PDT. WEINATA SAIRIN: MENULISKAN KATA MENUJU HIDUP BERMUTU

0
368

_”Vox audita perit, littera scripta manet. Suara yang terdengar itu hilang, sementara kalimat yang tertulis tetap tinggal”._

Kita sebagai manusia harus terus menerus menaikkan puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa oleh karena atas anugerahNya makhluk yang disebut _manusia_ itu telah dicipta olehNya dengan mulia dan istimewa. Secara khusus dimensi mulia dan istimewa dari makhluk manusia itu adalah kemampuannya dalam hal _berkata_ dan _menulis_.

Dengan berkata, berbicara, memproduksi _words_ setiap saat baik di lingkup internal maupun di ruang publik, manusia menegaskan kediriannya sebagai manusia. Lebih jauh dan lebih canggih dari berkata-kata, manusia juga _menulis_, manusia merumuskan kata-kata, menyusun narasi menghimpun pemikiran cerdas bernas yang di miliki dalam sebuah tulisan.

Gagasan, pemikiran visioner, filosofis, strategis dan makro dari seseorang kini tidak lagi terbatas hanya bisa diungkapkan dalam bahasa verbal tetapi juga dalam bahasa tulis. Di era teknologi yang amat modern sekarang penyampaian pemikiran dalam bentuk tertulis/verbal sangat dibantu oleh perangkat multi media (LCD, power point dll) sehingga audiens bisa memahami dengan lebih baik gagasan dan ide cemerlang yang disampaikan seorang nara sumber, seorang resource person.

Adanya peralatan multimedia yang canggih amat membantu dalam konteks menyajikan sebuah gagasan pemikiran kepada audiens. Kondisi seperti itu seharusnya mendorong seorang nara sumber untuk makin menggali dan memperdalam kajian pemikiran yang ia sampaikan, dan mempresentasikannya secara lebih komprehensif bagi audiens. Acapkali terjadi nara sumber terfokus pada penyiapan materi dalam bentuk power point sehingga ia kehilangan kesempatan untuk mendalami dan mengelaborasi gagasan orisinal yang ia miliki.

Memang ada perbedaan yang cukup signifikan antara yang “lisan” dan yang “tertulis”. Pada penyampaian lisan, kita bisa melihat dengan lebih jelas kemana arah kata/kalimat itu melalui intonasi dari orang yang mengucapkannya. Apakah kata/kalimat itu punya maksud tertentu, tendensius, sindiran terhadap seseorang/institusi, wujud kritik, hal itu bisa terdeteksi dari intonasi, raut wajah, acting anggota badan, dan sebagainya.

Hanya dari segi dokumentasi penyampaian lisan kurang menjamin _filling_ dokumen itu karena aktivitas merekam belum menjadi kebiasaan kita ; dan atau bisa saja jika ungkapan lisan itu menuai kritik dari publik, ungkapan lisan itu pun di kubur hidup-hidup. Beda dengan penyampaian tertulis, yang dari segi dokumentasi dan filling amat membantu, hanya harus didalami lagi bagaimana ‘suasana kebatinan’ dari dokumen tertulis tersebut sehingga bisa mempermudah dalam menganalisis secara anatomis dokumen tertulis itu.

Kita umat beragama menggunakan bentuk verbal dan tertulis itu secara seimbang, artinya kedua bentuk itu dipakai simultan dan atau bergantian. Hal yang harus digarisbawahi adalah pentingnya kita cermat, correct dalam membuat dokumen tertulis (surat, artikel, iklan, pidato) yang disampaikan kepada publik atau yang disampaikan dilingkup internal tetapi yang bisa diakses oleh publik. Bahasa yang elegan, standar, sejalan dengan kaidah bahasa, tidak menghujat agama, bukan termasuk ujaran kebencian, tidak menghakimi dan mendiskriminasi.

Bahasa seperti itu yang mesti kita ungkapkan setiap saat dalam seluruh lorong kehidupan sehingga mendorong lahirnya sebuah dunia yang damai. Pepatah yang dikutip dibagian awal  tulisan ini menegaskan bahwa suara itu bisa hilang tetapi kalimat yang tertulis tetap tinggal. Mari kita suarakan hal-hal yang benar dan baik, kejujuran, kerja keras, perlawanan terhadap korupsi, pemajuan HAM, kesucian politik; dan kita tulis tiada henti pentingnya membangun Rumah Besar Indonesia yang  berdasar Pancasila dan UUD NRI 1945

Selamat berjuang. God bles

*Weinata Sairin*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here