Mengapa Terus Mengejar Pdt. Erastus Sabdono?

0
1867

 

Oleh: Paul Titihalawa

Akhir-akhir ini, beberapa oknum pendeta, dosen, dsbnya, dengan dalil teoligi yang mantap, rame-rame “mengeroyok” konstruksi Konsep Teologi Tritunggal yang dipublikasikan oleh Om Erastus Sabdono,, baik dalam lisan dan tulis.

Tidak tanggung-tanggung, hampir semuanya, layaknya Pimpinan “Komisi Fatwa Gereja”, yang memiliki Legitimasi Gerejawi, dengan enteng mengeluarkan sebuah “FATWA” yang senada harmoni atas polemik konstruksi teologi menyatakan bahwa Om Eras telah “SESAT”.

Sudahlah!
Hentikanlah semua polemik tentang konstruksi “teologi” Om Eras dan kalau saja Om Eras sudah klarifikasi bahwa tidak pernah “meniadakan” konstruksi “Tritunggal” berdasarkan Alkitab, tapi tetap saja para “pemerhati” teologi tidak puas dengan jawaban tersebut, yah sudahlah, tidak perlu dikejar-kejar lagi!

Gak Usah kuatir! Yesus sangat mengerti kelemahan “manusia”. Ia tahu bahwa terkadang ada ketidaksesuaian antara pikir, kata dan iman. Tapi Ia selalu melihat kedalaman hati seseorang, yakni ekspresi “ketulusan hati” dan “kebesaran hati” dalam “melayani” Dia, itulah yang utama dan harus “terlihat” nyata dalam konstruksi “Formasi Kehidupan Rohani”, seorang hamba Tuhan.

Terima kasih kepada mereka yang fokus pada kebenaran Allah, tapi ingatlah bahwa “Allah” Akan memberikan formula yang ideal, agar kita dimampukan untuk memiliki konsep dan metode yang baik dan benar dalam “membela” Allah.

Terima Kasih juga untuk Om Eras, yang saya perhatikan selalu bersikap “datar” atas hiruk-pikuk polemik ini.

Sebaiknya kita cooling down, Saling Mendoakan dan Meyakini bahwa Kuasa Roh Kudus akan Semakin Mempertajam Cara Berteologi Om Eras dan akan memberikan pencerahan kepada umat yang digembalakan oleh Om Eras.

Sampai di sini, Saya membatasi diri untuk tidak masuk pada perdebatan teologi, tapi saya terpanggil untuk melihat dan menjelaskan “dampak” sosial dari polemik ini jika ditinjau dari sisi “Etika” Komunikasi Kristen!

Baca juga  Komite Pengusul Nobel Ekonomi Untuk Jokowi) (KPNEJ) Usulkan Presiden RI Ir. H. Joko Widodo sebagai Calon Penerima Nobel Ekonomi Tahun 2020 Ke Komite Nobel di Oslo-Norwegia

Ketika kita terus menerus mengejar dan menggugat Om Eras, dan apalagi dipublikasikan di Media Sosial, otomatis yang disorot oleh publik, tidak hanya Om Eras, tetapi totalitas entitas “Kekristenan”.

Saya tidak bermaksud menyembunyikan “kebenaran”, tapi “kebenaran” yang kita publikasikan di ruang terbuka dan tanpa batas, harus mampu menjaga “Harga Diri” kekristenan di ruang publik.

Saran Saya, semua yang tidak setuju dengan Om Eras, Bikinlah Kelompok Diskusi Tertutup, bersama Lembaga-Lembaga Aras Gereja Protestan yang bertemakan “Menggugat Konsep Tritunggal Erastus Sabdono”, lalu hasilnya disampaikan Secara “Tertutup” kepada Om Eras.

Tahukah Anda, Ketika Anda menyibukkan diri menggugat Konsep Tritunggal Om Eras,
di waktu-waktu itu juga gelombang multiplikasi anggota jemaat terus meningkat.

Sepanjang Saya mempelajari karakteristik para gembala “kharismatik”, Om Eras dan sebelumnya ada Om Pariadji, keduanya adalah Gembala Fenomenal di era millenial.

Yang Saya temukan dari kedua hamba Tuhan ini ialah akrobatik daya pikat “urapan”, jauh lebih berdampak hebat, dibandingkan dengan akrobatik daya pikat teologi.

Sepanjang yang Saya ikuti, sepintas kalau boleh Saya analisa bahwa bahwa Om Eras sebenarnya sangat kuat dan konsern pada Konstruksi “Teologi Realistik”. tapi sudahlah, dalam konteks tulisan ini, Saya tidak mau masuk ke dalan perdebatan teologis.

Akhirnya yang mau Saya sampaikan itu begini:

Pertama,
Walaupun Konstruksi teologi yang mereka kembangkan dianggap “sesat”, tapi nyatanya gelombang multiplikasi umat tak terbendung di dalam pelayanan mereka.

Kedua,
Sudahlah! Percayalah bahwa Allah Hadir di dalam Gereja-Nya dan di setiap kehidupan orang percaya, maka Roh Kudus akan menuntun Gembala dan umat berjalan dalam kebenaran.

Ketiga,
Sudahlah,
polemik Ini dihentikan, lalu buatlah kelompok diskusi bersama lembaga-lembaga atas gereja, agar kita bijak dalam memberikan solusi.

Baca juga  Octopus Ajak Masyarakat Ubah Sampah Jadi Rupiah yang Bisa Biayai Gaya Hidup Masa Kini

Keempat,
Sudahlah, marilah
Masing-Masing fokus saja pada talentanya dan sibukkanlah diri, pikir, tutur dan iman untuk membesarkan pelayanan yang Allah percayakan masing-masing!

Kelima,
Bersama Om Eras, cari waktu, Mabar, Ngobar, lalu bicara dari hati ke hati, pasti semuanya akan berakhir dengan Asik-Asik Aja. Saya yakin Om Eras sangat mau!

SHALOM!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here