Penindasan

0
267

 

 

Bacaan : *Ayub 35; 1 Tesalonika 1:6*

 

_“Orang menjerit oleh karena banyaknya penindasan, berteriak minta tolong oleh karena kekerasan orang-orang yang berkuasa; tetapi orang tidak bertanya: Di mana Allah, yang membuat aku, dan yang memberi nyanyian pujian di waktu malam” (Ayub 35:9-10)._

 

Seiring dengan kenaikan bahan bakar minyak, masyarakat mulai dicemaskan dengan kenaikan beberapa bahan pokok, sementara gaji dan penghasilan tidak bertambah dengan signifikan, bahkan tetap seperti tahun-tahun sebelumnya. Masyarakat yang hampir miskin menjadi benar-benar miskin, dan yang dibawah garis kemiskinan menjerit bukan kepalang. Utang pengusaha besar dan korupsi para pejabat harus ditanggung oleh jutaan orang yang tidak melakukan kejahatan terhadap negara. Sementara di sisi lain ada oknum pejabat negara yang justru menuntut haknya lebih – daripada memikirkan nasib hajat orang banyak. Perlakuan tidak adil terhadap rakyat yang lebih kecil masih marak di sana sini, pungutan liar dan tindakan pidana pun masih marak di kalangan elit politik, walaupun di permukaan hal itu tidak kelihatan.

 

Paparan di atas ini merupakan sebuah gambaran dan kondisi bangsa Indonesia di ambang keterpurukan, dan seringkali ketika kita melihat dan mendengar berita ini  membuat kita menjadi cemas. Usaha sepi, kejahatan meningkat, dan beberapa orang yang tidak kuat menghadapi situasi semacam ini menjadi takut cemas, kehilangan pengendalian diri, depresi.

 

Banyak cara yang dipakai orang untuk mengatasi situasi semacam ini, termasuk mengadakan demonstrasi secara terbuka, ada juga yang lewat lobi-lobi politik tertentu, ada juga yang mulai melakukan permainkan kotor dalam bisnis dan lain sebagainya.

 

Lalu apakah kita melakukan hal yang sama? Tentu tidak! Anak Tuhan harus tetap mengikuti peraturan Allah. Sebab ketika kita mengikuti aturan-Nya, pastilah pemeliharaan Allah itu tetap ada dalam hidup kita. Perhatikan yang dikatakan dalam Injil Markus  4:17: “…tetapi mereka tidak berakar dan tahan sebentar saja. Apabila kemudian datang penindasan atau penganiayaan karena firman itu, mereka segera murtad.”

Baca juga  DIDIDIK UNTUK MANDIRI

 

Mari kita menjadi penurut Tuhan seperti dikatakan dalam 1 Tesalonika 1:6. Mari tetap setia kepada Tuhan dan berpengharapan penuh kepada-Nya. Barangkali penderitaan kita tidak seperti Ayub, atau mungkin bisa jadi sama seperti Ayub. Walaupun demikian kita tetap berharap kepada Tuhan sebagai sumber kehidupan.

 

*Renungan:*

_Jika saat  ini kita mengalami penindasan, bersyukurlah. Sebab sesungguhnya Tuhan tidak pernah meninggalkan kita. Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang? (Roma  8:35)_

 

*_Kasih Tuhan mengalahkan penindasan_*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here