Pendidikan Era Baru

0
221

 

Oleh: Yudi Latif
Dosen Universitas Negeri Yogyakarta.

 

Dunia pendidikan belakangan ini disibukkan dengan kelatahan diskusi tentang ancaman era disrupsi, dengan semburan ultimatum doomsday scenarios tanpa jalan keluar yang terang.
Padahal, sepanjang sejarah peradaban manusia, kehidupan telah berkali-kali mengalami disrupsi. Zaman batu berakhir bukan karena batunya habis, melainkan karena penemuan teknologi perunggu sebagai “pengubah permainan” (game changer). Zaman perunggu berakhir bukan karena perunggu habis, melainkan karena penemuan teknologi besi sebagai pengubah permainan, dan seterusnya.

Kalau pun ada yang berbeda, hal itu terletak pada tingkat kerapatan dan skala disrupsi yang ditimbulkan. Bila pada zaman dulu, jarak antar disrupsi itu beringsut lambat–karena kelambanan pemenemuan teknologi baru, pada masa kini, rentang antar disrupsi itu begitu rapat, dengan implikasi yang lebih luas cakupannya dan dalam penetrasinya.

Dengan tendensi kerapatan dan intensitas disrupsi seperti itu, apa implikasinya bagi dunia pendidikan? Apakah hal itu berarti akan mengubah prinsip-prinsip pokok pendidikan, atau perubahan yang diperlukan hanya terletak pada pendekatan dan metodoginya saja?

Harus diinsyafi bahwa dengan kerapatan dan intensitas disrupsi, dunia pendidikan tidak bisa dikembangkan sebagai pabrik tenaga “siap pakai”. Bila pendidikan terlalu fokus menyiapkan peserta didik untuk menguasai keterampilan tertentu, kecepatan kedatangan teknologi baru akan segera mengadaluarsakan keterampilan yang diberikan. Dengan kata lain, daya sintas dunia pendidikan tidak bisa mengandalkan pendekatan berbasis tantangan dan ancaman (threat based), melainkan harus dikembangkan berbasis penguatan kapabilitas (capability based).

Dunia pendidikan tidak disiapkan sebagai pemasok “batu-bata”, hanya karena ledakan permintaan batu bata; melainkan pemasok “tanah liat”, yang memiliki elastisitas untuk memenuhi ragam keperluan. Pendidikan berbasis kapabilitas menuntut penyiapan peserta didik sebagai manusia pembelajar seumur hidup; manusia yang selalu update dengan perkembangan baru dengan kesediaan terus belajar memperbaharui dirinya untuk bisa menjawab segala macam tantangan. Pada titik ini, kedatangan zaman baru tidak berarti mengubah hakikat prinsip pendidikan.

Menumbuhkan mental kreatif
Prinsip pendidikan seumur hidup (life long education) justru harus dibudayakan lebih sungguh. Suhu pendidikan kita, Ki Hadjar Dewantara, secara visioner mendefinisikan pendidikan sebagai “proses belajar menjadi manusia seutuhnya dengan mempelajari dan mengembangkan kehidupan (miko-kosmos dan makro-kosmos) sepanjang hidup.”

Manusia pembelajar harus dibekali dengan dua macam kemampuan. Di satu sisi harus memiliki kelenturan untuk menyesuaikan diri dengan angin perubahan. Di sisi lain harus memiliki akar yang kuat agar tidak mudah roboh diterjang angin. Yang pertama memerlukan daya kreatif. Yang kedua memerlukan daya karakter.

Baca juga  Tak Ada Penerapan Herd Immunity di Masa Pandemi

Dalam menumbuhkan manusia pembelajar yang kreatif, tugas dunia pendidikan adalah menumbuhkan mental kreatif (creative mind). Mengikuti Peter H. Diamandis, MD (2018), setidaknya ada lima karakteristik mentalitas yang perlu dibudayakan peserta didik.

Jiwa sungguh mencintai (passion) terhadap apa yang dirasa sebagai bakat, minat, pilihan dan impian seseorang. Kuncinya adalah mengupayakan ketersingkapan potensi diri dengan mengalami secara langsung aktivitas pengembaraan, ragam kegiatan dan percobaan (experiencial learning).

Rasa ingin tahu (curiousity) dengan memfasilitasi proses eksperimentasi dan penemuan. Peserta didik perlu diberikan keterampilan untuk belajar mengajukan pertanyaan, hipotesis, mendesain eksperimentasi, mengumpulkan data, dan merumuskan kesimpulan.

“Keliaran” imajinasi dengan membiarkan alam terkembang menjadi guru. Program-program pengajaran yang terstruktur dengan basis hapalan bisa mengerdilkan imajinasi. Perkembangan imajinasi siswa bisa difasilitasi dengan permainan berselancar di dunia maya. Karya-karya sastra dan film superhero dan science fiction juga bisa merangsang penjelajahan imajinasi.

