The Great of GBI

0
294

Oleh: . Paul Titihalawa

Tidak memiliki Lembaga Independen semisal Election Commision of GBI, itu soal lain, tapi menjelang sidang sinode agustus 2019 ini, gong GBI Election mulai menggema!

The “Great” of GBI adalah Millenial Leadership Models, yakni sama kesing tapi beda isi, berupa visi, misi, strategi, program, target, sasaran, tujuan utama tentang GBI, itulah yang disandingkan sebagai materi “kampanye” yang telah dipromosikan melalui medsos, oleh Om Jacob, dengan konsep “Trilogi” Jacob Nahuway for GBI dan juga oleh Om Parlin, dengan konsep “7 Alasan Mengapa 2 Periode”, (selain Om Feri dan Om Rubin) sebagai calon ketua Sinode guna mempengaruhi para pendeta selaku election voters.

Tatkala konsep ini, menjadi #trendingtopic# menjelang GBI Election, maka muncul sebuah pertanyaan kritis, yakni: Apakah yang dimaksudkan dengan The Great of GBI?

“The Great of GBI” hanyalah menunjuk kepada realitas atas ciri dan karakteristik dari entitas GBI Yang telah Go Public, Top Branding Church, Franchise Management, Biggest Capacity, Profesional Leadership, Multi-Cultural Followers, Progress to Growing Church, Multiplication Discipleship,
dsbnya.

Saya meyakini bahwa para calon ketua sinode, bersama team, secara objektif dan terukur, serta terbukti telah melakukan “Global Mapping Leadership” yang “ketat”, sehingga “GBI Great”, adalah “frame of Thinking”, yang diharapkan “tidak” hanya menjadi magnet agar bisa meraup suara yang banyak dari para pendeta selaku election voters, tapi juga akan membuktikan diri melakukan yang terbaik bagi GBI.

Konsep “GBI Great” yang digagas oleh Om Jacob dan Om Parlin yang beredar luas di medsos, menurut Saya, secara umum sangat “elegan”, namun ada banyak hal yang terlewatkan, salah satu misalnya “belum” sedikitpun menyentuh isu “eksistensialitas” dan fenomena “resistensialitas” di GBI.

Baca juga  7 Ormas  Bentuk "Forum Cinta Pancasila" untuk Merevitalisasi dan Membumikan Kembali Pancasila

Di sisi lain, penjelasan tentang karakter dari “GBI Great”, perlu dipertegas kembali agar audiens, yakni “voters” bisa menangkap pesan yang kuat tentan arti yang benar tentang “GBI Great” itu.

Intinya, rumusan “feasibility study” yang “kontraproduktif”, memungkinkan yang bersangkutan “tidak” terpilih, atau jika terpilih, akan sangat jauh dari entitas progresivitas.

Lalu dari keempat calon itu, siapakah yang diyakini bakal terpilih? Jawabanya sangat variatif, yakni: Biarlah Kehendak Tuhan yang Jadi, Semuanya Mungkin, Yang Diurapi dan terbukti disenangi oleh pemilih (pendeta), Yang dipercaya bisa menghidupkan roda organisasi, yang memiliki networking yang kuat, dan lain sebagainya.

Perlu dicatat bahwa memilih seorang pemimpin bagi sebuah Sinode Gereja adalah tindakan sakralistik, yakni sebuah proses “integralisasi” dan “harmonisasi” atas berbagai ide, teori, konsep, pola dan rumusan “kepemimpinan”, dari satu “komunitas” pendeta, yang bersepakat memberikan “mandat” kepemimpinan kepada seseorang yang terpilih, karena dipercaya “layak” berperan sebagai “Gembala”
(Pemimpin Besar), bagi para “gembala”
(pemimpin), dalam komunitas tersebut.

Dengan demikian, tidak hanya calon saja yang kencang berdoa agar dipilih, tapi justeru para Pendeta selaku voters juga harus kuat berdoa, agar pilihannya didasarkan pada kehendak Allah.

