Church: Out of Oriented

0
50

 

Oleh: Paul Titihalawa

 

Why, Church of Oriented?

Isu-isu teologi kontemporer semakin tajam dan bebas berseliweran di sekitar gereja, dan telah menarik gereja untuk masuk ke dalam apa yang disebut “Millenial Spiritual Warfare”.

Dalam kajian Saya, fenomena “Milenial Spiritual Warfare”, ditandai dengan empat isu utama, yakni: Digitalisasi Iman, Privatisasi Iman, Migrasi Iman, dan Kompetisi Iman!

Pertama,
Digitalisasi Iman!

Digitalisasi iman diartikan sebagai “perubahan” sikap atau cara beriman dari konsep “persekutuan” yang ditandai dengan pentingnya arti “kehadiran”, dalam suatu “komunitas”, telah bergeser ke sebuah perjumpaan yang hanya terjadi melalui teknologi audio visual.

Tidak heran jika ada banyak anak Tuhan yang hanya mau menerima sentuhan firman melalui audio visual, tanpa mau ke gereja.

Bagi mereka, ke gereja hanya buang-buang waktu, kalau hanya berjumpa Yesus, cukup melalui teknologi audio visual saja.

Kedua,
Privatisasi Iman!

Privatisasi Iman diartikan sebagai sikap atau cara beriman yang bersifat pribadi/eksklusif (berdiri sendiri) “langsung” dengan Tuhan.

Tidak heran jika ada banyak anak Tuhan yang “membebaskan” diri dari perjumpaan langsung dengan orang lain, ataupun “komunal”, dan juga membebaskan diri dari “sentuhan” beriman melalui teknologi audio visual.

Bagi mereka, sudah tidak ada lagi yang bisa mereka percaya di dalam gereja , kecuali Yesus!

Tidak heran jikalau di beberapa negara, banyak orang percaya Yesus, tapi mereka tidak bergereja, maupun tidak tertarik dengan segala bentuk pelayanan audio visual.

Ketiga,
Migrasi Iman!

Ini yang lagi fenomenal di Indonesia!

Migrasi iman adalah gelombang pergeseran iman yang sangat ekstrim, perihal pergeseran/ perubahan “iman” yang sangat “radikal”, yakni dari kristen menjadi non kristen.

Keempat,
Kompetisi Iman!

Kompetisi Iman bisa dipandang sebagai “Biang” kerok dari berbagai masalah yang ada dan bersumber dan keluar dari dalam gereja.

Baca juga  CEO Indonesia Optimis atas Pertumbuhan yang Berkelanjutan

Kompetisi Iman adalah sikap atau cara beriman yang sangat eksklusif yang biasanya terjadi di Top Level Executive Gereja.

Inti kompetisi biasanya meliputi isu-isu penatalayanan gereja yang berhubungan dengan “perbedaan” status, kelayakan, teologi, visi, misi, orientasi, formasi kehidupan rohani pemimpin, dan sebagainya.

Tidak heran jika sampai saat ini, kita terus menyaksikan berbagai isu yang berhubungan dengan adanya fenomena disversifikasi jemaat lokal, maupun sampai dengan hal yang paling ekstrim, yakni diversifikasi sinodal.

Ini tantangan multi-kompleks, yang bisa dan selalu menjakiti gereja apapun juga, dan siapapun pendeta, tanpa batas, karena menyentuh totalitas kewibawaan gereja.

Fenomena ini tidak bisa diantisipasi hanya dengan mengandalkan kecerdasan orasi, pengalaman argumentasi, kematangan debat, ataupun kejeniusan berteologi, tapi lebih dari itu yakni dengan berdoa dan berpuasa.

Apa sebabnya?

Alkitab mengingatkan bahwa:

“karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara.

For we wrestle not against flesh and blood, but against principalities, against powers, against the rulers of the darkness of this world, against spiritual wickedness in high places”.
(Efesus 6 : 12).

Renungkanlah ini:

Seusai dicobai oleh iblis, Yesus berhadapan dengan Imam-Imam Kepala di Bait Allah, yang “tersandera” oleh “pengaruh” pola pikir “agnostik”, yang hanya membentuk mereka terbatas sebagai “orator” dan “debator”, tapi6 “minim” pengetahuan dan tanpa “sentuhan” iman, lalu bersikap “seolah-olah” hanya mereka yang paling tahu, pintar dan bijak, dan akibatnya atas keterbatasan yang ada, mereka menjadi tokoh kontraproduktif di dalam Bait Allah, yang kerjanya hanya “menghakimi”.