Pikiran kritis (critical thinking) sebagai pelita hidup. Untuk bisa mengarungi kehidupan era baru, dengan beragam ide yang saling bertentangan, berebut klaim, misinformasi, berita negatif dan bohong, belajar terampil berfikir kritis dapat membantu mengurangi kesesatan, kegaduhan dan pembodohan.

Keteguhan hati (persistence) untuk mengarungi percobaan dan tantangan. Bahwa segala percobaan dan impian itu memerlukan keuletan perjuangan jangka panjang. Sekolah bisa memfasilitasi pengembangan keteguhan ini lewat ajang kompetisi dalam semangat kolaborasi, juga dengan narasi figur-figur ternama yang mampu bangkit dari kesulitan dan keterpurukan.

Menumbuhkan Karakter
Usaha menumbuhkan kapabilitas kreatif peserta didik itu hanya bisa menghasilkan karya dan luaran yang konstruktif dan produktif bila dibarengi kekuatan karakter yang memberi landasan nilai integritas dan etos kerja. Pendidikan karakter diperlukan untuk menempa siswa menjadi pribadi baik (karakter pribadi) sekaligus warga negara baik (karakter kolektif). Antara karakter pribadi dan karakter kolektif bisa dibedakan, namun tidak bisa dipisahkan.

Tentang bagaimana menjadi pribadi yang baik, Thomas Lickona (2011), menengarai ada 9 nilai inti karakter pribadi yang harus ditumbuhkan: keberanian (courage), keadilan (justice), kebaikan hati (benevolence), rasa terima kasih (gratitude), kebijaksanaan (wisdom), mawas diri (reflection), rasa hormat (respect), tanggung jawab (responsibility), dan pengendalian diri (temperance).

Tentang bagaimana menjadi warga negara yang baik, Jonathan Haidt (2012), menengarai ada 6 nilai inti moral publik sebagai basis karakter kolektif kewargaan: peduli terhadap bahaya yang mengancam keselamatan bersama (care), rasa keadilan dan kepantasan (fairness), kebebasan dengan menjunjung tinggi hak-hak dasar manusia (liberty), kesetiaan pada institusi, tradisi dan konsensus bersama (loyalty), respek terhadap otoritas yang disepakati bersama (authority), menghormati nilai-nilai yang dipandang paling “mulia” (santinctity). Dalam konteks Indonesia, keenam nilai inti moral publik itu terkadung dalam Pancasila.

Baca juga  Kasad Jenderal TNI Andika Perkasa Ikuti Upacara Virtual Peringati Hari Lahir Pancasila

Pergeseran Pendekatan
Semuanya itu memerlukan pergeseran atau penyesuaian pada pendekatan dan metodologi pendidikan. Menurut Christiaan Henny (2016), ada beberapa hal yang patut diperhatikan sebagai karakteristik pendekatan dan metodologi pendidikan masa depan.

Aktivitas belajar di ruang kelas mengalami pembalikan (flipped classroom). Dengan fasilitas e-learning, pelajar bisa memiliki lebih banyak kesempatan belajar pada aneka tempat dan waktu, juga bisa belajar jarak jauh dan belajar sendiri. Dengan demikian, aktivitas di ruang kelas bisa kebalikan dari pendekatan pembelajaran konvensional. Aspek-aspek teoritis yang biasanya disampaikan di ruang kelas bisa dipelajari di luar kelas; sebaliknya aspek-aspek praktis yang biasanya menjadi pekerjaan rumah justru dikerjakan di ruang kelas secara interaktif. Ruang kelas menjadi wahana mendiskusikan hal-hal yang belum jelas, juga menjadi ajang kerja kelompok untuk mengaitkan hal-hal yang teoritis ke dalam praktik.

Pembelajaran mengalami personalisasi (personalizing learning). Para pelajar akan belajar dengan alat-alat pembelajaran sesuai dengan kapabilitas dirinya. Pelajar yang memiliki kecakapan di atas rata-rata pada subjek-subjek tertentu akan ditantang dengan tugas dan pertanyaan yang lebih berat. Sedang pelajar yang mengalami kesulitan akan mendapatkan kesempatan yang lebih banyak hingga bisa mencapai level yang dikehendaki. Pelajar akan mendapatkan peneguhan secara positif, yang bisa mengatasi kehilangan kepercayaan diri. Guru-guru akan dapat mengenali secara lebih jelas, pelajar mana yang memerlukan bantuan dalam bidang apa.