Tindakan awal yang perlu dilakukan oleh para calon ketua ialah “membedah” karakteristik atau model-model dari para “voters” di GBI.

Dalam kajian Saya, ada empat (4) tipe “voters” di GBI, yakni:

Pertama,
On Stay Voters!

On Stay Voters adalah pemilih yang tidak memiliki calon khusus, dan mereka akan menentukan sikap untuk memilih tepat di hari pemilihan dan meyakini bahwa siapapun yang terpilih itulah pemimpin yang dikehendaki oleh Allah.

Kedua,
Observatoris Voters!

Onservatoris voters adalah pemilih rasional, mereka mempunyai catatan khusus atas masing-masing calon, dan akan skeptik terhadap hal-hal berkaitan dengan formasi kehidupan rohani, kelayakan berteologi, akselerasi program, pembuktian diri dalam pelayanan, dan mereka akan memilih tanpa dipengaruhi oleh siapapun juga.

Baca juga  EKSPONEN ORMAS TRI KARYA GOLKAR GELAR DISKUSI: MERAWAT GOLKAR SEBAGAI RUMAH BESAR KEBANGSAAN INDONESIA

Ketiga,
Organis Voters!

Organis voters terdiri atas dua kelompok, yakni:
Pertama ialah pemilih yang yang tergabung dalam satu penggembalaan tertentu dan akan memilih berdasarkan arahan dari gembala senior.

Kedua ialah pemilih yang berada dalam faksi-faksi, yakni mereka akan memilih berdasarkan arahan faksinya, bahkan mereka cenderung menginginkan yang terpilih adalah seorang dari faksinya.

Saya pernah membuat kajian bahwa di GBI, ada empat faksi dengan ragam karaskteristik yang berbeda, yakni;

1. faksi kharismatik tradisonal yakni para pendeta dari “klan” arus utama, mereka telah merambah secara nasional dan menjadi aneka gereja induk yang kuat. Sebagai bagian yang mengalir dari “klan” arus utama, maka mereka memilih ikatan emosional yang sangat kuat, sehingga cenderung satu suara dalam memilih.

2. Faksi Kharismatik Modern adalah sekelompok pemilih yang berada dalam satu gereja induk besar, orientasi pada manajemen pelayanan modern, dan mereka akan memilih berdasarkan arahan gembala senior.

3. Faksi Kharismatik Naturalis, yakni sekelompok pemilih yang berada dalam satu forum tanpa komunitas resmi, mereka tidak terhisap atau Tidak melibatkan diri pada kelompok lain, mereka independen namun dilekatkan pada ikatan emosional pertemanan/kedekatan yang kuat, tapi memiliki seorang tokoh kharismatik!

4. Kharismatik identitas, yakni sekelompok pemilih yang tidak dapat dipungkiri, mereka akan memilih karena memiliki ikatan emosional karena kesamaan identitas tertentu!

Keempat,
Orientis Voters!

Orientis voters adalah pemilih plus, yakni pemilih transaksional, pemilih yang melibatkan diri sebagai team sukses. Ia akan agresif, kreatif, all out, memainkan pengaruhnya untuk mempengaruhi pemilih lainnya untuk memilih calon pilihannya.

Kesimpulan!

Sementara ini kita hanya menyaksikan kampanye dari Om Jacob dan Om Parlin secara terbuka, sedangkan Om Ferry dan Om Rubin belum kelihatan, tapi konon info yang saya dapat bahwa mereka juga sangat aktif campign tapi silent!

Baca juga  Mendadak Rajin Latihan Tinju, Ada Apa Dengan Marcell?

Kini kemampuan para calon membedah, merangkai “mengintegerasikan” hubungan antara dinamika “voters” dengan dinamika “faksi-faksi” di GBI adalah salah satu kunci utama dalam menentukan tingkat elektabilitas para calon!

SHALOM!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here