SEMINAR NASIONAL LINTAS AGAMA SYIAR CINTA 2019

0
156

 

Jakarta Suarakristen.com

Syiar Cinta Meneladani Para Tokoh Patriotisme Pemuda Lintas Agama

Khazanah Intelektual Muslim (Khatam) Institute Pondok Pesantren Khatamun Nabiyyin menyelenggarakan Seminar Nasional dan Taman Teologi Lintas Agama (stand diskusi dan bazar buku) yang disebut dengan SYIAR CINTA 6.

Kegiatan yang diadakan di Aula Gedung Khatamun Nabiyyin, Balekambang, Jakarta Timur ini dilaksanakan dalam rangka memperingati momentum Hari Sumpah Pemuda dan Hari Pahlawan Nasional. Oleh karena itu, SYIAR CINTA 6 mengangkat tema “Membangkitkan Spirit Patriotisme Pemuda; Meneladani Tokoh Pemuda Lintas Agama”.

Syiar Cinta adalah konsep kegiatan yang telah diinisiasi oleh Khatam Institute dari Tahun 2015. Setiap tahunnya acara ini mengangkat berbagai tema-tema menarik lintas agama seperti konsep altruisme, kepemimpinan berasaskan cinta, gerakan pembebasan perempuan dalam agama-agama hingga tema tafsir Sila Pertama Pancasila. Konsistensi pelaksanaan kegiatan ini rutin tiap tahun dibangun atas dasar spirit penyelenggara memfasilitasi forum temu dalam mendialogkan perbedaan untuk satu dalam cinta.

Adapun dalam sambutan sekaligus selaku pembuka acara SYIAR CINTA 6, K.H Akbar Saleh (Pimpinan Pondok Pesantren Khatamun Nabiyyin) menyampaikan bahwa masa muda adalah masa yang paling urgen untuk pembentukan diri manusia sehingga masa depan dirinya, bangsa, negara dan agama ditentukan oleh apa yang dia lakukan dan dapatkan di masa mudanya.

Pada era globalisasi dan era revolusi industri 4.0 ini tantangan untuk para pemuda sangat berat, sehingga diperlukan perhatian khusus dalam pendidikan dan pembinaan karakternya. “Patriotisme salah satu spirit penting yang harus ditumbuhkan dalam diri pemuda kita. Karena itu, perlu mereka diperkenalkan figur-figur patriot yang bisa menjadi sumber spirit dan penggerak mereka.

Jadi, seminar Syiar Cinta 6 ini diadakan dengan harapan bisa menggali jiwa patriotisme dari para tokoh patriot agama dan patriot bangsa yang pastinya mereka diantara figur nyata yang terbaik.” tambahnya.

Disampaikan oleh Direktur eksekutif Khatam (Khazanah Intelektual Muslim) Institute, Andi Arifah bahwa tujuan dari kegiatan lintas agama ini antara lain, sbb: Mempererat hubungan harmonis antar agama demi persatuan dalam NKRI; Mengomparasikan konsep kebangkitan pemuda yang patriotis oleh masing-masing agama; Memperkenalkan tokoh-tokoh pemuda teladan dari sejarah tiap agama yang mengajarkan nilai patriotism; dan Menemukan bentuk gerakan bersama dalam membangun manusia religius Indonesia yang berkualitas pancasila.

Sifat kepahlawanan pada pemuda dapat menjadi kekuatan besar, sebagaimana capaian yang diukir oleh sejumlah pahlawan muda di masa perjuangan kemerdekaan yang lampau. Sejumlah pahlawan yang meraih kesyahidan di usia muda di antaranya seperti, Martha Christina Tiahahu (17 tahun), Supriadi (22 tahun), RA Kartin (25 tahun), Abdul Halim Perdana Kusuma (25 tahun), Radin Intan II (24 tahun), dan masih banyak lagi baik mereka yang sempat terrekam dalam referensi sejarah maupun tidak.

Baca juga  Komitmen Perjuangkan Toleransi Beragama, Yerry Pattinasarany Gabung AMPP

Kontribusi mereka dalam kemerdekaan yang kita nikmati saat ini tidak membuat kita menanyakan apa latar belakang suku ataupun agama mereka, sebab hakikat kebaikan dan kebenaran adalah satu. Fase produktif dengan kelincahan, kecerdasan dan kekuatan merupakan faktor emas untuk menghasilkan dan mencapai tujuan suatu bangsa.

Sehingga, pada satu sisi potensi besar para pemuda pun bisa menjadi faktor yang menghancurkan suatu bangsa jika tidak digerakkan pada positif. Pada tahun 2030-2045, Indonesia diprediksi akan memasuki masa bonus demografi.