Keterbukaan pilihan bebas (free choice). Meskipun setiap subjek yang dijarkan mengarah pada tujuan yang sama, namun jalan yang ditempuh oleh pelajar untuk mencapai tujuan tersebut bisa berbeda. Pelajar akan bisa memodifikasi proses belajar dengan alat-alat pembelajaran yang dirasa cocok dengannya. Para pelajar akan belajar dengan beragam peralatan, program dan teknik sesuai dengan preferensinya. Untuk itu, pelajar harus disertakan dalam penyusunan kurikulum. Guru lebih berperan sebagai mentor pendamping, pengarah, pendorong, dan penghubung siswa dengan dunia luar.

Pembelajaran berbasis proyek (project-based learning). Mengikuti kencederungan pilihan karir pekerjaan di era baru, yang tidak terlalu terikat (freelance), para pelajar hari ini harus diadaptasikan pada praktik pembelajaran dan pekerjaan berbasis proyek. Mereka harus belajar bagaimana menerapkan keterampilannya dalam jangka pendek pada ragam situasi. Hal ini harus mulai diperkenalkan pada sekolah menengah. Pada jenjang ini, kreterampilan beorganisasi, kolaborasi, dan pengaturan waktu juga dapat diajarkan sebagai modal dasar untuk dikembangkan pada karir akademik selanjutnya.

Perluasan pengalaman lapangan (field experience). Karena teknologi dapat memfasilitasi secara lebih efisien pembelajaran aspek-aspek teoritis pada domain tertentu, kurikulum akan memberi ruang pagi pengembangan keterampilan dalam pengalaman langsung. Sekolah/universitas akan menyediakan kesempatan yang lebih luas untuk meraih keterampilan dalam dunia nyata sesuai dengan preferensinya. Kurikulum akan menciptakan lebih banyak ruang bagi pelajar untuk menjalani permagangan, proyek kolaborasi dan mentoring.

Baca juga  Ombudsman RI Menyayangkan dan Kecewa atas Sikap DKPP Terkait Pemberhentian Komisioner KPU Evi Novida

Ujian akan berubah secara mendasar. Karena platform pembelajaran akan menilai kapabilitas pelajar pada setiap langkah, mengukur kompetensi mereka atas dasar pertanyaan dan jawaban bolehjadi tidak lagi relevan. Kompetensi pelajar akan diukur dengan memperhatikan perkembangan selama proses belajar, serta aplikasi pengetahuan mereka dalam praktik di lapangan.

Sebagai tambahan, kemampuan belajar sendiri itu diperlukan prasyarat literasi yang kuat: kecakapan menghitung, membaca, menulis dan menutur. Dengan kehadiran komputer penghitung dan software analisis statistik yang canggih, kecerdasan yang harus lebih diasah adalah kemampuan interpretasi data. Media komunikasi boleh berubah, tapi kapasitas baca-tulis harus tetap diperkuat. Kemunculan era disrupsi jangan jadi pembenar untuk menelantarkan kapasitas literasi. Pendidikan sekolah dasar menjadi tumpuan untuk membudayakan minat baca, tradisi menulis dan menutur. Tanpa daya interpretasi, daya baca, daya tulis dan daya menutur, perkembangan kreativitas manusia tidak meliliki landasan yang kuat.

Semua pergeseran dalam pendekatan dan metodologi pendidikan itu harus seiring dengan transformasi pendidikan karakter. Pengembangan karakter merupakan pendekatan holistik yang menghubungkan dimensi moral pendidikan dengan ranah sosial dan sipil kehidupan siswa. Dalam pendidikan karakter, moral itu ditangkap (caught) dengan keteladan, bukan diajarkan (taught) dengan hapalan.

Cara mengajarkannya tidak terisolasi dalam mata pelajaran tersendiri, tetapi melekat dengan seluruh rangkaian kurikulum dan melibatkan peran komunitas. Sifat-sifat karakter yang dikehendaki harus merembesi lingkungan belajar siswa baik dalam kelas, jalan masuk, gimnasium, kafetaria, lapangan olah raga dan tempat-tempat lainnya, yang kemudian terhubung dengan praktis moral dalam realitas masyarakat.

Secara singkat dapat disimpulkan bahwa pendidikan itu benih harapan. Bila masyarakat dilanda kekisruhan, kemandegan, dan keterpurukan, dan tak tahu kunci emansipasinya, maka jurus pamungkasnya adalah pendidikan. Pendidikan benih harapah harus memprioritaskan pengembangkan manusia pembelajar yang kreatif dan berkarakter. Proses pendidikan harus mampu mengembangkan kreativitas berbasis keragaman kecerdasan insani dengan panduan kompas nilai yang dapat menjaga keselarasannya dengan tertib kosmos dan harmoni dunia. Dengan cara itu, menurut Ki Hadjar Dewantara, manusia pembelajar bisa, “mangaju-aju salira, mengaju-aju bangsa, mangaju-aju manungsa” (membahagiakan diri, membahagiakan bangsa, membahagiakan kemanusian).

Sumber: Kompas, Kamis, 2 Mei 2019

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here