Gunung Sinabung, dan daerah-daerah lainnya, kebanyakan kondisinya hampir sama seperti di Papua, beban itu tidak terdistribusikan ke luar dari daerah tersebut.

Pertanyaan yang tak menemukan jawaban.Mungkin saya dan Saudara pembaca sangat mungkin mengalami hal yang sama ketika berbicara mengkritik tentang gereja. Ada sebuah mantra yang sering diucapkan oleh pengurus Gereja, kata-katanya kurang lebih seperti ini “Gereja itu bukan gedungnya, tetapi orangnya”. Secara tegas dapat diartikan bahwa haram hukumnya mengkritik gereja yang harus dikritik adalah orangnya. Mantra itulah yang coba saya ansumsikan penyebab gereja sepi kehilangan jemaatnya, karena Gereja tidak lagi menjadi penting bentuknya. Konsekuensi yang juga harus ditanggung dari mantra itu ialah segala kejahatan umatnya menjadi kejahatan gereja pula. Kekacuan seperti ini terus dipelihara, terjadi kegagalan membedakan Gereja sebagai institusi yang memiliki struktur organisasi dengan tugas dan tangungjawab yang harus dikerjakan. Dan manusia sebagai gereja dengan keagungan dan ciri yang melekat kepadanya. Sehingga secara tegas kritik tulisan ini ditujukan untuk Gereja sebagai institusi yang memiliki tangungjawab mengatur dan mengelola jemaatnya.

Baca juga  Istana Perintahkan Tangani Bom Medan Secara Cepat dan Jaga Rasa Aman Warga

Momentum Reformasi

Syarat utama untuk terjadinya Reformasi adalah pengakuan praktek yang menyimpang atau tidak sesuai sebagaimana mestinya. Martin Luther melakukan gerakan reformasi faktor utamanya adanya praktek jual beli penghapuasan dosa dan pembatasan terhadap pembacaan alkitab, dimana pada waktu itu hanya imam atau petinggi gereja saja yang boleh membaca alkitab. Di Indonesia meletupnya reformasi tahun 1998 dengan menggulingkannya kekuasan Soeharto juga didorong adanya praktek KKN. Dalam konteks reformasi gereja tentu syarat pengakuan bahwa pola dan praktek pelayanan gereja belum mampu secara maksimal menjawab kebutuhan umatnya, gereja belum mampu mewujudkan dirinya sebagai pusat peradaban manusia. Pengakuan ini butuh kesadaran bukan perdebatan dengan azas pembenaran. Fakta dan data menunjukkan mayoritas daerah kantong-kantong Kristen merupakan daerah tertinggal baik ekonominya, pendidikannya maupun pelayanan kesehatannya. Fakta ini setidaknya mengajak seluruh gereja untuk merenung sembari menyusun kata untuk mendefinisikan ulang soal makna menjadi garam dan terang atau perbuatlah kesejahteraan dimanapun kau diutus. Momentum sidang raya PGI di Sumba, NTT pada 8-13 november 2019, akan mempertemukan 90 sinode gereja dan 28 PGIW merupakan momentum strategis untuk PGI menjawab persoalan mendasar umat. Ada harapan bahwa sidang raya PGI tidak lagi menjadi agenda formalitas 5 tahunan dengan euforia perebutan struktur ketua umum, sekretaris umum dan struktur inti lainnya. Isu ekonominya, pendidikanya maupun pelayanan kesehatannya umat sepatutnya menjadi perbincangan mendalam dalam pertemuan tersebut. Bagaimana mungkin orang Kristen yang katanya adalah umat pilihan, namun banyak yang tidak mendapat kesempatan pendidikan, hidup dalam garis kemiskinan dan tidak mendapatkan pelayanan kesehatan yang layak. Kondisi tersebut tentu memang bukan sepenuhnya tanggungjawab gereja, ada istrumen besar yang mengatur itu yang kita sebut negara. Namun persoalan tersebut dapat di pastikan tidak akan selesai ketika gereja tidak mengambil bagiannya secara konkrit untuk menyelesaikan persoalan tersebut. Sebagai wadah berhimpunnya sinode gereja, maka dalam sidang raya PGI di Sumba diharapkan mampu melahirkan perjuangan tersebut. Selanjutnya PGI juga diharapkan mampu membagi perjuangan internal gereja dan eksternal dengan menyuarakan kepada pemerintah.

Baca juga  LAKUKANLAH HAL YANG KUDUS

Penulis : Efpranoto (081314928092), merupakan pemuda GKSBS
Aktiv organiasasi Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here