Bonus demografi adalah suatu masa dimana jumlah penduduk usia produktif mencapai angka yang cukup tinggi. Menyongsong masuknya Indonesia pada fase ini, seharusnya mendorong kita untuk menciptakan iklim yang kondusif untuk perkembangan jiwa dan akal pemudanya, sehingga lebih berkualitas.

Adalah benar kata bijak, bahwa setiap bangsa membutuhkan pahlawan. Tantangan bangsa Indonesia sebagaimana yang disampaikan dalam pesan Ir. Soekarno adalah bukan lagi menghadapi bangsa penjajah semata, melainkan menghadapi sebangsa sendiri. Inilah yang terjadi pada Indonesia saat ini.

Ketika pemuda bangsa Indonesia mampu berpegang teguh pada Pancasila dalam prinsip kesatuan bernegara, maka Indonesia benar-benar mampu mengguncang dunia. Saat ini, perbedaan suku dan agama yang telah membentuk ciri khas Nusantara, masih selalu dijadikan bahan penyulut api konflik oleh pihak tertentu.

Dengan demikian, penghayatan kembali atas prinsip persatuan dalam Sumpah pemuda harus ditekankan tiap momentum khususnya tiap tahun 28 Oktober. Selain itu, spirit patriotisme harus hadir dalam diri tiap pemuda agar tidak saling menunggu dan berharap orang atas orang lain. Dalam hal ini, sesuai dengan pernyataan salah satu tokoh pemuda dalam sejarah Islam berkata “Pemuda bukanlah ia yang berkata ini bapakku! Melainkan yang berkata ini adalah AKU!”

Dalam kalimat ini menekankan agar generasi muda Indonesia tidak cukup dengan membanggakan kemapuan dan jasa orang lain, baik itu orang tuanya, kerabatnya yang penguasa maupun pahlawan terdahulu. Oleh karena itu, para pemuda wajib menjadikan dirinya sosok pahlawan bagi Negara dan agamanya di masanya sendiri.

Acara yang dihadiri oleh para akademisi, perwakilan sejumlah instansi intelektual, keagamaan dan kebudayaan, serta masyarakat secara umum ini memperoleh apresiasi positif dari sejumlah pihak. Hal ini tergambar dari sambutan-sambutan yang disampaikan oleh perwakilan Kementrian Dalam Negeri RI, Kementrian Agama Republik Indonesia, serta pemaparan keynote speaker oleh Perwakilan Asisten Teritorial (ASTER) Panglima TNI.

Baca juga  "Transformasi Rule of Law Menuju Rule of Social Justice"

Pihak Kanwil Kemenag Provinsi DKI Jakarta yang diwakili oleh Drs. H. Taufik, M.M, M.Pd. Kepala Subag Hukum dan Kerukunan Umat menyampaikan bahwa kegiatan ini harus sering diadakan apalagi dengan tema kepemudaan kali ini. Adapun Kemenag RI yang diwakili oleh Dr. H. Nifasri, M.Pd (Kepala Pusat Kerukunan Umat Beragama Kemenag RI) dalam sambutannya menyatakan apresiasi yang tinggi atas Ponpes Khatamun Nabiyyin khususnya Khatam Intitute dalam upayanya ikut mengawal agenda kerukunan bersama antar umat beragama.

Sedangkan, oleh Drs. Syarmadani, M.Si, (Direktur Ketahanan Ekonomi Sosial dan Budaya Ditjen Polpom) mewakili Kementrian Dalam Negeri RI menekankan pentingnya pembangunan ekonomi mandiri dalam negeri yang dapat diselenggarakan oleh para pemuda, dimana salah satunya berangkat dari potensi besar pemberdayaan para santri di pondok-pondok pesantren. Hal ini merupakan salah satu wujud pengejawantahan spirit patriotisme pemuda itu sendiri yang dibutuhkan bangsa di era saat ini.

Kemudian, dalam pemaparan keynote speakernya, Kolonel Agustinus, SH,. M,Si mewakili Aster Panglima TNI berkata bahwa dari sekian banyak kegiatan dialog lintas agama yang diselenggarakan, mengapa masih saja belum mampu menghapus sejumlah isu perpecahan yang ada? Hal ini menjadi renungan agar semangat persatuan dalam ruang-ruang dialog lintas agama seperti ini tidak hanya berhenti di ruangan seminar itu saja, melainkan harus dijawantahkan dalam kehidupan sehari-hari bermasyarakat dan bernegara.

