PDT. WEINATA SAIRIN: TUHAN, KASIHANI KAMI

0
412

_”Tu autem Domine, miserere nobis. Engkau Tuhan, kasihanilah kami.”_

“Aku Tidak Kehilangan Tuhan”/Sukran Daudy

“Ibuku hilang

Bapakku hilang

Anakku hilang

Kakek nenekku hilang

Kekasihku hilang

Aku mencari dari gelimpangan manusia telah hilang

Air mata juga hilang

Aku tinggal di kehilangan

Tangisku hilang

Aku kehilangan kata-kata

Aku melangkahi kehilangan

Tetapi aku tidak kehilangan Tuhan ”

Takengon, 4 Februari 2005

(Sumber :”Ziarah Ombak”, sebuah antologi puisi, D. Kemalawati dkk, Penerbit Lapena, Banda Aceh, 2005)

Awan duka hitam legam menggantung di langit Indonesia. Narasi lamentasi tiba-tiba hadir menyeruak di ruang-ruang kehidupan. Ada isak tangis yang tak mampu lagi terekspresi dengan leluasa. Ada airmata yang jatuh menyiram bumi, membasahi hari-hari bersimbah darah. Ada luka menganga, menyimpan pedih dan perih. Ada duka menggores, mengiris hati pilu.

Indonesia berduka. Ibu Pertiwi menangis. Dunia internasional juga ikut berduka bersama seluruh rakyat Indonesia. Belum lagi selesai kisah duka dari Lombok NTB yang diguncang gempa beberapa waktu yang lewat, maka pada hari Jumat sore pk 18.02.45 Wita kota Palu dan Donggala di Sulawesi Tengah dilanda gempa berkekuatan M 7.4.

Gempa tersebut yang diikuti dengan tsunami telah menghancurluluhkan rumah penduduk, hotel, fadilitas umum dan mengakibatkan lebih 800 orang meninggal, 500 orang lebih luka dan sekitar 16 ribu orang tinggal dibarak pengungsian karena mereka tidak punya lagi tempat tinggal.

Menurut koran Kompas 30 September 2018 sebenarnya sudah cukup lama diketahui bahwa Palu dan Donggala amat rentan gempa bumi dan tsunami. Ahli Tsunami Gegar Prasetya dalam papernya “The Makassar Strait Tsunamigenic Region Indonesia” yang diterbitkan jurnal Natural Hazard (2001) menyatakan sebanyak 14 tsunami terjadi di kawasan ini dari tahun 1820-1882. Semua tsunami di kawasan ini bersumber dari aktivitas gempa di patahan Palu-Koro zona subduksi di utara Sulawesi dan jalur sesar di Asternoter, kata Prasetya yang juga adalah Ketua Ikatan Tsunami Indonesia.

Kedepan ada baiknya kita semua sebagai warga bangsa bisa lebih cermat terhadap hasil kajian para ahli kita diberbagai bidang, sehingga misalnya dalam kasus gempa dan tsunami kita semua bisa lebih _siap_ menghadapinya. Walaupun penting juga dicatat bahwa dalam teologi Kristen terjadinya gempa diberbagai tempat adalah salah satu tanda bahwa akhir zaman sedang datang. Agama-agama yang secara teologis memahami bahwa dunia yang ada sekarang ini adalah _fana_ dan akan berakhir tentu mendaftarkan banyak tanda yang mengacu kepada periode yang disebut dengan “akhir zaman”.

Indonesia berduka. Seluruh warga bangsa meratap dan menangis. Manusia sebagai ciptaan Allah benar-benar merasa kecil dan tanpa daya berhadapan dengan gempa dan tsunami. Kita berempati dengan semua saudara sebangsa di Palu dan Donggala. Kita angkat topi kepada Pemerintah, BNPB, BPBD, Basarnas, TNI Polri, semua organisasi kemasyarakatan, civil society, elemen masyarakat dan semua mereka yang dengan penuh kasih memberi dukungan nyata untuk menolong para korban. Kita sangat menghormati sosok Antonius Gunawan yang melakukan tugasnya dengan sempurna mesti harus kehilangan nyawa.

Gempa dan tsunami membuat kita _kehilangan_ seperti yang ditulis penyair Aceh Sukran Daudy saat Aceh di terjang Tsunami. Ya kehilangan semua tapi kita tak boleh kehilangan atau menghilangkan Tuhan. Justru kita harus makin dekat kepada Tuhan, makin berserah kepadaNya memohon ampun atas dosa-dosa kita, atas aib dan perbuatan melawan hukum serta menghianati ajaran agama yang berulang kita lakukan tanpa ada rasa malu. Kita harus mohon agar Tuhan mengasihani kita manusia hina, papa dan lemah. Kita harus bertobat secara sungguh-sungguh. Kita harus lakukan _metanoia_, berbalik arah. Kita harus melakukan apa yang selalu diingatkan pak Kyai : _tobat nasuha_. Sebelum segalanya terlambat.

Selamat berjuang. God blessed.

Weinata Sairin

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here