Tidak heran jikalau Yesus “mengejek” mereka, dengan mengingatkan para murid agar tidak berlaga laksana “Hipocrites” (Matius 6:2), seorang dokter dan filsuf Yunani kuno (460 SM – 370 SM), brilian, sangat terkenal, dokter dan filsuf.

Baca juga  KPAI DORONG PEMBINAAN TERHADAP SISWA PELAKU PERPLOCOAN DI MAUMERE, HAK ATAS PENDIDIKANNYA HARUS TETAP DIPENUHI PEMERINTAH

Intinya, yang Yesus kehendaki dari mereka hanyalah harus bisa secara tepat memposisikan diri sebagai Hamba Allah yang benar di dalam Bait Allah!

Fenomena ini (digitalisasi iman, privatisasi iman, migrasi iman dan kompetisi iman) tidak boleh dipandang sebelah mata oleh siapapun juga. Kita butuh solusi. Solusinya hanya satu, yakni: “Pencurahan Roh Kudus!”

Tetap Berharap!

Mungkinkan kegerakan Pencurahan Roh Kudus di Azusa Street akan terjadi lagi bagi gereja-gereja Tuhan di Indonesia?

“Like A Mighty Wind”, demikianlah Judul sebuah buku yang ditulis oleh Jurnalis Amerika, Cllif Dudley, untuk mengabadikan sebuah karya Kegerakan Pencurahan Roh Kudus yang terjadi di Soe, NTT, di tahun enam puluhan, oleh hambaNya, “Pdt.Mel Tari”, yang ditandai dengan berbagai mukjizat, seperti air berubah jadi anggur, berjalan di atas air, roh-roh jahat dilepaskan, dsbnya, akankah berulang kembali?

Kita mendambakan tokoh-tokoh iman kristen, seperti Pdt.Dr.HL.Senduk, yang diurapi oleh Allah dengan karunia akbar kepemimpinan gereja yang spektakuler,

Kita juga rindu akan kegerakan akbar penginjilan seperti yang dilakukan oleh Pdt.Dr.Petrus Octavianus, dikaruniai Allah wibawa penginjilan akbar dan spektakuler,

Kita juga ingin menyaksikan kembali karya Allah yang luar biasa melalui hamba-Nya, Pdt. Jacob Nahuway, seorang “Pengkhotbah” dengan “sejuta” kata bijak, yang oleh pelayanannya banyak orang bertobat dan mengikuti Yesus.

Kita rindu untuk merasakan kembali kegerakan kebangunan rohani melalui hamba-Nya, Pdt.Dr.Niko Nyotoraharjo, yang oleh Allah diberikan urapan khusus, untuk melakukan berbagai kebangunan rohani akbar dan merambah ke seluruh pelosok negeri, yang disertai dengan mujizat kesembuhan ilahi melalui “praise and worship”.

Kita Berdoa dan terus berharap agar di “Millenial Spiritual Warfare” ini, urapan Allah tetap dan selalu menyertai hamba-Nya, Pdt.Gilbert Lumoindong, sehingga kita akan terus menyaksikan manifestasi kuasa Allah yang menghancurkan intimidasi roh-roh teritorial ini, dan kita tak putus-putusnya berdoa dan berharap agar Allah menghadirkan dan mengurapi banyak hamba Tuhan, untuk melakukan berbagai pelayanan Pencurahan Roh Kudus,

Baca juga  KEBERAGAMAN ADALAH ANUGERAH BUKAN MUSIBAH

Kita tetap berdoa untuk seluruh gereja, dan seluruh hamba Allah, tanpa terkecuali, agar senantiasa fokus pada Kristus, melangkah sesuai dengan karunianya masing-masing, bersatu dan bersama melangkah dalam kegerakan akbar Pencurahan Roh Kudus, bagi Hormat Kemuliaan Kerajaan Allah!

Peperangan Rohani yang terjadi Melalui Penguasaan Pikiran Umat Allah, Hanya Bisa Dihancurkan melalui Satu Cara, Yakni Berdoa dan Berpuasa, yang Akan Menghadirkan Kegerakan Akbar “Pencurahan Roh Kudus”!

Shalom!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here