Sebagaimana ciri khas konsep Syiar Cinta dari tahun ke tahun, kegiatan ini diramu dengan muatan materi berupa penekanan pada pengenalan tokoh-tokoh yang inspiratif dalam agama masing-masing. Para Narasumber perwakilan agama yang memaparkan materi terkait tema SYIAR CINTA 6 ini, menunjukkan satu suara bahwa tiap agama mengajarkan kecintaan terhadap bangsa dan negaranya. Hal ini dapat dilihat dari keteladanan patriotik oleh tokoh-tokoh pemuda dalam sejarah tiap agama. Sebagaimana yang dipaparkan oleh Bhikku Dhammasubho Mahatera, bahwa dalam Budha meneladani kehidupan sosok Sidharta Gautama yang memulai perjalanan penyempurnaannya di usia yang muda hingga menyebarkan ajaran cinta kasih yang prinsip-prinsipnya relevan untuk dijadikan landasan prinsip bermasyarakat dan bernegara.

Adapun perspektif Khonghucu yang dipaparkan oleh Dr. Drs. Chandra Setiawan, M.M,, Ph, (Anggota MATAKIN) mengangkat tokoh Confusius dan Kwan Khong sebagai simbol patriotisme yang telah dijalankan sejak usia muda bagi masyarakat Khonghucu. Dari kisah perjuangan kedua tokoh ini,dapat ditarik kesimpulan bahwa pemuda adalah mereka yang harus pandai memanfaatkan peluang, tentunya dengan melewati berbagai tempaan melalui “ketahanmalangan” dalam rangka membentuk ketangguhan.

Baca juga  Nota Kesepahaman Suplai Gas PLN, Pupuk Indonesia dari Proyek LNG Abadi Ditanda Tangani

Diuraikan oleh Dr L.G Saraswati Putri, M.Hum bahwa kemerdekaan Indonesia saat ini diperjuangkan oleh para pahlawan bangsa dari berbagai latar belakang agama, salah satunya tokoh pahlawan muda I Gusti Ngurah Rai (wafat di usia 29 tahun) yang tercatat memperjuangkan tanah air dalam Perang Puputan.

Dari Pahlawan Nasional ini menekankan bahwa kecintaan yang diajarkan agamalah yang melahirkan kecintaan dan keinginan merdeka pada suatu bangsa, dimana tugas tersebut ada di tangan para pemuda. Adapun K.H Nuril Arifin Husein (Gus Nuril) menyebutkan bahwa dalam Islam sendiri terdapat banyak contoh teladan pemuda yang menunjukkan sikap patriotik. Tokoh-tokoh tersebut di antaranya selain Rasulullah saw itu sendiri terdapat juga Sayyidina Ali bin Abi Thalib, Sayyidina Hasan bin Ali dan Sayyidina Husain bin Ali.

Salah satu sisi yang ditekankan oleh tokoh-tokoh ini dalam keteladanan style of leadership adalah menjadi para pemimpin yang dekat dengan rakyat. Hal ini ditambahkan juga oleh Miftah Rahmat bahwa tokoh-tokoh pemuda dalam Islam mengajarkan tentang pentingnya kepedulian terhadap sekitar, sebagaimana kutipannya dari perkataan Sayyidina Ali bin Abi Thalib “Jika engkau ingin melihat wajah Tuhan, maka lihatlah kaum yang tertindas”.

Dengan demikian, para pemuda yang berjiwa patriotik adalah mereka yang dekat dengan orang-orang miskin dan tertindas, sehingga untuk meraih keridhaan Tuhan haruslah memperjuangkan keadilan bagi orang lain. Kemudian, pemaparan para narasumber ditutup dengan pembacaan bersama maklumat persatuan NKRI.

Kegiatan yang dilaksakan dari pukul 08.30-14.30 WIB ini dirangkaikan dengan berbagai persembahan seni, bazar buku lintas agama, dan diskusi stand lintas agama. Di antaranya terdapat persembahan dari Paduan Suara Pemuda Nusantara Ilmiah dengan menyanyikan lagu-lagu kebangsaan seperti Indonesia Raya, Bagimu Negeri, dan Bangun Pemudi-Pemuda.

Kemudian, persembahan Nasyid Cup Song dari Ikatan Mahasiswi Cahaya Qur’ani (ISYQI). Selain itu, tampil pula Khatam Band memberikan persembahan musikalisasi puisi Gugur Bunga, Mush Up Tanah Air dan Rayuan Pulau Kelapa, dan Indonesia Jaya di penghujung acara. Terdapat pula beberapa penerbit yang berpatisipasi dalam bazar buku serta diskusi stand lintas agama yang disebut dengan taman lintas agama.
(Johan Sopaheluwakan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here