Pdt. Weinata Sairin: Jadilah Teladan Kehidupan

0
662

 

 

“Exemplum ad imitandum. Teladan untuk ditiru.”

 

Perjalanan hidup kita sejujurnya banyak dibentuk oleh orang-orang dekat disekitar kita, yang memberikan keteladanan amat prima dan kuat kepada kita. Ayah, Ibu adalah dua sejoli atau dwi tunggal yang sejak awal kehidupan memberikan diri dan mendedikasikan keseluruhan hidup mereka untuk pertumbuhan pribadi kita. Masih tertoreh kuat dalam memori kita bagaimana ayah dan ibu mengajar kita mengucap kata, melangkah, berjalan dan segala sesuatu yang secara normal dan standar harus bisa dilakukan oleh seorang laki-laki balita dizaman tahun 50-an.

 

Bagi kita semua sangat jelas bahwa “guru” kita yang pertama dalam kehidupan ini adalah ayah ibu, kemudian dalam sebuah keluarga besar bisa juga ikut berkontribusi bagi pendewasaan kita adalah kakek-nenek, paman, dan seterusnya. Tetapi ayah-ibu lah yang pertama-tama menjadi figur dan sosok yang paling bertanggungjawab dalam kehidupan kita, beliaulah berdua yang menjadi PIC, “person in charge” dari kehidupan kita, sejak kita dilahirkan hingga kita menikah, bahkan hingga kita tiba di *terminal yang penghabisan*.

 

Ayah dan ibu lah yang memanusiakan kita, beliaulah yang dengan amat sabar, “telaten”, ditambah rasa bangga, penuh perjuangan membentuk kita menjadi diri kita; beliaulah tokoh idola kita, beliaulah sosok *teladan* yang tiada duanya, tiada terbandingkan sampai kapanpun. Itulah sebabnya tatkala oleh berbagai pengaruh negatif dalam beberapa tahun terakhir ada orang tua yang membunuh anak (kandungnya) atau ada anak yang memenjarakan dan atau menghabisi kehidupan ayah ibunya, perbuatan tersebut tak pernah bisa kita fahami dalam daya nalar kita, orang-orang yang beragama dengan balutan budaya yang luhur.

 

Gerak “peniruan” dan “penelada” yang kita lakukan bermula dari rumahtangga kita sendiri, dengan tokoh utama ayah dan ibu kita. Mulai dari memilih kata, mengucapkan kata, memberi hormat kepada yang lebih tua, sikap kepada sesama, mengajarkan kata-kata kunci : “terima kasih” jika kita diberi sesuatu, minta maaf, melaksanakan ibadah agama dan semua bentuk pengajaran itu dilengkapi dengan contoh dan tindakan dari ayah-ibu. Dalam proses-proses berikutnya peniruan dan peneladanan kita peroleh dari banyak sumber : lembaga pendidikan, komunitas keagamaan, publik, buku bacaan, media massa, dan sebagainya.

Baca juga  GEREJA 57 SEN

 

Konon di zaman ini kita kehilangan tokoh-tokoh teladan yang bisa menjadi referensi dalam kehidupan kita. Di semua level tak banyak kita temui lagi figur-figur yang bisa kita kategorikan “teladan”, yang patut ditiru. Kemungkinan besar di keluarga-keluarga pada lapis tertentu masih ada sosok teladan. Sebagaimana kita ketahui melalui media ada tokoh ayah-ibu yang terkena OTT, atau yang sedang melakukan “gugat cerai” di pengadilan yang kesemuanya tentu tak bisa lagi dimasukkan dalam kategori orang-orang yang diteladani. Masyarakat zaman ini membutuhkan teladan, tokoh panutan di berbagai bidang. Apa sebenarnya “teladan” itu ? “Teladan” menurut beberapa kamus adalah “sesuatu yang patut ditiru atau dicontoh”. Di kalangan sahabat-sahabat Muslim dikenal istilah *uswatun hasanah* yang artinya “cara hidup yang diridhoi oleh Allah SWT.” Tentu saja dalam konteks ini referensi yang amat kuat dan sahih tentang tokoh-tokoh teladan diambil dari Kitab Suci Al Quran. Agama-agama Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, Khonghucu dan Kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa tentu juga akan membuka kitab suci masing-masing untuk menginventarisasi para tokoh dalam kitab suci yang menjadi teladan umat.

