PDT. WEINATA SAIRIN: MEMUJI TUHAN DI SEPANJANG KEHIDUPAN

0
500

 

_”Aku hendak menyanyi bagi Tuhan selama aku hidup, aku hendak bermazmur bagi Allahku selagi aku ada”_ (Mazmur 104 : 32)

Tuhan, ku berjalan tertatih-tatih mengikut langkah-Mu pedih letih

Tuhan, ku melangkah tersendat-sendat mengiring diri-Mu pengap penat

Tatkala rasa haru lahir di kedalaman nurani, ada rasa syukur mengalir membasahi ruang-ruang sejarah

Hari ini 23 Agustus 2018 kulantunkan mazmur syukurku lafaz doa sukacita, kasih dan karya agung-Mu mengantarku memasuki usia tujuh puluh tahun

Tuhanku, anugerahi diriku sehat, hikmat, umur panjang agar ‘ku tetap mampu menorehkan karya terbaik di pentas sejarah. (weisa)

Hidup adalah sebuah ruang yang amat luas yang di dalamnya kita bisa melakukan apa saja yang kita inginkan sesuai dengan talenta, kompetensi yang kita miliki. Kita juga bisa berdiam diri, pasif atau proaktif dengan segala resiko dan konsekuensi yang mesti kita tanggung. Ya mengisi kehidupan itu adalah sebuah pilihan.

Pilihan-pilihan seseorang dalam mengisi kehidupan itu acap disebut dan dirumuskan dalam istilah “cita-cita”. Ada yang ingin menjadi dokter, pilot,  tentara, polisi, sastrawan, penyanyi, hakim, pengacara, dan banyak sekali pilihan pilihan yang dimiliki seseorang. Ada kalanya orangtua atau keluarga terdekat yang ikut menentukan pilihan itu berdasar pertimbangan tertentu. Namun cukup banyak orang yang secara mandiri menetapkan pilihan itu.

Dalam berbagai pengalaman empirik kita juga bertemu dengan banyak orang yang bekerja dan melayani dengan optimal dan juga sukses, walaupun itu bukan merupakan cita-citanya. Pembelokan dan atau pengalihan cita-cita itu terjadi disebabkan banyak hal. Ada semacam _force majeur_ yang terjadi dalam kehidupan, bisa juga oleh karena berbagai perkembangan politik dan ekonomi yang terjadi dalam kehidupan masyarakat.

Baca juga  Hari Anti Penyiksaan: Pencegahan Terulangnya Praktik Penyiksaan dan Ill Treatment Terhadap Perempuan dan Anak

Pernyataan Pemazmur yang dikutip diawal bagian ini sangat menarik untuk didalami. Ia menyatakan dengan tegas dan lugas dalam sebuah permainan kata yang cantik “menyanyi bagi Tuhan selama aku *hidup*” dan “bermazmur bagi Allahku selagi aku *ada*”.  Kata ‘menyanyi’ dan kata ‘bermazmur’, kata ‘Tuhan’ dan kata ‘Allah’, kata ‘hidup’ dan kata ‘ada’, dalam arti tertentu bisa dikatakan dalam posisi _setara_ sehingga pengulangan yang dilakukan Pemazmur memiliki keindahan yang amat spesifik, tak ada duanya. Pernyataan itu merupakan tekad dan komitmen Pemazmur bagaimana ia ingin mengisi hari-hari kehidupannya secara bermakna dan berdaya guna.

Pemazmur menyatakan dengan eksplisit dan gamblang bahwa ia ingin bernyanyi dan bermazmur di sepanjang hidupnya  tanpa _jeda_, tanpa harus ada _interupsi_, tanpa _spasi_, artinya tarikan nafas dan aktivitas bermazmur menjadi integral, menyaturaga. Ini adalah sebuah pernyataan dan komitmen teologis yang amat luhur dari seorang Pemazmur sebagai respons atas karya Allah yang ia alami dan nikmati dalam hidupnya. Kita sebagai umat Allah yang telah mengalami penebusan Yesus Kristus dipanggil untuk berkomitmen seperti yang Pemazmur ungkapkan dalam Mazmurnya itu.

Atas berkat Allah dalam Yesus Kristus, saya bersyukur oleh karena pada tanggal 23 Agustus 2018, Tuhan Allah mengantarkan saya memasuki usia ke-70. Kebaktian syukur hari ulang tahun bersama kawan terdekat telah dikakukan di Gedung Pusat Alkitab pada hari Kamis 23 Agustus 2018. Suasana syukur dan bahagia benar-benar kami alami bersama istri, kedua anak, kedua menantu dan kedua cucu pada saat itu. Pak Dirjen Bimas Kristen, Ketua Umum PGI, Sekjen PHDI, Ketum Matakin, Walubi, Setara Institute, Ketum MS GKP, Pembimas DKI, LPPN, STT The Way, LAI, Yamuger, Peradi, BSNP, PGLII, Prof Sularso Sopater, Prof HAR Tilaar, MPK, Wakil Ketua KPK para pendeta GKP dan berbagai Gereja serta banyak lagi teman-teman dari berbagai lembaga. Pdt. Dr Bambang Widjaja/MP PGI dalam kotbah berdasar 1 Korintus 9 : 24 dengan amat menarik mengingatkan umat agar terus berlari, berlari dengan baik dan “finishing well”!

Baca juga  KPAI Rilis Hasil Pengawasan dan Pengaduan PPDB

Saya sejak awal berminat untuk studi ke Fakultas Sastra, karena guru SR saya telah memperkenalkan saya dengan puisi dunia saat itu, namun ayah yang adalah aktivis Gereja di GKP Cakung-Jakarta Timur meminta saya menjadi pendeta. Saya memasuki STT Jakarta 1968 dan tamat l973, ditahbiskan oleh Pdt Habandi di GKP Cimahi 7 November 1974 dan emeritus 12 September 2011 di GKP Bekasi. Dalam kurun waktu 1974-2011 itu saya menjadi pendeta Jemaat 4 tahun lalu dari situ menjadi Sekum Sinode GKP 12 tahun, Wasekum PGI 15 tahun, Sekum MPK 4 tahun, (semua full time) dan kemudian di berbagai lembaga secara part time baik lembaga kristiani maupun non kristiani.

Kami bersyukur kepada Tuhan atas kasihNya yang mengantarkan saya memasuki usia 70 tahun, juga mengantarkan cucu kami Adrian Widhitama Samuel pada tanggal yang sama memasuki usia 13 tahun; kami mengucapkan terimakasih dan penghargaan kepada Bapak Ibu atas ucapan selamat dan doa, kehadiran, dan atas dukungan dan kerjasama yang amat baik selama ini. Pemazmur mengajak kita untuk memuliakan nama Tuhan selama kita hidup. Mari kita lakukan itu.dengan setia!

Selamat Merayakan Hari Minggu. God bless.

*Weinata Sairin*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here