PDT. WEINATA SAIRIN: MEMUTUSKAN  KEPUTUSAN YANG MENCERDASKAN.

0
254

“It does not take much strength to do things but it requires great strength to decide on what to do” (Elbert Hubbard)

Sesuatu yang amat penting dalam sebuah kehidupan adalah ‘menetapkan keputusan’, mengambil keputusan, dan yang kemudian mengeksekusi keputusan yang sudah diambil dengan berbagai resikonya. Mengambil keputusan adalah sebenarnya memilih, menetapkan pilihan. Itulah sebabnya memilih dan menetapkan keputusan itu berada dalam satu gelombang. Dengan demikian menjadi amat jelas bahwa hidup itu bukan berdiam-diam, bukan *abstain*, bukan abu-abu, bukan ambigu, bukan _bias_, tetapi jelas dan clear.

Memang tidaklah mudah dan sederhana untuk memilih dan memutuskan itu apalagi dalam konteks sesuatu yang penting, strategis, makro dan punya dampak terhadap diri pribadi dan keluarga besar. Ada banyak hal yang mesti kita pikirkan tatkala kita memilih dan mengambil keputusan. Oleh orang tua kita pada saat kita masih kecil sudah mulai kita diajarkan bagaimana cara memilih dan mengambil keputusan. Tentu saja pada saat itu kita diminta untuk memilih dan memutuskan hal yang sederhana. Misalnya : apakah kita mau sarapan dengan _telur rebus_ atau _telur ceplok_. Biasanya orang tua kita menjelaskan konsekuensi dari pilihan yang diambil. Jika kita memilih telur rebus atau telur ceplok maka ada resiko-resiko tertentu yang kita hadapi. Pilihan terkadang kita hadapi saat kita kecil adalah soal dana. Dana yang tersedia amat terbatas, kepada kita ditawarkan pilihan apakah membeli tas sekolah lebih dulu atau sepatu?

Makin bertambah usia kita dan semakin dewasa maka pilihan dan keputusan yang mesti kita ambil menjadi lebih besar, makro dan _complicated_. Kita memutuskan mau ke sekolah apa universitas mana; mau bekerja dan fokus dibidang apa, kapan menikah, menikah dengan siapa, kesemuanya adalah pilihan-pilihan yang berat dan amat krusial, dan sama sekali tidak mudah. Pilihan dan keputusan yang berhubungan dengan soal keluarga, karier, politik, agama, masa depan adalah hal yang amat penting sebab itu tak bisa ditetapkan secara instant dan easy going saja.

Hal yang amat membahayakan, terutama dalam organisasi adalah tatkala sebuah keputusan itu ditunda-ditunda, digantung, diembargo dan atau diubah kontennya secara sembunyi-sembunyi. Kondisi seperti itu terjadi andai ada orang-orang dalam suatu organisasi yang punya kepentingan tertentu dan atau punya “hidden agenda”.

Sebagai umat beragama kita tentu memiliki pedoman dan aturan baku sesuai dengan ajaran agama kita bagaimana cara yang tepat dan elegan dalam menetapkan sebuah keputusan. Dimensi religius dan sakral dalam pengambilan keputusan selalu mendapat ruang. Kita biasanya memohon petunjuk Tuhan dalam proses pengambilan keputusan, dan kita juga berdoa pada saat kita mengambil keputusan.

Setiap keputusan yang kita ambil selalu mengandung resiko baik kecil maupun besar. Kita harus dengan piawai menetapkan sebuah keputusan dengan tingkat resiko yang paling kecil sehingga mampu kita hadapi dengan baik. Pepatah yang dikutip dibagian awal tulisan ini menyatakan “tidak banyak diperlukan kekuatan untuk melakukan sesuatu, tetapi kekuatan besar justru dibutuhkan untuk _mengambil keputusan_  tentang apa yang harus kita lakukan”. Mengambil keputusan memang membutuhkan kekuatan, keberanian, ketepatan dan kecepatan. Kita memerlukan *hikmat* dalam mengambil keputusan; kontennya, momentumnya, dampaknya harus dikalkulasi dengan cermat. Keputusan yang berkaitan dengan keluarga, komunitas agama, bangsa dan negara amat penting dan strategis sebab itu harus ditetapkan dengan tepat, cermat dan berhikmat. Kita sebagai orang yang beragama terpanggil untuk selalu berupaya menetapkan keputusan yang adil, yang bermakna bagi kemaslahatan umum, yang tidak diskriminatif, yang menghargai kemajemukan warga bangsa. Kita harus menghindarkan lahirnya keputusan pada level apapun yang menyakiti hati rakyat yang mencederai keragaman NKRI.

Selamat berjuang. God bless

*Weinata Sairin*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here