 

Sikap keteladanan harus dimulai dari keluarga di rumah, sekolah, komunitas keagamaan dan masyarakat luas. Keteladanan di rumah dan sekolah amat kuat dan besar pengaruhnya. Di rumah secara tak sadar terjadi “pembelajaran pembohongan” kepada anak. Ibu berpesan kepada anaknya : “Nanti jika ada telpon dari Ibu RT bilang ibu tak ada dirumah ya”. Pola pembohongan seperti acap digunakan dan realitas itu melahirkan pikiran distortif bagi anak dalam hubungannya dengan sosok orangtua sebagai teladan. Dulu di sekolah ada kebiasaan untuk memberi hormat dan mengucap “selamat pagi” kepada guru kelas pada saat memulai kegiatan. Ini adalah bagian dari proses pembiasaan di sekolah yang positif bagi peserta didik dan proses PBM di suatu srkolah. Membuang sampah pada tempatnya, mengucapkan selamat siang, melakukan antri pada saat menyampaikan tugas PR, dan kebiasaan positif lainnya harus dilakukan kontinu dalam konteks “pembiasaan”.

Baca juga  GEREJA 57 SEN

 

Pembiasaan juga dimulai dari rumah, diawali dengan hal yang sangat teknis. Misalnya : sebelum makan atau sebelum tidur ayah mengingatkan agar berdoa lebih dulu;  jika makan harus bersih tak boleh ada makanan tersisa dipiring; jika ada teman atau saudara yang sakit agar menjenguk. Pembiasaan seperti ini akhirnya menjadi bagian dari kehidupan yang terus dilakukan di sepanjang kehidupan.

 

Di sekolah _pembiasaan_ itu menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran. Menurut teori, pembiasaan adalah proses pendidikan yang berlangsung dengan cara membiasakan peserta didik untuk bertingkah laku, berbicara, berfikir, melakukan aktivitas tertentu menurut kebiasaan yang baik. Di sekolah para guru adalah figur teladan, sosok yang “digugu dan ditiru”. Guru tidak saja melakukan “transfer of knowledge” tetapi juga “transfer of value”. Pada kedua aspek itulah dimensi “teladan” menjadi amat penting.

 

Pepatah kita menyatakan tentang Teladan untuk ditiru! Ya kita amat sangat membutuhkan teladan di semua bidang kehidupan : di lingkup birokrasi, dikalangan politisi, di anggota parlemen, di dunia pendidikan, di lembaga keagamaan, di dunia bisnis, di TNI Polri, di kampus, di Perusahaan, di kementerian, di dunia peradilan; di ruang-ruang publik. Kita secara individual bisa menjadi teladan mulai dari lingkup terbatas. Tak ada persyaratan yang sulit untuk menjadi teladan. Cukup kita jujur, tidak korupsi, tidak menyuap atau disuap, tidak mark up proyek, tidak membuat proyek fiktif, tidak membeli atau menjual ijazah; tidak dukung terorisme, taat kepada ajaran agama dan peraturan perundangan.

 

Pada bulan suci Ramadan marilah kita berjuang untuk hidup dengan baik sesuai dengan ajaran agama dan ketentuan perundangan sehingga kita bisa menjadi teladan; teladan yang baik untuk ditiru oleh lingkungan yang lebih luas. Menjadi Teladan itu perlu dan perlu.

Baca juga  GEREJA 57 SEN

 

Selamat berjuang. God bless.

 

*Weinata Sairin.*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here