BOHONG DAN DILEMA MORAL

0
48

Oleh: Albiner ‘Rabar’ Siagian

Berbohong sudah menjadi menu sehari-hari kita, apalagi di jaman telepon genggam ini. Seorang teman mengaku kepada isterinya bahwa dia sedang dalam perjalanan pulang ke rumah, padahal dia sedang asyik main catur di kedai kopi. Yang lain mengaku akan segera tiba, padahal dia baru saja mau mandi. Pokoknya, bohong ada di mana-mana. Mungkin ada baiknya kita mendaftar berapa kali kita berbohong setiap hari hanya yang berkaitan dengan penggunaan telepon genggam.

Yang menjadi lebih soal, adalah, saat ini, berbohong dianggap hal yang lumrah saja. Sepertinya, tidak ada yang salah dari berbohong. Lihat saja bagaimana ekspresi RS ketika mengakui kebohongannya. Biasa saja. Alasan bohongnya pun amat sederhana. Dan yang lebih celaka lagi, kita pun menjadi memaklumi kebohongan itu. Ini gawat! Soalnya, kejujuran makin tergerus.

Lalu ada yang mengatakan berbohong itu baik asal maksudnya baik. Bah, apa pula ini? Tentu saja ini alasan pragmatis. Ya, kalau baik! Bagaimana kalau sebaliknya?

Alasan pragmatis untuk tidak berkata jujur atau berbohong tampaknya terlalu sederhana, terlalu enteng untuk beratnya akibat buruk dari sebuah kebohongan. Walaupun belum dipandang dari aspek teologis, alasan itu tetaplah sederhana. Pastilah ada alasan lain! Itu kemugkinan adalah dilema moral.

Berbagai dilema moral adalah dilema karena adanya pertentangan antara kebenaran dan kesalahan dari suatu tindakan atau perbuatan dan antara kebaikan dan keburukan dari konsekuensi tindakan tersebut. Contohnya adalah sebagai berikut. Coba pembaca memilih satu dari antara dua tindakan ini: ‘melakukan yang benar untuk menghasilkan yang buruk’ atau ‘melakukan yang salah untuk menghasilkan yang baik’.

Penegakan hukum, misalnya, yang konon masih jauh dari harapan tak luput dari dilema moral ini. Pertimbangan juridis formal yang menjadi acuan utama bagi keputusan sedikit tidaknya akan mengesampingkan pertimbangan moral. Adakah seorang pengacara yang mendorong kliennya untuk berkata jujur lalu menyampaikan hal itu di pengadilan?

Baca juga  Memahami Peta Politik Saat ini, dan Tantangan Politik ke depan Bagi Umat Kristen,Bangsa dan Negara.

Secangkir Kopi Beracun

Victor Grassian, dalam bukunya Moral Reasoning, memuat sejumlah ilustrasi dilema moral. Salah satu ilustrasi tersebut adalah “A Cup of Poisonous Coffee”. Ceritanya begini: Si Tom membenci istrinya, dan dia menghendaki istrinya mati. Dia menaruh racun ke minuman kopi istrinya. Setelah meminum kopi beracun itu, istrinya meninggal. Si Joe juga membenci istrinya. Joe pun minginginkan istrinya mati. Suatu hari, istrinya secara tidak sengaja menaruh racun di minuman kopinya. Dia menyangka bahwa itu krim. Joe tahu itu racun dan dia memiliki penawarnya. Dialah satu-satunya yang dapat menyelamatkan nyawa istrinya. Akan tetapi, dia tidak melakukannya. Dia membiarkan istrinya meminum kopi beracun itu. Istrinya pun meninggal.

Pertanyaaannya sekarang adalah “Apakah dosa si Joe sama buruknya dengan dosa si Tom. Atau, apakah Joe gagal melakukan perbuatan yang dapat dan seharusnya dia lakukan? Dari segi hukum formal, mungkin Joe bisa berkelit bahwa dia tidak melakukan perbuatan yang menyebabkan istrinya kehilangan nyawanya. Justru dia gagal melakukan perbuatan yang bisa menyelamatkan nyawa istrinya. Ini adalah dilema moral. Maukah pengacara Tom menceritakan ini di muka pengadilan dengan pertimbangan moral dengan mengesampingkan prinsip kerahasiaan antara pengacara dan klien?

Berikut ini adalah ilustrasi lainnya: “The Principle of Psychiatric Confidentiality.” Dalam ilustrasi ini, diceritakan seorang psikiater dan pasiennya. Si pasien mengaku ke dokternya bahwa dia bermaksud membunuh seorang wanita. Psikiater menganggap itu lelucon gila dari seorang yang gila. Namun, dia tidak begitu yakin bahwa itu hanyalah sebuah lelucon. Apakah psikiater perlu melaporkan ancaman ini ke polisi dan memberitahukannya kepada wanita itu? Atau, apakah dia diam saja untuk menjaga prinsip kerahasiaan antara dokter dan pasien? Adakah hukum atau aturan yang mewajibkan psikiater untuk melaporkan ancaman ini? Sekali lagi ini adalah dilema moral.

Baca juga  Memahami Peta Politik Saat ini, dan Tantangan Politik ke depan Bagi Umat Kristen,Bangsa dan Negara.

Bagaimana dengan istri Joe yang meninggal? Atau, bagaimana kalau ancaman orang gila itu benar-benar terjadi? Haruskah prinsip kerahasiaan membiarkan istri Joe meninggal atau membiarkan orang gila itu membunuh wanita yang diincarnya dengan mengesampingkan pertimbangan moral?

Kegagalan melakukan tindakan yang menyebabkan istri Tom meninggal atau menyebakan terjadinya pembunuhan oleh orang gila itu adalah contoh omission. Dalam dogma keagamaan, omission (pengabaian) adalah kegagalan untuk melakukan sesuatu yang dapat dan seharusnya dilakukan. Dan, jika hal ini terjadi secara sadar atau sengaja, maka hal itu dianggap sebagai dosa.

Omission atas sebuah tindakan berkata jujur dengan alasan akan melukai perasaan orang, membuat orang malu, menjaga kerahasiaan, megakibatkan kita ‘kalah’, tidak professional, menjaga keutuhan (daripada cekcok), dan sebagainya merupakan faktor pendorong kita berbohong. Itu menyebabkan kejujuran menjadi hal yang amat langka. Fenomena ini telah merasuki hampir semua lapisan masyarakat, mulai dari tukang garong hingga yang mengaku alim, dari yang tidak melek huruf hingga yang amat sangat terpelajar, dan dari yang buta hukum hingga yang dedengkot hukum.

Ketika terjadi pertentangan moral dalam mengambil keputusan, termasuk untuk berbohong atau berkata jujur, maka penyelesaiannya adalah kembali ke moral. Kembalilah ke kata hati! Jangan biarkan dilema moral membelenggu kejujuran. Itu adalah perbuatan dosa. “For the good that I would I do not, but the evil which I would not, that I do”.

*)Artikel ini pernah dimuat di salah satu surat kabar

**)Dikirimkan kembali dari salah satu kedai kopi di pinggir jalan di seputar Baranangsiang Bogor, setelah ada penambahan keterangan sedikit

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here